💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 : Godaan pertama.
Setelah Arsen pergi meninggalkan ruangan, suasana yang tadinya tegang perlahan mulai mereda. Bima menghela napas panjang dan menoleh ke arah Farel dengan tatapan yang penuh makna.
"Farel, tolong antar Viona ke kamarnya di lantai atas. Biar dia istirahat dulu, besok baru kamu tunjukkan padanya ruangan-ruangan yang ada dirumah ini," ujar Bima dengan suara yang sudah kembali tenang, disertai senyum hangat untuk menenangkan suasana.
Farel mengangguk lalu berdiri, dia menghadap pada Viona. "Viona, ayo aku antar ke kamarmu."
Viona segera berdiri, mengangguk dengan senyum lembut kepada Bima dan Saskia, serta tuan Danu. "Paman Bima, Tante Saskia, Kakek, terimakasih sudah menerimaku dirumah ini. Kalau begitu aku permisi ke kamar dulu,"
Setelah berpamitan, Viona mengikuti langkah Farel yang menuju ke arah tangga. Saat mereka sedang naik tangga, Farel membuka pembicaraan untuk memecah kesunyian.
"Kamu jangan tersinggung dengan ucapan pamanku tadi ya. Usia paman sudah 35 tahun tapi belum juga menikah, itulah sebabnya dia suka marah-marah dan membuat masalah."
Viona menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Tidak apa-apa, Rel. Aku ngerti kok. Mungkin paman kamu kecapean setelah seharian kerja."
"Dia memang sering seperti itu, selalu melihat sisi negatif dari setiap keputusan keluarga. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah membiarkan dia menyakitimu." ucap Farel sambil melanjutkan langkahnya ke lantai atas.
Saat mereka tiba di depan sebuah pintu kamar yang akan ditempati Viona, Farel membuka pintunya dan melangkah masuk terlebih dahulu. Dia mengangkat tangan ke arah dinding sebelah pintu, dan menekan saklar lampu putih kecil yang terpasang di sana. Lampu plafon berbentuk lingkaran langsung menyala, menerangi setiap sudut kamar.
"Ayo masuk, sekarang ini adalah kamarmu."
Viona melangkahkan kakinya masuk, matanya terpaku dengan ekspresi takjub yang jelas terlihat di wajahnya. Wajahnya bersinar dengan senyum bahagia, sementara matanya terus menjelajahi setiap sudut kamar yang kini menjadi miliknya.
"Kamu istirahat ya, aku tinggal dulu." ucap Farel, menepuk lembut lengan Viona. "Kalau kamu perlu sesuatu, kamu bisa panggil aku atau pelayan dibawah. Kamarku juga ada di lantai atas dekat tangga, kalau yang di ujung sebelah kanan itu kamar paman Arsen."
Setelah mengatakan itu, Farel berbalik dan keluar dari kamar. Viona menatap pintu yang sudah kembali tertutup rapat, lalu matanya menjelajahi setiap sudut kamar kembali. Kakinya melangkah ke arah jendela kaca yang besar, membuka tirai sedikit dan melihat pemandangan kolam renang dibawah sana.
"Sebaiknya aku mandi dulu, setelah itu baru tidur."
Viona menoleh ke arah sofa dan melihat kopernya sudah ada disana. Setelah menaruh kopernya diatas ranjang dan menyiapkan baju ganti yang akan dia pakai nanti setelah mandi, Viona berjalan menuju ke arah kamar mandi yang terletak di sebelah lemari besar. Dia membuka pintunya dan menutupnya kembali dengan rapat.
-
-
-
Waktu terus bergulir, jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Viona sudah selesai mandi dan mengenakan baju tidur pendek. Rambutnya yang masih sedikit basah ditutupi dengan handuk yang dililitkan di kepalanya.
"Duh, aku lupa bilang ke Farel buat bawain minum tadi," bisiknya, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering dan haus. Viona menurunkan handuk dari kepalanya dan berdiri di depan cermin rias untuk menyisir rambut.
Setelah rambutnya rapi, Viona membuka pintu kamarnya dan melangkah menuju ke arah tangga dengan langkah pelan agar tidak mengganggu istirahat para penghuni rumah yang lain. Ketika sampai di lantai bawah, Viona melihat Arsen yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil membaca buku.
Arsen duduk dengan kaki saling bertumpu, tubuhnya menyandar pada punggung sofa. Bathrobe berwarna biru dongker yang dikenakannya terbuka sedikit di bagian depannya, memperlihatkan dada bidangnya yang berotot. Tali ikat pinggang diikat longgar di sekitar pinggangnya, celana panjang warna senada mengembang lembut sesuai dengan bentuk paha dan betisnya yang tegap.
Matanya tetap fokus pada buku tebal di pangkuannya dan berpura-pura tidak menyadari kehadiran Viona disana. Viona melangkahkan kakinya mendekat dengan perlahan, lalu berhenti saat dia sudah berdiri didekat sofa.
"Permisi Paman, aku hanya ingin mengambil minum."
Saat Viona hendak melangkahkan kaki untuk melewatinya, Arsen menjulurkan satu kakinya dan membuat Viona kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke depan, dan sebelum dia jatuh ke lantai, tangan Arsen dengan cepat menjerat pergelangan tangannya dan menariknya hingga dia terduduk di pangkuan Arsen.
"Pa-paman..." Viona terkejut dengan wajah memerah saat wajahnya begitu dekat dengan Arsen, dia menarik cepat tangannya yang tidak sengaja menyentuh dada Arsen yang terbuka.
"Ahhh..." dengan sengaja Arsen mendekatkan wajahnya ke wajah Viona dan mengeluarkan suara desahan lembut. "Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?"
Viona terkejut mendengarnya, dia ingin menarik diri tapi tangan Arsen melingkari pinggangnya dengan kuat.
"T-Tidak, Paman... bukan begitu! Tadi kakiku tersandung," ucapnya dengan suara gemetar dan wajah panik.
Arsen menatapnya dengan tatapan yang dalam, kemudian mengangkat satu tangannya untuk menyentuh pipi Viona yang memerah.
"Kamu mengenakan baju tidur yang terlalu seksi untuk malam hari seperti ini, Viona," ucapnya dengan nada rendah yang menusuk telinga, bibirnya hampir menyentuh hidung gadis itu. "Apakah kamu tidak tahu bahwa pakaian seperti ini bisa membuat pria berpikir salah?"
"Aku tidak bermaksud... aku hanya merasa nyaman mengenakannya," bisiknya sambil mencoba menjauhkan wajahnya dari tatapan Arsen yang membuatnya tidak nyaman.
Namun Arsen malah semakin mendekatkan wajahnya, napas hangatnya menyentuh leher Viona yang sudah mulai berkeringat dingin.
"Jangan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang kamu lakukan, gadis kecil." ucap Arsen dengan nada pelan namun penuh dengan tekanan, tangannya yang tadinya menyentuh pipi Viona perlahan bergeser ke rahangnya, sedikit mengangkat dagu gadis itu agar wajahnya tetap menghadap dirinya.
Viona menutup mata dengan kuat, lalu membukanya kembali, "Tolong, Paman Arsen. Aku sungguh tidak bermaksud apa-apa. Tolong lepaskan aku!"
Viona menggenggam lengan Arsen dengan kedua tangannya, sambil mencoba menarik diri dari pangkuan Arsen. Namun Arsen tetap memegang pinggangnya dengan kuat dan seolah enggan untuk melepaskannya.
"Viona? Apa kamu ada dibawah?"
Panggilan itu terdengar seperti suara penyelamat di telinga Viona, namun wajahnya justru semakin menunjukkan rasa panik. Dia melihat ke arah lorong yang menghubungkan ke arah tangga dengan mata penuh harapan, kemudian kembali menatap Arsen yang hanya memberikan senyum tipis di sudut bibirnya. Pria itu bahkan memperketat sedikit cengkeramannya pada pinggang Viona, membuat gadis itu mengerang pelan karena terkejut.
-
-
-
Bersambung...