Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.
Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.
Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.
Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22. paparazi
Sehari sebelumnya, Rafael berangkat ke Rusia. Pria itu terus memberi kabar tentang pergerakannya, seolah-olah ia menganggap Bella sangat peduli pada setiap detail perjalanannya.
Pemeriksaan kehamilan pertama Bella dijadwalkan tiga belas hari lagi. Rafael mengatakan ia akan kembali dalam dua belas hari, yang berarti ia akan berada di sana saat pemeriksaan berlangsung.
Dengan mengenakan gaun merah dan sepatu kets putih, Bella berdiri sejenak mengamati apartemennya untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Ia sudah membawa kunci rumah, kunci mobil, dompet, dan tas belanja. Dulu ia terlalu hemat untuk membeli kantong kertas setiap kali berbelanja, sehingga kini ia terbiasa membawa tas sendiri.
Setelah yakin semuanya lengkap, Bella meninggalkan apartemen dan memastikan pintu depannya terkunci. Dalam perjalanan menuju area parkir, ia melambaikan tangan menyapa beberapa wajah yang dikenalnya.
Ia menutup pintu mobil sebelum mengemudi menuju pusat perbelanjaan.
Selain kebutuhan bahan makanan, sebagian besar pakaiannya kini sudah tidak muat, ada yang terasa sempit dan ada pula yang resletingnya tak lagi bisa ditutup. Terlalu lama berada di rumah membuat berat badannya bertambah meski ia merasa tidak melakukan banyak hal.
Bella berkendara menuju mal terdekat yang berjarak sekitar dua puluh menit. Dengan begitu, ia bisa membeli pakaian baru sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari di satu tempat. Karena saat itu sudah pukul dua belas siang di hari kerja, mal tersebut tidak seramai yang ia bayangkan. Ia pun dengan mudah menemukan tempat parkir dekat pintu masuk.
Angin berhembus saat Bella keluar dari mobil, meniup rambutnya hingga menutupi wajah. Ia segera mengikatnya menjadi sanggul sederhana yang agak berantakan sebelum menutup pintu mobil. Kemudian ia berjalan menuju pintu masuk mal, sambil menimbang-nimbang toko mana yang sebaiknya ia datangi lebih dulu.
Ia mempertanyakan dalam hati manfaat membeli pakaian mahal yang hanya akan dipakai selama sekitar sembilan bulan. Pada akhirnya, langkahnya terhenti di depan sebuah toko pakaian wanita yang dikenal menjual busana dengan harga terjangkau dan kualitas baik.
Bella memutuskan untuk membeli pakaian terlebih dahulu sebelum berbelanja bahan makanan. Ia memasuki toko itu dan disambut aroma parfum wanita yang manis, bercampur dengan wangi produk perawatan. Tanpa ragu, ia langsung menuju sudut khusus perlengkapan ibu hamil, tepatnya ke deretan gaun.
Ia sempat mempertimbangkan untuk membeli celana jins hamil, tetapi ia tahu dirinya tidak akan merasa senyaman itu saat memakainya.
Ia mendongak dan melihat seorang wanita paruh baya mengarahkan kamera ponselnya ke arahnya. Bella sempat menoleh ke belakang untuk memastikan apakah ada orang lain di sana, tetapi lorong itu kosong. Mungkin wanita itu sedang memotret pakaian yang dipajang.
Dengan perasaan bingung, Bella kembali menatap wanita tersebut, bertanya-tanya apakah sebenarnya ia yang menjadi objek foto. Wanita itu membalas dengan tatapan yang hampir tampak meminta maaf sebelum akhirnya berbalik dan pergi.
Bella mengangkat bahu dan kembali memerhatikan gaun-gaun di depannya, menimbang apakah ia sebaiknya memilih warna hitam atau merah. Pada akhirnya, ia memilih gaun berwarna hitam dan berjalan menuju lorong berikutnya.
Di sana, matanya tertarik pada sebuah gaun beludru merah dengan hiasan manik-manik di sepanjang kerah. Ia mengulurkan tangan dan meraba kainnya, merasakan teksturnya.
Kilatan cahaya kembali muncul.
Klik
Bella mendengar suara kamera. Ia mendongak dan melihat seorang gadis yang tampaknya tidak lebih dari tujuh belas tahun sedang memotretnya. Begitu gadis itu menyadari dirinya ketahuan, ia segera bergegas pergi.
Bella tidak percaya pada kebetulan. Pertama wanita paruh baya itu, dan sekarang seorang remaja. Ia melangkah cepat keluar dari lorong, berniat menghadapi gadis tersebut. Setidaknya, ia ingin tahu alasan dirinya difoto. Penjelasan apa pun akan membuatnya sedikit lebih tenang.
Jari-jarinya tanpa sadar menyentuh rambutnya saat ia bertanya-tanya apakah penampilannya berantakan. Mungkinkah itu penyebabnya? Ia tidak ingin tiba-tiba menjadi bahan ejekan di media sosial.
Saat memasuki lorong kecil menuju konter, Bella langsung dihadapkan pada kerumunan orang. Mereka menatapnya dengan ekspresi tercengang, beberapa dengan mulut ternganga, yang lain saling berbisik sambil tetap melirik ke arahnya.
Bella terdiam, kebingungannya mencerminkan reaksi mereka. Ia tidak mengerti alasan semua tatapan itu tertuju padanya. Ia melihat beberapa orang mengangkat ponsel dan mulai mengambil gambar.
Ketika menoleh ke sekeliling, Bella menyadari bahwa ia kini berada di tengah-tengah kerumunan. Rasa tidak nyaman menjalar di dadanya. Ia tidak tahu apa yang salah, tetapi perhatian yang berlebihan itu membuatnya gelisah.
Tanpa berpikir panjang, Bella menerobos kerumunan. Ia berlari keluar dari toko lalu berjalan cepat menuju pintu keluar terdekat. Bahkan saat menjauh, ia masih merasakan tatapan orang-orang yang mengikuti setiap langkahnya.
Ia belum pernah merasa sedemikian tidak percaya diri bahkan saat harus membacakan esai bahasa Prancis di depan kelas dulu, ketika satu-satunya kata yang benar-benar ia kuasai hanyalah 'oui' (ya).
Ketika hampir mencapai pintu keluar, ia menyadari area itu dipenuhi orang-orang berpakaian hitam dengan kamera tergantung di leher mereka. Seketika ia mengenali situasinya, itu adalah paparazi. Pasti ada seorang selebritas terkenal di sekitar sana.
Bella berhenti mendadak, berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
"Itu dia!" teriak seseorang sambil menunjuk ke arahnya.
Dalam sekejap, seluruh kerumunan mengalihkan perhatian kepada Bella dan berlari ke arahnya. Matanya membelalak sementara otaknya berusaha mencerna situasi yang terasa semakin tidak masuk akal. Mungkin mereka mengejar seseorang di belakangnya, tetapi ia tidak ingin mengambil risiko.
Ia berbalik dan berlari kembali ke arah asalnya. Jelas ia tidak mungkin mencapai mobilnya dalam keadaan seperti itu.
Pandangan Bella menangkap papan nama besar toko Cardinal, yang bersinar terang dengan lampu neon di sekelilingnya. Tanpa ragu, ia berlari masuk ke dalam toko sebelum ada yang menyadari ke mana ia menghilang.
Ia membutuhkan rencana pelarian. Beberapa aksesori mungkin cukup untuk menyamarkan penampilannya.
Bella menekuk lutut dan bersembunyi di balik deretan pakaian, mengamati kawanan paparazi yang berlari melewati toko. Setelah yakin keadaan cukup aman, ia berdiri. Di sampingnya terbentang lorong penuh syal.
"Semoga ini bisa berhasil," pikirnya.
Ia segera mengambil sebuah syal dari rak, lalu memilih kacamata hitam dari lorong lain yang dekat dengan pintu keluar. Dengan langkah cepat, ia menuju kasir.
Bella meletakkan kacamata hitam dan syal di atas meja, tangannya sedikit gemetar. Kasir menatapnya dengan bingung, lalu memindai barang-barang tersebut.
"Dua puluh dolar," katanya.
Bella mengeluarkan selembar uang dua puluh dolar dari dompetnya dan menyerahkannya. Sambil memasukkan uang itu ke laci kasir, kasir tersebut berkata, "Kau mirip dengan wanita di sampul majalah."
Bella menatapnya dengan kebingungan yang semakin dalam. Saat itulah sebuah kemungkinan terlintas di benaknya, mungkinkah itu alasan semua orang mengejarnya dan menatapnya dengan aneh? Pikiran konyol sempat muncul: mungkin ia memiliki saudara kembar yang tidak pernah ia ketahui.
Kasir itu kemudian menunjuk ke rak yang dipenuhi majalah di dekat konter.
Bella berjalan menuju rak majalah dengan perasaan tercengang saat membaca sampul-sampul yang terpajang di sana.
Benar saja, wajahnya terpampang di setiap majalah.
'Miliarder tampan menghamili pemilik kafe yang sedang kesulitan,' bunyi salah satu judul besar yang dicetak tebal di halaman depan sebuah majalah gosip.
Itu hanyalah satu dari sekian banyak judul sensasional lainnya.
Kini semuanya masuk akal, itulah alasan orang-orang menatapnya dengan aneh.
Dengan tergesa, Bella mengambil masing-masing satu eksemplar majalah hingga terkumpul sekitar lima belas buah. Ia menumpuk semuanya di atas meja kasir dan menyerahkan selembar uang seratus dolar.
“Itu kamu!” seru kasir itu, membandingkan wajah Bella dengan foto di sampul majalah.
Sebagian besar gambar tersebut diambil saat Bella dulu menemani orang tuanya menghadiri berbagai acara amal. Sementara kasir memindai majalah satu per satu, Bella merobek label harga dari syalnya dan melilitkannya di kepala sebagai penyamaran.
Kasir menyerahkan kembali majalah-majalah itu dalam sebuah kantong plastik beserta uang kembalian. “Terima kasih,” ucap Bella singkat sebelum melangkah keluar sambil mengenakan kacamata hitamnya.
Ia berhasil mencapai pintu keluar mal tanpa disergap atau menarik perhatian berlebihan. Namun, kerumunan paparazi masih tampak berkumpul di sekitar area parkir dekat mobilnya.
Bella segera menyadari bahwa satu-satunya cara untuk pulang adalah dengan taksi. Ia harus berjalan kaki menuju jalan utama untuk mendapatkannya.
Saat keluar dari gerbang mal, ia menghirup udara segar dengan lega. Kepalanya tertunduk rendah agar tidak ada yang mengenalinya. Namun seolah hari itu memang menentangnya, embusan angin tiba-tiba bertiup kencang dan menerbangkan syal dari kepalanya.
Bella ragu sejenak. Mengejar syal itu pasti akan menarik perhatian yang tidak diinginkan, sementara ia hanya berjarak sekitar dua menit dari jalan tempat ia bisa mendapatkan taksi.
Ia berhenti di tepi jalan, menoleh ke kiri dan kanan sebelum menyeberang. Setelah yakin keadaan cukup aman, Bella melangkah ke jalan menuju sisi seberang.
TIINNN!
Ketika berada di tengah dua jalur, suara klakson keras memecah udara dan membuatnya tersentak. Ia menoleh dan melihat sebuah van hitam melaju cepat ke arahnya, hanya berjarak beberapa meter.
Panik mencengkeramnya. Tubuh Bella membeku sejenak, tetapi nalurinya berusaha menentukan arah untuk menyelamatkan diri. Mobil-mobil lain sudah mulai bergerak di jalur tersebut, membuat pilihannya semakin terbatas.
Kantong plastik berisi majalah terlepas dari tangannya dan jatuh ke aspal saat van itu semakin mendekat. Dalam detik yang terasa melambat, sebuah pikiran mengerikan melintas di benaknya, apakah ini akhir dari segalanya?