NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: selvi serman

Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2.

Vania gegas turun dari mobilnya dan berlari kecil menuju pintu utama gedung hotel.

"Bagaimana bisa di hari sepenting ini kamu justru datang terlambat, Vania?." Cika berjalan menghampiri keberadaan sahabat baiknya itu. "Apa Sesil sakit?." Mungkin saja bocah berusia empat tahun tersebut tengah sakit hingga membuat Vania datang terlambat, mengingat Vania bersatus single mom yang apa-apa harus dilakukan sendiri, termasuk mengurus semua keperluan putrinya.

Vania menggelengkan kepala. "Bukan itu. Sesil baik-baik saja, hanya saja saat berangkat tadi ada accident di jalan. Seorang ibu pengendara sepeda motor diserempet oleh mobil dan pengemudi mobil tersebut malah lari dari tanggungjawab. Aku tidak tega hingga memutuskan untuk mengantarkan ibu itu ke rumah sakit."

"Vania...Vania... Kamu menyelamatkan seseorang, sekarang malah kamu sendiri yang sepertinya akan sulit terselamatkan dari pimpinan baru kita." Sesaat sebelum kedatangan Vania, manager hotel berpesan pada Cika untuk meminta Vania menghadap ke ruangan pimpinan.

"Kamu diminta menghadap pada pimpinan baru kita." Beritahu Cika.

"Mati aku...." Gumam Vania. Keterlambatannya hari ini pasti akan menciptakan citra buruk bagi dirinya di mata pimpinan baru.

Tak ingin lebih banyak membuang waktu, Vania pun berpamitan pada Cika untuk menghadap ke ruang pimpinan.

Setibanya di depan ruangan pimpinan, Vania nampak menghela napas panjang kemudian menghembusnya perlahan. Seolah tengah mempersiapkan diri sebelum mengetuk pintu.

Tok....tok...tok....

"Masuk!." Terdengar suara seruan dari dalam ruangan. Vania lantas memutar handle pintu ruangan.

"Selamat pagi, tuan." Vania menatap lurus ke depan, di mana nampak seorang pria bersetelan jas hitam tengah sibuk dengan berkas dihadapannya.

Deg

Vania terpaku saat melihat dengan jelas wajah pimpinan baru mereka tersebut. Detak jantungnya pun berdegup lebih kencang dari biasanya, seperti orang yang sedang ketakutan. Namun sepersekian detik kemudian, Vania kembali tersadar dan berusaha bersikap tenang.

Tatapan tajam pria dihadapannya itu membuat Vania sontak menundukkan pandangan.

"Saya mohon maaf atas keterlambatan saya pagi ini, tuan."

"Jika sudah bosan bekerja di hotel ini maka silahkan mengajukan surat pengunduran diri!." kata-kata tegas Sandi selaku pimpinan baru di hotel tersebut terdengar tajam menusuk.

"Saya masih ingin bekerja di hotel ini, tuan. Sekali lagi saya mohon maaf atas keterlambatan saya." Masih dengan posisi pandangan tertunduk Vania berujar.

"Mengapa anda menundukkan pandangan seperti itu? Saya tidak memakan manusia."

"Maaf tuan." Vania lantas mengangkat pandangannya, memandang lurus ke depan, lebih tepatnya menatap lawan bicaranya.

"Saya harap ini kali pertama dan terakhir anda datang terlambat. Saya tidak suka pada pegawai yang tidak on time."

"Baik, tuan. Terima kasih atas kebijakan anda. Kalau begitu saya pamit untuk memulai pekerjaan saya."

Tak ada respon dari Sandi. Pria itu kembali menyibukkan diri dengan berkas dihadapannya.

Setibanya di ruang kerjanya, Vania mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya. Vania duduk melamun. Lamunannya semakin jauh hingga membawa ingatan Vania pada kejadian yang selama ini ingin dilupakannya untuk selamanya.

"Dari sekian banyaknya manusia di muka bumi ini, mengapa harus dia yang menjadi pimpinan baru di hotel ini." Batin Vania, tanpa sadar air mata ibu satu anak tersebut jatuh membasahi pipi.

"Permisi, Nona Vania." Vania sontak mengusap jejak air mata di pipi saat mendengar seruan seseorang.

"Silahkan masuk, pak!." Vania mempersilahkan salah seorang rekan kerjanya memasuki ruang kerjanya.

"Pak manager sedang ada urusan di luar, dan beliau meminta anda menyiapkan laporan keuangan hotel untuk bulan lalu. Jika sudah siap, maka anda di minta mengantarkannya ke ruangan pimpinan!." Sebelum pergi meninggalkan hotel, manager hotel menitip pesan untuk Vania.

"Baik, pak."

Sepeninggal rekan kerjanya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, Vania pun segera menyiapkan berkas yang dimaksud.

Di ruangan pimpinan.

Sandi mendapat telepon dari ayahnya.

"Halo, pah."

"Papah paham dengan kesibukan kamu, tapi bukan berarti untuk sekedar menerima panggilan kamu tidak punya waktu, Sandi.

Saat ini mamah sedang dirawat di rumah sakit akibat keserempet mobil saat mengendarai motor kesayangannya itu." Akibat tadi Sandi sengaja tidak menjawab panggilan telepon darinya, maka ibu memilih menelepon nomor kontak ayah.

"Bagaimana keadaan mamah sekarang, pah?." Mimik wajah serta nada suara Sandi berubah cemas.

"Untungnya mamah hanya mengalami luka gores saja pada lututnya. Dan, untungnya ada orang baik yang segera mengantarkannya ke rumah sakit."

"Di rumah sakit mana mamah di rawat, pah."

"Di rumah sakit nusa bangsa."

"Baiklah, Sandi ke sana sekarang." Setelah memutuskan sambungan telepon Sandi meraih kunci mobilnya, hendak menuju rumah sakit.

*

Setibanya di ruang IGD rumah sakit, pandangan Sandi disambut oleh keberadaan ibunya yang sedang terbaring di atas brankar rumah sakit dengan kondisi lutut dibalut perban.

"Sudah berapa kali Sandi bilang ke mamah untuk berhenti mengendarai motor kesayangan mamah itu, tapi mamah tetap saja keras kepala dan tidak mengindahkan peringatan dari Sandi." Bukannya ingin mengomeli ibunya, Sandi hanya sebal saja dengan sikap keras kepala ibunya.

"Makanya, segeralah menikah biar mamah dapat cucu, dengan begitu mamah akan menyibukkan diri menjaga cucu, bukannya motoran lagi." Jawaban ibunya mampu memancing helaan napas panjang dari Sandi. Di rumah sakit sekalipun, ibunya masih saja membahas tentang pernikahan.

"Ohiya, tadi mamah sempat menghubungi kamu menggunakan ponsel milik orang yang telah menolong dan mengantarkan mamah ke rumah sakit, tapi sayangnya kamu tidak mengangkat panggilan telepon dari mamah."

"Astaga.... Rupanya panggilan telepon dari kontak tak dikenal tadi adalah panggilan dari mamah."Sesal Sandi karena telah mengabaikan panggilan telepon tersebut.

"Sandi minta maaf mah, Sandi nggak tahu kalau itu panggilan telepon dari mamah."

"Sudahlah, kamu memang terlalu mementingkan pekerjaan sampai-sampai mengabaikan semuanya, termasuk mamah kamu sendiri." Ibu memasang wajah merajuk.

"Bukan begitu, mah. Tadi Sandi lagi dalam sesi perkenalan didepan semua pegawai hotel. Kalau seandainya Sandi tahu panggilan telepon tadi dari mamah, Sandi pasti tidak akan mengabaikannya." Bukannya sekedar merayu tapi seperti itulah kenyataannya, jika saja ia tahu panggilan telepon tersebut dari ibunya, tak peduli sesibuk apa Sandi pasti akan meninggalkan kesibukannya demi ibunya.

"Sandi minta maaf ya mah." Sandi yang kini telah duduk di tepi tempat tidur pasien, meraih tangan ibunya dan membawanya ke dalam genggaman.

"Daripada kamu membuang waktu buat minta maaf ke mamah, lebih baik kamu gunakan waktu kamu itu untuk mencari calon menantu buat mamah! Karena, sesuai dengan perjanjian kita, jika sampai bulan depan kamu belum mengenalkan calon istri kamu pada mamah dan papah, maka mamah sendiri yang akan turun tangan mencarikan calon istri buat kamu." Ibu menggunakan kesempatan emas ini untuk menekan putra semata wayangnya itu.

"Baiklah." Lagi-lagi, Sandi hanya bisa pasrah jika pada akhirnya ia harus menikah dengan wanita pilihan ibunya.

Selamat datang di karya baru aku, sayang-sayangku....semoga kalian suka dengan alurnya...😘😘😘🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏

1
Nurminah
lanjut thor
Lia siti marlia
makasih doang nih vania😄 gak ada tambaha lain mungkin buat nyenengin pak bos 🤭🤭🤭
secret
sekaliann gopub ajaa gaa sii, biar mingkemm semua tu mulut2 tukang gosipp🤭
Felycia R. Fernandez
yang lebih parah itu mulut Atika...
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Ariany Sudjana
kok cuma disuruh minta maaf saja? kenapa ga dipecat dan diblacklist dari semua jaringan hotel? terlalu ringan kalau hanya disuruh minta maaf
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: padahal udah melakukan kecurangan juga ya diperusahaan
total 1 replies
Ariany Sudjana
cuma segini updatenya?
secret
thorr kok blm up sii😭
Syarifah
🤭🤭🤭
Lusi Hariyani
nah gitu dong sandi cr th ttg istrimu
secret
ga habis2 si manajer tuaa bikin ulah, liat aja bntr lg kena depakk
Lia siti marlia
cie cie yang di kasih dukungan sama pak bos plus suami ayo vania robek tuh mulut c wanita lemes 🤭🤭🤭
Felycia R. Fernandez
Naah lho...
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
naaah kan...
Nurminah
double up thor
Felycia R. Fernandez
Pasti bingung ini tentang data2 diri Sesil...mana akte kelahiran nya??
Lusi Hariyani
kpn terungkap y kakak klo sesil mmg ank kandung sesil
Nurminah
lanjutkan
secret
ehh ehh pmksdd ayo mandii😂😂 lanjuuttt thorrr, semangaaattt
Lia siti marlia
eh eh jangan mau di ajak mandi bareng vania entar kelar mandinya sampe zduhur lagi 🤭🤭keburu sesil ngamuk deh😄
Lusi Hariyani
jujur vania sm sandi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!