NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Tamat
Popularitas:327.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Spontan

Gavin sesekali melirik Azalia. Hening menyelimuti meja makan, hanya terdengar suara peralatan makan yang saling beradu pelan. Namun, di tengah suapan, gerakan tangan Azalia tiba-tiba melambat.

Sendok yang dipegangnya mulai terasa berat, jari-jarinya yang ramping kehilangan koordinasi. Saat Azalia mencoba menggenggamnya lebih erat, jemarinya justru melemah. Dan akhirnya sendok itu pun terlepas, jatuh di atas piring.

Gavin langsung menoleh. Menemukan Azalia yang menatap tangannya sendiri dengan kebingungan.

Azalia mencoba mengambil sendoknya kembali, tapi tangannya masih terasa kaku. Wajahnya terlihat frustasi, tapi dia berusaha menyembunyikannya.

Gavin mengulurkan tangannya, mengambil sendok itu lebih dulu sebelum Azalia sempat mencoba lagi. Ia menggenggam pergelangan tangan Azalia dengan hati-hati, menyentuhnya dengan ibu jari.

"Apa jari-jari mu terasa kaku?" tanyanya, suaranya terdengar datar tapi penuh perhatian.

Azalia menunduk. "Sebentar.. Nanti akan baik-baik saja," gumamnya. Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya, memaksa tangannya untuk bekerja seperti biasa. Setelah beberapa detik, ketegangannya sedikit berkurang, meskipun jemarinya masih terasa lemah.

Gavin tidak langsung berkata apa-apa. Tatapannya turun ke tangan Azalia yang masih berusaha bergerak normal. Dia menggenggam jemari Azalia sebentar, seolah menguji sendiri kelemahannya.

Setelah beberapa detik, Gavin melepaskannya pelan dan menaruh sendok kembali ke genggaman Azalia. "Makan pelan-pelan," katanya, nada suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

Azalia menatap tangannya yang masih bergetar ringan di atas meja. Jemarinya tampak lemah, seolah kehilangan daya yang selama ini ia anggap biasa saja. Rasa asing itu menjalar perlahan ke dalam dirinya, sadar bahwa tubuhnya semakin menurun, ada sesuatu di dalam dirinya yang tak lagi bisa ia kendalikan.

Azalia berusaha mengepalkan telapak tangannya perlahan, mencoba menegaskan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya sementara. Tapi semakin ia berusaha menggenggam, semakin terasa betapa sulitnya itu.

Matanya meredup.

Berapa lama lagi tangannya akan tetap bisa bergerak? Semakin hari hal-hal sederhana menjadi sulit untuk ia lakukan, Azalia merasa terasing dari tubuhnya sendiri.

Keheningan itu dipatahkan oleh suara lembut yang datang dari Gavin.

"Kau hanya mengalami kesemutan, mungkin karena beberapa hari ini cuaca dingin, jadi itu mempengaruhi imun tubuhmu." ujar Gavin santai, seolah tak ingin membuat situasi ini terasa lebih buruk.

Azalia mengangkat kepalanya perlahan, menatap Gavin. Sejenak, ia ingin mempercayai kata-kata itu ingin menganggap bahwa ini hanya kesemutan biasa, bahwa nanti tangannya akan kembali normal seperti sebelumnya.

"Tuan, Nyonya telah membuat sesuatu khusus untuk Anda. Sedari pagi Nyonya menyiapkan untuk Tuan."

Suara Abu memecah keheningan, menghentikan ekspresi takut yang sempat melintas di wajah Azalia. Kepalanya terangkat, matanya yang semula ragu kini bertemu dengan tatapan tajam milik Gavin.

Sesaat, Azalia ragu bagaimana Harus merespons. Tapi kemudian, seula senyum hangat mengembang di wajahnya. Dia mengangguk cepat, antusias.

"Ya. Itu yang ingin aku tunjukkan padamu."

Sebelum Azalia sempat mengambil sesuatu, Gavin menyala dengan nada lembut. "Pelan-pelan jalannya."

Gavin masih memandang Azalia. Menatap punggung Azalia dengan raut tak terbaca.

Gadis itu.... Gadis yang selama 2 tahun terakhir tak pernah ia beri perhatian sedikit pun, ternyata masih memikirkannya di tengah keadaannya sendiri yang mengkhawatirkan.

Dada Gavin terasa dihantam sesuatu. Sesuatu yang berat, yang perlahan merayap dan menyesakkan.

Tanpa banyak kata, Gavin berdiri menyusul Azalia. Gavin berhasil meraih tangan Azalia. Menggenggam telapak tangan kecil itu dalam genggamannya yang jauh lebih lebar. Tangan kecil itu terasa dingin gemetar.

"Kau sudah capek seharian. Lain kali, jangan paksakan dirimu untuk sesuatu." suaranya dalam, sedikit lebih pelan.

Dengan gerakan santai namun penuh intensi, Gavin menarik kursi menggunakan kakinya, mendekatkan mereka tanpa memberi ruang sedikit pun.

Azalia tersentak.

Tanpa banyak bicara, Gavin mulai memijat pelan telapak tangannya, mengusapnya lembut dari pergelangan hingga ke ujung jemari. Gerakannya lembut, hangat, tetapi tetap terasa asing.

Kedekatan ini asing bagi Azalia.

Canggung.

Azalia tidak ingat kapan terakhir kali mereka sedekat ini. Atau mungkin, Ini pertama kalinya?

Ada sesuatu yang menyesakkan sekaligus menyesatkan dalam situasi ini. Azalia merasakan dadanya berdebar cepat terkendali.

Jarak di antara mereka terlalu dekat. Begitu dekat hingga ia bisa merasakan napas hangat Gavin, sampai aroma tubuh pria itu membius setiap indranya. Kakinya nyaris menempel pada kaki Gavin.

Azalia mencoba menelan ludah, tubuhnya terasa semakin panas meskipun telapak tangannya sendiri dingin.

Azalia mencoba berpaling mengendalikan fokusnya. Tapi semakin ia berusaha menghindari tatapan Gavin, semakin dalam ia terjerat.

Lelaki itu serius, matanya tajam, tetapi caranya memperlakukan tangannya begitu lembut.

Azalia tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia ingin waktu berjalan lebih lambat .

Keheningan menyergap mereka.

Azalia menahan napas, sementara Gavin tetap menggenggam tangannya. Jemarinya yang panjang dan terasa hangat masih mengusap telapak tangan Azalia dengan gerakan pelan, seperti ingin memastikan setiap otot yang tegang kembali rileks.

Ketika mata mereka bertemu, jantung Azalia terasa melompat dari tempatnya.

Gavin, yang biasanya dingin dan penuh jarak, kini berada begitu dekat. Mata hitamnya menatap lurus ke dalam dirinya, menciptakan sesuatu yang ganjil di dalam dirinya, seperti pusaran halus yang mengaduk-aduk perasaannya.

Azalia tahu harusnya dia berpaling, tapi tubuhnya membeku.

Keduanya sama-sama diam dalam kebisuan yang semakin lama terasa semakin menekan.

Lalu, sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuat Azalia kembali pada kenyataan.

Gavin, pria yang selama ini nyaris tidak menunjukkan ekspresi berarti padanya, tiba-tiba mengalihkan pandangan lebih dulu. Dia berdeham kecil, melepaskan genggaman tangannya seolah menyadari sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

"Tanganmu akan segera membaik."

Nada suaranya kembali datar, seakan-akan momen tadi hanyalah sekilas gangguan kecil yang tidak berarti.

Azalia berkedip, menyadari betapa canggungnya situasi mereka. Dia buru-buru menarik tangannya ke pangkuan, menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang masih terasa panas.

Gavin lebih cepat menguasai diri.

Namun, Azalia tahu. Dia melihat bagaimana Gavin tadi sempat terdiam lebih lama dari biasanya.

Setelah beberapa menit, Azalia menatap Gavin.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," katanya pelan.

Gavin mengangkat kepalanya. Menunggu Azalia melanjutkan.

Azalia bangkit, berjalan ke kamarnya, lalu kembali dengan sesuatu yang ia dekap dengan hati-hati, ia meletakkannya di meja, tepat di hadapan Gavin.

Sebuah rangkaian bunga.

Yang sudah Azalia rangkai sejak pagi. Jauh lebih lama dari waktu yang seharusnya dibutuhkan.

Gavin menatap benda itu tanpa ekspresi, sebelum akhirnya mengangkatnya dengan satu tangan.

Sejujurnya, hasilnya jauh dari kata sempurna.

Rangkaian bunga itu tidak rapi, sebagian kelopaknya sudah layu. Ada bagian daun yang tak terpotong semua, dan panjang tangkai tampak tidak simetris dengan yang lain.

Azalia menunggu, merasa gugup dengan penilaian Gavin.

"Aku... Ingin membuat sesuatu untukmu," katanya dengan suara lirih. "Aku tahu ini tidak bagus, tapi aku benar-benar mencoba... "

Gavin masih menatap rangkaian bunga itu, diam. Tidak ada ekspresi yang bisa dibaca dari wajahnya.

Azalia mulai merasa tidak enak. Mungkin dia seharusnya tidak memberikan sesuatu yang begitu berantakan seperti ini.

Dia hendak mengambil kembali rangkaian bunga itu, tetapi sebelum ia sempat melakukannya, Gavin membuka mulutnya.

"Kau membuat ini untukku?"

Azalia mengangguk pelan. "Ya."

Gavin menatapnya lama. Ada sesuatu dalam tatapannya, sesuatu yang sulit dijelaskan.

Lalu, tiba-tiba dia mengangkat rangkaian bunga itu dan menaruh di pangkuannya. Dan kemudian, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, Dia berkata,

"Kau melakukannya dengan baik. Terima kasih. Aku menyukainya."

Hanya itu.

Namun, bagi Azalia, kata-kata sederhana itu terasa lebih hangat daripada apa pun yang pernah ia terima selama 2 tahun terakhir.

########

Yey....

Jangan tanya author update kapan ya...

Pokoknya like dan komen sesuai author langsung usahain update...

Author semangat kalau reader juga nggak pelit semangatin author...

happy reading....

1
opi amansyah
woiii jahat bgt😭😭
Tuti Aziz
baru x ini endingnya sedihhhh
Diny Julianti (Dy)
jgn2 Alvin suka sama renata
mimief
sepanjang cerita ini ,nyesakan hati terasa.
itulah kita harus menghargai setiap detik dan waktu yg kita lewati oleh orang selalu disisi kita
Karena ada beberapa hal yg tidak bisa dihapuskan hanyabdengan kata maaf dan menyesal
yaitu waktu yg telah kita lewati dengan kejam
mimief
😭😭😭😭😭😭😭
oiii thooor
tega banget dah
tapi.... seenggaknya semua wishlist nya tercapai bukan?
terkadang ada bagian buat seseorang yg katanya sad ending
tapi buat dia
ini adalah endingnya yg terbaik
selamat jalan sahabat ku
mimief
huaaaaa
othor nya jahat mak
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🫣
mimief
Renata mungkin salah
tapi,duo itu yg lebih salah. Karena udah ngasih angin surga,karena tamu ga akan bisa masuk ke dalam sebuah hubungan kalau kita sendiri yg ngundang
mimief
🥹🥹🥹🥹😭😭😭😭
mimief
nyeseknya Ampe nembus layar thor🥹🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹
laki laki sialan
awas jangan nyesel lu yaaa
mimief
aku bingung Thor mau komen
tragis bgt yaa
cuss lah,karena waktu kita tinggal sedikit
bahagiakan lah diri sendiri
cukup hidup buat orang lain🥹🥹
Anonim
Kasian azelia yang sabar .. buah kesabaran akan bahagia
Hermawan Mawan
alur cerita nya sangat bagus smpe bikin nangis ngikutin alur cerita nya 👍👍👍
Wati Marnisah
sedih bngt cerita nya.. nngis Bombay
Jade Meamoure
dah tk guna jg nyesel org nya dah pergi... pembelajaran ini jangan pernah sia"kan org yg mencintai anda
Santhi
ceritanya singkat padat jelas tanpa byk drama..Tapiii... cukup menguras emosi dan air mataaa..
Kamu berhasil membuat aku meewweekkk... 😭😭😭😭
Jade Meamoure
sesak eh bacanya
Siska Febriana
baguss tapi sedihhh bgt karna sad ending😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!