Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Liburan
Malam itu, suasana di rumah baru mereka terasa sangat berbeda. Wangi cat yang masih segar bercampur dengan aroma pengharum ruangan musk yang maskulin, menciptakan atmosfer yang intim dan eksklusif. Shakira baru saja selesai mandi, tubuhnya masih terasa ringan setelah ketegangan sidang skripsi tadi siang menguap sepenuhnya. Ia mengenakan piyama satin tipis berwarna merah marun, pemberian Nina yang katanya "wajib dipakai kalau sudah lulus".
Di dalam kamar utama, Zidan sudah menunggu. Ia bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada, hanya mengenakan celana kain santai. Cahaya lampu nakas yang temaram menonjolkan otot-otot bahunya yang tegap. Di atas meja nakas, sebuah map cokelat kecil tergeletak manis.
"Sini, Sarjana kesayangan aku," panggil Zidan dengan suara bariton yang serak, matanya menatap Shakira dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan.
Shakira mendekat, duduk di tepi ranjang. "Mas... kok liatinnya gitu banget? Kan tadi sore udah aku kasih 'bonus' pelukan di kampus."
Zidan terkekeh, ia menarik pinggang Shakira hingga gadis itu terduduk di pangkuannya. Napas Zidan yang hangat menerpa leher Shakira, membuat bulu kuduknya meremang. "Itu mah baru pembukaan, Ra. Sekarang... waktunya 'Sidang Pleno' yang sesungguhnya. Aku penguji tunggalnya, dan kamu harus jawab semua 'pertanyaan' aku pake perasaan."
Tangan Zidan yang besar mulai menjelajah, menelusuri punggung Shakira yang halus di balik kain satin. Ia mencium bahu istrinya, memberikan hisapan-hisapan kecil yang membuat Shakira mendesah tertahan. "Mas... nanti dulu... katanya ada hadiah lagi," bisik Shakira, mencoba mengulur waktu meski jantungnya sudah berdegup kencang.
"Hadiahnya ada di situ," Zidan menunjuk map cokelat di atas meja dengan dagunya, tanpa melepaskan kecupannya di leher Shakira. "Tapi sebelum buka hadiah, aku mau 'validasi' dulu kelulusan kamu. Biar sah jadi Nyonya Zidan yang paling hebat."
Malam itu, "Sidang Pleno" versi Zidan benar-benar membakar suhu ruangan. Zidan adalah mekanik yang tahu persis titik-titik sensitif yang bisa membuat Shakira kehilangan kendali. Setiap sentuhannya adalah instruksi, dan setiap desahan Shakira adalah jawaban paling memuaskan bagi Zidan. Di bawah selimut tebal dan dinginnya AC, mereka menyatu dalam gairah yang jauh lebih panas dari biasanya—sebuah perayaan atas kerja keras Shakira dan kesetiaan Zidan yang tak pernah surut.
Satu jam berlalu. Napas keduanya masih tersengal, kulit mereka bersentuhan dalam pelukan yang erat di bawah temaram lampu. Zidan meraih map cokelat di atas nakas, lalu menyerahkannya pada Shakira yang masih mengatur napas di dadanya.
"Ini apa, Mas?" tanya Shakira lirih, ia perlahan membuka map tersebut dengan jari yang sedikit gemetar.
Di dalamnya, terdapat dua lembar tiket pesawat kelas bisnis dan satu voucher reservasi vila mewah dengan kolam renang pribadi. Shakira membacanya pelan, matanya membelalak lebar.
"Bali? Explore Pulau Bali selama seminggu? Mas... kamu serius?" Shakira terduduk tegak, menatap tiket itu lalu menatap Zidan bergantian.
Zidan menyeringai, ia menarik Shakira kembali ke pelukannya. "Serius, Sayang. Kamu udah berjuang mati-matian buat skripsi itu. Kamu jarang tidur, sering nangis kalau revisi ditolak. Sekarang kamu udah lulus, dan aku mau kita 'bayar' semua waktu stres itu di sana. Cuma kita berdua. Tanpa buku, tanpa laptop, dan tanpa gangguan bengkel."
"Tapi Mas... kerjaan kamu di bengkel gimana? Bobby sama Indra emang bisa ditinggal seminggu?" tanya Shakira khawatir, meskipun hatinya sudah berjingkrak kegirangan.
"Udah aku atur semuanya. Mereka malah seneng aku pergi, katanya biar telinga mereka nggak panas denger aku bucin terus tiap hari," jawab Zidan sambil tertawa. "Kita bakal keliling Bali, Ra. Dari Ubud yang tenang sampe pantai-pantai tersembunyi di Uluwatu. Aku udah sewa motor kustom di sana buat kita jalan-jalan berdua."
Shakira langsung menghambur memeluk Zidan, menciumi wajah suaminya itu bertubi-tubi. "Makasih, Mas! Makasih banget! Kamu kok bisa kepikiran sejauh ini sih? Aku bahkan nggak kepikiran buat liburan secepat ini."
"Apa sih yang nggak buat kamu? Aku mau kamu seneng, Ra. Aku mau kamu tau kalau aku bangga banget punya istri sarjana kayak kamu," Zidan membelai rambut Shakira dengan penuh kasih. "Lagian... di Bali kan udaranya bagus. Siapa tau pulang dari sana, 'proyek masa depan' kita yang kita bahas di toko sofa kemarin langsung membuahkan hasil."
Shakira tertawa, wajahnya kembali merona merah. "Ih! Ujung-ujungnya ke sana lagi!"
"Loh, harus dong. Honeymoon itu tugas negara, Nyonya Zidan," goda Zidan nakal. Ia membalik posisi, kini berada di atas Shakira, menatap mata istrinya dengan penuh damba. "Jadi... gimana? Udah siap buat 'persiapan keberangkatan' ronde kedua malam ini?"
Shakira melingkarkan tangannya di leher Zidan, menarik suaminya itu untuk kembali menciumnya. "Kayaknya persiapan keberangkatannya harus bener-bener matang ya, Mas Mekanik?"
"Tentu saja. Mesinnya harus dipanasin sampe optimal," bisik Zidan tepat di bibir Shakira.
Malam itu, rumah baru mereka menjadi saksi bisu kebahagiaan yang meluap. Di antara tiket liburan yang tergeletak di lantai dan tawa lirih yang menyatu dengan desahan, Zidan dan Shakira merayakan bukan hanya kelulusan, tapi juga cinta mereka yang semakin kuat. Bali sudah menunggu, namun bagi mereka, surga sesungguhnya adalah saat mereka berada di pelukan satu sama lain, di kamar yang kini terasa seperti istana paling sempurna di dunia.
***
Mentari pagi di Bandara Soekarno-Hatta terasa begitu bersahabat, seolah merestui perjalanan bulan madu yang sempat tertunda karena urusan skripsi. Karena Papa dan Mama Ardi harus menghadiri kondangan kerabat jauh di luar kota, tugas mengantar sang "Raja dan Ratu Bengkel" jatuh ke tangan dua ksatria berbaju oli: Bobby dan Indra.
Mobil SUV milik Zidan berhenti tepat di depan area keberangkatan domestik. Zidan turun lebih dulu, diikuti Shakira yang tampil sangat segar dengan sundress putih dan topi pantai yang bertengger manis di kepalanya. Sementara itu, Bobby dan Indra sibuk menurunkan koper-koper besar dari bagasi.
"Gila ya, Bos. Koper lo berdua udah kayak mau pindah domisili. Ini isinya baju semua atau ada mesin bor yang lo bawa?" keluh Bobby sambil mengangkat satu koper yang terasa cukup berat.
"Itu isinya harapan dan masa depan, Bob. Berat kan?" sahut Zidan sambil menyeringai, ia menerima koper itu dan meletakkannya di atas troli.
Shakira mendekati Zidan, merapikan kerah kaos suaminya yang sedikit terlipat. "Mas... nanti di sana, aku pengen banget foto-foto di setiap sudut. Kamu harus fotoin aku yang bagus ya? Jangan kayak waktu itu, masa aku lagi mangap malah difoto."
Zidan tertawa, ia merangkul bahu Shakira posesif. "Tenang, Sayang. Aku udah belajar tutorial fotografi di YouTube semaleman. Sudut pengambilan gambar, pencahayaan, sampai cara bikin kaki kamu kelihatan jenjang bakal aku kuasai. Kamu tinggal pose aja, biar Mas Mekanik ini yang urus lensanya."
"Janji ya? Jangan nanti pas di sana malah kamu sibuk liatin mesin motor sewaan," tagih Shakira manja.
"Janji, Nyonya. Fokus aku cuma satu: kamu. Motor itu cuma alat transportasi, kamu itu tujuan destinasinya," goda Zidan dengan suara rendahnya.
Indra yang sedang berdiri di samping troli langsung pura-pura terbatuk keras. "Aduh, tenggorokan gue mendadak gatel denger gombalan pagi-pagi gini. Bob, lo punya obat batuk nggak? Atau racun tikus sekalian?"
"Sama nih, Ndra. Kuping gue juga mendadak berdenging. Kayaknya kadar gula di area bandara ini naik drastis," timpal Bobby sambil geleng-geleng kepala.
Zidan menoleh ke arah dua sahabatnya itu dengan tatapan jenaka. Ia melepaskan rangkulannya dari Shakira sejenak, lalu berdiri tegak di depan Bobby dan Indra. "Oh, kalian merasa terganggu dengan kemanisan rumah tangga gue? Sini, gue kasih satu lagi biar makin mantap."
Zidan menarik napas panjang, menatap Shakira dengan tatapan puitis yang dibuat-buat, lalu mulai melontarkan pantun.
"Makan kuaci di atas meja,
Sambil liat indahnya awan.
Istriku cantik mau ke Bali belanja,
Suaminya ganteng, idaman para karyawan."
"Uekkkkk!" Bobby langsung memperagakan gaya ingin muntah sambil memegangi perutnya. "Sumpah, Dan! Itu pantun paling maksa yang pernah gue denger seumur hidup!"
"Hancur sudah wibawa lo sebagai mekanik paling sangar di Jakarta Timur, Bos!" teriak Indra sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan, pura-pura mual. "Pantun lo bau oli bercampur bunga melati, nggak sinkron!"
Shakira tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka. Ia mencubit lengan Zidan gemas. "Mas! Kamu dapet pantun dari mana sih? Jelek banget tapi lucu!"
Zidan tidak mau kalah. "Bentar, satu lagi buat penutup biar mereka bener-bener mual."
"Beli oli ke toko Ko Alun,
Jangan lupa beli busi juga.
Mending kalian diem nggak usah pantun,
Daripada sirik liat kita ke surga dunia."
"AMPUN! UDAH, DAN! BERANGKAT SANA!" teriak Bobby sambil mendorong troli Zidan menuju pintu masuk keberangkatan. "Gue nggak kuat lagi. Ndra, ayo balik ke bengkel. Mending kita dengerin suara knalpot pecah daripada dengerin dia berpantun ria."
"Hahaha! Sirik tanda tak mampu, Bob!" Zidan tertawa puas. Ia kembali merangkul Shakira. "Yuk, Sayang. Sebelum mereka makin stres."
Shakira melambaikan tangan ke arah Bobby dan Indra. "Dah Bobby! Dah Indra! Jangan lupa bengkel dijagain ya! Oleh-olehnya nanti aku kirim doa aja!"
"DOA DOANG? PARAH LO, RA!" sahut Indra dari kejauhan, namun ia tetap melambai dengan senyum lebar.
Zidan dan Shakira melangkah masuk ke dalam bandara. Suasana di dalam terminal mulai ramai, namun Zidan seolah menciptakan ruang hampa udara yang hanya berisi mereka berdua. Ia menggenggam tangan Shakira dengan sangat erat, tidak membiarkan ada jarak sedikit pun.
"Mas... makasih ya," bisik Shakira saat mereka sedang mengantre di meja check-in.
"Buat apa?"
"Buat semuanya. Buat kesabaran kamu, buat pantun konyol kamu, dan buat cara kamu bikin aku ngerasa jadi cewek paling beruntung hari ini."
Zidan berhenti melangkah sejenak, ia menatap mata istrinya dengan sangat dalam, kali ini tanpa ada nada bercanda. "Ra, aku yang harusnya makasih. Karena kamu, aku punya alasan buat bangun pagi dan kerja keras. Bali ini cuma awal, nanti kita bakal jelajahi dunia bareng-bareng."
Zidan mengecup punggung tangan Shakira, membuat beberapa orang di antrean melirik iri pada kemesraan mereka. "Sekarang, siap-siap ya. Karena begitu kita mendarat di Ngurah Rai, aku nggak akan kasih kamu istirahat buat nggak jadi cantik di depan kamera aku."
"Dan jangan kasih aku istirahat buat nggak sayang sama kamu?" goda Shakira balik.
"Itu mah sudah otomatis, Sayang. Sistemnya sudah full-injection, nggak bisa mati," jawab Zidan sambil mengedipkan sebelah mata.
Mereka pun menyelesaikan proses check-in dengan cepat. Saat berjalan menuju ruang tunggu, Shakira tidak berhenti tersenyum. Ia menatap tiket di tangannya, lalu menatap pria di sampingnya. Perjalanan ini bukan hanya tentang melihat indahnya Bali, tapi tentang merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang telah mereka lalui bersama—dari bangku sekolah, ke bengkel penuh oli, hingga ke pelaminan dan kini menuju gerbang bulan madu yang sempurna.
"Siap terbang, Nyonya Zidan?" tanya Zidan saat mereka sudah di depan pintu pesawat.
"Siap, Kapten Mekanik!" sahut Shakira mantap.
Di dalam pesawat, Zidan memastikan Shakira duduk dengan nyaman di kursi kelas bisnis yang luas. Ia menyelimuti kaki istrinya, lalu menggenggam tangannya sepanjang lepas landas. Di atas awan, di ketinggian ribuan kaki, Zidan berjanji dalam hati: ia akan memastikan setiap detik di Bali nanti menjadi memori yang tak akan pernah bisa dihapus oleh waktu, layaknya tanda cinta yang sudah ia patri dalam-dalam di hati Shakira.