Terbangun sebagai Zhu Xuan, Kepala Keluarga Klan Kucing Roh Nether yang dingin, seorang pria modern membawa jiwa baru yang hangat dan protektif ke Benua Douluo. Menyadari dirinya memiliki istri yang setia dan empat putri jenius—termasuk si bungsu yang dingin, Zhu Zhuqing—Zhu Xuan bersumpah untuk mengubah nasib tragis keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Sebelum Badai — Sang Permaisuri Tiba
Pagi itu, kediaman klan Zhu dipenuhi dengan persiapan yang tenang namun waspada. Setelah memberikan instruksi terakhir kepada Zhuyun dan Zhuyue, Zhu Xuan melangkah menuju kamar Yun Yuexin.
Meskipun secara medis Yuexin masih dalam masa nifas, Zhu Xuan menemukannya sudah berpakaian rapi dengan pakaian formal klan. Sosoknya yang anggun dan wajahnya yang awet muda membuatnya tampak seperti gadis berusia dua puluhan, bukan ibu dari empat anak.
"Yuexin, apa yang kau lakukan? Kau harus beristirahat," ucap Zhu Xuan lembut sambil menghampirinya.
"Lingtian, Permaisuri datang membawa pangeran. Sebagai istri Patriark, aku harus menyambut mereka. Aku ingin berdiri di sampingmu, berbagi beban ini bersamamu," jawab Yuexin dengan tatapan mata yang tegas namun penuh cinta.
Zhu Xuan menarik napas dalam, merasakan ketulusan istrinya. Ia perlahan menarik tangan Yuexin ke dadanya. "Aku tahu semangatmu, Sayang. Tapi dengarkan aku: hanya dengan kesehatanmu yang pulih total, kau bisa benar-benar membantuku di masa depan. Serahkan hari ini padaku. Jaga si kecil Zhuqing, itu jauh lebih penting."
Yuexin tertegun sejenak oleh perhatian Zhu Xuan yang kini terasa lebih hangat dan protektif dibanding dulu. Ia mengangguk lemah, membiarkan suaminya memberikan kecupan lembut di keningnya. Namun, momen romantis itu pecah saat tangisan kencang Zhuqing bergema dari tempat tidur.
Zhu Xuan terkekeh dan menggendong bayi kecil itu. Ajaibnya, Zhuqing langsung berhenti menangis dan malah memberikan senyum "nakal" pada ayahnya. Gadis kecil ini... dia benar-benar tahu cara mengganggu orang tuanya, batin Zhu Xuan sambil memberikan botol susu yang telah dicampur dengan sedikit dosis Pil Penguat Esensi untuk membantu fondasi spiritual bayi itu sejak dini.
Satu jam kemudian, rombongan kekaisaran tiba di taman belakang. Zhu Xuan sengaja memilih taman daripada aula utama untuk meredam suasana kaku dan formal.
Zhu Lingrong, sang Permaisuri sekaligus adik perempuan Zhu Xuan, melangkah anggun di depan. Di belakangnya, tiga pangeran Bintang Luo mengikuti dengan dagu terangkat.
Pangeran tertua, Dai Weisi yang berusia delapan tahun, matanya langsung tertuju pada Zhu Zhuyun. "Ibu, dia benar-benar cantik. Dia akan menjadi milikku," bisiknya dengan nada sombong yang tidak ditutup-tupi.
Adiknya, Dai Xingyu, juga melirik Zhu Zhuyue di tengah. "Aku suka yang itu, dia tampak lincah."
Zhu Lingrong tersenyum lebar—sebuah senyum politik yang sempurna. Begitu sampai di hadapan Zhu Xuan, ia merentangkan tangannya seolah-olah hanya seorang adik yang rindu pada kakaknya.
"Kakak, maafkan aku jika kedatanganku tidak diundang. Aku hanya ingin pulang ke rumah dan membiarkan anak-anak kita bermain bersama. Tidak ada niat lain, aku berjanji," ucap Lingrong dengan nada yang sangat ramah.
Zhu Xuan berdiri tegak, tangannya berada di belakang punggung. Ia tidak membalas senyuman itu dengan kehangatan yang sama. "Tentu, Lingrong. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Tapi soal 'bermain bersama'... kulihat pangeranmu membawa semangat yang cukup besar hari ini."
Dai Weisi melangkah maju, membungkuk sedikit namun tatapannya tetap menantang. "Paman, aku mendengar Zhuyun sudah menjadi Master Roh. Sebagai calon tunangannya, aku merasa bertanggung jawab untuk menguji kemampuannya. Bagaimana kalau kita mengadakan latihan tanding persahabatan?"
Zhu Xuan melirik Zhuyun yang berdiri tenang di sampingnya. Zhuyun memberikan anggukan kecil—sinyal bahwa dia sudah siap untuk "menjamu" tamu mereka.
"Latihan tanding?" Zhu Xuan tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung bahaya. "Tentu. Asal kau ingat, Weisi... di taman ini, pedang tidak memiliki mata, dan kejutan bisa datang dari mana saja."