NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: JEJAK YANG TERBAKAR

Dini hari di Bogor biasanya membawa ketenangan, namun bagi Arumi, udara dingin yang merayap masuk melalui celah jendela vila terasa seperti firasat buruk. Setelah pengakuannya yang mengejutkan di ruang sidang, Arumi tidak bisa memejamkan mata. Bayangan wajah Victoria yang memucat dan seringai licik Elina terus berputar di kepalanya.

​Arlan baru saja menutup teleponnya dengan wajah yang tegang. Ia menghampiri Arumi yang sedang duduk di tepi tempat tidur, mendekap sebuah kotak kayu tua berisi buku harian masa kuliahnya.

​"Raka baru saja memberi kabar," suara Arlan rendah, namun mengandung amarah yang tertahan. "Klinik Grha Medika terbakar habis dua jam yang lalu. Korsleting listrik, kata pemadam kebakaran. Tapi kita tahu itu bukan kecelakaan."

​Arumi tersentak. Buku hariannya hampir jatuh dari pangkuannya. "Mereka bergerak lebih cepat dari kita, Arlan. Tanpa catatan medis di klinik itu, pernyataan saya di sidang hanya akan dianggap sebagai halusinasi seorang wanita yang terobsesi pada bayi Anda."

​Arlan berlutut di depan Arumi, menggenggam kedua tangannya yang dingin. "Mereka pikir mereka bisa menghapus jejak digital dan fisik, tapi mereka lupa satu hal. Klinik itu milik Arkananta Healthcare. Dan aku adalah orang yang membangun sistem pengarsipan cadangannya lima tahun lalu."

​"Maksudmu?"

​"Ada server cadangan di sebuah gudang arsip lama di kawasan industri terpencil. Jika aku bisa mendapatkan data mentah dari sepuluh tahun lalu, kita tidak butuh pengakuan siapapun. Kode donor itu akan berbicara sendiri."

​Namun, masalahnya tidak sederhana. Arlan baru saja menerima notifikasi bahwa dewan direksi Arkananta Group, di bawah tekanan ibunya, telah membekukan akses biometriknya ke seluruh fasilitas perusahaan. Ia secara teknis sedang "dikunci" dari kerajaannya sendiri.

​"Aku tidak bisa masuk ke sana tanpa memicu alarm keamanan tingkat tinggi," Arlan menjelaskan sambil menatap peta digital di tabletnya. "Tapi kau bisa, Arumi. Statusmu di sistem masih terdaftar sebagai 'Perawat Medis Senior' yang memiliki akses ke zona arsip fisik untuk pengambilan data pasien lama. Kode aksesmu belum dicabut karena mereka menganggapmu tidak berbahaya."

​Arumi menelan ludah. "Anda ingin saya menyusup ke gudang arsip Arkananta?"

​"Bukan menyusup. Kau masuk sebagai dirimu sendiri. Aku akan berada di luar, meretas sistem pengawasan dari mobil. Raka akan menjagamu dari jarak dekat. Arumi, ini adalah satu-satunya cara sebelum Elina dan pengacaranya meminta hakim untuk membatalkan klaimmu besok pagi."

​Arumi menatap Leon yang tertidur pulas di boks bayi. Bayi itu adalah separuh nyawanya, dan kini ia tahu, secara biologis, Leon adalah miliknya yang sempat hilang. "Aku akan melakukannya. Untuk Leon."

​Pukul 02.00 pagi, sebuah mobil hitam tanpa plat nomor berhenti di depan sebuah bangunan beton raksasa tanpa jendela di pinggiran Jakarta. Udara di sana bau bahan kimia dan aspal basah. Arumi keluar dari mobil, mengenakan jas putih laboratorium yang dipinjam dari Bi Inah, menutupi pakaian hitam ringkasnya.

​"Gunakan alat ini," Arlan menyematkan sebuah anting kecil yang sebenarnya adalah kamera dan earpiece nirkabel. "Aku akan memandumu setiap langkah. Jika ada yang mencurigakan, segera keluar. Jangan memaksakan diri."

​Arumi mengangguk. Ia berjalan menuju gerbang keamanan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa satpam di depan bisa mendengarnya.

​"Selamat malam. Saya Suster Arumi dari divisi riset pusat. Ada data pasien transplantasi ginjal tahun 2016 yang harus divalidasi ulang untuk kebutuhan audit besok pagi," ucap Arumi dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, persis seperti instruksi Arlan.

​Satpam itu memeriksa kartu akses Arumi. Layar menunjukkan warna hijau. "Silakan, Suster. Tapi cepat ya, sistem sedang dalam pemeliharaan berkala."

Arumi melangkah masuk ke dalam gedung yang dingin dan sunyi. Barisan rak baja setinggi lima meter menjulang di kanan kirinya, penuh dengan ribuan boks arsip. Arlan memberikan arahan melalui antingnya.

​"Lurus ke lorong B-14, Arumi. Cari zona 'Fertilitas Anonim'. Kode filenya adalah Project Legacy 01."

​Arumi berjalan cepat. Suara sepatunya bergema di lantai semen. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip menambah suasana mencekam. Ia sampai di lorong yang dimaksud. Dengan tangan gemetar, ia mencari boks dengan label yang disebutkan Arlan.

​"Dapatkan, Arlan! Ada satu folder tebal di sini!" seru Arumi pelan.

​Ia membuka folder itu. Di sana, terdapat foto dirinya sepuluh tahun lalu—seorang gadis muda dengan mata yang penuh kesedihan namun teguh. Di bawahnya tertulis data medis lengkap, golongan darah, dan yang paling penting: Kode Barcode Donor 99-X-Arumi.

​"Arumi, dengarkan aku!" suara Arlan tiba-tiba berubah menjadi panik di telinganya. "Seseorang baru saja masuk ke sistem secara paksa dari luar. Mereka tahu ada aktivitas di akunmu. Keluar sekarang! Jangan lewat pintu depan!"

​Arumi segera mendekap folder itu ke dadanya dan berlari menuju pintu keluar darurat di bagian belakang. Namun, saat ia baru saja membuka pintu besi tersebut, sebuah bayangan menghalanginya.

​Bram.

​Pria itu tidak lagi mengenakan setelan jas asisten yang rapi. Ia tampak berantakan, dengan mata merah dan luka parut di pipinya akibat pelariannya yang gagal tempo hari. Ia memegang sebuah korek api gas di tangannya, dan bau bensin menyengat di sekitar lorong itu.

​"Kau lagi, Arumi. Kau benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti," desis Bram.

​"Bram, menyerahlah. Arlan sudah di luar. Polisi sedang menuju ke sini," bohong Arumi, mencoba mengulur waktu.

​"Polisi? Polisi tidak akan menemukan apa-apa kecuali abu," Bram menyiramkan cairan dari botol plastik ke arah rak-rak arsip. "Nyonya Victoria menjanjikan kebebasanku jika aku melenyapkan bukti terakhir ini. Dan bonusnya... aku bisa melenyapkanmu juga."

​Bram menyalakan korek apinya. Api kecil itu menari-nari di depannya.

​"Arlan! Arlan, Bram ada di sini! Dia akan membakar tempat ini!" Arumi berteriak ke arah antingnya.

Tanpa menunggu balasan Arlan, Arumi melakukan hal yang nekat. Ia melemparkan folder berat itu ke arah wajah Bram. Saat Bram mencoba menghindar, Arumi menerjangnya, menggunakan seluruh berat badannya untuk menjatuhkan pria itu.

​Bram terjatuh, korek apinya terlepas dan mengenai genangan bensin. Wush! Api seketika menjalar, membakar tumpukan kertas kering di rak terdekat.

​"Arumi!" Arlan berteriak melalui earpiece. "Pintu belakang terkunci secara otomatis oleh sistem keamanan kebakaran! Kau harus menuju ventilasi di lantai dua!"

​Asap hitam mulai memenuhi ruangan. Arumi terbatuk-batuk. Ia merangkak mengambil folder yang sempat ia lempar tadi. Bram merintih karena kakinya tertimpa rak yang jatuh, namun ia masih berusaha mencengkeram kaki Arumi.

​"Kau... tidak akan... membawa itu..." geram Bram.

​Arumi menendang tangan Bram dengan sisa tenaganya. "Ini untuk Leon!"

​Arumi berlari menaiki tangga besi menuju lantai dua. Asap semakin pekat, membutakan pandangannya. Paru-parunya mulai terasa perih. Ia sampai di depan jendela ventilasi kecil yang tertutup jeruji besi.

​Tiba-tiba, kaca jendela itu pecah dari luar. Arlan muncul dengan tali pengaman, wajahnya tertutup masker oksigen. Ia menendang jeruji itu hingga jebol dan meraih tangan Arumi.

​"Pegang aku, Arumi! Jangan lepaskan!"

​Dalam hitungan detik, Arlan menarik Arumi keluar tepat sebelum gudang itu meledak karena tangki kimia di bagian belakang terkena api. Mereka berdua terguling di atas atap mobil yang sudah diparkir tepat di bawah jendela.

​Arumi terengah-engah, wajahnya penuh jelaga, namun ia masih memeluk folder itu dengan erat. Arlan segera melepas masker oksigennya dan memasangkannya pada Arumi.

​"Kau gila," bisik Arlan, suaranya bergetar karena rasa takut yang luar biasa. "Kau hampir mati."

​Arumi tersenyum tipis di balik masker. "Saya membawa buktinya, Arlan. Leon... dia benar-benar anak saya."

Pukul 09.00 pagi. Ruang sidang kembali dibuka.

Victoria Arkananta masuk dengan wajah sombong, yakin bahwa semua bukti telah lenyap menjadi abu. Elina duduk di samping pengacaranya, sudah membayangkan kemenangan dan uang tunjangan jutaan dolar yang akan ia terima.

​Namun, suasana berubah saat Arlan masuk. Ia tidak datang sendiri. Ia membawa seorang pria tua berkacamata—mantan dokter kepala Klinik Grha Medika yang selama ini disembunyikan oleh Arlan di luar kota. Dan di tangan Arlan, terdapat folder yang masih berbau asap.

​"Yang Mulia," Arlan memulai dengan suara yang mengguncang ruangan. "Kami tidak butuh waktu tiga hari untuk tes DNA. Kami memiliki catatan medis asli yang selamat dari upaya pembakaran gudang arsip tadi malam. Dan kami memiliki saksi kunci, Dokter Gunawan, yang melakukan prosedur inseminasi sepuluh tahun lalu."

​Dokter Gunawan berdiri. "Saya bersaksi bahwa donor dengan kode 99-X adalah Nona Arumi. Dan sel telur itulah yang digunakan untuk membuahkan janin yang sekarang dikenal sebagai Leon Arkananta. Nyonya Elina tidak pernah memberikan kontribusi biologis apapun pada anak tersebut. Dia hanya memalsukan catatan kehamilan dengan bantuan pihak internal klinik yang sekarang sudah kami identifikasi."

​Wajah Victoria memucat. Ia menoleh pada Elina yang mulai gemetar ketakutan.

​"Satu hal lagi," Arlan melanjutkan sambil menatap ibunya dengan tatapan yang memutuskan hubungan. "Kami memiliki rekaman percakapan antara Bram dan seseorang yang memberikan perintah pembakaran gudang. Suara itu... sangat familiar bagi keluarga ini."

​Victoria berdiri, tangannya bergetar. "Cukup, Arlan! Kau ingin menghancurkan ibumu sendiri demi wanita ini?"

​"Ibu yang menghancurkan dirinya sendiri saat Ibu mencoba menyakiti cucu Ibu sendiri," jawab Arlan dingin.

​Hakim mengetuk palunya. "Berdasarkan bukti baru yang sangat kuat, pengadilan membatalkan hak asuh sementara Nyonya Elina. Perintah penangkapan akan segera diterbitkan untuk penyelidikan lebih lanjut mengenai pemalsuan dokumen dan upaya sabotase."

​Elina langsung diringkus oleh petugas di dalam ruang sidang. Victoria berjalan keluar dengan langkah gontai, dikelilingi oleh para pengawalnya yang kini tampak tidak berdaya melawan hukum.

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!