Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Rahasia Di Dasar Sumur
Angin malam yang berhembus melalui atap Kuil Dewa Ular yang bolong terasa lebih dingin dari sebelumnya. Abu dari mayat-mayat yang terbakar berterbangan, bercampur dengan debu sejarah yang telah lama terlelap.
Zeng Niu masih duduk bersandar pada pilar kayu, memutar lonceng perunggu kecil itu di tangannya. Benda itu terasa sangat berat, bukan berat karena massa logamnya, melainkan karena densitas spiritual yang terkandung di dalamnya. Menariknya, meskipun Zeng Niu telah kehilangan seluruh Qi-nya, Dantiannya yang kini berupa kehampaan murni entah bagaimana bisa merasakan resonansi aneh dari benda tersebut.
Seolah-olah... lonceng ini juga memiliki energi "Kehampaan".
"Aksara Ketiadaan," ulang Zeng Niu pelan, matanya menatap Zhao Ying yang masih berdiri mematung. "Kau yakin ini dari alam asalmu? Tiga Puluh Tiga Surga dan Benua Selatan di dunia fana ini dipisahkan oleh jutaan galaksi dan penghalang dimensi mutlak. Bagaimana sebuah artefak dewa bisa berakhir di tangan pendeta mayat rendahan?"
Zhao Ying berlutut di samping Zeng Niu, jemari pualamnya yang sedikit gemetar menyentuh permukaan lonceng itu. Saat kulitnya bersentuhan dengan logam perunggu dingin tersebut, setitik cahaya abu-abu berpendar samar dari ukiran aksaranya, merespons Garis Darah Asura yang mengalir di nadi sang bidadari.
"Aku tidak mungkin salah," bisik Zhao Ying, matanya memancarkan kerinduan sekaligus ketakutan yang mendalam. "Ini adalah bahasa yang diajarkan langsung oleh ayahku.... Aksara ini menceritakan sebuah nama."
"Nama siapa?"
"Nama lonceng ini," Zhao Ying menelan ludah. "Lonceng Penuntun Karma. Di Surga Atas, ini bukanlah senjata pembunuh, melainkan sebuah pusaka ritual yang digunakan oleh para dewa kuno untuk memandu jiwa-jiwa yang tersesat di Sungai Kelupaan agar bisa bereinkarnasi."
Zhao Ying menatap sumur batu di tengah ruangan yang asap belerangnya mulai menipis.
"Pendeta Mayat itu tidak membawa lonceng ini dari luar, Zeng Niu," analisis Zhao Ying cerdas. "Dia pasti menemukannya di sini. Lonceng ini bocor memancarkan sedikit energi kematian yang menarik entitas Yin untuk berkumpul. Mata Air Kematian di kuil ini... bukanlah fenomena alam. Sumur itu dibentuk oleh aura lonceng ini!"
Zeng Niu mengerutkan kening. Insting nya yang selalu waspada kembali menyala.
"Jika lonceng ini adalah artefak yang sangat kuat, mengapa ia tidak melindungi si Pendeta Mayat dari api fana kita?" tanya Zeng Niu.
"Karena Pendeta itu terlalu lemah untuk menggunakannya," jelas Zhao Ying. "Dia hanya memanfaatkannya sebagai wadah penampung Yin Qi. Untuk membunyikan Lonceng Penuntun Karma yang asli, seseorang membutuhkan pemahaman tentang Dao Kematian atau Dao Kehampaan yang luar biasa dalam. Bagi orang biasa, ini hanyalah lonceng perunggu tua yang berat."
Zeng Niu terdiam. Ia memandangi sumur batu di tengah ruangan.
"Sesuatu tidak jatuh dari langit begitu saja," ucap Zeng Niu pelan, memaksakan dirinya untuk berdiri. Rasa sakit di dadanya kembali menyengat, namun ia menahannya dengan ekspresi datar. "Jika lonceng ini berasal dari dasar sumur itu, maka mungkin ada petunjuk lain di bawah sana. Mungkin... petunjuk mengapa kau terdampar ke benua ini."
"Zeng Niu, kau gila?" Zhao Ying buru-buru menahan lengan pemuda itu. "Kau terluka parah. Sumur itu baru saja kita bakar dengan belerang, udaranya beracun. Dan kita tidak tahu apa yang bersembunyi di bawah kegelapannya!"
"Aku sudah terbiasa dengan kegelapan," jawab Zeng Niu dengan senyum tipis. Ia mengambil sisa tali rami tebal yang tidak ikut terbakar, lalu mengikatkannya ke salah satu pilar kuil yang masih kokoh. "Karma tidak datang ke depan pintu tanpa alasan, Bintang Putih. Jika langit menaruh petunjuk di hadapan kita dan kita mengabaikannya karena takut, maka kita layak mati sebagai fana."
Zhao Ying menatap kedalaman mata Zeng Niu. Di balik luka dan kelemahan fisiknya, tekad pemuda itu tidak pernah pudar sedikit pun. Ia mungkin telah kehilangan petirnya, tapi Hati Dao-nya semakin keras seperti berlian.
Gadis itu akhirnya mengangguk pelan. "Aku ikut turun."
Zeng Niu tidak membantah. Ia tahu melarang Zhao Ying saat menyangkut petunjuk tentang ayahnya adalah hal yang sia-sia.
Mereka berdua berjalan mendekati bibir sumur. Udara panas dan bau belerang masih mengepul tipis dari dasar. Zeng Niu melemparkan sebuah batu kecil ke dalam. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi pantulan kering.
"Tidak ada air. Kering sepenuhnya," simpul Zeng Niu. Kedalamannya sekitar sepuluh tombak sangat dalam untuk ukuran manusia fana, tapi cukup aman jika menggunakan tali.
Zeng Niu turun lebih dulu, melilitkan tali rami ke lengannya untuk menahan berat badannya, disusul oleh Zhao Ying di atasnya.
Turun ke dalam sumur gelap sebagai manusia biasa memberikan sensasi teror psikologis tersendiri. Tidak ada Persepsi Roh untuk melihat dalam gelap. Zeng Niu hanya mengandalkan sentuhan tangannya pada dinding batu yang berlumut basah, dan pendengarannya yang menajam.
Semakin dalam mereka turun, udara semakin terasa hampa. Bukan pengap, melainkan kosong. Seperti menyelam ke dalam ruang hampa udara di mana suara napas mereka sendiri terdengar sangat bising.
Akhirnya, sepatu Zeng Niu menyentuh permukaan tanah yang padat dan berpasir. Ia menstabilkan dirinya, lalu menangkap pinggang Zhao Ying untuk membantunya turun ke tanah.
Zeng Niu menyalakan sisa batu pemantik api, mengarahkannya ke sebuah obor kecil yang ia buat dari sisa kayu persik dan kain. Cahaya api kuning kemerahan seketika mengusir kegelapan di dasar sumur.
Pemandangan di hadapan mereka membuat napas keduanya seketika terhenti.
Dasar sumur itu tidak sempit. Ruangannya membesar ke dalam, membentuk sebuah gua buatan yang terbuat dari batuan obsidian hitam pekat.
Namun, yang membuat mereka terdiam bukanlah ukuran guanya, melainkan apa yang terpampang di dinding gua tersebut.
Dinding obsidian itu dipenuhi oleh ukiran mural yang luar biasa besar dan rumit. Ukiran itu begitu hidup, seolah-olah ia bisa bergerak kapan saja.
Mural itu menggambarkan pemandangan kosmik: Lautan bintang yang terbelah, ribuan entitas bercahaya (dewa) yang sedang berlutut ketakutan, dan di tengah-tengahnya, berdirilah sosok raksasa berjubah gelap tanpa wajah. Sosok itu memegang sebuah pedang yang seolah menyerap seluruh cahaya di alam semesta.
Di bawah kaki sosok raksasa itu, langit dan bumi runtuh, dan ribuan mayat jatuh seperti hujan ke dalam sebuah sungai hitam yang panjangnya tak berujung.
Tangan Zhao Ying bergetar hebat. Ia melangkah maju perlahan, seolah terhipnotis oleh mural tersebut. Air mata kembali menggenang di matanya.
"Ayah..." bisik Zhao Ying, suaranya parau oleh luapan emosi. "Itu Ayah. Ini adalah lukisan Perang Penaklukan Tiga Puluh Tiga Surga... saat Ayahku menghancurkan Dinasti Dewa Kuno."
Zeng Niu berdiri diam, matanya memicing menatap sosok tanpa wajah di mural itu. Aura dari lukisan batu itu saja sudah cukup membuat jiwa fananya terasa tertekan, apalagi eksistensi aslinya.
Lalu, pandangan Zeng Niu beralih ke bagian bawah mural. Di sana, tepat di bawah ukiran "hujan mayat", terdapat sebuah altar batu kecil yang berbentuk teratai layu. Altar itu kosong, dengan lekukan di tengahnya yang ukurannya sama persis dengan dasar Lonceng Penuntun Karma yang kini dipegang Zeng Niu.
Di belakang altar tersebut, terukir dua baris kaligrafi dalam Aksara Ketiadaan yang memancarkan pendaran abu-abu samar.
"Apa yang tertulis di sana?" tanya Zeng Niu, memecah kesunyian.
Zhao Ying mengusap air matanya, berusaha memfokuskan pandangannya pada tulisan kuno tersebut. Ia membaca baris demi baris, menerjemahkannya ke dalam bahasa dunia fana. Wajahnya perlahan berubah menjadi luar biasa terkejut, bercampur dengan kengerian sejarah yang tak terbayangkan.
"Tulisan ini berbunyi..." Zhao Ying menelan ludah. "Di sinilah tempat jatuhnya kotoran para dewa yang ditebas oleh Sang Tiran. Surga menolak bangkai mereka, Neraka enggan menampung dosa mereka. Maka, diciptakanlah Penjara Fana di ujung dimensi."
Zhao Ying menoleh ke arah Zeng Niu, matanya membelalak lebar. Kepingan teka-teki kosmik yang selama ini menjadi misteri terbesar Benua Selatan akhirnya menemukan bentuknya.
"Zeng Niu... Benua Selatan ini..." suara Zhao Ying bergetar keras. "...Benua ini bukanlah tempat yang diciptakan secara alami. Rawa Miasma, kutukan penduduk asli, Suku Li, Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman... semuanya adalah kutukan!"
Zhao Ying menunjuk mural itu dengan tangan gemetar. "Benua Selatan ini adalah Penjara Pembuangan Mayat dari perang kuno Tiga Puluh Tiga Surga! Lonceng ini ditinggalkan di sini untuk meredam kebencian jiwa-jiwa dewa yang mati, mencegah mereka bangkit kembali sebagai sosok jahat!"
Zeng Niu tertegun. Guntur imajiner menyambar di kepalanya yang kosong.
Dunia ini... Benua yang selama ini ia injak, yang dianggap sebagai benua tersuram dan paling mematikan di dunia fana, ternyata adalah kuburan massal bagi dewa-dewa yang dibantai oleh ayah Zhao Ying!
Ini menjelaskan mengapa hukum alam di benua ini sangat aneh dan dipenuhi oleh monster siluman tingkat tinggi. Miasma hijau yang menutupi rawa-rawa sebenarnya adalah gas pembusukan dari dewa-dewa kuno yang telah terkubur!
"Ayahku..." Zhao Ying merosot jatuh ke lantai obsidian, lutut fananya tak lagi kuat menopang beratnya kenyataan. "Ayahkulah yang secara tidak langsung menciptakan neraka di benua ini... dan aku, putrinya, jatuh terdampar ke dalam kuburan musuh-musuhnya..."
Karma.
Lingkaran takdir yang begitu kejam dan ironis. Sang Tiran Ketiadaan membuang mayat musuhnya ke ujung dimensi, karena anomali spasial, putri tunggal kesayangannya justru jatuh tepat ke tengah-tengah kuburan para musuh pendendam itu tanpa kekuatan sedikit pun.
Zeng Niu menunduk menatap lonceng di tangannya. Ia akhirnya mengerti mengapa Iblis Es Primordial di Puncak Tengkorak Beku memanggil Zhao Ying dengan sebutan "Darah Asura" dan ingin menelannya. Jiwa-jiwa sisa dari dewa kuno yang membusuk di benua ini pasti samar-samar mengenali garis keturunan musuh bebuyutan mereka!
"Kita tidak bisa tinggal diam," ucap Zeng Niu pelan, memecah kesunyian yang putus asa itu.
Zeng Niu berjalan mendekati altar teratai layu tersebut. Ia meletakkan Lonceng Penuntun Karma kembali ke tempat asalnya di atas lekukan batu itu.
WUUUNG!
Begitu lonceng diletakkan, sebuah riak energi transparan memancar pelan, menyapu seluruh dasar sumur dan merambat ke atas permukaan bumi. Suara lonceng ilusi terdengar di dalam pikiran mereka, membawa harmoni yang menenangkan jiwa.
Energi Yin yang pekat akibat terbongkarnya sumur itu kini perlahan disegel kembali. Desa Ujung Sungai kini benar-benar aman dari kemunculan Kabut Hantu.
Zeng Niu berbalik menatap Zhao Ying yang masih bersimpuh di lantai. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya yang kasar, kapalan, dan penuh luka.
"Lalu kenapa jika ini adalah penjara musuh ayahmu?" ucap Zeng Niu, suaranya tenang, datar, namun kokoh seperti gunung karang. "Lalu kenapa jika seluruh benua ini memendam kebencian pada garis keturunanmu?"
Mata gelap Zeng Niu menembus ketakutan di mata jernih sang bidadari.
"Karma mungkin mengantarmu ke kandang iblis, Bintang Putih. Tapi karma juga mengikatku untuk memastikan kau selamat melewatinya. Jika mayat-mayat dewa tua ini berani bangkit dari kuburnya untuk menyentuhmu..."
Zeng Niu menyeringai, sebuah tekad gila kembali terbakar di dalam kehampaan Dantiannya.
"...Maka aku akan merangkak dari alam fana, meminjam kekuatan Ketiadaan, dan membunuh mereka untuk kedua kalinya."