NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXV

  Lili tidak terlalu mempedulikan ucapan Pangeran Haoran. Ia masih tenggelam dalam kesedihannya, pikirannya hanya tertuju pada upacara pemakaman terakhir ayahnya itu. Akhirnya, seluruh rangkaian upacara pemakaman pun selesai dengan khidmat.

Setelah para tamu mulai pulang, Pangeran Haoran kembali menghampiri Dafi dan Lili yang masih berdiri di tempat itu. Ia hendak berpamitan, namun sebelum sempat melangkah pergi, rasa penasaran di hatinya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Ia pun kembali membuka suaranya.

"Lili... ada satu hal yang ingin aku tanyakan sebelum aku pergi kepada mu," ucap Pangeran Haoran dengan serius. "Apakah kau memiliki adik? Atau mungkin saudara kembar?"

Dafi mengerutkan keningnya, menatap Pangeran Haoran dengan penuh keheranan. Ia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Haoran itu.

"Apa maksudmu sebenarnya? Mengapa tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Dafi.

Pangeran Haoran menghela napas sejenak, lalu mencoba menjelaskan hal yang membuatnya begitu terkejut sejak tadi.

"Sebenarnya... ada seorang wanita yang sangat aku cintai, namanya Luna. Dan jujur saja, saat pertama kali melihat wajah Lili tadi, aku sungguh terkejut. Wajah mereka berdua sangatlah mirip, hampir sama persis. Itulah sebabnya aku curiga...bahwa mereka saudara."

Mendengar ucapan Pangeran Haoran itu, Dafi dan Lili seketika terdiam. Mereka saling tukar pandang antar satu sama lain, seolah-olah ada pencerahan yang besar baru saja muncul. Ingatan mereka langsung melayang pada ucapan terakhir Ayah Lili sebelum ia meninggal.

"Luna... Wanita itu bernama Luna?" tanya Lili dengan suara gemetar, napasnya tertahan karena terkejut. "Maksud mu... apakah wanita yang kau maksud itu adalah adikku Xiao Ning?"

Pangeran Haoran menggelengkan kepalanya. "Namanya Luna. Namun mengenai nama aslinya atau nama keluarganya, aku sendiri tidak tau hal itu."

Dafi pun segera menyahut dengan nada yang penuh harap dan penjelasan, "Haoran... Sebelum ayah kami meninggal, ia sempat bercerita bahwa Lili sebenarnya memiliki saudara kembar. Adiknya, Ning diculik saat berusia tiga tahun, dan sejak saat itu kami tidak pernah mengetahui keberadaannya. Nama yang ayah sebutkan adalah Ning. Jika wanita bernama Luna itu memiliki wajah yang persis dengan Lili... bisa jadi dia adalah Xiao Ning, saudara kembar Lili yang telah lama hilang itu."

Hati Lili berdegup kencang, Rasa rindu, penasaran, khawatir dan cemas bercampur menjadi satu. Ia sangat ingin segera bertemu, namun di sisi lain ada rasa ragu dan takut jika kenyataannya itu salah, dan takut jika harapannya harus kembali hancur.

"Apakah... apakah dia benar-benar adikku? Apakah mungkin ini nyata?" ucap Lili pelan dan ragu.

Namun, ragu itu segera hilang saat Pangeran Haoran melanjutkan ucapannya dengan nada yang cemas dan terburu-buru.

"Aku sendiri pun belum yakin sepenuhnya, tapi kemiripan kalian terlalu nyata untuk dianggap kebetulan. Dan satu hal lagi... kondisinya saat ini sangat kritis. Dia terluka parah dan nyawanya masih terancam."

Mendengar bahwa wanita yang kemungkinan besar adalah adiknya itu sedang sekarat, keraguan Lili seketika memudar. Ia dan Dafi saling bertukar pandang, sepakat bahwa mereka harus segera pergi.

"Jika benar dia adikku... aku harus menemuinya. Sekarang juga," ucap Lili dengan tekad yang bulat.

"Baiklah, Ayo kita pergi," sahut Dafi. "Kami akan ikut denganmu, Haoran."

Mereka pun segera berangkat menuju kediaman Pangeran Haoran. Di dalam kereta kuda itu, Lili terus menunduk, tangannya saling menggenggam erat karena gugup. Ia begitu cemas dan bertanya-tanya dalam hati Apakah wanita bernama Luna itu benar-benar Xiao Ning, saudara kembar yang selama ini dicari ayah dan ibunya?

Melihat kegelisahan di wajah Lili, Dafi mengusap pelan bahunya untuk menenangkannya.

"Tenanglah, Lili... Jangan terlalu cemas," ucap Dafi lembut. "Mungkin sudah saatnya takdir mempertemukan kalian berdua. Mungkin ini adalah jawaban dari doa-doa Ayah dan Ibu selama bertahun-tahun. Mereka pasti berharap kita bisa kembali menemukan adikmu itu dan menyatukan kalian berdua kembali."

Lili mengangguk pelan, menarik napas panjang berusaha menenangkan hatinya. "Kau benar, Kak... Apapun yang terjadi, aku harus mengetahui kebenarannya."

Di Kediaman Pangeran

  Sesampainya di kediaman Pangeran, Lili dan Dafi turun dari kereta kuda. Saat Pangeran Haoran mempersilahkan mereka untuk masuk, Lili tampak ragu melangkah, hatinya dipenuhi rasa takut. Melihat hal itu, Dafi menggenggam tangan Lili erat, memberinya kekuatan, lalu membawanya masuk ke dalam.

Mereka bertiga pun tiba di kamar tempat Luna dirawat. Wanita itu terbaring lemah di atas tempat tidur, matanya terpejam dan napasnya terlihat berat. Perlahan, Lili mendekat. Saat melihat wajah Luna dengan jelas, tubuhnya seketika membeku, ia tidak salah lihat. Wanita yang terbaring di hadapannya ini benar-benar saudara kembarnya yang selama ini dicari.

Air mata Lili langsung mengalir melihat kondisi adiknya itu. Dengan suara lirih dan bergetar, ia memanggil.

"Ning... Kau masih hidup..."

Lili mengusap lembut kepala Luna, suaranya terputus-putus karena tangis.

"Ning... Aku Kakakmu... Kakak ada di sini..."

Mendengar suara itu, kelopak mata Luna perlahan terbuka. Ia terkejut melihat ada wanita yang sangat mirip dengannya sedang menatapnya dengan tangis dan membelai rambutnya. Tanpa berpikir panjang, Luna dengan sisa tenaganya menepis tangan wanita itu.

"Siapa... siapa kau?" tanya Luna dengan suara terbata-bata dan lemah.

Lili segera menjawab dengan penuh harap, "Aku kakakmu, Ning. Kita adalah saudara kembar. Ayah dan Ibu selalu mencari mu."

Namun Luna langsung memotongnya dengan nada dingin dan tegas, "Aku tidak punya saudara, apalagi kakak. Kau salah orang." Ia memalingkan wajah, tidak ingin menatapnya lagi.

Lili tidak menyerah. Ia terus berbicara, berusaha menyampaikan kebenaran.

"Tidak, aku tidak salah. Ayah dan Ibu selalu mencarimu selama bertahun-tahun setelah kau hilang saat masih kecil. Mereka sangat merindukanmu... Sekarang mereka sudah tiada, tapi aku yakin mereka pasti bahagia di surga karena akhirnya aku menemukanmu..."

Belum sempat Lili bercerita lebih banyak, Luna kembali memotong pembicaraannya. Suaranya terdengar lelah dan tidak ingin mendengar lagi

"Cukup. Aku tidak mau mendengarnya. Tolong... keluarlah. Aku ingin beristirahat."

Melihat kondisi Luna yang semakin lemah dan napasnya yang semakin memburuk, mereka tidak punya pilihan lain. Lili dan Dafi pun berjalan keluar kamar, sementara Pangeran Haoran dan tabib tetap tinggal untuk memeriksa keadaan Luna.

Di luar kamar, Lili duduk dengan wajah sedih dan cemas. Air matanya kembali menetes.

"Mungkin... mungkin dia tidak mau mengenalku..." Ucapnya pelan.

Dafi segera mendekat dan menenangkannya, "Jangan berpikir begitu. Dia baru saja mendengar hal yang sangat mengejutkan, apalagi kondisinya sekarang sangatlah lemah. Beri dia waktu. Nanti saat dia sudah pulih dan tenang, dia pasti akan memahami semuanya."

Lili mengangguk pelan, berusaha menenangkan hatinya sambil terus berdoa agar adiknya itu selamat dan mau menerima kebenaran itu suatu hari nanti.

Di dalam kamar, Pangeran Haoran tetap setia menunggu di samping tempat tidur Luna. Setelah selesai memeriksa denyut nadi dan luka-luka Luna, tabib berdiri dan menoleh ke arah Pangeran Haoran.

"Kondisinya saat ini cukup stabil, Pangeran. Sepertinya ia hanya kelelahan dan membutuhkan banyak istirahat," ujar tabib, lalu berpamitan dan keluar dari kamar.

Begitu keluar, Lili dan Dafi yang sudah menunggu di depan segera menghampiri tabib itu dengan wajah cemas.

"Bagaimana keadaannya, Tabib? Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Lili dengan cemas.

Wajah tabib tampak serius. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu, "Ini mungkin adalah nyawanya yang terakhir. Jika suatu hal yang buruk terjadi lagi, maka tidak ada yang bisa dilakukan bahkan oleh tabib paling hebat sekalipun. Kita hanya bisa berdoa." ucap sang tabib sambil meninggalkan mereka.

Mendengar penjelasan itu, hati Lili kembali sedih.

Sementara itu, di dalam kamar, suasana terasa hening. Pangeran Haoran kembali membuka suara, mencoba menyampaikan kenyataan yang ia ketahui.

"Luna..." panggilnya pelan. "Orang tuamu telah mencarimu selama bertahun-tahun tanpa henti, namun sayangnya takdir belum mempertemukan kalian saat mereka masih ada. Sekarang mereka sudah tiada, namun kakakmu masih ada. Dia telah menunggumu dan berharap kau bisa menerima nya."

Namun, tanpa menoleh sedikit pun, Luna menjawab dengan nada dingin dan datar.

"Kau tidak perlu ikut campur urusan hidupku. Ini bukanlah hal yang perlu dibahas."

Pangeran Haoran menghela napasnya, lalu bergerak mendekat hingga berada tepat di sisi tempat tidur. Tatapannya tajam namun penuh perhatian.

"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?" tanya Pangeran Haoran lembut namun tegas. "Bukankah kau pernah berjanji pada dirimu sendiri untuk berubah dan berusaha melakukan hal yang benar? Lalu mengapa sekarang kau justru menutup diri dan menolak kenyataan yang ada di depan matamu?"

Luna tidak menjawab. Ia hanya membalikkan badannya membelakangi Haoran, jelas tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu.

Melihat sikapnya itu, Pangeran Haoran perlahan mendekat lebih dekat. Ia berbaring di samping Luna, lalu memeluk tubuh wanita itu dari belakang dengan lembut namun erat. Ia mendekatkan mulutnya tepat di telinga Luna dan berbisik dengan suara yang hangat dan menenangkan.

"Mulai hari ini, kau tidak lagi sendirian. Aku akan selalu ada di sisimu, apa pun yang terjadi. Percayalah padaku."

Luna berusaha melepaskan pelukan itu, namun Pangeran Haoran menahan tangannya dengan lembut namun tegas. Akhirnya, mereka berdua tetap berpelukan untuk beberapa saat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!