Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Nadi Spiritual
Li Fan memimpin jalan berjalan menyusuri pelataran Pos Kedua dengan langkah ringan, diikuti oleh Jin Tianyu dan Lei Bao yang kini mengekor rapat di belakangnya. Kombinasi ketiganya terlihat seperti seorang tuan muda bangsawan yang diapit oleh dua algojo raksasa yang menakutkan.
Di sepanjang perjalanan menuju pusat pasar, kehadiran mereka bertiga sontak menjadi pusat perhatian yang sangat mencolok. Banyak calon murid yang sedang serius berlatih pernapasan atau sekadar berjalan jalan santai langsung menghentikan aktivitas mereka dan mulai berbisik bisik satu sama lain.
Melihat sosok Lei Bao sang mantan Raja Murid Gagal yang kemarin baru saja dihukum membersihkan jamban secara memalukan oleh Senior Han Yu, kini berjalan mengekor patuh di belakang anak berusia sepuluh tahun berpakaian mewah, sungguh menjadi tontonan langka yang memancing gosip panas di pagi hari.
“Hei, kalian lihat pria besar itu. Bukankah itu si Lei Bao penjaga kotoran? Kenapa dia bertingkah persis seperti anjing peliharaan anak baru yang sombong itu?” bisik seorang calon murid kurus dari kejauhan sambil menunjuk nunjuk dengan tidak sopan.
“Mungkin otaknya sudah gila karena terlalu banyak menghirup bau kotoran semalaman suntuk. Kudengar anak baru yang berjalan di depan itu adalah tuan muda kaya raya dari klan Ma di wilayah Hebei. Lei Bao pasti mencoba menjilat sepatunya dengan putus asa untuk mendapatkan uang suap agar ia bisa menyogok pengawas dan bebas dari hukuman kotornya.” balas temannya sambil tertawa mengejek.
Mendengar hinaan dan ejekan yang dilontarkan tanpa rasa sungkan dari berbagai arah itu, Lei Bao menghentikan langkahnya sejenak. Ia meremas buku buku jarinya yang besar hingga berbunyi gemeretak keras. Urat urat tebal di pelipisnya menonjol keluar menahan amarah yang mendidih di dadanya. Ia sangat ingin melompat dan menghancurkan wajah para pemuda bermulut kotor itu.
Namun, ia menatap ke depan dan melihat Li Fan yang terus berjalan lurus dengan sangat tenang, anggun, dan elegan tanpa mempedulikan sekelilingnya sedikit pun. Li Fan bahkan tidak menoleh ke arah suara suara sumbang tersebut.
“Jangan buang tenagamu menendang setiap anjing liar yang menggonggong di pinggir jalan, Lei Bao,” suara Li Fan mengalun pelan terbawa angin, tepat masuk ke telinga raksasa itu. “Jika kau bereaksi, kau menurunkan derajatmu sama dengan mereka. Simpan amarahmu untuk sesuatu yang lebih besar.”
Mendengar itu, Lei Bao menarik napas panjang dan memaksa dirinya untuk menelan kembali amarahnya bulat bulat. Jika tuannya tidak bergeming layaknya gunung es, maka ia sebagai seorang pengikut sama sekali tidak berhak membuat keributan yang akan merusak citra tuannya. Ia kembali melangkah mengikuti Li Fan dengan kepala tegak.
Setibanya di kedai makan langganan mereka, tempat itu sudah cukup ramai. Mereka mengambil satu meja kayu bundar besar di sudut ruangan dan memesan hidangan dalam jumlah yang sangat gila. Li Fan memesan dua ekor ayam panggang roh, tiga porsi besar daging sapi direbus dengan bumbu pedas, dan panci besar sup tulang sumsum.
Sambil menyantap daging panggang yang empuk dan gurih itu, Li Fan akhirnya membuka suara kembali, menjawab rasa penasaran dan kebingungan Lei Bao yang tertunda di penginapan tadi.
“Di dunia fana yang sempit dan kecil ini, para kultivator picik yang menyebut diri mereka tetua memang percaya dengan bodohnya bahwa manusia hanya memiliki tiga nadi spiritual di dalam tubuhnya,” ucap Li Fan santai sambil menggoyangkan sumpit kayunya di udara. “Tentu saja mereka percaya itu. Itu semua karena teknik kultivasi pernapasan yang mereka miliki terlalu sampah dan rendah untuk bisa merasakan, apalagi membuka, gerbang nadi yang terkunci jauh lebih dalam.”
Li Fan menyesap teh hangatnya sebelum melanjutkan kuliah singkatnya.
“Tubuh manusia itu diciptakan sebagai replika kecil dari alam semesta. Ada sembilan gerbang nadi surgawi yang tersembunyi dengan rapat di dalam titik meridian kalian. Tiga nadi pertama adalah batas bagi orang orang biasa yang bodoh. Enam nadi adalah batas bagi mereka yang dipuja puja sebagai para jenius langka. Dan sembilan nadi adalah batas mutlak bagi para dewa yang menguasai langit. Selama kau patuh, tidak banyak bertanya, dan mengikuti seluruh instruksiku dengan tepat setiap harinya, maka membuka empat hingga lima nadi spiritual dalam waktu dekat sudah pasti terjamin untukmu.”
Mendengar penjelasan yang membalikkan seluruh pemahaman hidupnya itu, mata Lei Bao terbelalak lebar hingga nyaris melompat keluar dari rongganya. Jantungnya berdebar sangat kencang seolah ingin menembus tulang rusuknya yang tebal.
Empat hingga lima nadi spiritual? Itu benar benar hal yang gila! Jika ia berhasil mencapai tingkat kemurnian fisik seperti itu, bahkan ketua sekte dari sekte dalam sendiri pasti akan turun gunung dan berebut untuk mengangkatnya menjadi murid warisan secara langsung.
“Tuan Muda... mohon maaf sekali lagi. Tapi dari mana Anda bisa mengetahui rahasia surga yang begitu menakjubkan dan terlarang ini? Bahkan jenius terhebat dalam sejarah Sekte Awan Azure ini pun tidak pernah ada catatan mencapai lebih dari tiga nadi sebelum mereka menembus tahap Qi Gathering,” Lei Bao bertanya dengan nada tidak percaya yang bercampur dengan rasa takjub yang mendalam.
Mendengar pertanyaan bernada keraguan yang keluar dari mulut Lei Bao, Jin Tianyu yang sedang sibuk mengunyah paha ayam utuh langsung berhenti. Ia menelan makanannya dengan paksa dan kasar. Ia menatap tajam ke arah Lei Bao dengan tatapan marah dan memukul meja kayu itu dengan kepalan tangannya yang besar hingga mangkuk sup sedikit bergetar.
“Hei, botak besar yang banyak omong! Tuan Muda adalah Tuan Muda! Kepintarannya tidak bisa diukur dengan otak kerdilmu itu! Intinya kau hanya perlu tutup mulut rapat rapat, nurut saja seperti kerbau yang dicocok hidungnya, dan dengarkan semua instruksinya. Soal dari mana Tuan Muda tahu hal semacam itu, kau sama sekali tidak perlu tahu!” omel Jin Tianyu dengan suara lantang yang membuat beberapa pelanggan kedai di meja sebelah menoleh kaget.
Jin Tianyu kemudian menunjuk dada Lei Bao dengan tulang ayam. “Ingatlah ini baik baik di otakmu. Di tempat sampah ini, Tuan Mudalah yang memberimu harapan hidup dan semangat juang sekali lagi untuk merubah takdirmu yang menyedihkan itu! Jika Tuan Muda berkata langit itu berwarna hijau, maka tugas kita hanyalah mencari cat hijau dan mengecatnya!”
Lei Bao seketika terdiam seribu bahasa. Wajahnya memerah karena malu dan ia segera menundukkan kepalanya dalam dalam ke arah mangkuk nasinya. Ia sadar bahwa ia telah melewati batas sopan santun dengan mempertanyakan asal usul pengetahuan dari sosok misterius dan ajaib di depannya ini.
Li Fan tersenyum tipis melihat tingkah laku Jin Tianyu yang membela dirinya dengan sangat fanatik. Ia menyeka sudut mulutnya dengan saputangan sutra putih, lalu meletakkan satu botol giok kecil lagi yang berisi cairan emas gelap di atas meja. Li Fan menggeser botol itu tepat ke hadapan Lei Bao.
“Apa yang dikatakan Tianyu barusan sangatlah benar. Jangan pernah banyak bertanya tentang urusan langit jika kau saat ini masih merangkak di dalam lumpur bumi. Ambillah cairan emas murni ini. Konsumsi sekali lagi nanti saat kau berada di bawah air terjun utama, perlakuannya sama seperti yang akan dilakukan oleh Tianyu siang ini. Hari ini, aku sangat ingin melihat kalian berdua menembus dinding batasan kalian dan membuat keributan kecil.” perintah Li Fan dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah.
Lei Bao mengambil botol giok itu dengan tangan kanannya yang gemetar karena rasa emosi dan syukur yang kembali meluap. Ia menggenggam erat botol itu di depan dadanya.
Setelah perut mereka bertiga kenyang terisi penuh oleh makanan berkelas, Li Fan berdiri dari kursi kayunya. Ia berjalan keluar kedai dan memandang jauh ke arah pegunungan tinggi yang dipenuhi kabut spiritual, matanya tertuju lurus pada air terjun raksasa yang tampak menderu dari kejauhan.
“Mari kita olahraga sedikit hari ini untuk mencerna daging panggang di perut ini. Aku ingin mencoba masuk berjalan jalan ke dalam Gua Napas Naga dan melihat sendiri dengan mataku seberapa kuat tekanan dari air terjun kebanggaan sekte rendahan ini.” ujar Li Fan sambil tersenyum misterius.
Cerdas...
Lucu...