sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
..
Suara pintu smart lock berdenting pendek, lalu terkunci otomatis dengan bunyi klik yang final. Axelle melemparkan kunci apartemennya ke atas meja marmer, menciptakan denting nyaring di tengah ruangan yang sunyi.
Apartemen ini luas, mewah, dengan kaca jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu Bandung dari ketinggian lantai 12. Tapi bagi Rea, tempat ini terasa lebih sempit dari sel isolasi.
"Gak usah celingak-celinguk. Gak ada orang tua gue di sini. Puas?" suara Axelle berat, dia langsung melepas sepatu ketsnya asal-asalan.
Rea masih berdiri kaku di dekat pintu, memeluk tas sekolahnya seolah itu adalah satu-satunya pelindung yang dia punya. "Gue tidur di mana?"
Axelle menoleh, menatap Rea dengan pandangan malas. "Kamar cuma satu. Dan itu kamar gue."
Wajah Rea mendadak memerah, antara marah dan takut. "Maksud lo, kita... satu kasur?"
Axelle mendengus pelan, hampir tertawa sinis. Dia berjalan mendekat, mengikis jarak sampai Rea terpojok ke pintu. Bau parfum maskulin Axelle yang kuat bercampur aroma sisa hujan langsung memenuhi indra penciuman Rea.
"Lo pikir gue nafsu sama cewek kaku kayak lo? Hah?" bisik Axelle tepat di depan wajah Rea. "Gue tidur di sofa ruang tengah. Lo pakai kamar gue. Tapi jangan harap lo bisa kunci pintunya, karena kuncinya sengaja gue simpen. Paham?"
Rea hanya bisa mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang karena posisi mereka yang terlalu dekat. Begitu Axelle menjauh dan masuk ke dapur untuk mengambil minum, Rea buru-buru masuk ke kamar.
Kamar itu sangat maskulin, didominasi warna gelap. Di atas meja belajar, ada foto Axelle kecil bersama kakek-neneknya yang sudah meninggal—foto di mana Axelle terlihat tersenyum tulus, di sebelahnya lagi. ada foto axel bersama kedua orang tuanya, dan tatapan Rea berpinda ke foto yang lebih besar dimana foto axel sekitaran berumur tiga tahunan bersama banyak orang disana ada el dan anya yang tampak masih muda. mungkin saja itu teman orang tuanya, Rea menghela napas seolah masuk ke dunia axel kecil yang tampak menyenangkan dikelilingi orang orang yang menyayanginya.
Pukul 02.00 WIB
Rea tidak bisa tidur. Suara petir di luar dan bayangan ayahnya yang murka terus menghantuinya. Dia keluar kamar dengan langkah pelan untuk mengambil air minum. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah.
Axelle sedang duduk di balkon, hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong hitam. Di tangannya ada sebuah pemantik api yang dia mainkan terus-menerus—bunyi klik-klik itu terdengar kesepian di tengah malam.
"Belum tidur, Xavandra?" tanya Axelle tanpa menoleh. Dia tahu itu Rea dari suara langkah kakinya yang ragu-ragu.
"Gue... haus," gumam Rea. Dia berdiri di ambang pintu balkon. "Lo sendiri kenapa belum tidur?"
Axelle menatap langit malam yang mendung. "Gue benci sunyi. Biasanya jam segini anak-anak masih main PS di rumah gue yang lama. Tapi sekarang... gara-gara kejadian konyol semalam, gue berasa kayak tahanan kota."
Rea memberanikan diri mendekat. "gue juga benci situasi ini Axel. Kalau aja sepeda gue nggak bocor..."
Axel menoleh, menatap Rea cukup lama. Di bawah cahaya bulan yang redup, wajah Rea terlihat sangat rapuh tanpa kacamata besarnya. "Bukan salah lo doang. Nasib kita aja yang lagi busuk."
Axelle berdiri, berjalan melewati Rea menuju sofa. "Besok jam 6 kita berangkat. Lo yang nyetir mobil gue, gue mau tidur di jalan."
"Tapi gue nggak lancar bawa mobil sport, Axelle!"
"Belajar sekarang atau gue cium lo sekarang?" ancam Axelle asal, sukses bikin Rea bungkam seribu bahasa dan lari masuk ke kamar.
Axelle merebahkan tubuhnya di sofa yang terlalu pendek untuk kakinya yang panjang. Dia menatap langit-langit apartemen. Menikah? Dengan musuh bebuyutannya sendiri? Axelle memejamkan mata, membayangkan betapa gila hari esok saat mereka harus akting jadi "orang asing" lagi di SMA Galaksi.
...----------------...
Alarm ponsel Rea menjerit pukul 05.00 WIB. Dia terbangun dengan jantung berdebar, butuh waktu lima detik untuk sadar kalau dia tidak di kamarnya yang penuh piala, melainkan di kamar bernuansa hitam milik Axelle Aididev Atharic.
Rea keluar kamar dengan seragam yang sudah dia setrika rapi—untungnya ada fasilitas laundry kilat di apartemen itu. Di ruang tengah, Axelle masih mendengkur halus di sofa. Kakinya yang panjang menggantung di ujung sofa, dan wajahnya kalau lagi tidur... jujur saja, kelihatan jauh lebih manusiawi.
"Axel! Bangun! Sudah jam setengah enam!" Rea mengguncang bahu Axelle.
Axelle mengerang, membuka matanya yang merah. "Berisik, Xavandra. Lima menit lagi."
"Nggak ada lima menit! Gue nggak mau telat dan ngerusak rekor kehadiran gue gara-gara lo!" Rea menarik selimut Axelle paksa.
Axelle terduduk, rambutnya berantakan total. Dia menatap Rea dengan pandangan death glare. "Lo sadar nggak sih? Kita baru tidur jam tiga pagi gara-gara drama bokap lo. Sekarang lo mau gue balapan sama tukang bubur?"
"Buruan mandi atau gue bakar motor kesayangan lo" ancam Rea.
"Coba aja kalau berani.," sahut Axelle santai sambil jalan ke kamar mandi, meninggalkan Rea yang mematung kesal.
Pukul 06.45 WIB, sebuah Porsche 911 hitam metalik berhenti sekitar 200 meter dari gerbang SMA Galaksi.
"Turun di sini," perintah Axelle.
Rea mengernyit. "Kenapa? Tanggung, tinggal dikit lagi sampai gerbang."
Axelle menoleh, menatap Rea seolah dia baru saja mengatakan hal paling bodoh sedunia. "Lo mau satu sekolah tahu kalau Ketua OSIS paling suci sedunia berangkat bareng troublemaker nomor satu pake mobil sport yang harganya bisa buat beli ginjal sekelas? Mikir, Rea."
Rea terdiam. Benar juga. "Oke. Gue turun. Lo masuk lima menit setelah gue."
Rea keluar dari mobil, merapikan roknya, dan berjalan dengan gaya angkuh khasnya. Tapi langkahnya terhenti saat sebuah motor Ninja hijau berhenti di sampingnya. Itu Bagas, wakil ketua OSIS yang sudah lama naksir Rea.
"Rea? Tumben jalan kaki dari arah sana? Mobil jemputan lo mana?" tanya Bagas heran.
Wajah Rea pucat pasi. "Eh... itu... ban mobil Papa bocor, jadi gue turun di depan komplek tadi."
Di saat yang sama, Porsche Axelle lewat dengan suara mesin yang sengaja digeber kencang, membuat debu jalanan mengenai sepatu Bagas.
"Sialan si Axelle! Belagu banget itu anak!" maki Bagas. "Lo nggak apa-apa, Re? Cowok kayak dia emang sampah sekolah, nggak punya aturan."
Rea cuma bisa tersenyum kaku. Sampah sekolah itu suami gue sekarang, Gas, batinnya miris.
Di kelas, suasana makin panas. Vanya, cewek paling populer sekaligus mantan Axelle yang masih terobsesi, masuk ke kelas Rea dengan wajah penuh selidik.
"Re, gue denger semalam ada penggerebekan di daerah ruko tua Bandung Timur. Katanya ada anak SMA Galaksi yang kena," ucap Vanya sambil duduk di meja Rea.
Jantung Rea rasanya mau copot. "Masa? Gue nggak tahu. Gue di rumah semalam, ngerjain tugas olimpiade."
"Oh ya? Tapi kok jaket kulit limited edition punya Axelle yang biasa dia pake balapan... ada di tas lo, ya?" mata Vanya tertuju pada ujung jaket hitam yang menyembul dari tas Rea yang belum tertutup rapat.
Rea membeku. Dia lupa mengembalikan jaket itu semalam karena terlalu panik.
"Itu..." Rea gagap.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar merampas tas Rea. Axelle berdiri di sana dengan gaya santai, menyampirkan tas Rea di bahunya sendiri seolah itu miliknya.
"Jaket gue ketinggalan di perpus kemarin, dan si Ketua OSIS rajin ini nemuin. Dia mau balikin ke gue tapi malu, ya kan, ketos?" Axelle mengedipkan sebelah matanya ke arah Rea.
tengil memang, si brandalan sekolah ini.
valery di lawan singa betina nya xander lo 🤣🤣🤣🤣
gemes jadi nya🤣🤣🤣🤣
rea keceplosan 🤣🤣🤣
semngat thor
tapi aku suka terimakasih kk author 😘😘
ceritanya hampir mirim kyk kisah hidup ku , axelle adalah aku si manusia kesepian yang terabaykan😭😭😭😭
jd curhat kan aku , btw makasih kk author 😘😘😘
kasian bgt my bad boy
cepet sadar ready
cepet bucin
cepet ada junior kalian
wkwkwkwkww
biar author pusing🥳🥳
tapi percaya sih , semua di bawah kendali kk author, ya ikuti alur nya aja , walau baca nya sambil nangis😭😭
rea pinter ngeles nye yeee🤣🤣
kak up 2 dong kepo sama yg ini😁😁😁