Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: KESAKSIAN DI ATAS PANGGUNG DUNIA
Udara di Den Haag, Belanda, terasa jauh lebih menggigit daripada rintik hujan di Jakarta. Di depan gedung International Criminal Court (ICC), ratusan jurnalis dari berbagai belahan dunia berkumpul, menciptakan barikade kamera dan mikrofon yang seolah siap menguliti siapa pun yang melintas. Namun, fokus utama mereka bukanlah para diplomat atau jaksa agung, melainkan sosok wanita muda yang turun dari mobil sedan hitam berlapis baja.
Arumi Salsabila Arkananta melangkah dengan dagu tegak. Ia mengenakan kebaya modern berwarna putih tulang yang dipadukan dengan blazer formal, sebuah simbol identitas yang ia bawa dari tanah airnya. Di sampingnya, Arlan Arkananta menggenggam tangannya erat. Arlan tidak lagi tampak seperti CEO angkuh yang dulu ditemui Arumi; ia adalah seorang pelindung yang siap membakar dunia demi wanita di sampingnya.
"Siap, Arumi?" bisik Arlan tepat di telinganya sebelum mereka memasuki ruang sidang utama yang megah.
"Aku tidak melakukan ini untuk diriku sendiri, Arlan. Aku melakukannya untuk setiap ibu yang kehilangan anaknya karena obat-obatan mereka," jawab Arumi mantap.
Ruang sidang itu sunyi senyap, hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti vonis mati. Di kursi terdakwa, duduk deretan pria berjas mahal—para petinggi sindikat farmasi Bio-Crest dan beberapa mantan pejabat Arkananta Group yang berhasil diekstradisi.
Jaksa Penuntut Internasional, seorang wanita berkebangsaan Prancis bernama Madame Lefebvre, berdiri. "Kami memanggil saksi kunci, dr. Arumi Salsabila, untuk memberikan kesaksian mengenai data riset Project Phoenix dan skandal 'Arkananta-Plus'."
Arumi melangkah ke podium. Saat ia bersumpah di bawah kitab suci, matanya sempat bertabrakan dengan pengacara pembela sindikat, seorang pria bernama Richard Vance yang dikenal sebagai "Iblis dari Wall Street".
"Nyonya Arkananta," Vance memulai interogasinya dengan nada merendahkan. "Anda mengklaim bahwa klien kami sengaja mengedarkan obat cacat. Namun, bukankah benar bahwa Anda sendiri adalah 'produk' dari riset tersebut? Bahwa mutasi genetik dalam darah Anda adalah hasil dari eksperimen yang dilakukan oleh ayah mertua Anda sendiri?"
Ruangan itu mendadak gaduh. Arlan yang duduk di bangku penonton mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. Ini adalah serangan personal yang bertujuan menghancurkan kredibilitas Arumi dengan melabelinya sebagai "monster hasil laboratorium".
Arumi menarik napas panjang. Ia menatap kamera yang menyiarkan sidang ini secara langsung ke seluruh dunia.
"Tuan Vance," suara Arumi terdengar jernih dan berwibawa. "Apa yang ada di dalam darah saya bukanlah pilihan saya. Tapi apa yang saya lakukan dengan hidup saya adalah pilihan saya.
Darah saya mungkin memiliki antibodi yang langka, tetapi nurani saya tidak bermutasi. Ayah mertua saya mungkin telah melakukan dosa besar, namun sindikat Anda meneruskan dosa itu dengan menjadikannya komoditas maut. Saya berdiri di sini bukan sebagai subjek uji coba, tapi sebagai bukti hidup bahwa keserakahan kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan kebenaran."
Tepuk tangan spontan terdengar dari galeri publik sebelum hakim mengetukkan palu untuk menenangkan suasana.
Sementara Arumi bertarung dengan kata-kata di Den Haag, Dante sedang melakukan perang fisik di pinggiran kota Amsterdam. Ia tahu bahwa sindikat tidak akan membiarkan Arumi keluar dari gedung pengadilan dengan selamat.
Dante berada di atap sebuah gedung tua yang menghadap ke jalur kepulangan iring-iringan Arlan. Di sampingnya, Raka memeriksa monitor sensor panas.
"Ada pergerakan di sektor empat, Dante. Dua sniper berada di menara jam," lapor Raka melalui earpiece.
"Biarkan mereka mengunci target," ucap Dante dingin sambil mengarahkan senapan laras panjangnya. "Begitu mereka menarik pelatuk, itulah saat terakhir mereka melihat dunia."
Dante bekerja dengan presisi yang menakutkan. Ia bukan lagi sekadar tentara bayaran; ia adalah malaikat maut yang menjaga keutuhan keluarganya. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dua ancaman tersebut berhasil dilumpuhkan tanpa menimbulkan kepanikan publik.
"Satu bersih, dua bersih," bisik Dante. "Arlan, jalurmu aman. Bawa ratumu pulang."
Kejutan terbesar dalam persidangan terjadi saat Madame Lefebvre memutar sebuah rekaman video eksklusif. Itu adalah rekaman pernyataan Victoria Arkananta dari dalam penjara Jakarta, yang diambil beberapa hari sebelum keberangkatan Arlan ke Belanda.
Di layar raksasa, Victoria tampak rapuh namun tatapannya tetap tajam.
"Aku memberikan segalanya untuk Arkananta. Aku membunuh hati nuraniku demi harta. Tapi saat aku melihat Arumi mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan ibunya—wanita yang kuhancurkan hidupnya—aku menyadari bahwa aku telah kalah. Arumi bukan sekadar perawat. Dia adalah penebusan bagi keluarga Arkananta. Semua data yang kalian cari... ada di bawah makam suamiku, di dalam sebuah kotak hitam yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari Arlan."
Seluruh ruangan terperangah. Arlan sendiri tidak tahu bahwa ayahnya meninggalkan wasiat terakhir di dalam liang lahatnya sendiri. Victoria telah memberikan serangan terakhir yang mematikan bagi para sekutu lamanya.
Setelah sidang hari pertama yang melelahkan, Arlan dan Arumi kembali ke hotel mereka di tepi kanal Amsterdam. Leon sedang tertidur di dalam boks bayi, dijaga oleh perawat terpercaya.
Arlan menarik Arumi ke balkon. Angin malam bertiup kencang, namun pelukan Arlan memberikan kehangatan yang tak tertandingi.
"Kau luar biasa hari ini, Arumi," Arlan membisikkan kata-kata itu di sela-sela rambut Arumi. "Kau membuat mereka terlihat seperti tikus yang terpojok."
"Aku hanya ingin ini berakhir, Arlan. Aku ingin kita kembali ke rumah, ke kebun kecil kita, dan melihat Leon tumbuh tanpa takut akan ada orang yang menculiknya."
Arlan memutar tubuh Arumi agar menghadapnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari sakunya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian dengan desain yang sangat klasik dan elegan.
"Aku tahu kita sudah menikah secara hukum dan kontrak," ucap Arlan dengan nada yang sangat tulus. "Tapi aku belum pernah melamarmu sebagai pria biasa. Arumi Salsabila, maukah kau menjadi istriku selamanya? Bukan karena kontrak seratus juta, bukan karena Leon, tapi karena kau adalah satu-satunya alasan jantungku masih berdetak?"
Air mata jatuh di pipi Arumi. Ia mengangguk pelan. "Ya, Arlan. Seribu kali ya."
Namun, kebahagiaan mereka terusik saat pintu kamar hotel didobrak paksa. Bukan oleh tentara bayaran, melainkan oleh Richard Vance sendiri yang tampak kalap. Di tangannya, ia memegang sebuah detonator kecil.
"Kalian pikir kalian sudah menang?!" teriak Vance. "Gedung ini sudah dipasangi bom plastik. Jika aku mati, kalian semua ikut denganku!"
Arlan segera pasang badan di depan Arumi dan boks bayi Leon. "Kau sudah kalah, Vance. Polisi sudah mengepung gedung ini. Menyerahlah."
"Kalah? Aku tidak akan pernah kalah dari seorang ibu susu dan CEO yang jatuh miskin!"
Tiba-tiba, sebuah kabel baja meluncur dari langit-langit balkon, menjerat tangan Vance yang memegang detonator. Dante melompat masuk dengan gerakan akrobatik, menjatuhkan Vance ke lantai dan melumpuhkannya dalam hitungan detik.
"Kau terlalu banyak bicara, Pengacara," desis Dante sambil menekan wajah Vance ke lantai. "Di duniaku, orang yang banyak bicara biasanya mati paling cepat."
Pasukan kepolisian Belanda (DSI) merangsek masuk dan membawa Vance pergi. Arlan segera memeluk Arumi dan Leon yang menangis karena kaget. Bahaya itu telah lewat, namun mereka menyadari bahwa sisa-sisa kegelapan akan selalu mencoba mencari celah.