Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part bucin.
Pagi datang dengan cahaya yang lembut masuk melalui gorden yang semi-transparan. Rafael bangun dengan alarm internal yang sudah terlatih, pukul lima pagi, seperti biasa. kebiasaan dari dua bulan latihan intensif di Elysium Medical Institute yang masih tertanam kuat.
Dia bangkit dari kasur dengan gerakan yang santai, tidak ada kekakuan, tidak ada delay. Tubuhnya sudah kembali ke kondisi optimal.
Rutinitas pagi dimulai. Dimulai dari olahraga, push-up seratus kali, sit-up seratus kali, plank lima menit, stretching untuk flexibility. Di mansion Riverdale ini ada ruang gym yang lengkap dengan peralatannya, tapi untuk rutinitas pagi Rafael lebih suka latihan beban tubuh. Simple, effective, bisa dilakukan dimana saja.
Setelah workout, mandi dengan air hangat yang perlahan berubah ke dingin, sistem yang mengejutkan untuk kewaspadaan penuh. Lalu sarapan, roti tawar dengan selai cokelat, simple tapi cukup untuk mengisi perut.
Tapi hari ini berbeda. Hari ini Rafael tidak akan berangkat sekolah. Belum. Thomas bilang dia akan handle komunikasi dengan Greenwich Preparatory School, tapi prosesnya butuh waktu. Minggu depan, maybe.
Rafael duduk di dapur dengan meja dapur marmer yang berkilau, piring dengan roti tawar di depannya. Dia mengoleskan selai cokelat dengan pisau, gerakan yang methodical, even.
Lalu ponselnya berbunyi.
Bukan ponsel baru yang Daniel berikan, samsung Z-flip yang masih baru. Tapi ponsel lama, Samsung S26 Ultra yang dia pakai sebelum "meninggal". Ponsel yang entah bagaimana Kimberly atau Ryzen pegang dan simpan.
Rafael meraih ponsel itu. Screen menyala, menampilkan nama pemanggil yang membuat detak jantung-nya meningkat.
Salma.
Nama yang sangat dia rindukan tapi belum sempat dia hubungi. Karena terlalu banyak yang terjadi. Terlalu banyak yang harus dia process.
Tanpa ragu, Rafael geser untuk menerima panggilan.
"Halo—" dia mulai bicara.
Tapi di seberang, suara yang keluar bukan greeting. Suara yang keluar adalah campuran antara kemarahan, kelegaan, kekhawatiran, dan kerinduan yang terkompresi menjadi satu.
***
Jakarta, Indonesia – Mansion Sanjaya – 30 Menit Sebelumnya
Annisa Salma Zayana bangun dari tidur dengan perasaan yang sama seperti hari sebelumnya, kecemasan yang terus menggerogoti, harapan yang rentan, dan kerinduan yang menguras.
Dia masih memakai piyama satin berwarna cream, set yang simple tapi elegant. Rambut hitam panjangnya berantakan dari tidur, wajah tanpa makeup menampilkan kecantikan natural yang menakjubkan.
Salma adalah tipe cantik yang tidak perlu effort. Wajah oval dengan proporsi yang sempurna, mata besar dengan bulu mata yang tebal secara alami, hidung mancung dengan jembatan yang elegant, bibir yang full dengan warna natural pink, kulit yang cerah dengan nada yang rendah. Anggun dengan cara yang mudah, lembut tanpa terlihat lemah, natural beauty yang murni, wajah khas Indonesia yang halus dengan sentuhan dari warisan Arab dari keluarga ibunya.
Dia berjalan ke balkon kamarnya yang menghadap ke taman belakang mansion. Malam di Jakarta, humid, warm, dengan suara sunyi yang menenangkan.
Tapi Salma tidak peduli dengan semua itu. Yang dia peduli adalah ponsel di tangannya—ponsel yang sudah dia check ribuan kali sejak berita yang dia lihat kemarin muncul di layar TV.
Karena pada hari itu, dia melihat berita yang mengubah segalanya.
Konferensi pers di Elysium Medical Institute, New York. Broadcast yang entah bagaimana sampai ke Indonesia melalui CNN International dan media lainnya. Dan di sana, di layar TV, dia melihat Rafael.
Rafael Alkava. Hidup. Berdiri di panggung dengan suit hitam yang rapi, dengan posture yang tegap, dengan mata yang clear.
Tidak mati seperti yang dunia percaya selama enam bulan.
Salma menangis saat melihat itu. Menangis dengan perasaan yang campur aduk. Karena enam bulan, enam bulan dia berdoa, berharap, mencoba mengatasinya dengan kehilangan yang merusak. Enam bulan dia mencoba untuk percaya bahwa Rafael pergi untuk selamanya.
Dan tiba-tiba keajaiban muncul. Rafael hidup.
Tapi ada yang mengganjal. Sesuatu yang menggerogoti dirinya dari dalam.
Jika Rafael masih hidup. Jika dia masih peduli dengan Salma. Jika dia masih mencintainya seperti yang dia claim sebelum pergi ke Amerika.
Kenapa Rafael belum menghubunginya?
Sudah sehari sejak konferensi pers. satu hari. Dan tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Tidak ada tanda-tanda bahwa Rafael ingat dia ada.
Salma mencoba menghubungi Rafael berkali-kali. Menghubungi nomor yang dulu Rafael pakai. Tapi tidak dijawab. Meninggalkan pesan di WhatsApp. Tapi tidak dibalas. Bahkan tidak di-read, check list tetap abu-abu, tidak pernah berubah biru.
Apakah Rafael melupakan dirinya? Apakah cinta yang dia claim hanya sementara? Apakah commitment tiga tahun hanya kata-kata kosong?
Pertanyaan-pertanyaan itu menyiksa Salma. Membuatnya tidak bisa tidur dengan baik, tidak bisa makan secara normal, tidak bisa fokus pada apa pun.
"Salma, sayang."
Suara lembut dari belakang. Salma berbalik—melihat Nabila, mamanya, berdiri di pintu kamar dengan wajah yang khawatir.
Nabila Sanjaya, wanita berusia empat puluh lima tahun yang terlihat seperti tiga puluh lima. Elegant dengan cara yang abadi, mengenakan kaftan silk berwarna tosca, rambut hitam dikuncir loose.
"Susah tidur lagi?" tanya Nabila sambil berjalan mendekat.
Salma mengangguk-kan kepala. "Aku tidak bisa tidur, Mah."
Nabila memeluk anak semata wayangnya dari belakang, dagu yang sedang beristirahat di bahu Salma. "Masih mikirin Rafael?"
Salma tidak menjawab. Tapi jawaban sudah jelas.
"Sayang," Nabila bicara dengan suara yang soothing,
"Rafael pasti punya alasan kenapa dia belum contact kamu. Dia baru bangun dari koma tiga bulan. Pasti banyak hal yang harus dia handle."
"Tapi, Mah," kata Salma dengan suara yang small. "Sehari itu sudah cukup lama untuk setidaknya kirim satu pesan. Satu panggilan. Apa saja."
Nabila tidak bisa menyela dengan logic itu. Karena dia sangat mengerti. Jika Salma dalam posisi Rafael, hal pertama yang akan dia lakukan setelah bangun adalah contact orang yang dia cintai.
"Mungkin ponselnya hilang?" Nabila mencoba mencari alasan.
"Atau mungkin nomor berubah?"
"Aku coba nomor yang sama," jawab Salma.
"Dan ponselnya aktif. Cuma tidak dijawab."
Nabila menghela napas. Dia memutar Salma untuk melihat wajahnya, memegang kedua bahu anaknya.
"Dengar, sayang. Jangan overthinking. Jangan berasumsi yang terburuk. Rafael bilang dia cinta sama kamu, kan? Percaya sama kata-katanya. Beri dia waktu. Dia pasti akan contact kamu."
Salma menatap mata mamanya—menemukan kenyamanan di sana, menemukan kekuatan.
"Okay," bisiknya.
"Aku akan tunggu."
Tapi setelah Nabila pergi, Salma menatap ponselnya lagi. Dan dia membuat keputusan.
Satu kali lagi. Dia akan mencoba satu kali lagi. Jika tidak dijawab, dia akan berhenti. Dia akan menerima bahwa mungkin Rafael sudah moved on.
Dengan tangan yang gemetar sedikit, dia menekan tombol memanggil.
Ring pertama. Ring kedua. Ring ketiga.
Salma hampir menyerah. Hampir memutuskan panggilan.
Tapi di ring keempat, panggilan dijawab.
"Halo—"
Suara Rafael. Suara yang sangat dia rindukan. Suara yang membuat hatinya berdebar kencang dengan emotion yang overwhelming.
Air mata langsung mengalir. Tidak bisa ditahan. perasaan yang menguat.
"KENAPA KAMU TIDAK MENGHUBUNGIKU?!"
Kata-kata keluar keras, lebih keras dari yang dimaksudkan. Ada getaran di suaranya, campuran antara kemarahan dan kekhawatiran, frustrasi dan kerinduan.
"KENAPA KAMU MENGABAIKANKU? KENAPA KAMU MELUPAKANKU?!"
Dia tidak bisa stop. Kata-kata mengalir seperti dam yang pecah.
"AKU MENUNGGU! ENAM BULAN AKU MENUNGGU SAMBIL BERDOA KAMU MASIH HIDUP! DAN SAAT KAMU BENAR-BENAR HIDUP, KAMU BAHKAN TIDAK MENGHUBUNGIKU?! APA ARTINYA AKU BAGIMU?!"
Di seberang, Rafael diam. Mendengarkan setiap kata. Merasakan setiap emosi di balik kata-kata itu.
Lalu dia bicara, suara yang rendah, yang dipenuhi rasa bersalah.
"Maaf."
Satu kata. Tapi beban-nya terasa sangat berat.
"Maaf, Salma. Aku... aku tidak punya waktu yang bagus. Tapi please, dengar aku."
Salma masih crying tapi dia mendengarkan.
"Setelah aku bangun dari koma," Rafael menjelaskan, memilih kata dengan hati-hati,
"ada banyak hal yang harus aku lakukan. Aku harus mengurus perusahaan, AGE hampir collapse tanpa aku. Aku harus mengembalikan namaku ke publik, membuat orang-orang percaya bahwa aku masih hidup. Aku harus menangani masalah hukum, masalah medis, masalah bisnis."
Dia pause, menarik napas.
"kemarin aku benar-benar sibuk, aku melakukan banyak hal. Meeting dengan pengacara, dengan doctors, dengan partner bisnis. Mencoba menyelamatkan segalanya yang hampir lost."
Rafael tidak mengatakan kebenaran sepenuhnya. Dia tidak mention tentang Samuel Alkava, tentang Valhalla, tentang elite global. Karena itu hanya akan membuat Salma lebih khawatir.
"Aku tahu itu bukan alasan yang tepat," Rafael melanjutkan.
"Aku seharusnya contact kamu. Bahkan hanya satu pesan. Tapi aku... aku takut."
"Takut?" suara Salma lebih lembut sekarang.
"Takut kamu sudah move on," jawab Rafael dengan kejujuran yang terus terang.
"Takut kamu tidak mau dengar aku lagi setelah enam bulan berpikir aku mati. Takut kamu membenci aku karena membuat kamu menderita."
Keheningan di telepon.
Lalu Salma bicara, suara yang gentle, yang memafkan.
"Aku tidak akan pernah move on darimu, Kak. Tidak peduli berapa lama. Tidak peduli apa yang terjadi."
Rafael merasakan sesuatu warm spreading di chest-nya.
"Dan aku tidak membencimu," Salma melanjutkan.
"Aku hanya... aku hanya rindu. Sangat rindu."
"Aku juga rindu kamu," kata Rafael. "Sangat."
"Buktikan itu," kata Salma dengan nada main-main yang mulai kembali.
"Ganti ke video call. Aku mau lihat wajahmu."
Rafael tersenyum—genuine smile yang mencapai matanya. Dia switch call ke video call.
Screen berubah. Dan Rafael melihat Salma.
Wajah yang dia rindukan. Mata besar yang masih basah dari crying. Bibir yang gemeteran sedikit. Rambut yang berantakan tapi entah bagaimana membuatnya terlihat lebih cantik.
Rafael terhipnotis. Semua masalah yang dia miliki, tentang Samuel, tentang Valhalla, tentang missing parents—seolah menghilang.
Melihat wajah Salma terasa benar-benar menenangkan. Terasa seperti pulang ke rumah setelah perjalanan panjang.
"Hi," kata Salma dengan senyum malu-malu.
"Hi," Rafael jawab.
"Kamu cantik. Bahkan dengan mata bengkak setelah menangis."
Salma tertawa, tawa yang nyata. "Kamu juga ganteng. Bahkan dengan rambut yang berantakan."
Rafael menyentuh rambutnya, menyadari dia belum styling. Masih berantakan karena mandi.
"Sorry. Baru bangun."
"Jam berapa di sana?" tanya Salma.
"Pukul tujuh pagi kemarin," jawab Rafael. "Perbedaan waktu dua belas jam kan?"
Salma mengangguk. "Aku baru mau tidur. Pukul tujuh malam di sini."
Mereka tersenyum satu sama lain melalui layar. Keheningan yang nyaman yang berbicara banyak.
"Cerita tentang sekolahmu," kata Rafael.
"Bagaimana SMA Tunas Bangsa? Apakah ada yang ganggu kamu? Apakah kamu join club?"
Salma bersandar ke railing balkon, merasa nyaman.
"Sekolahnya bagus," katanya.
"Academic standards-nya tinggi tapi tidak berlebihan. Aku join debate club dan dance club."
"Debate club," Rafael tersenyum. "Itu cocok untukmu. Kamu selalu bagus dengan kata-kata."
"Dan dance karena aku suka seni," Salma melanjutkan.
"Kamu tau kan? aku selalu bermimpi untuk jadi idol."
"Yeah. Ada yang ganggu kamu?" Rafael bertanya dengan nada yang penuh perlindungan.
Salma menggelengkan kepala. "Tidak. Semuanya baik. Beberapa anak laki-laki mencoba mendekat tapi aku selalu menolak. Karena..."
Dia menatap camera dengan mata yang jujur.
"Karena hatiku sudah ada yang punya."
Rafael merasakan dada-nya mengencang dengan emosi yang intense.
"Tiga tahun," katanya.
"Aku janji akan kembali dengan layak dalam tiga tahun. Dan aku akan menepati janji itu."
"Aku tahu," Salma tersenyum.
"Aku akan selalu menunggu."
Mereka menghabiskan waktu bersama di video call. Membicarakan tentang semuanya bahkan sampai ke pembicaraan yang tidak penting. Salma cerita tentang teman-teman barunya di sekolah, tentang guru yang ketat tapi adil, tentang betapa buruknya lalu lintas di Jakarta dibandingkan sebelumnya.
Rafael cerita tentang proses penyembuhan-nya, versi yang disederhanakan tanpa menyebutkan bahaya yang menimpanya. Tentang therapy fisik yang melelahkan, tentang betapa berat rasanya melihat nisan sendiri, tentang AGE yang tumbuh melampaui ekspektasi.
Jam berlalu tanpa terasa. Pukul tujuh malam di Jakarta menjadi pukul sembilan. Lalu pukul sebelas. Lalu pukul satu malam.
"Aku harus tidur," kata Salma dengan nada lelah. "ini sudah terlalu malam."
"Okay," Rafael tidak mau end call tapi dia mengerti.
"Call aku lagi nanti?" Salma bertanya dengan hopeful eyes.
"Off course," Rafael promised. "Aku akan call setiap hari jika kamu mau."
"Aku mau," Salma tersenyum lebar, senyum yang menerangi seluruh wajahnya.
"Okay. kapanpun kamu mau."
"Bye, kak Rafael. Aku cinta kamu."
Kata yang simple tapi sangat-sangat berarti.
"Aku cinta kamu juga, Salma. Sangat."
Dan telpon pun mati.
Rafael menatap layar kosong dengan senyum yang tidak bisa hilang. Wajahnya berseri, bersinar dengan kebahagiaan yang nyata. Energi untuk wajah apapun yang akan datang hari ini.
***
Bersambung...
cerita tak monoton seperti novel bertemakan mafia atau CEO sama Y/N gituhhhh 😜, dan terima kasih buat Mimin yg bikin novel ini, guehh suka nya kebangetan Ama ni novel ,Semangat terus bang.