Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 32. Apes
"Jadi bagaimana? Apa pertanggungjawaban Anda terhadap anak saya yang kepalanya sampai dijahit seperti ini?"
Di sebuah rumah sakit yang ada di pusat kota, Krisna dan Dinda terduduk lesu di depan pintu IGD. Akibat sikap arogansi sang istri yang mendorong pengamen cilik itu menyebabkan keduanya harus menghadapi urusan yang sangat panjang. Lebih apesnya lagi, ternyata anak kecil yang didorong oleh Dinda itu merupakan salah satu anak dari pejabat tinggi di kota ini. Anak kecil yang berusia sekitar sepuluh tahun itu sedang mengadakan sosial eksperimen di sekitar taman kota.
"Saya benar-benar minta maaf atas segala perbuatan istri saya Pak."
"Bukan masalah minta maaf, Pak. Yang saya tanya, apa pertanggungjawaban Bapak terhadap anak saya? Saya rasa tidak cukup hanya dengan ucapan maaf."
Krisna masih menunduk lesu. Ia sungguh tak tahu akan apa yang harus ia lakukan.
"Saya manut Bapak saja. Bapak minta saya bertanggungjawab secara materiil akan saya penuhi. Asalkan perkara ini tidak sampai ke ranah hukum."
Lelaki berbadan tegap yang berada di hadapan Krisna ini nampak berpikir. Hingga akhirnya, ada satu keputusan yang ia buat.
"Baiklah, saya minta ganti rugi sejumlah tiga puluh lima juta. Dan nanti jika anak saya diharuskan untuk kontrol tiap bulan, Anda yang harus menanggung biayanya."
Krisna dan Dinda sama-sama terhenyak mendengarkan ucapan orang tua dari anak itu. Kedua bola mata sepasang suami-istri itu sama-sama terbelalak sempurna.
"Apa-apaan ini? Mengapa Anda meminta tiga puluh lima juta dan meminta suami saya untuk menanggung biaya kontrol anak Bapak? Itu sama saja pemerasan!" teriak Dinda tidak terima dengan permintaan orang ini.
"Pemerasan apa?" tanya lelaki itu masih dengan bersikap santai. "Anda hampir menghilangkan nyawa anak saya. Memang nominal tiga puluh lima juta sanggup untuk menebus semua jika sampai anak saya anfal?"
"Tapi anak Bapak kan tidak mati? Mengapa kami harus mengganti sebanyak itu?" protes Dinda dengan suara yang lebih kencang hingga membuat orang-orang yang berada di sekitar menatap ke arahnya.
"Baiklah kalau memang Anda tidak mau. Kalau begitu akan saya lanjutkan masalah ini ke pihak yang berwajib. Biar Anda mempertanggungjawabkan semua di pengadilan."
Lelaki itu mencari sesuatu yang ada di gawainya. Krisna yang melihat hal itu langsung paham jika yang akan dihubungi oleh pejabat ini adalah polisi.
"Tunggu, tunggu Pak!" sela Krisna mencoba menghalau apa yang akan dilakukan oleh lelaki ini.
"Ya, ada apa?" tanya orang itu santai.
"Baiklah Pak, saya terima persyaratan dari Bapak. Akan saya berikan tiga puluh lima juta dan akan saya biayai semua biaya kontrol anak Bapak sampai sembuh."
"Mas, apa-apaan kamu? Kenapa kamu mau saja diperas oleh orang ini? Aku tidak setuju!" timpal Dinda dengan mata melotot. Ia sungguh tidak rela jika uang senilai tiga puluh lima juta itu diberikan ke lelaki yang ada di depannya ini.
"Sssttt.. Sudah diam! Jangan cerewet. Ini semua juga kesalahanmu. Kalau saja kamu tidak bersikap arogan seperti itu pasti ini semua tidak akan terjadi!" teriak Krisna sedikit emosi melihat sang istri yang sangat cerewet ini.
"Mas, kamu membentakku?" tanya Dinda dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Hatinya sungguh sakit mendengar sang suami membentaknya di tempat umum seperti itu. "Kamu sungguh tega Mas!"
Dinda beranjak dari posisi duduknya. Tanpa basa-basi, ia langsung melenggang pergi meninggalkan Krisna. Ia berlari keluar dari rumah sakit dan memilih untuk pergi entah kemana.
Krisna hanya bisa membuang napas kasar. Saat ini ada hal yang jauh lebih penting untuk ia selesaikan. Untuk sementara, ia abaikan Dinda yang tengah merajuk itu.
"Jadi apa keputusan Bapak?" tanya orang tua dari anak yang tengah melakukan sosial eksperimen itu.
Krisna membuka fitur M-banking yang ada di ponselnya. "Berapa nomor rekening Bapak? Akan saya transfer sekarang juga."
Krisna memasukkan nomor rekening bank seperti yang diucapkan oleh pejabat ini. Meski dengan berat hati melepaskan uang sejumlah tiga puluh lima juta namun ia tidak memiliki pilihan lain. Sehingga laki-laki itu hanya bisa memilih untuk ikhlas.
"Sudah masuk, Pak!" ucap Krisna sembari memperlihatkan bukti transfer.
Lelaki itu tersenyum simpul. "Baik Pak, terima kasih banyak. Saya minta nomor ponsel Anda, apabila sewaktu-waktu anak saya kontrol, saya bisa langsung menghubungi Anda."
Krisna menyebutkan nomor ponselnya. Atmosfer di rumah sakit ini sudah terasa berbeda. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sini daripada terus teringat akan uang tiga puluh lima juta yang baru saja ia keluarkan.
"Ini sudah tidak ada lagi yang harus saya pertanggung jawabkan kan Pak?" tanya Krisna. "Kalau begitu saya permisi pulang."
"Baik Pak, silakan."
Krisna melenggang pergi meninggalkan ruang IGD dengan langkah kaki gontai. Ia sesekali mengacak rambutnya kasar karena hari ini ia sungguh sial.
"Pak tunggu!" seru pejabat itu. Krisna pun berbalik punggung. "Ada apa lagi Pak?"
"Saya pesan sama Anda, tolong istrinya di didik dengan baik. Masa punya istri akhlaknya buruk seperti itu? Memang Anda tidak takut kalau anak yang ada di dalam kandungan istri Anda itu mencontoh sikap buruk ibunya?"
Jleb....
Krisna terhenyak. Ucapan yang dilontarkan oleh pejabat ini sungguh menusuk jantungnya. Hatinya benar-benar tersentil mendengar ucapannya.
Benar juga, semakin ke sini aku kok merasa sikap Dinda berbeda jauh dari saat pertama kali bertemu dulu ya? Sekarang wanita itu terlihat lebih tempramen dan egois sekali. Apa ini ada kaitannya dengan hormon kehamilan? Aarrghhh... Aku sungguh pusing.
****
Ganis memutuskan duduk santai di beranda depan setelah ada sesuatu yang membuat heboh seisi rumah. Baru saja Dinda pulang naik taksi online kemudian masuk ke dalam rumah tanpa permisi dan langsung membanting pintu depan kasar hingga suaranya menggelegar yang membuat seisi rumah penasaran.
Ganis hanya bisa menatap dengan penuh tanya apa yang terjadi dengan madunya itu. Padahal sewaktu berangkat bersama Krisna, wanita itu nampak ceria namun saat pulang, ia justru pulang sendirian, naik taksi online dan menangis tersedu-sedu.
Dinda langsung menuju kamar sedangkan Ganis memilih untuk duduk di beranda sembari menunggu suaminya pulang.
"Kenapa lagi wanita itu? Perasaan, setiap hari ada saja drama yang dimainkan. Dan kenapa juga mas Krisna tidak pulang bersama wanita itu?"
Satu jam lebih Ganis duduk di beranda. Pikirannya sudah ke mana-mana. Menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi antara sang suami dengan sang madu. Tapi semakin ia mencoba untuk menebak, maka hanya kebuntuan yang ia dapati. Hingga pada akhirnya, mobil milik Krisna yang nampak berada di luar pagar memupus segala kecemasan yang ada.
Krisna keluar dari mobil. Lelaki itu berjalan dengan santai untuk membuka pintu pagar. Dan memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
"Mas, ada apa?" tanya Ganis saat Krisna berlalu di depannya.
Krisna hanya tersenyum sumbang. Senyum yang justru membuat Ganis semakin dirundung oleh beberapa pertanyaan yang bersarang di dalam otaknya.
"Nis, malam ini izinkan aku untuk tidur di kamarmu ya."
Dahi Ganis mengernyit. "Ada apa Mas?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tidur bersamamu."
.
.
.