NovelToon NovelToon
Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Romantis
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Chitholl

Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Legend

Sebelum Thomas bisa mengeluarkan nama yang sudah bertahun-tahun dia simpan dalam hati, pintu gazebo terbuka dengan bunyi yang tidak terlalu keras tapi cukup untuk memecah moment.

Jefri Jefferson berdiri di sana, anak pertama Thomas yang berusia dua puluh delapan tahun. Pria dengan suit abu-abu yang perfectly tailored, rambut coklat gelap yang disisir rapi, wajah yang cold dan calculated. Dia datang sendirian tanpa istri yang sedang hamil muda, tanpa siapapun.

Matanya menatap langsung ke Rafael, bukan dengan permusuhan, tapi dengan sesuatu yang lebih complex. Pemahaman. Pengakuan

"Ayah kandungmu," kata Jefri tanpa pembukaan, tanpa salam, langsung to the point,

"bernama Samuel Alkava."

Suaranya firm, clear, tidak ada keraguan.

"Orang yang pernah berdiri di puncak bisnis dan entertainment dunia."

Rafael menoleh cepat, mata kelamnya melebar sedikit, satu-satunya tanda keterkejutan di wajah yang biasanya terkontrol. Dia menatap Jefri dengan intensitas yang gelap.

"Samuel Alkava," Rafael mengulangi nama itu, mengetes pengucapan suaranya, bagaimana rasa di lidahnya.

"Jika dia pernah berdiri di puncak..."

Dia berdiri dari bangku, gerakan yang tiba-tiba, yang penuh ketegangan.

"Lantas kenapa tidak ada satupun berita atau artikel yang membicarakan tentangnya? Kenapa aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya? Kenapa dunia seolah-olah tidak pernah mengenal Samuel Alkava?"

Pertanyaan-pertanyaan itu keluar seperti api yang menjalar cepat, menuntut, frustrasi.

Jefri berjalan dengan langkah yang measured, masuk ke gazebo, duduk di kursi kosong dengan posture yang relax tapi mata yang tetap sharp. Dia melihat orang tuanya, Thomas yang masih gemetar dari emotion, Aurora yang mengelap air mata dengan tissue, dan dia memberikan mereka waktu untuk menenangkan pikiran.

"Biar aku yang menjelaskan," kata Jefri. Suaranya calm, seperti dosen yang akan memberikan materi panjang.

"Tentang siapa sebenarnya Samuel Alkava. Tentang kenapa dunia melupakan dia. Tentang kenapa nama itu... menghilang."

***

The Legend of Samuel Alkava.

"Samuel Alkava," Jefri memulai,

"adalah orang yang sangat jenius. Bertalenta dalam level yang hampir tidak manusiawi. Punya kharisma tinggi yang bisa membuat ruangan penuh orang diam hanya dengan kehadiran-nya. Cukup untuk membuat dunia iri kepadanya."

Dia menatap Rafael, menganalisa apakah Rafael menunjukkan kemiripan fisik dengan Samuel. Dan yes, ada kesamaan. Struktur tulang wajah. Mata yang dalam. Aura yang berwibawa.

"Saat dia berumur sebelas tahun," Jefri melanjutkan,

"dia sudah menjadi aktor cilik yang fenomenal. Membintangi film yang meraih box office ratusan juta dollar. Menerima penghargaan, Golden Globe untuk Best Young Actor, Critics Choice Award, bahkan masuk ke nominasi Oscar."

Rafael mendengarkan dengan seksama, setiap kata diserap seperti spons yang menyerap air.

"Banyak orang yang menyukainya. Fans dari seluruh dunia. Tapi tidak sedikit pula orang yang ingin menjatuhkannya. Karena kesuksesannya terlalu cepat. Terlalu terang. Dan di dunia entertainment, kecerahan seperti itu mengundang bayangan."

Jefri berhenti sejenak, mengambil napas.

"Orang tuanya, atau lebih tepatnya, orang yang membesarkannya, bernama Adam Whitmore dan Lusi Chen."

Rafael mengerutkan kening. "Orang yang membesarkannya? Bukan orang tua kandung?"

"Sampai saat ini," jawab Jefri,

"tidak ada yang mengetahui apakah Samuel anak kandung mereka atau bukan."

"Kenapa begitu?"

Jefri menatap Rafael dengan pandangan yang serious.

"Karena istri Adam. Lusi Chen, tidak bisa mempunyai keturunan. Medical condition yang membuat rahimnya tidak bisa menahan kehamilan."

Dia menggeser posisi duduknya, mencondongkan tubuh ke depan sedikit.

"Suatu hari, Adam dan istrinya pergi ke Indonesia untuk urusan bisnis expansion. Mereka pergi selama dua minggu. Dan saat mereka kembali ke Amerika..."

Jefri berhenti, menciptakan jeda yang dramatis.

"Mereka membawa anak. Seorang bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun. Dan Adam mempublikasikan ke seluruh dunia, ini adalah anak kandung saya. Namanya Samuel Alkava."

Rafael merasakan sesuatu yang berputar di perutnya. Indonesia. Usia tujuh tahun. Timeline-nya match.

"Adam sendiri," Jefri melanjutkan,

"adalah pengusaha kaya yang saat itu menduduki peringkat pertama di Amerika. Perusahaannya, Apex Global Holding, menguasai berbagai sektor. Real estate, teknologi, manufaktur, bahkan defense industry."

Dia menarik napas.

"Sedangkan istrinya, Lusi Chen, adalah pengusaha butik dengan brand yang terkenal sampai ke mancanegara. Chen Couture, brand fashion yang dipakai oleh celebrities, royalty, bahkan first ladies dari berbagai negara."

Aurora yang sudah lebih tenang sekarang menambahkan dengan suara yang soft,

"Mereka adalah power couple yang tidak tersentuh. Dengan influence sebesar itu, tidak ada satupun orang yang berani menyinggung tentang asal-usul Samuel."

Jefri mengangguk.

"Samuel dibawa ke Amerika tepat di umur tujuh tahun. Empat tahun kemudian, di usianya yang kesebelas, dia sudah membintangi film pertamanya. Dan film itu... sukses luar biasa."

Mata Jefri berbinar saat mengingat.

"The Last Star. Film science fiction tentang anak yang menjadi harapan terakhir umat manusia. Samuel main sebagai protagonist. Dan aktingnya... critics bilang dia acting di luar usianya. Emotional kedalaman yang biasanya hanya dimiliki aktor dewasa dengan puluhan tahun pengalaman."

"Film itu ditonton oleh jutaan orang dari seluruh dunia. Box office global tembus satu miliar dollar. Dan Samuel, anak sebelas tahun, menjadi sorotan dalam semalam."

Rafael membayangkan itu, seorang anak, berdiri di atas panggung Oscar, memegang trophy, dengan dunia menontonnya.

"Pada usianya yang ketujuh belas," suara Jefri menjadi lebih gelap sekarang,

"Adam dan Lusi meninggal."

Keheningan.

"Kecelakaan," Jefri melanjutkan.

"Atau setidaknya, itu yang dilaporkan. Mobil yang mereka naiki tiba-tiba berhenti di tengah persimpangan. kegagalan mesin. Dan ditabrak oleh truk kontainer dengan kecepatan penuh."

Dia menatap Rafael.

"Banyak yang bilang kejadian ini bukan accident. Ada orang yang sengaja membunuh Adam dan Lusi. Sabotase pada sistem mesin mobil. Tapi investigasi tidak menemukan bukti yang jelas. Kasus ditutup sebagai tragic accident."

Thomas angkat bicara—suaranya masih agak serak.

"Samuel hancur saat itu. Aku ingat dia datang ke funeral dengan wajah yang... kosong. Tidak menangis. Tidak bicara. Hanya berdiri di depan coffin mereka dengan mata yang sudah mati."

Rafael merasakan sesuatu familiar dengan deskripsi itu. Karena dia pernah merasakan hal yang sama, kehilangan orang tua, standing di depan grave dengan kebas total.

"Setelah itu," Jefri melanjutkan,

"Samuel mencoba menguatkan dirinya. Melanjutkan karir acting-nya. Tapi ada perubahan. Kedewasaan yang tiba-tiba. Seperti tragedy itu mengubahnya dari remaja menjadi dewasa dalam semalam."

"Tepat pada umurnya yang kedua puluh tahun, Samuel berhenti total dari acting. Dan dia mengumumkan sesuatu yang membuat industri entertainment shock, dia akan membuka perusahaan sendiri."

Rafael meluruskan duduknya, minat tergerak.

"Novacrest International Corp," kata Jefri.

"Nama yang dia pilih sendiri. Nova untuk new beginning. Crest untuk peak."

"Perusahaan itu dimulai dengan langkah yang sangat besar. Samuel menggunakan warisan dari Adam dan Lusi—kekayaan yang estimated triliunan dollar. Plus relasi yang dia build selama bertahun-tahun di industri entertainment. Plus kejeniusannya sendiri."

Jefri bersandar di kursi.

"Hanya dalam lima tahun, Novacrest International Corp berdiri di atas segalanya. Mengalahkan bahkan Apex Global Holdings yang dulu milik Adam. Samuel berperan sebagai founder dan CEO langsung. Sama seperti AGE-mu, perusahaan ini tidak memiliki investor. Benar-benar dibiayai sendiri."

Rafael merasakan parallel yang striking. Dia dan Samuel, keduanya membangun empire tanpa investor, hanya dengan skill dan ketekunan.

"Tepat pada umurnya yang kedua puluh lima," Jefri melanjutkan dengan nada yang slightly softer,

"Samuel menikah."

Aurora tersenyum tipis, remembering.

"Itu adalah hari yang sangat membahagiakan. Untuk Samuel. Untuk semua orang yang mengenalnya."

"Pada saat itu," Jefri menjelaskan,

"tidak ada satupun orang yang berani menyinggung Samuel. Dia terlalu powerful. Terlalu berpengaruh. Terlalu tinggi untuk di sentuh."

"Pernikahannya sangat mewah. Digelar di Eropa, tepatnya Russia. Venue yang digunakan adalah Peterhof Palace, istana yang biasanya hanya untuk royalty dan kepala negara."

Rafael membayangkan wedding seperti itu, kemegahan yang tak terbayangkan.

"Samuel menikahi anak pengusaha yang bertengger di peringkat satu Eropa," kata Jefri.

"Keluarga Ivanova. Old money family dengan lineage yang trace back ke era Tsar Russia."

"Nama istrinya," Jefri menatap Rafael,

"adalah Raisha Anastasya Leonovich Ivanova."

Nama itu, beautiful, regal, powerful.

"Pernikahan mereka berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Traditional Russian pernikahan yang dipadukan dengan unsur-unsur Barat. Guests dari seluruh dunia, politicians, celebrities, businessmen, royalty."

Aurora menambahkan,

"Aku ingat melihat footage di TV. Raisha sangat cantik. Dress-nya custom-made oleh designer ternama, estimated cost lima juta dollar hanya untuk satu dress."

"Setelah pernikahan," Jefri melanjutkan, nada bicaranya berubah menjadi lebih mysterious,

"Samuel memilih untuk hidup lebih tenang."

Rafael mengerutkan kening. "Tenang?"

"Dia mempercayakan perusahaannya—Novacrest International Corp—ke tangan kanannya yang bernama Elijah Kain Dravovich. Seorang businessman dari Russia, teman dari keluarga Ivanova."

"Sementara Samuel dan Raisha," Jefri menatap Rafael dengan intense,

"pindah ke Indonesia."

Rafael membeku. Indonesia.

"Di sana," Jefri melanjutkan,

"tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan Samuel. Dia menghilang dari public eye. Tidak ada interview. Tidak ada public appearance. Seperti dia sengaja menghapus dirinya dari radar dunia."

Thomas yang sudah diam sejak tadi akhirnya bicara lagi. Suaranya heavy dengan memory yang painful.

"Beberapa tahun kemudian setelah pernikahan Samuel..."

Dia berhenti, mata tertutup, ingatannya berputar secara otomatis.

"Tepat saat malam hari. Waktu itu turun hujan yang sangat deras disertai dengan angin dan petir. Thunder yang begitu keras sampai jendela yang berguncang."

Thomas membuka mata, menatap Rafael.

"Secara tiba-tiba Samuel datang ke rumah ini."

Rafael merasakan heartbeat-nya accelerate.

"Badan basah kuyup dari hujan. Wajah penuh dengan kesedihan yang... aku tidak bisa deskripsikan. Mata yang kosong. Seperti orang yang sudah kehilangan segalanya."

Thomas berdiri, tidak dapat duduk diam dengan memory ini.

"Dia tidak masuk. Hanya berdiri di depan pintu. Dan dia bicara dengan suara yang... broken."

Suara Thomas bergetar sekarang.

"'Thomas,'" Thomas meniru suara Samuel,

"'suatu hari nanti jika anakku datang kesini, tolong rawat dia. Berikan dia perhatian. Karena aku tidak bisa memberikan itu.'"

Keheningan yang sangat panjang.

"Setelah Samuel mengatakan itu," Thomas melanjutkan dengan suara yang hampir tidak ada bisikan,

"dia pergi. Berjalan kembali ke dalam hujan. Masuk ke mobil yang parkir di depan. Dan pergi."

"Sampai saat ini," Thomas menatap Rafael dengan mata yang berkaca-kaca,

"tidak ada yang tahu dimana Samuel berada."

Jefri mengambil alih narasi, memberikan Thomas waktu untuk mengatur dirinya sendiri.

"Samuel menghilang begitu saja. Seperti ditelan oleh bumi. Tidak hanya orangnya yang menghilang, tapi semua informasi tentang dia juga lenyap."

Rafael menatap Jefri dengan tidak percaya. "Apa maksudmu lenyap?"

"Film-film yang pernah dia mainkan," Jefri menjelaskan,

"dihapus dari semua platform. DVD, Blu-ray, streaming service, semuanya ditarik. Database IMDb, Wikipedia, semua situs entertainment, page tentang Samuel Alkava dihapus."

"Bahkan," Jefri melanjutkan dengan nada yang dark,

"Novacrest International Corp, perusahaan yang dia bangun dengan darah, keringat, dan air mata, direstrukturisasi. Lenyap dalam semalam, bahkan orang-orang yang setia dengannya juga ikut menghilang."

"Tidak ada apapun yang tersisa," Jefri mengambil kesimpulan.

"Samuel Alkava menjadi... ghost. Legend yang tidak ada bukti eksistensinya."

Rafael mencerna semua informasi ini. Pikirannya berputar dengan cepat, menghubungkan titik-titik, membentuk teori.

"Bagaimana mungkin," katanya perlahan,

"orang yang pernah berada di puncak, yang punya power, influence, wealth, menghilang begitu saja?"

Jefri menatap Rafael dengan pandangan yang serious.

"Ada dua kemungkinan," katanya.

"Pertama. Menghilangnya Samuel itu atas kemauannya sendiri. Dia sengaja menghapus semua jejak. Sengaja menghilang. Mungkin karena ancaman. Mungkin karena trauma. Mungkin karena alasan yang hanya dia yang tahu."

Dia pause.

"Kedua. Ada orang di balik ini semua. Orang yang membencinya. Orang yang menginginkan dia untuk hilang dari dunia ini. Orang dengan power cukup besar untuk menghapus seseorang dari history."

Rafael berdiri, gerakan yang tiba-tiba. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

"Terima kasih," katanya. Suaranya terkontrol tapi ada emotion yang barely terkandung di bawahnya.

"Terima kasih karena Jefri dan Uncle Thomas sudah mau mengatakan yang sebenarnya."

Dia berbalik, berjalan menuju gazebo pintu keluar.

"Rafael—" Thomas call out.

Tapi Rafael sudah pergi, langkahnya cepat, determined, leaving gazebo dan heading ke McLaren-nya yang parkir di halaman depan.

Thomas dan Aurora saling pandang, merasa khawatir. Jefri tetap duduk dengan calm, tapi matanya following Rafael's retreating figure dengan interest.

"Dia akan baik-baik saja," kata Jefri pelan. "Dia lebih kuat dari yang kita pikir."

***

Bersambung...

1
Danil Septia n
lanjut thor
Arlen Mirza
lanjut Thor
Kurniawan Wawan
🥺🥺🥺
My Name Is Koplo
panjangin lagi min, nanti gua ngambek
ricky hayathe
mantap. lanjutin jga anak nya si rafael thot
mielle
keren bgt kalimatnya 😍
Bang Chitholl: makasih loh ya🙏
total 1 replies
ricky hayathe
smangat thorr
Arlen Mirza
dikit banget gila
Dandung Lamase
taek dikit bngtttt🤣
ricky hayathe
gacorrr
Arlen Mirza
kek terlalu dikit Thor
KIMI
mana nih
Bang Chitholl: apanya?
total 1 replies
Rifqi Ilham
Lanjutt thorr, jangan nanggung
KIMI: mn nih
total 1 replies
Arlen Mirza
dikit banget thorr
Bang Chitholl
buset dah kenapa pada ngamuk cok 🤣
Michael Bangun
kambing lah
KIMI
monyet lh Thor🤣🤣
Dandung Lamase
chitol taek suka bngt gantungggg🤣
My Name Is Koplo
yang panjang thor
Kurniawan Wawan
lanjut thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!