NovelToon NovelToon
My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!

Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Damian menatap Valerie lebih intens dari sebelumnya. Udara di antara mereka seolah menipis saat pria itu kembali mencengkeram dagu Valerie, memaksanya untuk terus menatap sepasang mata gelap yang tak menyisakan ruang untuk melarikan diri. Dengan suara berat yang mengintimidasi, Damian berbisik tepat di depan bibirnya.

"Aku suka gadis pintar sepertimu, Valerie. Yang harus kau lakukan hanyalah mematuhiku," ucap Damian, setiap katanya terasa seperti jerat yang semakin kencang. "Aku tidak suka jika kau menolak sentuhanku. Dan ingat, setiap malam kau harus tidur denganku. Jadilah gadis baik, maka rahasiamu—dan hubungan manismu dengan pacarmu itu—akan tetap aman."

Jantung Valerie berdetak jauh lebih cepat, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia ingin berteriak, menolak mentah-mentah persyaratan gila itu, dan melarikan diri sejauh mungkin.

Namun, ia tahu siapa pria di hadapannya. Damian Callister tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Satu kesalahan kecil, dan hidup Valerie—serta citranya di depan Aiden—akan hancur berkeping-keping.

Dengan berat hati dan tenggorokan yang terasa mencekat, Valerie akhirnya mengangguk pelan. "Iya... aku mengerti," bisiknya lirih, menyerah pada keadaan.

Merasa puas karena telah membuat Valerie tak berkutik, seringai tipis muncul di wajah Damian. Ia mengelus bibir Valerie yang sedikit bengkak dan ranum dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang terlihat lembut namun penuh dominasi.

"Pintar," puji Damian dingin. Ia kemudian melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak. "Bersihkan dirimu. Aku akan menunggumu di kamar."

Tanpa rasa berdosa sedikit pun, Damian berbalik dan melangkah santai menuju kamar utama, meninggalkan Valerie yang masih terpaku di sofa. Rasa kesal Valerie sudah mencapai ubun-ubun; wajahnya memerah karena amarah yang tertahan.

"Ughhh! Aku membencimu, Damian sialan!" geramnya tertahan sambil meremas rok midnight blue-nya dengan sangat kuat, hingga jemarinya memutih.

Ia merasa terjebak dalam sangkar emas yang paling mengerikan, dan malam ini hanyalah awal dari permainan panjang yang harus ia jalani.

Valerie berdiri di depan cermin besar di sudut kamar tamu itu, menatap pantulannya yang kini jauh berbeda dari penampilannya di club tadi. Ia telah mandi dan berganti pakaian dengan setelan piyama celana panjang. Valerie sengaja memilih pakaian yang agak tertutup, berharap bisa menjadi benteng kecil untuk meminimalisir hasrat "pria gila" yang sedang menunggunya.

Rambutnya yang masih lembap dibiarkan terurai begitu saja, memberikan kesan segar. Meski riasan wajahnya sudah terhapus sepenuhnya, kecantikan Valerie justru terpancar lebih alami di bawah lampu temaram.

Ia menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kegelisahan yang menghimpit dadanya. Sebelum memutar knop pintu kamar tamu, ia berhenti sejenak dan menatap bayangannya di cermin sekali lagi.

"Bertahanlah, Valerie," bisiknya pada diri sendiri, mencoba mengumpulkan serpihan keberanian. "Pria seperti dia hanya menginginkan tantangan. Dia pasti akan bosan padamu suatu saat nanti dan mencari mangsa lain yang lebih menarik. Jadi, bertahanlah sampai saat itu tiba."

Setelah merasa cukup kuat, Valerie melangkah keluar dari kamar tamu. ia berjalan menuju kamar utama—tempat di mana Damian Callister sudah menantinya.

Setiap detak jantungnya seolah berpacu dengan derap langkah kakinya yang ragu, namun ia tahu, tidak ada jalan pulang malam ini selain masuk ke dalam sangkar tersebut.

Valerie memutar knop pintu kayu besar itu dengan perlahan, seolah berharap pintu itu terkunci sehingga ia punya alasan untuk kembali ke kamar tamu.

Namun, pintu itu terbuka dengan mudah. Begitu melangkah masuk, ia langsung disambut oleh aroma maskulin khas Damian—campuran antara kayu cendana dan sedikit sisa cerutu—yang kini terasa begitu familiar di indranya.

Langkah Valerie seketika terhenti. Matanya membelalak melihat Damian yang sedang bersandar santai di headboard tempat tidur. Pria itu bertelanjang dada, memamerkan otot dada dan perutnya yang atletis dan terpahat sempurna, hanya mengenakan celana pendek hitam.

Fokusnya tertuju pada layar ponsel di tangannya, jemarinya sesekali menggeser grafik saham yang bergerak naik-turun dengan fluktuasi tajam.

Valerie menelan ludah dengan gugup. "Kenapa... kenapa kau tidak memakai bajumu?" tanyanya, suaranya sedikit mencicit.

Damian mendongak dengan sangat santai, menatap Valerie dari atas ke bawah sebelum kembali ke layar ponselnya. "Untuk apa? Bukankah kau sudah pernah melihatku tanpa baju sebelumnya?" jawabnya datar, seolah itu adalah hal paling logis di dunia.

Valerie mencibir dalam hati. Bagi pria gila ini memang biasa, tapi bagaimana aku bisa tidur kalau harus melihat pemandangan seperti itu tepat di sampingku? Ia mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan pertanyaan yang lebih praktis. "Apa kau tidak akan kedinginan nanti? AC di sini cukup dingin."

Tanpa menoleh, Damian menjawab dengan suara baritonnya yang berat. "Kalau aku kedinginan, aku tinggal memelukmu supaya hangat. Kau punya suhu tubuh yang cukup nyaman untuk dijadikan pemanas."

Uhukk!

Seketika Valerie tersedak ludahnya sendiri. Ia terbatuk kecil, wajahnya memanas hingga ke telinga. Kata-kata Damian yang begitu blak-blakan membuatnya merasa seolah oksigen di kamar itu mendadak hilang.

Ia berdiri mematung di sisi tempat tidur, merutuki piyamanya yang kini terasa tidak cukup tebal untuk melindunginya dari pesona pria di hadapannya.

Valerie masih berdiri mematung di samping tempat tidur, otaknya seolah berhenti berfungsi mendengar ucapan Damian yang terlalu blak-blakan. Lamunannya buyar saat suara berat Damian kembali memecah keheningan, mengagetkannya.

"Kenapa kau hanya diam di sana? Naiklah ke kasur," perintah Damian tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Ini bukan pertama kalinya kau tidur di sini, jadi tidak perlu berakting seolah ini hal baru."

Valerie menghela napas pasrah. Situasi ini benar-benar terasa absurd dan aneh baginya. Ia harus berbagi ranjang, bukan dengan Aiden—kekasihnya—melainkan dengan pria asing yang baru dikenalnya selama tiga hari, namun sudah berhasil membalikkan dunianya dalam sekejap.

Dengan gerakan perlahan dan kaku, Valerie akhirnya naik ke atas kasur besar itu. Ia merebahkan tubuhnya di sisi yang paling pinggir, menjaga jarak sejauh mungkin dari tubuh atletis Damian.

"Aku sudah sangat mengantuk dan akan segera tidur. Selamat malam," gumam Valerie cepat. Tanpa menunggu balasan, ia langsung memutar tubuhnya, membelakangi Damian dan meringkuk di balik selimut tebalnya.

Damian hanya melirik sekilas ke arah punggung mungil yang membelakanginya itu. "Selamat malam," jawabnya pendek.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara halus pendingin ruangan. Mata Damian mulai terasa berat setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas kecil di samping tempat tidur, lalu menoleh ke arah Valerie.

Napas gadis itu sudah terdengar teratur dan tidak ada lagi pergerakan. "Dia sudah tidur rupanya," gumam Damian sangat pelan.

Tanpa ia sadari, melihat sosok Valerie yang tampak begitu tenang dan rapuh saat terlelap membuat sudut bibirnya terangkat.

Sebuah senyuman tipis, yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun, terukir di wajah tampannya sebelum ia akhirnya mematikan lampu nakas dan ikut menyusul ke alam mimpi.

1
@RearthaZ
lanjutin terus ceritanya kak
@RearthaZ
awalan cerita yang bagus kak
Raffa Ahmad
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!