NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asisten Menyebalkan

Ammar benci ketidakberdayaan ini. Padahal dia memiliki banyak uang, dan bisa membayar siapapun untuk mencari Nina dan kedua bayinya. Tapi sudah tiga bulan usia bayinya, dia tidak pernah sekalipun melihat langsung.

Kejadian sebulan lalu, akibat ulah mantan istrinya. Dan kini Leti sedang mendekam di balik jeruji besi sebuah lembaga permasyarakatan ibu kota.

Ammar masih punya sedikit nurani, untuk membiarkan mantannya itu bernapas. Andai tak ingat kebersamaan mereka selama lebih dari satu dekade, mungkin tanpa pikir panjang Ammar akan menghabisi Leti dengan tangannya sendiri.

Menurut informasi dari Alex, Nina menghilang satu jam sebelum peristiwa penyerangan tersebut. Kebetulan rekaman CCTV di rumah juga sedang bermasalah.

Alex juga sudah meng-hack CCTV sepanjang jalan sekitar komplek rumah Ammar, tapi tak ada tanda-tanda kepergian Nina.

Pun soal pengakuan para pekerja, yang diintrogasi langsung oleh Ammar. Mereka sama sekali tidak tau kapan perginya sang Nyonya

Kalau dipikir-pikir secara logika, tidak mungkin seorang ibu yang baru melahirkan dua bulan. Bisa melarikan diri membawa dua bayi sendirian tanpa dibantu siapapun. Itu mustahil.

Orang suruhan Alex, sampai mendatangi kampung halaman Nina juga pondok pesantren tempat anak Nina yang lain mengenyam pendidikan. Tapi tak ada sedikitpun petunjuk.

Hari dimana janji Ammar membawa Nina dan bayi mereka untuk menemui keluarga besarnya, semakin dekat. Mereka bahkan hampir setiap hari menanyakan waktu pastinya. Tapi dengan dalih kesibukan, Ammar mengatakan akan menundanya.

"Kalau begitu biar kami yang datang menemui menantu dan cucu kami." Itu pembicaraan terakhir dari Ayah Ammar sebelum panggilan berakhir.

Astaga, kenapa mereka kekeh sekali melihat anak-anaknya?

Padahal ada banyak cucu dari sepupunya yang lain, juga dari Aisya sang kakak kandung yang sudah memiliki anak. Kenapa mereka selalu mendesak dirinya?

"Tidak biasanya anak buah Alex, lambat seperti ini!" gerutu Ammar sambil memeriksa dokumen yang dibawakan asistennya.

"Manusia memiliki keterbatasan, Tuan!" komentar Damian. Dia melirik ekspresi tuannya.

Ammar berdecak dan sedikit membanting pulpen yang dipegangnya, dia menatap asistennya. "Menurutmu, kemana Nina membawa bayi-bayi ku?" Tanyanya. "Apa dia sengaja, karena takut aku akan mengambil mereka dan memberikannya pada Leti?"

Damian menaikan bahunya tak peduli, dia lebih memilih merapihkan dokumen yang sudah ditandatangani Tuannya.

"Apa Nina belum tau jika aku sudah bercerai dengan Leti?"

"Saya tidak tau, Tuan! Anda bisa bertanya nanti kalau bertemu dengan beliau."

Seperti tak ingin asistennya beranjak, Ammar kembali bertanya. "Apa mungkin Alex belum memberitahukan pada Nina jika kami sudah memiliki buku Nikah?"

"Coba anda bertanya langsung pada Alex, Tuan!"

Ammar menjambak rambutnya sendiri, dia kesal setengah mati. Dia benci dirinya yang tidak berdaya. "Kakek, ayah dan paman-paman ku terus menanyakan anak kembarku. Mereka bahkan berniat datang kesini." Dia benar-benar frustrasi.

Ini sama sekali bukan gayanya, Ammar tidak pernah pusing menghadapi masalah apapun seumur hidupnya. Tapi, baru kali ini dia dibuat pusing dengan perempuan sederhana itu.

"Dami ... Menurutmu, dimana istriku sekarang?" Tanya Ammar setelah melampiaskan kekesalannya sejenak.

"Apa anda sedang bertanya pada saya, Tuan?" Tanya Damian balik.

"Ayolah Dami ... Aku serius."

"Saya juga serius, Tuan!"

Ammar mengeraskan rahangnya, disaat seperti ini, kenapa asistennya itu begitu menyebalkan.

"Bukankah anda tidak lagi mempercayai saya, Tuan?" Damian menyindir atasnya.

"Terserah lah, aku pusing!!" Ammar memijat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. "Tolong gantikan aku untuk agenda rapat selanjutnya, aku akan menjernihkan pikiranku." Dia mengibaskan tangannya, agar asisten entah dari hadapannya.

Damian menyeringai, "apa imbalan untuk saya, andai saya berhasil membawa Nyonya Nina dan bayi kembar itu, Tuan?"

Ammar yang semula tengah menatap pemandangan kota, langsung menoleh. Dia menatap asistennya dengan tatapan bertanya.

Lelaki bermata biru itu menatap balik tuannya, namun dengan tatapan mengejek. Ingat, diantara semua asisten Ammar, hanya Damian yang paling menyebalkan. Seolah Majikan yang membutuhkan asistennya.

"Damiannnn!!!!" Ammar mendelik marah. "Apa kamu mengkhianati aku, lagi?"

"Wow ... Mengkhianati? Apa maksud anda, Tuan? Kapan saya mengkhianati, anda?" Damian sama sekali tidak merasa bersalah.

Ammar yang memang sedang kesal, langsung bangkit. Dia menghampiri asistennya dan hendak menghadiahi sebuah Bogeman. Tapi Damian dengan cepat menghindar.

Keduanya adalah teman kuliah, walau berbeda tingkat. Damian tau betul jurus mana dulu yang akan digunakan Tuannya untuk menyerangnya. Mereka sudah berteman lebih dari dua dekade lamanya.

Ammar semakin kesal, dia sedang butuh pelampiasan amarah. Bisa-bisanya asistennya malah menghindar. Dia mengumpat dan kembali memberikan serangan. Tapi lagi-lagi Damian berhasil menghindar.

"Kalau sampai anda membuat wajah saya babak belur, anda harus menerima resiko tida akan bertemu dengan Nyonya Nina."

Ucapan Damian, membuat tangan Ammar menggantung di udara. Sial!!

"Anda tidak pernah mau melibatkan saya untuk menjaga nyonya Nina, dan juga bertanya pada saya. Jadi untuk apa, saya memberitahu anda."

Apa yang dikatakan Damian benar adanya. Di sini, Ammar yang salah. Dia justru melibatkan koleganya yang lain untuk melindungi istri dan bayi-bayinya.

Ammar merapihkan kemejanya yang sedikit kusut karena pergerakannya. Dia mengatur napas agar sedikit menekan emosinya. Dia sadar, menghadapi asistennya yang menyebalkan ini, harus dengan kepala dingin.

"Apa mau mu, Dami?" Ammar melipat tangannya di dada, sambil menatap dengan tatapan penuh selidik. "Kamu mau naik gaji atau mau tambahan bonus?" Selain menyebalkan, asistennya ini adalah orang mata duitan. Walaupun sejauh ini, Damian sama sekali tak pernah menggelapkan dana perusahaan.

"Saya akan menulis perjanjian hitam di atas putih, dan anda harus menandatanganinya diatas materai."

Ammar menghampiri asistennya itu, mereka hanya berjarak kurang lebih satu meter. Tinggi keduanya hampir sama. Beda dua senti lebih tinggi Damian.

"Kamu mau perusahaan ku, Dami?" Ammar mencoba menerka berdasarkan perjanjian hitam di atas putih.

Damian menggeleng, "saya memang materialistis. Tapi saya bukan orang yang serakah ingin menguasai apa yang bukan menjadi hak saya." Balasnya.

Ammar tau betul, Damian bukan orang yang serakah. Maka dari itu, pertemanan mereka awet hingga saat ini. Dia hanya ingin menguji asistennya saja.

"Apa yang kamu minta?"

Damian tertawa kecil, ini semacam ejekan untuk tuannya. Senang sekali rasanya, membuat bosnya ini tak berdaya. "Saya punya beberapa permintaan, dan tenang saja ini hanya soal pekerjaan."

"Oke ..." Ammar mundur beberapa langkah dan tangannya mempersilahkan agar asistennya kembali bicara.

"Pertama, Jangan pernah mengirim saya ke Afrika." Damian mulai menyebutkan.

Ammar menaikan sebelah alisnya. Dia ingin bertanya alasannya, tapi biar nanti saja ditanyakan.

"Kedua, Sata ingin cuti dua Minggu tanpa potong gaji."

"Kamu mau kemana?" Ammar menatap heran. Bukankah asistennya ini, gemar bekerja?

"Itu urusan saya, dan anda tidak perlu bertanya."

Lihat kan, betapa menyebalkannya lelaki blasteran Amerika-Indonesia itu?

"Lalu apa yang ketiga?"

"Untuk selanjutnya, biar nanti saya pikirkan." Itu yang menurutnya penting. "Apa anda sanggup, Tuan?" Damian ingin memastikan.

Ammar berpikir, dia menimbang masak-masak. Soal permintaan pertama, itu hanya sebagai hukuman untuk Damian yang pernah menyembunyikan keberadaan Nina. Lalu yang kedua, seandainya tidak ada Damian. Ammar harus selalu berada di kantor. Karena menurutnya, tidak ada yang secakap dan kompeten seperti Damian di perusahaannya ini.

Namun jika tidak menyetujui, bagaimana bisa Ammar bertemu Nina?

Tempo hari Ammar beruntung bisa bertemu Nina, tapi sekarang?

Bahkan sudah sebulan, orang suruhan Alex tak berhasil menemukan Nina dan bayi-bayinya.

"Baiklah, akan aku kabulkan. Jadi beritahu aku, dimana Nina berada?"

Damian tersenyum lebar, jarang sekali lelaki dingin itu tersenyum. "Akan saya beritahu, ketika anda sudah menandatangani perjanjian yang saya buat."

Ingin sekali Ammar memaki asistennya. Tapi dia tahan mati-matian. Jangan sampai Damian berubah pikiran.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
Aduh kak herma, jangan bikin penasaran deh.. up lg dong🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
penasaran.. kabar buruk apakah gerangan?
apakah kakek Ammar yg meninggal atau Nina yang kabur membawa ank kembar mereka.. jadi penasaran
Next kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
bisa jadi sih.. tp kan tiap kali gituan pake pengaman, insyaallah nggak tertular🤭
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
waaaahh.. apa nggak takut ketularan penyakit tu si leti
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
kalau sampai Ammar percaya, fix dia adalah lakiw paling bodoh yg mudah dibohongi.. cinta sih cinta tp pake otak jg Ammar itu bukan anak kamu🤭 itu cuma alasan leti agar kamu tidak kembali ke Nina
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
alah.. jangan mudah percaya, paling itu anak dr pria lain..
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
itu hanya akal-akalan nya si leti, mau aja kamu dibohongi..
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
Ya sebaiknya begitu Ammar, beritahu Nina segera kalau bisa sekarang saja agar fikiran nya tenang.. Nina banyak fikiran, jadi tensinya naik... Mudah2an Nina baik2 saja setelah melahirkan nggak ada komplikasi yang membuat Nina nggak sadarkan diri..
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
Kok perasaan ku nggak enak yaa.. jangan2 Ammar mau dijodohin, jangan yaa kak kasian Nina
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
update lagi kak 🙏🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
Leti konsumsi pil kontrasepsi karena memang nggak msu hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!