NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Jesica tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, mencoba menata pikirannya sebelum bicara.

“Liv… coba kita lihat dari sisi lain.”

Olivia menoleh, menatap sahabatnya dengan serius.

“Kalau memang Oma yang melakukan sesuatu ke kak Olin,” lanjut Jesica hati-hati, “nggak masuk akal kalau Oma harus menghilangkan dia.”

Olivia mengernyit. “Maksud lu?”

Jesica merapatkan duduknya, suaranya lebih tenang, lebih logis.

“Kak Olin itu cucu Oma juga. Dan… kalau dipikir-pikir, pernikahan kak Olin sama Kak Juna jauh lebih ‘normal’ dibanding lu sama Kak Juna.”

Kalimat itu membuat Olivia terdiam.

Jesica melanjutkan, “Mereka udah pacaran lama. Saling cinta. Secara umur juga cocok. Nggak ada tekanan aneh kayak sekarang.”

Olivia menelan ludah. Logika itu… masuk akal. Sangat masuk akal.

“Jadi kalau Oma memang punya rencana soal pewaris atau keluarga… harusnya justru kak Olin yang dipertahankan, bukan dihilangkan.”

Hening. Olivia menunduk, jemarinya saling bertaut. Pikirannya kembali berputar. Kalau bukan Oma… Lalu siapa?

“Kalau bukan kabur…” gumam Olivia pelan.

Jesica menatapnya.

“…terus apa?”

Pertanyaan itu terasa lebih berat sekarang. Bukan lagi sekadar hilang. Tapi sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam, lebih… disengaja.

Olivia mengangkat wajahnya perlahan. “Ada yang nutup rekam medis.”

“Iya.”

“Dan… ada yang kirim pesan ke gue.”

Kalimat itu membuat Jesica langsung menegang.

“Apa?” suaranya naik tanpa sadar. “Pesan? Dari siapa?”

Olivia sedikit terdiam. Ia tahu—ini pertama kalinya ia mengatakannya.

“Nomor nggak dikenal. Tapi… orang itu tahu banyak hal.”

Jesica menatapnya tidak percaya. “Kenapa lu nggak pernah bilang ke gue, Liv?”

Nada suaranya bukan marah. Lebih ke… terluka. Olivia mengalihkan pandangan.

“Gue juga belum yakin itu siapa. Gue nggak mau lu ikut kepikiran.”

“Liv,” Jesica mendekat, “kita udah sejauh ini. Dan lu simpan beginian sendiri?”

Olivia tidak menjawab.

“Isi pesannya apa aja?” tanya Jesica lagi, kini lebih serius.

Olivia menarik napas pelan.

“Peringatan. Tentang Kak Juna… tentang jangan percaya siapa pun… dan—” ia berhenti sebentar, “tentang jangan sampai gue punya anak.”

Jesica benar-benar terdiam sekarang.

“Dan yang paling aneh…” lanjut Olivia pelan, “Oma nggak pernah nyari kak Olin.”

Kalimat itu menggantung di udara. Tidak ada pencarian besar, tidak ada kehebohan, tidak ada usaha nyata. Seolah-olah kehilangan Oliana… bukan sesuatu yang harus ditemukan.

Ruangan itu kembali sunyi. Jesica menatap Olivia, kali ini dengan ekspresi yang jauh lebih serius.

“Liv… ini bukan sekadar orang hilang.”

Olivia tidak menjawab. Karena dalam hatinya, ia mulai setuju. Tiba-tiba—

TRRRT… TRRRT…

Suara getaran ponsel memecah keheningan. Keduanya langsung Menoleh bersamaan. Bukan dari tas Olivia. Bukan dari meja.

Tapi dari… laci kecil di samping sofa. Olivia membeku.Perlahan ia berdiri, melangkah mendekat.

“Itu… HP apa?” bisik Jesica.

“HP apartemen,” jawab Olivia pelan. “Lu tau nggak ada yang tau nomor ini selain kita.”

Jesica langsung merinding. Olivia membuka laci dengan hati-hati. Layar ponsel itu menyala. Berdering tanpa nama.

Tanpa nomor yang dikenali. Namun saat Olivia melihat lebih dekat—napasnya tertahan. Bukan nomor baru dan bukan nomor acak.

Jesica ikut mendekat. “Siapa?”

Olivia menelan ludah. Suara getaran itu terasa semakin keras di telinganya.

“Ini…” bisiknya lirih, “nomor yang sama.”

Olivia menatap layar ponsel itu tanpa berkedip. Nomor itu, ia sangat hafal.

Deretan angka yang selama ini hanya ia simpan sendiri di kepalanya. Nomor yang tidak pernah ia berikan pada siapa pun.

Jesica berdiri di sampingnya, napasnya tertahan. “Liv… jangan diangkat kalau lu nggak siap.”

Olivia tidak menjawab. Pikirannya justru semakin jelas sekarang. Pria di lorong itu. Map rumah sakit. Pesan-pesan misterius. Semua mulai terhubung. Dan untuk pertama kalinya, Olivia yakin—penelpon ini adalah orang yang sama.

Dengan gerakan pelan namun tegas, Olivia menggeser tombol hijau di layar. Panggilan terhubung. Hening. Tidak ada suara beberapa detik pertama. Hanya napas. Samar. Dalam. Terkontrol. Olivia memperkuat genggaman ponselnya.

“Lu siapa?”

Nada suaranya dingin. Tidak lagi ragu seperti sebelumnya. Beberapa detik berlalu. Lalu— suara itu muncul. Dalam. Tenang. Dan… terlalu dekat.

“Akhirnya sudah berani juga diangkat.”

Jesica langsung menatap Olivia, matanya membesar. Ia bisa mendengar suara itu samar dari jarak sedekat itu. Suara yang berbeda dengan si penelpon pertama kali yang justru ingin suaranya tidak di kenali, namun ini sebaliknya.

Namun Olivia tidak goyah. “Gue tanya sekali lagi,” katanya tegas, “lu siapa?”

Ada jeda kecil. Seolah pria itu tersenyum di seberang sana.

“Orang yang tadi lu kejar.”

Jantung Olivia berdetak lebih cepat. Benar. Dia.

“Kenapa lu kirim pesan ke gue?” tanya Olivia tanpa basa-basi.

“Karena lu butuh tau kebenaran.”

“Dengan cara meneror?”

“Kalau gue datang baik-baik, lu bakal percaya?”

Olivia terdiam. Jawabannya… tidak.

“Lu tau tentang kakak gue?” suaranya kini lebih pelan, tapi jauh lebih serius.

Di seberang sana, pria itu tidak langsung menjawab.

“Lebih dari yang lu pikir.”

Jesica refleks memegang lengan Olivia, seolah meminta dia berhenti. Namun Olivia justru melangkah menjauh sedikit, fokus sepenuhnya pada percakapan itu.

“Kalau lu tau,” lanjut Olivia, “kenapa nggak dari awal ngomong jelas?”

“Kita belum di posisi yang aman.”

“Kita?”

“Lu dan gue.”

Olivia mengernyit.

“Jangan bawa-bawa gue.”

Pria itu terkekeh pelan. Suara yang anehnya… tidak terdengar mengancam.

“Lu udah ada di dalam ini sejak lama, Olivia.”

Kalimat itu membuat napas Olivia tertahan sepersekian detik. Sebelum ia sempat membalas—pria itu kembali bicara.

“Gue mau kita ketemu.”

Olivia langsung menjawab cepat, “Tempat umum.”

“Enggak.”

“Gue nggak akan—”

“Di tempat yang lu percaya.”

Olivia terdiam. Hatinya tiba-tiba terasa tidak enak.

“Tempat apa?” tanyanya pelan.

Ada jeda. Lebih lama dari sebelumnya, lalu suara itu kembali terdengar tenang, pasti, seolah sudah tahu reaksi Olivia sebelum ia bereaksi.

“Di apartemen.”

Dunia seperti berhenti sesaat. Jemari Olivia langsung menegang. Jesica yang berdiri tidak jauh darinya langsung membaca perubahan ekspresi itu.

“Liv…?” bisiknya panik.

Olivia tidak menjawab. Matanya terpaku pada lantai.

Suara di telepon itu melanjutkan, perlahan… hampir seperti bisikan yang menembus langsung ke pikirannya—

“Apartemen yang lu beli waktu SMP.”

Tubuh Olivia membeku total.

“Yang atas nama security sekolah lu.”

Jesica mundur satu langkah, benar-benar terkejut sekarang.

“Yang nggak ada satu pun orang tau… selain lu dan sahabat lu.”

Hening. Tidak ada suara apa pun selain detak jantung Olivia yang kini terasa sangat keras. Lalu—

“Gue lagi di bawah.”

Kalimat itu jatuh seperti bom. Olivia mengangkat kepalanya perlahan. Matanya melebar.

“Dan gue tunggu di sini.”

Panggilan terputus.

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!