Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 Paracetamol
Wei Ying membuka tas kecil miliknya, tangannya merogoh isi tas seolah ia sedang mengambil sesuatu dari sana. Tapi faktanya, itu hanya kamuflase semata.
Tas kecil itu hanya di gunakan sebagai perantara, antara dirinya dengan kekuatan aneh ruang hampa yang mirip seperti kantung ajaib milik musang berwarna biru yang sangat terkenal di tempatnya dulu.
Diam-diam Wei Ying merapalkan mantra andalannya..
"Beri aku barang yang sangat ku butuhkan! Beri aku itu! Kau mengerti kan, wahai kekuatan aneh misterius kesayanganku!" bisik Wei Ying dalam hati.
Dan... Tara! Sebuah obat muncul!
Wei Ying membuka bungkus obat itu dan segera memberikannya pada Yulang, "Apa temanmu ini sudah makan?" tanya Wei Ying. Kini setelah beberapa waktu mereka terus saling berbincang, Wei Ying yang sejujurnya tak terbiasa dengan pengucapan kaku dan sopan santun, meminta Yulang untuk berbicara informal saja. Dan kini mereka pun berbicara layaknya seorang kenalan lama.
Yulang menggelengkan kepalanya, "Itu.. kebetulan kami belum makan apapun dari 3 hari yang lalu."
Wei Ying tanpa sadar melongo, terkejut.
Yulang yang melihat reaksi Wei Ying tersenyum kecil, "Ah, itu karena kami para kultivator memang bisa menahan lapar untuk beberapa hari, bahkan jika tingkatan kultivasi kami sudah sangat tinggi.. kami bisa bertahan hidup tanpa makan selama bertahun-tahun." ujar Yulang.
Wei Ying mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ekspresi takjub. "Seperti yang ku baca dalam novel! Menakjubkan!" batinnya.
"Oh iya, ini bisakah kamu bangunkan temanmu. Dia harus makan dulu meski sedikit sebelum minum obat."
Yulang segera membantu Jinyi untuk duduk, ia menatap makanan asing yang di sodorkan Wei Ying. Meskipun awalnya sedikit ragu, tapi begitu makanan itu menyentuh lidahnya, keragu-raguan itu sirna tanpa bekas.
Setelah makan beberapa roti isi berbagai rasa, Jinyi meminum obat pemberian Wei Ying.
Yulang yang sepertinya sedari tadi menahan rasa penasarannya akhirnya bertanya setelah Jinyi tertidur lelap.
"Anu, itu.. obat apa yang kamu berikan. Jujur saja aku baru pertama kalinya melihat obat seperti itu."
Wei Ying terdiam sejenak, berpikir bagaimana ia harus menyusun narasi untuk memberitahu pria itu.
"Hm, itu obat untuk menurunkan demam. Namanya Paracetamol.."
Yulang bergumam dan menatap Jinyi yang sudah mulai stabil, ia bernafas dengan tenang dan wajahnya sudah tak sepucat tadi. Lalu dengan pelan ia menyentuh dahinya, panas membara itu telah berangsur turun.
"Oh, panasnya mulai hilang." bisik Yulang.
"Itu memang obat yang manjur untuk meredakan panas demam dan beberapa sakit ringan lainnya." ujar Wei Ying dengan bangga.
"Terima kasih!" seru Yulang.
Keduanya lalu terus berbincang untuk beberapa waktu, hingga tanpa terasa waktu telah mencapai tengah malam. Suara serigala dari kejauhan terdengar melolong membuat bulu kuduk merinding.
"Nona Wei, silahkan tidur terlebih dulu." ujar Yulang saat melihat Wei Ying menguap dan mengucek matanya.
"Sungguh? Kamu tidak apa-apa berjaga sendirian?" tanya Wei Ying.
"Tentu, tak apa!"
Setelah itu Wei Ying pun pamit untuk masuk ke tenda, meski sedikit ragu dan was-was. Tapi rasa kantuknya sudah menggelayut di kelopak matanya.
.
.
Yulang menatap punggung wanita itu yang hilang di balik tenda. Sorot matanya tajam dan penuh arti, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan merinding.
"Itu kemah yang baru pertama kali ku lihat. Bentuknya sangat tak biasa, juga jenis kulit apa yang di pakainya?" bisik Yulang dalam hati
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭