NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Es Abadi Papua: Panggilan dari Puncak Dunia & Tirai Emas

Lokasi: Helipad Darurat, Lembah Kuning, Basecamp Puncak Jaya, Papua.

Ketinggian: 4.300 mdpl (Meter di Atas Permukaan Laut).

Waktu: 06.15 WIT (Dua Minggu Pasca Penemuan Anomali).

Baling-baling helikopter Mi-17 milik TNI Angkatan Darat berputar memekakkan telinga, menciptakan badai salju mini saat burung besi raksasa itu mendarat di atas tanah berbatu yang setengah membeku. Udara di luar kabin sangat tipis, menyulitkan siapa pun yang tidak terbiasa untuk sekedar menarik napas. Suhu udara berada di angka minus 5 derajat celcius dan terus turun seiring embusan angin kencang.

Pintu samping helikopter digeser terbuka.

Sarah melompat turun lebih dulu, mengenakan jaket parka taktis tebal berwarna putih camo, kacamata goggle pelindung UV, dan masker oksigen portabel yang mengalungi lehernya. Tangannya yang terbungkus sarung tangan termal memegang erat tali ransel peralatannya yang berat.

Di belakangnya, Dimas menyusul turun. Ia merapatkan kerah jaket windbreaker berlapis bulu angsa miliknya. Lengan kanannya—yang kini menyimpan bekas luka keloid sambaran petir Lemuria—terasa berdenyut ngilu akibat suhu ekstrem, namun Dimas menahannya dengan rahang terkatup rapat.

Seorang pria tegap berseragam loreng salju Kopassus (Komando Pasukan Khusus) berlari menunduk menghampiri mereka di bawah putaran baling-baling, menembus badai putih.

“Profesor Dimas! Dokter Sarah!” Teriak pria itu melawan suara bising mesin, memberikan hormat militer singkat. “Saya Kapten Elang, Komandan Peleton Pengamanan Area Tertutup! Selamat datang di atap Nusantara!”

Sarah membalas anggukan tegas, sementara Dimas menjabat tangan kapten itu.

Helikopter kembali mengudara, meninggalkan mereka di lembah bersalju yang diapit oleh tebing-tebing batu kapur raksasa yang curam. Keheningan alam pegunungan yang sunyi langsung menggantikan bisingnya mesin, hanya disela oleh suara angin yang menderu seperti lolongan serigala.

Kapten Elang memandu mereka menuju tenda komando berwarna putih yang tersamar sempurna dengan lingkungan sekitar. Di dalam tenda, pemanas portabel berbahan bakar solar menyala merah, memberikan kehangatan yang sangat didambakan. Beberapa prajurit bersenjata lengkap SS2-V4 berjaga dengan wajah tegang.

“Gimana situasinya, Kapten?” Sarah langsung masuk ke mode profesional, meletakkan tasnya dan mengeluarkan tablet Geological Scanner miliknya. Ia tidak ingin membuang waktu. Di ketinggian ini, hypoxia (kekurangan oksigen di otak) adalah musuh yang tak terlihat.

Kapten Elang membuka peta topografi di atas meja lipat. Wajah prajurit elit yang biasanya tak kenal takut itu kini memancarkan kecemasan yang ganjil.

“Area anomali ada di koordinat ini, Dok. Sekitar tiga ratus meter vertikal dari posisi kita, tepat berada di bawah lidah Gletser Carstensz,” Kapten Elang menunjuk titik merah di peta. “Sesuai perintah BPCBAN, kami sudah mengamankan perimeter. Tidak ada pendaki atau penambang liar yang bisa masuk.”

Kapten Elang terdiam sejenak, saling pandang dengan wakilnya. “Tapi kami punya masalah yang ngga ada di buku manual militer mana pun.”

Dimas melepaskan goggle-nya, menatap sang kapten tajam. Instingnya langsung bekerja. “Anggota Anda ada yang melihat sesuatu?”

“Bukan cuma melihat, Prof,” Kapten Elang menelan ludah. “Tiga hari yang lalu, saya mengirim satu regu patroli berisi empat orang untuk memasang sensor suhu di dekat dinding es yang mencair itu. Mereka tidak pernah kembali.”

Sarah menghentikan ketikannya di tablet. “Hilang? Jatuh ke jurang?”

“Kalau jatuh, kami pasti menemukan jejaknya di salju,” jawab sang kapten pahit. “Jejak kaki mereka… berhenti begitu saja tepat di depan struktur emas yang muncul dari balik es itu. Seolah-olah mereka melangkah menembus udara dan lenyap.”

Dimas memejamkan mata, memijat pelipisnya. Udara dingin ini membuat Mata Batinnya sedikit kebas, tapi ia bisa merasakan sisa-sisa energi dari cerita itu.

“Nggak ada jejak darah? Nggak ada tanda perlawanan?” Tanya Dimas.

“Nihil. Tapi alat komunikasi mereka… itu yang bikin bulu kuduk kami berdiri.” Kapten Elang menekan tombol play di sebuah radio komunikasi militer di atas meja.

Terdengar suara kresek statis, lalu… sebuah anomali vokal yang sangat indah, namun menyayat hati. Suaranya terdengar seperti paduan suara gregorian kuno, tumpang tindih dengan nada-nada tinggi yang tidak mungkin dihasilkan oleh pita suara manusia.

Di sela-sela nyanyian itu, terdengar bisikan salah satu prajurit yang hilang, suaranya sangat tenang, tidak ada kepanikan sama sekali:

“Indah sekali… pintunya terbuka… hangat… aku pulang…”

Lalu radio itu mati total.

Sarah merinding. Ia menoleh pada Dimas. “Mind Control? Kayak Sang Pemakan di Jakarta?”

“Bukan,” Dimas menggeleng tegas. Matanya menatap radio itu dengan horor akademis. “Sang Pemakan pakai keputusasaan dan depresi. Suara ini… ini frekuensi Eksaltasi (Pemujaan). Makhluk atau artefak di atas sana nggak menakuti korbannya. Dia ngasih ilusi tentang surga, bikin korbannya menyerahkan diri secara sukarela.”

Dimas menoleh ke arah Sarah, meraih tangan istrinya yang terbalut sarung tangan tebal, meremasnya dengan protektif. “Sar, kita harus ekstra hati-hati. Udara tipis bikin otak kita gampang halusinasi. Ditambah frekuensi dari artefak itu, kita bisa aja jalan ke dalam jurang sambil mikir kita lagi jalan ke ruang tamu rumah.”

Sarah membalas genggaman Dimas, mengangguk mantap. Ia mengeluarkan dua buah alat penutup telinga Noise-Cancelling berteknologi militer dari tasnya.

“Aku udah modifikasi headset ini. Kalau gelombang audionya mencoba memanipulasi gelombang otak kita, chip didalamnya bakal ngelepas white-noise buat memblokir frekuensi itu,” Sarah menyerahkan satu kepada Dimas. “Sekarang, ayo kita lihat langsung pintu emas sialan ini,”

Lokasi: Zona Anomali, Gletser Carstensz.

Waktu: 07.30 WIT.

Pendakian sejauh tiga ratus meter itu terasa seperti mendaki tiga kilometer. Medan batu yang tajam ditutupi es licin memaksa mereka menggunakan crampon (sepatu berpaku) dan kapak es. Dua anggota Kopassus mengawal di belakang mereka sebagai penembak jitu pelindung.

Angin berhembus sangat kejam, membekukan uap air dari napas mereka di sekitar masker.

“Di depan, Profesor,” suara Kapten Elang terdengar berat di interkom headset.

Mereka tiba di sebuah dataran es sempit yang menghadap langsung ke dinding gletser raksasa.

Di sinilah anomali itu berada.

Dinding es abadi yang seharusnya berwarna putih kebiruan dan membeku padat itu kini mencair hebat. Uap panas mengepul dari sebuah celah besar setinggi dua puluh meter.

Dan di balik celah es yang mencair itu… berdirilah struktur yang membuat video drone minggu lalu terlihat seperti lelucon.

Itu bukanlah sebuah gedung. Itu adalah sebuah Gerbang.

Sebuah daun pintu raksasa yang terbuat dari paduan logam emas dan material perak bercahaya yang tidak bisa diidentifikasi oleh ilmu metalurgi modern. Permukaannya sangat mulus, tanpa sambungan, seolah dicetak dari satu balok logam masif.

Berbeda dengan Lemuria yang menggunakan bentuk geometris tajam atau ukiran alam kasar, gerbang ini dipenuhi ukiran yang sangat rumit, indah, dan simetris absolut. Pola-polanya menyerupai rasi bintang yang saling terhubung oleh garis-garis tipis bersinar keemasan.

“Ini mustahil…” bisik Sarah, menatap layar tabletnya yang berkedip-kedip liar. “Dim… pemindaiku nggak bisa mendeteksi isotop karbon dari pintu ini. Umurnya… alatku bilang ini nggak punya umur. Seakan-akan logam ini nggak berasal dari garis waktu kita.”

Dimas berjalan perlahan mendekati gerbang raksasa itu, tangannya tanpa sadar meraba gagang Keris Patrem di balik jaketnya. Panas yang memancar dari gerbang itu membuat es di bawah sepatu bot Dimas mendesis berubah menjadi air.

“Ini bukan peninggalan manusia, Sar,” gumam Dimas. “Lemuria itu peradaban bumi yang canggih. Tapi arsitektur ini… ini ‘Arsitektur Langit’.”

Dimas berhenti tepat lima meter di depan gerbang. Ia melihat sebuah cekungan melingkar di tengah-tengah dua daun pintu raksasa itu. Di sekeliling cekungan, ada delapan lubang kecil berbentuk geometris.

Tiba-tiba, mata batin Dimas tersentak. Ia melihat percikan energi emas bocor dari celah pintu.

“Sar! Kapten! Mundur!” Teriak Dimas, refleks memutar tubuhnya dan merentangkan kedua tangannya untuk melindungi Sarah yang ada di belakangnya.

Namun terlambat.

Ukiran rasi bintang di gerbang itu mendadak menyala menyilaukan mata. Suara dengungan mekanis yang sangat rendah menggetarkan tulang rusuk mereka, diikuti oleh paduan suara kosmik yang sama seperti di rekaman radio—kali ini jutaan kali lebih keras hingga menembus headset pelindung Sarah.

Dari celah gerbang raksasa itu, memancar keluar gelombang cahaya keemasan.

Gelombang itu tidak menyapu secara fisik seperti ledakan bom. Gelombang itu menyapu secara temporal.

Begitu cahaya emas itu melewati tubuh Dimas, Sarah, dan dua prajurit Kopassus, badai salju disekitar mereka medadak berhenti total.

Butiran-butiran salju yang sedang turun membeku di udara, melayang tanpa jatuh ke tanah. Suara angin yang menderu hilang seketika, digantikan oleh keheningan yang sangat pekak.

Sarah menatap kepingan salju yang berhenti tepat di depan hidungnya. Ia menyentuhnya perlahan, tapi salju itu tidak meleleh. Ia mencoba melihat ke arah jam tangannya; jarum detiknya tidak bergerak.

Waktu telah membeku.

“Dim…” panggil Sarah pelan, suaranya terdengar menggema aneh di ruang tanpa waktu ini. “Apa yang terjadi?”

Dimas, yang masih dalam posisi melindungi Sarah, perlahan menurunkan tangannya. Ia menatap berkeliling. Dua prajurit Kopassus di belakang mereka juga membeku seperti patung lilin, mata mereka terbelalak menatap gerbang.

Hanya Dimas dan Sarah yang masih bisa bergerak.

“Artefak ini… dia membekukan ruang dan waktu lokal,” bisik Dimas pucat pasi, menyadari skala kekuatan benda di depan mereka. “Atau lebih tepatnya… gerbang ini merespons kita. Dia narik kita keluar dari aliran waktu normal.”

Sebuah suara retakan halus memecah keheningan itu.

Dari celah Gerbang Emas yang sedikit terbuka, muncullah sebuah sosok. Bukan monster raksasa, bukan entitas asap, bukan makhluk laut dalam.

Sesosok humanoid dengan tinggi sekitar dua setengah meter melangkah keluar dari balik cahaya. Ia mengenakan jubah putih keemasan yang seolah ditenun dari cahaya bintang. Wajahnya tertutup oleh topeng logam perak tanpa fitur wajah—tanpa mata, hidung, atau mulut.

Makhluk itu berjalan melayang beberapa sentimeter di atas es yang mencair, memancarkan aura keilahian yang sangat mengintimidasi namun membius. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat yang diukir dari batu kristal murni.

Makhluk bertopeng perak itu berhenti sepuluh meter di depan Dimas dan Sarah. Ia menelengkan kepalanya sedikit, seolah sedang “mengamati” mereka.

“Pewaris Darah Nusantara…” suara itu tidak masuk lewat telinga, tetapi mengalun anggun di dalam relung jiwa Dimas dan Sarah. “Kalian telah mengunci Sang Penenun. Kalian telah membuktikan diri. Gerbang Eden kini telah terbuka. Apakah kalian siap menerima kebenaran tentang siapa yang menanam kehidupan di planet ini?”

Dimas memundurkan langkahnya, menarik Sarah agar berlindung di belakangnya. Tangan Dimas mencengkeram erat Keris Patrem-nya, meski ia tahu senjata fisik mungkin tak ada artinya di depan entitas seperti ini.

Petualangan mereka baru saja merobek lapisan realita bumi, masuk ke dalam ranah para pencipta kuno.

1
Aninda Riswinanti
bagusss pollll ceritanya
NP: Makasih ya kak, 🤗
total 1 replies
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus menarik untuk dibaca
NP: Terima kasih ya kak, semoga tetap suka ya sampai tamat nanti..🤗
total 1 replies
NP
Sarah sama Dimas ternyata minim romansa nya ya 😂 next tipis2 ada romantisme deh kesian Dimas serius terus script nya wkwk
Felycia R. Fernandez
kayak di cuci nih otaknya Sarah
Felycia R. Fernandez
jadi ingat film barat aku nonton ,mereka sekeluarga diserang kepiting karena air laut nya menguap...kepiting di laut mendatangi kapal mereka...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!