NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 SIMFONI PELURU DI ATAS SALJU

Suara helikopter yang menderu rendah di atas Mansion Dragunov bukan lagi sekadar bising latar belakang, itu adalah lonceng kematian. Alana berdiri terpaku di ruang makan, jemarinya mencengkeram kain jubah sutranya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam balik pakaiannya, buku harian Elena terasa seperti bara api yang membakar kulitnya, sebuah beban rahasia yang kini harus ia bawa ke tengah medan perang.

​"Alana, fokus!" suara Alexei menyentaknya.

​Pria itu tidak lagi memakai kemeja putih yang rapi. Ia kini mengenakan rompi taktis berat, dengan sabuk perlengkapan yang penuh dengan magasin peluru dan granat. Wajahnya yang tampan kini tampak seperti pahatan batu yang dingin dan tanpa ampun. Ia melemparkan sebuah tas kecil ke arah Alana.

​"Pakai ini. Sekarang," perintahnya.

​Dengan tangan gemetar hebat, Alana membuka tas itu. Isinya adalah rompi anti-peluru ringan dan sebuah pistol cadangan. Alana menatap benda logam itu dengan mual. Ia teringat pria yang ia tembak di gudang Volga. Bayangan darah di lantai beton seolah kembali menghantui penglihatannya.

​"Aku... aku tidak bisa, Alexei. Kakiku lemas," bisik Alana. Air mata mulai menggenang, namun ia menahannya agar tidak jatuh. Ia tidak ingin terlihat seperti beban, namun tubuhnya mengkhianatinya.

​Alexei berjalan mendekat, mencengkeram kedua bahu Alana dengan kuat, bukan untuk menyakiti, melainkan untuk memberikan jangkar pada kesadaran gadis itu. "Dengarkan aku. Wira tidak datang untuk membawamu pulang ke kehidupan lamamu. Dia datang untuk mengambil 'kunci' yang ada di nadimu. Jika kau tertangkap, kau bukan lagi manusia di matanya. Kau hanya akan menjadi sandera di laboratorium atau brankas bawah tanahnya."

​BOOM!

​Ledakan dahsyat mengguncang mansion. Kaca jendela ruang makan pecah berkeping-keping, mengirimkan serpihan kristal yang berkilauan seperti hujan maut. Alexei segera menjatuhkan Alana ke lantai, melindungi punggung gadis itu dengan tubuhnya saat debu dan asap mulai memenuhi ruangan.

​"Ivan! Laksanakan Protokol Nero!" teriak Alexei ke arah radio di bahunya.

​"Siap, Tuan! Tim Alpha sudah berada di perimeter luar!" suara Ivan terdengar di tengah desingan peluru yang mulai menghujani dinding mansion.

​Alexei menarik Alana bangkit. "Kita harus ke ruang kendali bawah tanah. Lewat sini!"

​Mereka berlari melintasi koridor yang kini dipenuhi oleh kepulan asap dan bayangan para pengawal Dragunov yang bergerak cepat. Alana merasa seolah-olah ia sedang berada dalam mimpi buruk yang paling mengerikan. Suara tembakan otomatis di luar sana terdengar seperti rentetan kembang api yang gila. Setiap kali ledakan terjadi, Alana tersentak, napasnya tersengal-sengal, namun ia memaksa kakinya untuk terus melangkah mengikuti langkah besar Alexei.

​Saat mereka tiba di koridor menuju lantai bawah, dua orang pria berseragam taktis hitam dengan logo Naratama muncul dari balik pintu darurat. Mereka bukan tentara biasa, mereka adalah tentara bayaran elit yang disewa Wira.

​DOR! DOR!

​Alexei membalas tembakan dengan presisi yang mengerikan, menjatuhkan satu orang seketika. Namun, pria kedua berhasil berlindung di balik pilar dan mulai memberondong ke arah mereka. Alexei terpaksa berlindung di balik lemari pajangan kayu ek yang tebal.

​"Alana! Pindah ke balik meja itu! Sekarang!" bentak Alexei sambil mengganti magasin pistolnya.

​Alana merangkak dengan air mata yang kini mengalir bebas. Ketakutan itu nyata. Bau mesiu yang menyengat dan suara benturan peluru pada kayu membuat jantungnya seakan mau copot. Saat ia mencapai balik meja marmer, ia melihat Alexei sedang mencoba membidik, namun posisinya terjepit. Pria bayaran itu mulai melemparkan sesuatu, sebuah granat cahaya.

​"Alexei, awas!" teriak Alana.

​Tanpa sadar, insting untuk tidak kehilangan satu-satunya orang yang berdiri di sisinya mengalahkan rasa takutnya. Alana meraih pistol di pinggangnya. Tangannya bergetar begitu hebat hingga ia harus menggunakan kedua tangannya untuk menstabilkan senjatanya. Ia membidik ke arah kaki pria bayaran yang baru saja keluar dari balik pilar untuk melempar granat.

​DOR!

​Tembakan Alana meleset dari kaki, namun mengenai bahu pria itu, membuatnya kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan granatnya di dekat kakinya sendiri.

​BLAM!

​Cahaya putih yang membutakan memenuhi lorong. Alexei mengambil kesempatan itu untuk keluar dari persembunyiannya dan menyelesaikan ancaman tersebut dengan dua tembakan tepat di dada.

​Hening sejenak. Alexei berbalik menatap Alana. Gadis itu masih terduduk di lantai, pistolnya masih teracung dengan tangan yang berguncang tak terkendali. Napasnya pendek-pendek, hampir seperti sedang mengalami serangan panik.

​Alexei mendekat, mengambil pistol dari tangan Alana dengan lembut, lalu menyimpannya kembali. Ia memeluk Alana dengan erat, membiarkan gadis itu menangis di dadanya sejenak di tengah kekacauan.

​"Kau melakukannya dengan baik, Alana. Kau menyelamatkanku lagi," bisik Alexei, suaranya kini sedikit lebih lembut, memberikan sedikit rasa kemanusiaan di tengah kengerian ini.

​"Aku takut, Alexei... aku sangat takut," isak Alana.

​"Bagus. Rasa takut akan membuatmu tetap waspada. Tapi jangan biarkan ketakutan itu menghentikanmu," Alexei menariknya kembali. "Ayo, kita hampir sampai."

​Mereka sampai di ruang kendali bawah tanah, sebuah benteng teknologi yang dikelilingi oleh layar monitor yang menampilkan setiap sudut mansion. Di salah satu layar besar, Alana membeku. Di gerbang depan yang hancur, sebuah mobil lapis baja berhenti. Sosok Wira Naratama turun, berdiri berdampingan dengan Sergei Volsky.

​Wira menatap langsung ke arah kamera CCTV, seolah tahu Alana sedang menontonnya. Ia memegang sebuah alat komunikasi dan suaranya terdengar menggema melalui sistem audio mansion yang telah diretas.

​"Alana, putriku," suara Wira terdengar tenang, namun dingin yang ia pancarkan mampu membekukan darah siapa pun. "Jangan biarkan pria Dragunov itu mencuci otakmu lebih jauh. Dia hanya menginginkan kode akses yang ibumu tanamkan di dalam memorimu, kode yang hanya bisa aktif dengan sidik jarimu. Serahkan dirimu sekarang, dan aku janji tidak akan ada lagi darah yang tumpah."

​Alana menatap layar itu dengan kebencian dan rasa sakit yang dalam. Ia meraba buku harian di balik pakaiannya. Ia tahu sekarang ia bukan anak, ia bukan manusia, ia adalah "Kunci Digital" berjalan bagi ayahnya.

​"Dia berbohong, Alana," Alexei berdiri di sampingnya, matanya menatap tajam ke layar. "Dia tidak akan membiarkanmu hidup setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan."

​Namun, tiba-tiba salah satu monitor di sudut ruangan menunjukkan sesuatu yang aneh. Seseorang bergerak di dalam terowongan pelarian rahasia di bawah sayap timur jalur yang seharusnya hanya diketahui oleh keluarga Dragunov.

​Sosok itu muncul di depan kamera rahasia. Seorang wanita paruh baya dengan luka parut di wajahnya, mengenakan kalung mawar perak yang persis dengan lambang ibunya. Ia menatap kamera dan memberikan isyarat tangan kuno, kode keluarga Volskaya yang pernah diceritakan Elena pada Alana sebagai dongeng pengantar tidur.

​"Siapa dia?" tanya Alexei dengan nada waspada, tangannya langsung berada di pelatuk senjatanya.

​Alana mendekat ke layar, matanya membelalak. "Itu... Bibi Marta? Orang kepercayaan ibuku yang katanya meninggal dalam kebakaran sepuluh tahun lalu?"

​Wanita di layar itu membisikkan sesuatu yang terbaca oleh gerakan bibir Alana: "Jangan percaya pada serigala, jangan percaya pada singa. Kebebasanmu ada di bawah altar gereja tua."

​Belum sempat Alana mencerna pesan itu, ledakan lain menghantam langit-langit ruang kendali. Debu berjatuhan, dan lampu mulai berkedip merah.

​"Mereka sudah masuk ke dalam bangunan!" teriak Ivan melalui interkom.

​Alexei menatap Alana, lalu menatap layar yang menunjukkan wanita misterius itu. "Ivan, siapkan evakuasi udara! Alana, kita harus pergi sekarang!"

​Alana berdiri di tengah ruangan yang mulai runtuh, menggenggam pistolnya dengan tekad baru yang lahir dari kebingungan total. Ayahnya adalah pembohong, Alexei adalah manipulator, dan kini seorang "hantu" dari masa lalunya muncul memberikan teka-teki baru.

​Ia tidak tahu siapa yang harus dipercaya, tapi ia tahu satu hal, ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi kunci bagi siapa pun lagi.

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
My: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
My: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!