NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN CENGENG!

Satu jam berlalu sejak kepergian Adi dan Eva, namun aroma parfum floral-woody milik Eva seolah masih tertahan di udara, mencemooh Ana yang terduduk kaku di kursinya. Lab penelitian yang biasanya menjadi tempat paling aman bagi Ana kini terasa seperti penjara kaca. Ia bisa melihat segalanya dengan jelas, namun ia terjebak dalam ruang kedap suara di mana teriakannya tidak akan pernah terdengar.

Ana mencoba menyibukkan diri dengan memasukkan angka-angka ke dalam spreadsheet. Namun, setiap kali ia melihat variabel "Lama Hubungan" atau "Status Pernikahan" dalam kuesioner penelitiannya, dadanya berdenyut perih. Logika sarjananya mulai bekerja dengan kejam:

Subjek A (Adi) + Subjek B (Eva) = 5 tahun di Australia.

Subjek A (Adi) + Subjek C (Ana) = 10 bulan menjadi mahasiswinya termasuk bimbingan skripsi.

Secara statistik, ia kalah telak.

Suara pintu yang terbuka mengejutkan Ana. Ia cepat-cepat menghapus sisa air mata dengan punggung tangannya, berharap matanya tidak terlalu sembab. Namun, yang muncul bukanlah Adi, melainkan Ibu Myra yang membawa beberapa dokumen.

"Lho, Ana? Sendirian aja? Pak Adi ke mana?" tanya Ibu Myra sambil meletakkan dokumen dan sebuah kotak di meja tengah.

"Sedang makan siang sama Bu Eva, Bu." jawab Ana, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

Ibu Myra menghela napas, lalu menarik kursi dan duduk di depan Ana. Beliau menatap mahasiswi kesayangannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan—setengah prihatin, setengah memperingatkan. "Udah saya duga. Memang susah kalau dua-duanya keras kepala. Adi itu orangnya lurus, Ana. Terlalu lurus sampai kadang dia lupa kalau perasaan orang lain nggak sama kaya dia, yang lempeng aja. Apalagi wanita, dikit-dikit baper kan ya."

Ana terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.

"Kamu tahu kenapa mereka putus?" tanya Ibu Myra tiba-tiba.

Ana tersenyum kikuk, merasa aneh kenapa bu Myra bertanya hal itu padanya seakan tau segalanya soal Adi, Ana menggeleng pelan. "Hm.... saya kurang tau, Bu."

Bu Myra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang seakan menyiratkan ada rahasia di baliknya. "Eva itu wanita yang hebat. Sangat ambisius. Di Australia, dia ditawari posisi permanen di universitas tempat mereka ambil Doktoral. Adi diminta tinggal di sana, mendampingi Eva. Tapi Adi menolak. Dia merasa punya utang pada almamaternya di sini. Dia memilih pulang, meski harus kehilangan wanita yang sudah bersamanya selama setengah dekade."

Kalimat itu menghantam Ana lebih keras dari apa pun. Jadi, Adi memilih prinsip di atas cinta. Dan sekarang, Eva kembali. Eva yang dulu pergi demi karier, kini berdiri di depan Adi sebagai konsultan hebat yang justru mendatangi 'wilayah' Adi. Timbul pertanyaan penting dibenak Ana, kalau dia punya kehidupan yang di inginkan di sana, lalu untuk apa baru setahun tapi bu Eva sudah kembali ke sini? demi mas Adi?.

"Jangan jadi bayang-bayang, Ana," bisik Ibu Myra sebelum beranjak pergi. "Kalau kamu mau ada di samping Adi, kamu harus punya pijakan yang sama kuatnya dengan dia. Jangan cuma jadi mahasiswi yang butuh dilindungi."

Ana terdiam mematung, antara kaget karena merasa bahwa bu Myra tau segalanya soal hubungannya dengan Adi, dia juga bingung harus bereaksi bagaimana. Myra tersenyum. "Udah gak usah dipikirin, salam buat Adi ya bilang ini dari saya. makasih Ana." Bu Myra mengetuk bungkusan kotak yang sepertinya berisi makanan, dan berlalu keluar ruangan, meninggalkan Ana dengan banyak tanda tanya.

*

Perang Dingin di Balik Monitor

Pukul dua siang, Adi dan Eva kembali. Mereka masuk sambil tertawa—sebuah pemandangan yang hampir tidak pernah Ana lihat dari seorang Pak Adi yang biasanya hanya bisa memberikan senyum tipis seirit kuota data.

"Makasih makan siangnya, Di. Ayam bakarnya masih enak ya, gak berubah dari lima tahun lalu," kata Eva sambil merapikan blazernya. Ia kemudian menoleh ke arah Ana. "Ana, sudah selesai merapikan data setnya? Saya butuh itu sekarang untuk simulasi di R-Studio."

"Sudah, Bu. Sudah saya kirim ke email Bapak dan Ibu," jawab Ana singkat. Ia tidak menatap Adi sama sekali.

"Bagus. Cekatan sekali kamu," puji Eva tulus, namun di telinga Ana, pujian itu terdengar seperti majikan yang memuji pembantu rumah tangganya yang rajin.

Adi duduk di mejanya, kembali mengenakan kacamata. "Ana, kemari sebentar."

Ana berdiri dan mendekat ke meja Adi, menjaga jarak sekitar satu meter. "Iya, Pak?"

Adi mendongak, keningnya berkerut mendengar panggilan 'Pak' yang ditekankan itu. "Malam ini kita ada pertemuan dengan dekan untuk presentasi awal proyek. Saya ingin kamu ikut dan menyiapkan bahan presentasinya. Bu Eva juga akan ikut."

"Maaf, Pak," Ana memotong dengan nada datar. "Malam ini saya ada acara keluarga. Sebagai asisten, jam kerja saya bukannya sampai jam empat sore saja, sesuai kontrak?"

Ruangan itu mendadak sunyi. Eva menghentikan ketikannya di laptop, menatap Ana dengan tatapan tertarik. Sementara itu, wajah Adi mengeras. Rahangnya menegang—tanda bahwa 'Dosen Killer' di dalam dirinya sedang terpancing.

"Ana, ini proyek besar. Fleksibilitas itu perlu," ujar Adi dengan suara rendah yang mengintimidasi.

"Dan profesionalitas juga perlu, Pak," balas Ana masih dengan nada datar dan menatap langsung ke mata tajam Adi. "Saya sudah menyelesaikan semua kewajiban saya hari ini. Dan kebetulan saya juga sudah ada janji. Jika ada tugas tambahan di luar jam kerja, mohon informasikan setidaknya dua puluh empat jam sebelumnya supaya saya bisa menyesuaikan."

Tentu saja Adi makin geram mendengar alasan itu, Ada janji dengan siapa dia? dan sejak kapan Saya harus buat janji untuk bertemu dengan gadis ini?. Namun sebelum Adi menjawab argumen Ana. Eva masuk ke obrolan mereka, mencoba menengahi.

"Di...," sela Eva dengan suara lembut, mencoba menengahi. "Nggak apa-apa. Biar aku aja nanti yang bantu siapkan bahannya. Ana mungkin memang punya urusan penting. Jangan terlalu keras sama asistenmu sendiri."

Kalimat Eva bermaksud baik, namun bagi Ana, itu adalah penghinaan terakhir. Eva memposisikan dirinya sebagai penyelamat, sebagai orang yang paling mengerti cara 'menjinakkan' Adi.

"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Bu Eva," ujar Ana tanpa menunggu jawaban sambil tersenyum, menyembunyikan semua kegalauan hatinya. Ia menyambar tasnya dan melangkah keluar dari laboratorium dengan kepala tegak, meski kakinya terasa lemas.

-

-

Perasaan vs. Logika 

Ana tidak pulang ke kosan. Ia duduk di taman belakang kampus yang sepi, menangis sejadi-jadinya di bawah pohon akasia. Gengsinya telah memenangkan pertempuran sore ini, tapi hatinya hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba, sebuah bayangan menutupi sinar matahari sore yang menerpa wajahnya. Ana mendongak dan menemukan Adi berdiri di sana. Napas pria itu sedikit memburu, kemeja batiknya sudah tidak serapi tadi pagi.

"Sejak kapan kamu jadi pembangkang seperti ini?" tanya Adi, suaranya tidak lagi dingin, melainkan terdengar letih.

Ana menyeka air matanya dengan kasar. "Sejak saya sadar kalau saya cuma jadi figuran di drama masa lalu Bapak."

Adi menghela napas panjang dan duduk di bangku taman, tepat di sebelah Ana. Ia tidak menyentuhnya, namun keberadaannya terasa begitu dominan. "Eva itu masa lalu, Ana. Saya sudah bilang semalam."

"Tapi masa lalu itu punya kunci apartemen Mas!" Ana menyela dengan nada agak tinggi namun dengan wajah datar, akhirnya Ana mengeluarkan apa yang mengganjal di hatinya. "Dia punya kenangan di Australia, dia punya kecerdasan yang setara sama Mas, dia punya segalanya yang nggak aku punya! Dan Mas... Mas bahkan nggak bisa bilang ke dia kalau aku ini siapa!"

Adi terkesiap, lalu menatap Ana dengan tatapan bingung. "Mau kamu apa Ana? Kamu mau saya bilang ke dia, kalau saya jatuh cinta pada mahasiswi saya sendiri saat hubungan saya dengan dia baru saja berakhir? Kamu tahu itu akan menghancurkan reputasi kita berdua, terutama kamu yang baru saja mau mulai berkarier."

"Jadi Mas cuma peduli sama reputasi?"

"Saya peduli sama kamu, Ana!" suara Adi mulai agak meninggi namun tetap menjaga batas. "Saya membawa Eva ke proyek ini bukan karena saya ingin bernostalgia ataupun kembali padanya. Saya membawanya karena dia memang yang terbaik di bidangnya. Dan ini juga sara dekan, Saya sudah jelaskan semalem. Saya ingin proyek ini berhasil, dan saya ingin kamu belajar dari yang terbaik. Saya ingin kamu menjadi sehebat dia, atau bahkan lebih, supaya suatu saat nanti nggak ada satu orang pun di universitas ini yang berani meremehkan posisi kamu di samping saya!"

Ana terpaku. Ia menoleh perlahan, menatap wajah Adi yang tampak frustrasi. "Maksud Mas?"

Adi memutar tubuhnya, menghadap Ana sepenuhnya. Ia meraih tangan Ana, menggenggamnya dengan erat, mengabaikan siapa pun yang mungkin melihat mereka di taman itu. "Saya memang bukan pria yang pandai merangkai kata-kata manis. An. Saya adalah jenis manusia yang selalu mengedepankan logika. Tapi satu hal yang harus kamu tahu... setahun lalu saya meninggalkan Australia bukan cuma karena 'visi'. Saya pergi karena saya merasa hampa dengan hubungan yang isinya cuma kompetisi karier."

Adi mengusap ibu jari Ana dengan lembut. "Lalu saya ketemu kamu. Yang berani mendebat saya saat bimbingan, yang punya semangat murni, yang berani jutekin saya." ujung bibir Adi terangkat saat mengatakannya, seolah itu adalah hal yang lucu. "Kamu bukan pelarian, Ana. Kamu adalah alasan kenapa saya merasa keputusan saya untuk pulang ke sini adalah hal paling benar yang pernah saya buat."

Ana tertegun. Kemarahan yang tadi membara kini perlahan padam, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, keraguan itu masih ada. "Tapi Bu Eva... dia masih terlihat sangat mengharapkan Mas."

"Itu urusan dia, bukan urusan saya," jawab Adi tegas. "Kunci apartemen yang dia maksud itu kunci apartemen di Brisbane yang belum sempat saya kembalikan ke agen. Saya sudah minta dia untuk memberikannya pada staf administrasi fakultas saja. Saya tidak akan menemuinya di luar urusan pekerjaan."

Adi mendekatkan wajahnya, menatap mata Ana dengan intensitas yang membuat jantung Ana seolah berhenti berdetak. "Jangan pernah bandingkan dirimu dengan dia lagi. Kamu punya sesuatu yang nggak dia miliki."

"Apa?" bisik Ana.

"Kamu punya masa depan saya," jawab Adi pendek, sebelum akhirnya mendaratkan kecupan lembut di kening Ana—kali ini tanpa rasa ragu, tanpa rasa sembunyi-sembunyi. Ana merasa kikuk dengan perlakuan lembut Adi setelah melihat dirinya yang rapuh, dan bagaimanapun ini di tempat umum, bagaimana kalau ada yang lihat. Ana mendorong Adi pelan, dan untuk menutupi kecanggungan Ana berkata, "Gombal!."

Adi hanya tersenyum menanggapi gadis di depannya, Ia tak menyangka gadis juteknya ini bisa serapuh ini.

Sore itu, di bawah pohon akasia, Ana menyadari bahwa gelarnya sebagai sarjana mungkin didapat dengan logika, namun gelarnya di hati Adi didapat dengan keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Perang batinnya belum sepenuhnya usai—Eva mungkin masih akan ada di sana dengan segala kehebatannya—namun kini Ana tahu, ia tidak sedang berjuang sendirian.

Ia bukan lagi sekadar mahasiswi bimbingan atau asisten peneliti. Ia adalah pusat dari orbit baru yang sedang dibangun Adi. Dan bagi Ana, itu sudah lebih dari cukup untuk menghadapi bayangan masa lalu sekuat apa pun.

"Jadi, bahan presentasinya mau saya bantu siapkan sekarang, Pak?" goda Ana dengan senyum jahilnya yang khas.

Adi terkekeh, suara langka yang terdengar sangat merdu. "Panggil saya 'Mas' kalau kita cuma berdua. Malam ini kamu istirahat saja dulu. Sekarang saya antar kamu pulang dulu."

Ana tertawa, bayangan Eva mungkin masih ada, tapi hari ini, setidaknya meski belum ada kata resmi, tapi setidaknya Ana tau, posisinya penting bagi Adi.

-

-

-

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!