Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 KEMBALI KE ABU KEHANCURAN
Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang seharusnya indah, namun saat menyentuh tanah di hadapan mereka, cahaya itu justru terasa menyakitkan. Seolah-olah matahari pun enggan melihat pemandangan suram yang terbentang luas di lembah itu.
Fengyin dan Yuelan turun dari bukit perlahan, bergerak menyusuri jalan setapak yang dulu sering mereka lewati dengan riang. Kini, jalan itu penuh rumput liar dan bebatuan yang longsor, tanda bahwa sudah lama tidak ada orang yang melintas dengan damai.
Semakin dekat, semakin jelas penderitaan yang terukir di setiap inci tanah Yinye Cun.
Dulu, desa ini adalah tempat yang hidup. Di mana setiap pagi terdengar suara ayam berkokok, suara wanita menumbuk padi, dan tawa anak-anak bermain di tepi sungai. Udara selalu beraroma harum daun teh dan kayu bakar.
Tapi sekarang...
Yang tercium hanya bau tanah gosong yang basi. Bau pembusukan yang masih samar tertinggal meski bertahun-tahun telah berlalu. Di mana-mana hanya ada puing-puing. Tembok tanah yang runtuh, tiang rumah yang tinggal tunggul hitam terkena api, dan sumur-sumur yang ditimbuni batu-batu besar.
"Ini..." Yuelan berhenti di sebuah tumpukan batu bata yang hangus. Tangannya gemetar menyentuh sisa tembok itu. Matanya berkaca-kaca, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ini rumahku... rumahku dan nenek..."
Fengyin menoleh. Di sana, terlihat sisa sebuah tungku perapian yang sudah hancur. Dia ingat betul, dulu sering datang ke sana untuk makan malam saat orang tuanya sibuk. Nenek Yuelan selalu memberikan kue manis hangat untuknya.
Sekarang, semuanya hilang. Hanya tinggal kenangan yang terasa begitu perih.
"Mereka tidak hanya menyerang," bisik Fengyin, suaranya berat dan rendah. Matanya mengamati setiap detail. "Mereka menghapus keberadaan desa ini dari peta. Mereka ingin semua orang lupa bahwa pernah ada kehidupan di sini."
Langkah mereka terus masuk lebih dalam. Jauh di pusat desa, di mana dulunya adalah balai pertemuan warga, kini berdiri sebuah bangunan besar yang terbuat dari batu dan besi hitam. Bangunan itu kokoh, dingin, dan sama sekali tidak memiliki jiwa. Di atapnya, sebuah bendera besar berkibar—lambang Naga Hitam yang melilit bola api.
Markas sementara Sekte Naga Hitam.
Dari tempat mereka bersembunyi di balik reruntuhan dinding yang masih berdiri setengah, mereka bisa melihat aktivitas di sana. Puluhan prajurit berjalan mondar-mandir dengan baju besi mengkilap. Beberapa sedang berlatih, beberapa lain sedang berjudi dan tertawa terbahak-bahak seolah mereka tidak sedang menginjakkan kaki di atas kuburan massal.
Di menara pengawas, penjaga memegang senjata energi yang aneh, memancarkan cahaya merah yang waspada.
"Lihat itu..." tunjuk Yuelan pelan, matanya menyipit melihat sebuah gerobak besar yang ditutupi kain tebal. Di dekatnya ada beberapa orang berbaju hitam yang berbicara dengan nada serius. "Apa yang mereka bawa?"
Fengyin memejamkan mata sejenak, membiarkan indranya melebar. Kekuatan Jingjie Universal bergetar pelan, memungkinkannya merasakan aliran energi di sekitarnya.
"Itu bukan barang biasa..." jawab Fengyin pelan, keningnya berkerut. "Aku merasakan energi yang tidak stabil. Energi yang dipaksa... seolah-olah mereka sedang menampung kekuatan alam di dalam wadah buatan."
Dia membuka matanya kembali, tatapannya tajam.
"Dan baunya... bau darah dan kematian. Mereka melakukan sesuatu yang jahat di sini, Lan. Sesuatu yang lebih dari sekadar menjaga markas."
Tiba-tiba, suara derap kuda terdengar dari arah gerbang utama. Sebuah kereta kuda mewah berwarna hitam pekat masuk dengan gagah. Para prajurit langsung berhenti beraktivitas, berbaris rapi dan menunduk hormat.
Dari kereta itu turun seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah perwira tingkat tinggi. Wajahnya keras, dengan bekas luka memanjang dari alis hingga rahang. Matanya menyapu seluruh area dengan tatapan angkuh dan kejam.
"Itu..." jantung Fengyin berdegup kencang. "Komandan wilayah ini. Aku ingat wajah itu dari laporan Ye Xiang. Namanya Hei Yao. Tangan kanan Meng Tianxiong yang dulu kabur."
"Jadi tikus-tikus itu masih ada," desis Yuelan penuh benci. "Mereka yang membakar desa ini."
Fengyin mengangguk perlahan. Dia menarik Yuelan mundur lebih dalam ke balik bayang-bayang reruntuhan, ke tempat yang lebih gelap dan tersembunyi.
"Mereka berpikir tempat ini sudah mati. Mereka berpikir tidak ada yang berani datang ke sini," kata Fengyin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. "Dan itulah kesalahan terbesar mereka."
Yuelan menatap temannya. Dia bisa melihat perubahan di mata Fengyin. Bukan lagi mata seorang pelancong atau murid yang belajar. Itu adalah mata seorang pemburu yang akhirnya menemukan sarang mangsanya.
"Jadi rencananya?" tanya Yuelan, suaranya sudah tenang kembali, siap menerima perintah.
Fengyin menatap markas musuh yang kokoh itu, lalu menatap puing-puing desa yang menjadi saksi bisu.
"Mereka mengambil rumah kita. Mereka membunuh orang-orang kita. Dan sekarang mereka duduk santai di atas mayat-mayat itu," kata Fengyin perlahan, setiap kata keluar dengan tekanan yang berat.
"Kita tidak akan menyerang secara terbuka. Tidak sekarang. Kita tidak butuh pertempuran terbuka."
Dia menoleh ke Yuelan, matanya berkilat penuh strategi.
"Kita akan menjadi mimpi buruk mereka. Kita akan menjadi bayangan yang datang di malam hari. Satu per satu... kita akan bersihkan tempat ini. Sampai tidak ada satu pun orang Sekte Naga Hitam yang berani menutup mata di sini."
"Malam ini..." bisik Fengyin. "Malam ini, hantu-hantu Yinye Cun akan datang menagih janji."
Malam turun dengan cepat. Awan hitam menutupi bulan dan bintang, membuat desa yang hancur itu menjadi gelap gulita. Suasana yang dulu terasa hangat, kini terasa mencekam dan penuh dendam.
Di markas Sekte Naga Hitam, suasana mulai santai. Api unggun dinyalakan di halaman. Para prajurit yang selesai bertugas berkumpul, minum anggur, bercerita, dan tertawa. Pengawasan di menara tetap ada, tapi rasa percaya diri mereka membuat kelengahan itu muncul.
Siapa yang takut di tempat yang sudah hancur begini? Siapa yang berani menyerang markas militer kekaisaran?
Mereka tidak tahu bahwa dua pasang mata telah mengawasi setiap gerak-gerik mereka sejak matahari terbenam.
Di atas atap bangunan yang setengah hancur, Fengyin duduk bersila. Tubuhnya menyatu sempurna dengan kegelapan. Bahkan jika ada orang yang berdiri tepat di depannya, mereka akan kesulitan melihatnya. Itu adalah teknik penyembunyian tingkat tinggi yang dia pelajari dari suku pegunungan selama perjalanan.
Di sebelahnya, Yuelan memejamkan mata. Tangannya bergerak pelan membentuk pola di udara.
Wushhh...
Angin malam yang tadinya bertiup biasa, tiba-tiba berubah arah. Angin itu menjadi lebih dingin, lebih lembap, dan mulai membawa kabut tipis yang menyebar perlahan dari arah sungai yang kering. Kabut itu tebal, pekat, dan bergerak seolah memiliki nyawa, menyelimuti seluruh area markas.
"Kabut buatan?" salah satu penjaga di menara mengerutkan kening, mengusap matanya. "Mendadak tebal sekali."
"Mungkin cuaca buruk," temannya menjawab santai. "Tetap waspada saja."
Namun kabut itu semakin tebal hingga jarak pandang tinggal beberapa langkah saja. Di dalam kabut itu, suara menjadi terdengar aneh, bergema dan sulit ditebak arah datangnya.
Itu adalah kerja sama sempurna antara Air dan Angin. Menciptakan medan pertempuran yang menguntungkan bagi pemburu, dan membingungkan mangsa.
"Siap?" bisik Fengyin.
"Siap," jawab Yuelan singkat.
Tanpa suara, tanpa jejak, mereka melompat turun. Gerakan mereka senyap seperti asap.
Satu per satu, prajurit yang berjaga di posisi terpencil mulai hilang kesadaran. Tidak ada teriakan. Tidak ada pertumpahan darah yang berantakan. Hanya suara hempaman pelan saat tubuh mereka tumbang, dibius oleh titik-titik air halus yang mengandung energi penenang buatan Yuelan, atau dipukul tepat di saraf vital oleh tangan Fengyin yang secepat kilat.
Mereka bekerja seperti tim yang sudah terlatih selama puluhan tahun. Fengyin menjadi pisau yang tajam, Yuelan menjadi perisai dan penuntun arah.
Di dalam kabut tebal itu, prajurit Sekte Naga Hitam mulai panik.
"Ada apa ini?! Di mana Wang Li?!"
"Aku tidak melihat apa-apa! Ada sesuatu yang menyentuh kakiku!"
"Serangan! Ada serangan musuh!!"
Kekacauan mulai terjadi. Mereka saling menyerang sesama sendiri karena ketakutan dan pandangan yang terbatas. Hei Yao, komandan mereka, keluar dari tenda utama dengan wajah murka, mencoba menertibkan pasukannya, tapi dia juga tidak bisa melihat apa pun di luar jangkauan tangannya sendiri.
Di tengah kekacauan itu, dua sosok bayangan bergerak dengan anggun dan mematikan.
"Bagus..." bisik Fengyin saat dia melumpuhkan dua orang lagi dengan gerakan memutar. "Mereka mulai kehilangan akal sehatnya."
"Energi di pusat markas sangat kuat, Fengyin," kata Yuelan lewat pikiran menggunakan teknik suara angin. "Sesuatu yang besar tersimpan di sana."
"Biarkan dulu. Malam ini cukup untuk memberi mereka pelajaran. Besok malam... kita akan masuk lebih dalam."
Fengyin menatap ke arah tenda utama di mana Hei Yao berada. Tatapannya dingin.
"Belum waktunya kau mati, Hei Yao. Aku ingin kau hidup dalam ketakutan dulu. Aku ingin kau tahu bahwa setiap kali kau memejamkan mata... kematian sedang berdiri tepat di belakangmu."
Dengan isyarat tangan, kabut tebal itu perlahan surut tertiup angin, meninggalkan markas yang berantakan, puluhan prajurit yang pingsan atau terluka, dan kebingungan yang melanda seluruh pasukan musuh.
Fengyin dan Yuelan sudah menghilang, kembali ke dalam kegelapan seperti yang mereka lakukan selama ini.
Malam itu, tidak ada satu pun orang di Sekte Naga Hitam yang bisa tidur nyenyak. Karena mereka tahu... sesuatu yang sangat berbahaya telah kembali ke tanah ini.
Sesuatu yang tidak bisa dibunuh, tidak bisa ditangkap, dan tidak bisa dihentikan.
[ Bersambung... ]