Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Takdir di Terminal 3
Koper-koper besar sudah berjajar rapi di ruang tamu, menandakan kalau waktu Arini di rumah ini tinggal hitungan jam.
Setelah euforia kelulusan SMA yang penuh drama, kini Arini harus menghadapi realita paling berat: meninggalkan zona nyamannya demi masa depan di luar negeri.
Ibu Arini menghampiri putrinya yang sedang mengecek kembali paspor dan dokumen penting di meja makan. "Gimana sayang, sudah siap semuanya? Nggak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Mama dengan nada lembut namun ada sedikit berat hati.
"Sudah kok, Mah. Semuanya sudah masuk koper," jawab Arini pelan.
"Ya sudah kalau gitu. Besok kamu berangkat, apartemen di sana juga sudah Mama siapin semua fasilitasnya biar kamu nggak ribet. Tapi... Rian sudah tahu kan kalau kamu beneran bakal kuliah di luar negeri?" Mama memastikan sekali lagi, karena dia tahu betapa lengketnya hubungan mereka akhir-akhir ini.
"Sudah kok, Mah. Arini sudah bicarakan semuanya sama Rian semalam,".
Mama mengelus bahu Arini, mencoba memberikan kekuatan. "Kamu yang sabar ya, sekarang kamu jadi pejuang LDR deh sama Rian. Tapi sekali lagi Mama ingetin, pendidikan itu harus lebih penting. Kamu harus fokus lulus sarjana dulu, setelah itu terserah kamu mau lanjut karir atau gimana, Mama dan ayah dukung,".
Ayah Arini yang sedari tadi menyimak sambil melipat koran ikut menimpali. "Bener, Rin. Ayah setuju banget sama Mama. Fokus ke goals kamu dulu. Ngomong-ngomong, si Rian itu lanjut kuliah juga atau nggak? Dia ambil kampus mana?"
"Lanjut, Yah. Tapi mungkin dia bakal stay di sini saja, ambil jurusan yang sesuai sama minatnya," jelas Arini.
Ayah mengangguk paham, matanya menatap Arini dengan serius. "Ya sudah, yang penting kamu sudah yakin dan mantap kan buat kuliah di sana? Jangan sampai nanti di tengah jalan malah galau pengen pulang terus," goda Ayah mencoba mencairkan suasana.
Arini tersenyum tipis lalu mengangguk mantap. "Iya, Yah. Arini yakin kok. Arini mau buktiin kalau Arini bisa sukses dan jaga kepercayaan kalian... juga kepercayaan Rian,".
Malam itu, Arini menatap layar ponselnya, menunggu pesan masuk dari sang peramal. Di balik keputusannya untuk pergi, ada janji yang tersimpan rapi antara dirinya dan Rian.
Rian: "Aku tahu malam ini kamu lagi deg-degan lihat koper di kamar. Jangan takut ya, Rin. Aku bakal tetap jadi orang pertama yang kamu hubungi saat kamu sampai di sana nanti. Tidur yang nyenyak, bidadariku."
Arini memeluk ponselnya erat, air matanya menetes pelan. Besok adalah awal dari perjuangan barunya, perjuangan cinta yang sudah diterawang oleh takdir.
Suara pengumuman keberangkatan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta terdengar bersahutan, tapi bagi Arini, semuanya terasa senyap. Dia berdiri mematung di depan gate keberangkatan internasional, menggenggam erat paspor dan tiket pesawatnya.
Di depannya, Rian berdiri dengan tatapan yang bener-bener deep, seolah lagi merekam setiap jengkal wajah Arini buat disimpan dalam ingatannya selama bertahun-tahun ke depan.
"Kamu beneran harus pergi sekarang ya, Rin?" tanya Rian dengan suara yang sedikit serak, menahan sesak di dadanya.
Arini mengangguk pelan, matanya sudah berkaca-kaca. "Iya, Rian. Pesawat aku berangkat sebentar lagi. Aku harus masuk ke dalam sekarang," jawab Arini lirih.
Rian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Dia menggenggam kedua tangan Arini, dingin bertemu hangat. "Aku tahu ini berat buat kita berdua. Tapi aku mau kamu janji satu hal sama aku di sana nanti. Jangan pernah ngerasa sendirian ya? Karena setiap kali kamu lihat bintang di langit sana, itu adalah cara aku buat terus jagain kamu lewat doa dan penglihatanku," ucap Rian penuh penekanan.
Arini nggak bisa lagi nahan air matanya. Tangisnya pecah di pundak Rian. "Aku takut, Rian... aku takut kalau nanti di sana aku nggak bisa dengar suara kamu setiap hari. Aku takut kita jadi asing gara-gara jarak ini,".
Rian mengelus rambut Arini dengan sangat lembut, mencoba menenangkan bidadarinya yang sedang breakdown. "Hey, dengerin aku. Kamu ingat kan apa yang selalu aku bilang? Penerawanganku nggak pernah meleset soal kita. Aku sudah lihat masa depan kita, Rin. Dan di sana, aku lihat kita berdua lagi berdiri di pelaminan yang sama. Jarak ini cuma ujian kecil buat kita naik kelas," bisik Rian meyakinkan.
Arini mendongak, menatap mata tajam Rian yang kali ini terlihat sangat tulus. "Kamu janji bakal tunggu aku pulang? Kamu nggak bakal cari pengganti aku di sini kan selama aku kuliah?" tanya Arini manja namun serius.
Rian tersenyum tipis, lalu mengecup kening Arini lama sekali. "Aku janji, Arini. Hatiku sudah terkunci cuma buat kamu. Peramalku bilang, nggak ada cewek lain yang bisa gantiin posisi kamu di hidup aku sampai kapan pun. Fokus belajar ya, bidadariku. Aku bakal selalu ada di sini, nunggu kamu balik sebagai sarjana yang hebat,".
"Aku sayang kamu, Rian..." bisik Arini terakhir kalinya sebelum dia harus benar-benar melangkah masuk ke area imigrasi.
"Aku lebih sayang kamu, Arini. Hati-hati di jalan ya," balas Rian sambil melambaikan tangan, menatap punggung Arini yang perlahan menghilang di balik kerumunan orang.
Mulai hari itu, cinta mereka nggak lagi diuji oleh kehadiran Yusa, tapi diuji oleh waktu dan ribuan kilometer jarak. Namun bagi Arin dan Rian, takdir sudah menuliskan bahwa mereka adalah satu kesatuan yang nggak akan pernah bisa terpisahkan oleh apa pun.
Punggung Arini benar-benar sudah hilang ditelan kerumunan antrean imigrasi Terminal 3. Rian masih berdiri di posisi yang sama, menatap kosong ke arah pintu kaca otomatis yang baru saja tertutup. Rasanya sebagian dari dirinya baru saja terbang menjauh, menyisakan ruang hampa yang bikin sesak.
Gery, yang sedari tadi menunggu di parkiran motor, akhirnya memutuskan buat masuk ke dalam area keberangkatan karena firasatnya bilang sahabatnya itu lagi mental breakdown. Dia berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Rian dengan cukup keras buat menyadarkan cowok itu dari lamunannya.
"Sabar ya, Yan. Gue tahu ini bener-bener berat buat lo," ucap Gery dengan nada yang jauh lebih tulus dari biasanya. "Pasti berat banget kan harus jalanin hubungan LDR lintas benua kayak gini? Mana nggak tahu kapan bisa ketemu face-to-face lagi."
Rian menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya. Matanya perlahan kembali menajam, memancarkan keyakinan yang nggak bisa digoyahkan oleh jarak ribuan kilometer sekalipun.
"Gue bakal tetap terus nunggu Arini sampai dia pulang, Ger. Jarak itu bukan masalah, tapi perasaan gue ke arini" jawab Rian dengan suara berat namun mantap.
Rian menoleh ke arah Gery, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang jarang dia tunjukkan setelah konflik tamparan tempo hari. "Gue sudah pernah bilang sama lu kan? Kalau Arini itu masa depan gue. Penglihatan gue nggak pernah bohong soal itu. Mau dia di ujung dunia sekalipun, tujuan akhir gue tetap cuma dia."
Rian, melangkah keluar bandara dengan perasaan yang lebih ringan. Di dalam hatinya, dia membisikkan satu kalimat terakhir untuk bidadarinya yang mulai terbang menembus awan
"Aku tunggu kamu pulang ya, Arini. Karena hanya di sisi kamu, penglihatanku terasa sempurna."