Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Kamar Utama di apartemen mewah Everest itu terasa begitu sunyi, namun keheningannya tidak lagi mencekam seperti di mansion Mettond. Catherina duduk bersandar di kepala ranjang, memandangi wajah lelap Liam di bawah temaram lampu tidur. Pikirannya melayang jauh, memutar kembali kejadian hari ini seolah-olah itu adalah potongan film yang tidak nyata.
Bagaimana mungkin Everest, pria yang baru bertemu kembali dengannya setelah tahun penuh kebencian, langsung menganggap Liam sebagai seorang Cavanaught? Tanpa keraguan, tanpa tes DNA, Everest seolah-olah sudah mengenali detak jantung Liam sejak dalam kandungan.
Pikiran Catherina beralih pada Adrian. Kontrasnya begitu menyakitkan. Adrian, pria yang secara hukum adalah ayah Liam, bahkan tidak pernah sudi menyentuh kulit bayi itu. Adrian memandang Liam sebagai aib, sebagai beban, dan sebagai bukti pengkhianatan yang bahkan tidak benar. Adrian tidak pernah menggendongnya, apalagi membisikkan kata-kata sayang.
Namun Everest...
"Selamat malam, Anak Daddy. Mimpi indah bersama Mommy ya, Sayang."
Kata-kata itu terus berdengung di telinga Catherina seperti melodi yang indah namun menyayat hati. Panggilan 'Daddy' yang disematkan Everest pada Liam tadi hampir saja menghancurkan pertahanan Catherina. Ia harus menggigit bibir bawahnya keras-keras agar tidak menangis di depan pria itu. Ada ketulusan yang begitu murni dalam suara Everest, sesuatu yang tidak pernah ia temukan pada Adrian selama sepuluh bulan pernikahan mereka.
Catherina mengusap pipi lembut Liam. "Kau tahu, Nak? Hari ini kau tidak rewel sama sekali," bisiknya lirih.
Memang benar. Sepanjang hari di apartemen Everest, Liam tampak sangat tenang. Tidak ada tangisan histeris seperti yang biasa terjadi di mansion mewah Mettond. Apakah bayi sekecil ini sudah bisa merasakan energi di sekitarnya? Apakah Liam tahu bahwa di sini, dia tidak lagi dianggap sebagai "sampah", melainkan sebagai seorang pangeran yang sangat dinantikan? Sepertinya Liam memang tidak pernah betah di rumah megah milik keluarga Adrian yang dingin itu.
Karena rasa lelah yang luar biasa—kelelahan fisik akibat mengemas barang dan kelelahan mental akibat konfrontasi dengan Adrian—Catherina akhirnya jatuh terlelap. Ia tertidur dengan sangat nyenyak, sebuah tidur tanpa mimpi yang sudah lama tidak ia rasakan.
Tengah malam tiba. Suasana apartemen yang dingin dan minimalis itu mendadak pecah oleh suara tangisan bayi yang melengking. Liam terbangun. Suaranya menggema di lorong sunyi, memanggil perhatian.
Namun, Catherina tidak bergeming. Ia tertidur begitu pulas seolah-olah dunianya sedang berhenti sejenak untuk memulihkan diri.
Pintu kamar terbuka perlahan. Bukan Catherina yang bangun, melainkan Everest. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung hingga siku, tanda bahwa ia pun belum tidur dan mungkin sedang terjaga di ruang kerjanya.
Everest melangkah mendekati boks bayi sementara. Ia melihat Catherina yang terlelap di ranjang besar, wajah wanitanya tampak begitu damai meski guratan kelelahan masih tersisa. Everest tersenyum tipis, lalu beralih pada Liam yang wajahnya sudah memerah karena menangis.
"Sstt... Sayang, putra Daddy. Jangan bangunkan Mommy ya, Sayang," bisik Everest lembut. Ia mengangkat Liam dengan hati-hati. "Kasihan Mommy sedang istirahat. Dia sudah sangat lelah menghadapi si brengsek itu."
Everest merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia mencium bau yang tidak sedap. "Oh, kelihatannya popokmu sudah penuh, jagoan."
Everest Cavanaught, sang penguasa bisnis yang bisa meruntuhkan bursa saham dalam sekejap, kini berdiri kebingungan di depan seorang bayi mungil. Tentu saja ia tidak pernah mengganti popok seumur hidupnya. Dengan sigap, ia mengambil ponsel canggihnya, mencari tutorial cepat di internet tentang cara mengganti popok bayi laki-laki.
"Oke, angkat kakinya sedikit... bersihkan... pakai bedak..." gumamnya mengikuti instruksi di layar ponsel.
Tangannya yang biasanya memegang pena mahal atau kemudi mobil sport, kini bergerak dengan sangat telaten dan hati-hati. Ia takut menyakiti kulit bayi itu. Setelah berjuang selama sepuluh menit dengan keringat dingin di pelipisnya, akhirnya popok baru terpasang dengan rapi.
"Beres. Kau hebat, Liam. Kau tidak menangis saat Daddy yang melakukannya," ujar Everest bangga pada dirinya sendiri.
Everest kemudian menggendong Liam keluar dari kamar utama. Ia tidak ingin Liam terbangun lagi dan mengganggu tidur Catherina. Ia membawa Liam ke kamar Tamu—kamar utama yang seharusnya ia tempati, namun ia berikan pada Catherina.
Di dalam kamarnya yang beraroma maskulin dan sandalwood, Everest membaringkan Liam di tengah ranjang king size-nya. Ia ikut berbaring di samping bayi itu, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil memandangi Liam yang mulai tenang kembali.
Pikiran Everest mulai berkelana. Ia menatap lekat-lekat jemari kecil Liam. Dalam hati, ia masih tidak menyangka. Selama empat tahun ia bersama Catherina dulu, mereka melakukan hubungan itu hampir setiap malam. Mereka tidak pernah menggunakan pengaman, dan Catherina pun tidak pernah hamil karena diam-diam mengonsumsi pencegah kehamilan.
Namun Liam? Putra ini... bisa "jadi" hanya dalam satu malam nekat di asrama itu. Satu malam penuh amarah dan cinta yang meledak sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Hanya satu malam, dan kau langsung memilih untuk hadir di rahim ibumu," bisik Everest pada Liam. "Kau memang tahu kapan waktu yang tepat untuk datang dan menyelamatkan Mommy-mu."
Namun, di tengah rasa bahagianya, bayangan Adrian Mettond kembali melintas. Everest mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah menyulut dadanya saat membayangkan tubuh Catherina yang pernah disentuh oleh pria lain selama ini. Mengingat Catherina pernah melayani Adrian, pernah mengandung (yang ia pikir) anak Adrian, dan pernah menjadi milik sah pria itu, membuat Everest merasa ingin menghancurkan apa pun di depannya.
"Oh, shittt..." Everest menggeram rendah, memejamkan mata rapat-rapat.
Ia mencoba mengatur napasnya. "Aku tidak bisa seperti ini. Itu masa lalu Cathe. Aku harus menerimanya."
Ia berusaha merasionalkan semuanya. Lagipula, ini juga salahnya. Jika saja waktu itu ia tidak pergi karena egonya yang terluka, jika saja ia lebih bersabar menghadapi ketakutan Catherina, wanita itu tidak akan pernah jatuh ke pelukan Adrian.
"Anggap saja Adrian adalah hama," gumam Everest dingin, matanya kini menatap langit-langit kamar dengan tajam. "Hama yang tidak sengaja hinggap pada milikku saat aku sedang lengah. Tapi sekarang, aku sudah kembali. Dan hama itu akan kubasmi sampai ke akar-akarnya."
Everest menoleh kembali pada Liam. Bayi itu sudah tertidur sangat pulas, seolah merasakan keamanan yang mutlak di samping ayahnya. Everest menarik selimut, menutupi tubuh mungil itu, lalu ia sendiri memejamkan mata.
Malam itu, di apartemen yang paling aman di seluruh kota, seorang raja telah kembali ke singgasananya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh ratu atau putra mahkotanya lagi.
Persidangan cerai besok akan menjadi awal dari kehancuran keluarga Mettond, dan Everest akan memastikan bahwa nama "Liam Mettond" segera terhapus dari sejarah, digantikan oleh nama yang jauh lebih agung: Liam Cavanaught.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍