Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
"Lidya, kamu sudah siap?"Terdengar suara Widia yang menggema di depan kamar putrinya.
Hening, tak ada jawaban sama sekali padahal jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, tinggal dua jam lagi sebelum akad antara Lidya dan Damian akan di laksanakan.
"Gimana ma?"Tanya Bramono, dia langsung menyusul ke kamar putri bungsunya saat sang istri tidak kunjung kembali.
"Nggak ada jawaban pa."Balas wanita paruh baya itu, dia masih terlihat santai tanpa menaruh curiga sedikit pun.
"Make up artistnya udah nunguin itu, keluarga pak Wicaksono juga udah sampai bahkan udah ganti baju."Ujar Bramono, sedikit kesal karna anaknya sama sekali belum keluar dari kamarnya.
"Bintang mana? Panggil dia saja, biasanya Lidya akan mendengarkannya."Ujar Widia kesal, meskipun dia tidak menyukai anak angkatnya itu tapi tetap saja hanya dia yang bisa menangani kelakuan Lidya.
"Udah papa panggil, bentar lagi paling datang."Balas Bramono.
"Gimana ma, pa?"Tanya Bintang, gadis yang masih berusia dua puluh empat tahun itu datang dengan pakaian sederhana. Selama ini tidak ada yang tahu akan keberadaannya, dia hanya anak angkat yang di pungut dari panti asuhan untuk menjadi teman Lidya.
"Berapa kali ku bilang jangan panggil aku mama! Kamu membuatku jijik, hanya karna Lidya menyukaimu bukan berarti aku juga menyukaimu."Ujar Widia, dia benar benar enggan saat mendengar gadis yang tidak jelas asal usulnya itu memanggilnya mama.
"Ma- maaf nyonya, saya tidak bermaksud."Ujarnya, sedih? Tentu saja,tapi dia sadar dengan posisinya dan dia juga harusnya sadar diri. Dia hanyalah anak pungut di rumah ini, sama sekali tidak ada harganya di hadapan keluarga besar Bramono ini.
"Udah ma,kita nggak ada waktu buat debat. Sekarang suruh anak pungut ini segera panggil Lidya."Ujar Bramono, dia juga sama sekali tidak menyukai Bintang. Jika saja Lidya tidak merengek padanya dan meminta gadis ini ikut dengannya mungkin dia tidak akan pernah sudi membawa Bintang ke rumahnya.
"Cepat urus ini! Awas saja kalau Lidya nggak keluar."Timpal Widia.
Bintang mengangguk, dia kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah kamar Lidya dan mengetuknya pelan.
Tok tok tok!
"Lidya, kamu udah siap?"Tanyanya dengan nada yang halus.
"Lidya, kak Bintang masuk ya?"Imbuhnya saat tak mendapatkan jawaban dari Lidya.
Tak menunggu lama, Bintang akhirnya masuk ke dalam kamar itu di belakangnya Bramono dan Widia mengekor, mereka bahkan tak berani masuk ke dalam kamar Lidya karna gadis itu sangat membencinya tapi berbeda dengan Bintang, Lidya bahkan membiarkan gadis itu masuk ke kamarnya kapan saja.
"Lidya?"Panggilnya dengan bingung, gadis itu mengerutkan alisnya karna kamar itu nampak sangat sepi dan hening, sama sekali bukan seperti kamar Lidya.
"Nggak ada siapa pun, tuan."Ujar Bintang dengan nada pelan.
"Cek kamar mandi!" Balas Bramono, dia nampak mulai panik karna anaknya tidak di temukan di kamarnya.
"Nggak ada juga."Ujar Bintang yang tak kalah panik. Bagaimana tidak? Udangan sudah di sebar bahkan para mempelai pria dan juga tamunya juga sudah ada di rumah ini, jika pernikahan ini batal bukan hanya malu yang akan di peroleh oleh keluarga Bramono tapi investasi yang di janjikan oleh keluarga Wicaksono juga akan lenyap. Belum lagi jika media tahu tentang masalah ini yang ada mereka akan di kuliti hidup hidup.
Dalam kepanikan itu, Widia terlihat mendekati nakas dan menemukan secarik surat dengan kecupan lipstik di atasnya.
'Dear mama dan papa, maaf Lidya nggak mau nikah dengan cara seperti ini. Lidya sudah menolak tapi kalian tidak mau, jadi Lidya kabur dengan pangeran pilihan Lidya. Muahh!'
Widia terduduk saat membaca pesan absuard yang mereka terima dari Lidya.
"Pa!"Pekik Widia dengan nada yang panik.
"Apa ma?" Pria itu mendekat dengan tergopoh gopoh.
"Ini, papa baca aja."Ujar Widia, rasanya jiwanya di paksa kabur dari tubuhnya. Dia benar benar lemas setelah membaca pesan singkat yang di kirimkan oleh anak kesayangannya itu.
"Dasar anak tidak berguna! Suruh ajudan kita mencari dia."Ujar Bramono dengan nada kesal.
"Terlambat pa, dia pasti udah kabur keluar negeri. Mama ingat dia pernah bilang mau bikin visa."Balas Widia dengan nada lemas.
"Bagaimana ini pa? Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita akan menjelaskannya pada keluarga Wicaksono."Ujar Widia dengan nada yang panik.
Bramono terdiam, dia menatap ke arah Bintang yang nampak berdiri di ambang pintu kamar dengan bingung.
Plak! Plak!
Dua tamparan mendarat di pipi Bintang, pria paruh baya itu baru saja melayangkan tamparan yang cukup kuat bahkan hingga melukai sudut bibirnya.
Nafas Bramono naik turun, matanya membelalak menahan amarah yang dia lampiaskan kepada Bintang, "Sudah ku bilang jaga dia! Dasar tidak tahu diri, di suruh melakukan hal semudah ini saja tidak becus!"Ujar pria itu dengan kesal.
"Ma- maafkan Bintang, tuan.Bintang benar benar tidak tahu jika Lidya akan mengambil langkah ini."Ujar gadis itu dengan nada pelan. Pipinya terasa sangat panas,bahkan sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah segar tapi Bintang tak berani bahkan untuk sekedar mengangkat tangan dan menghapus darah yang ada di sudut bibirnya.
"Dasar anak pungut nggak tahu diri, jika begini bagaimana? Kamu tahu berapa banyak uang yang saya pertaruhkan untuk pernikahan ini? Mau kamu jual seluruh organ tubuh kamu saja tidak akan pernah bisa menggantinya!"Ujar Bramono dengan nada kesal. Amarahnya sudah hampir mencapai puncak, bahkan nafasnya sudah naik turun menahan amarah.
"Maaf tuan."Ujar Bintang lagi.
"Ini semua salah kamu! Jika terjadi apa apa pada keluarga ini, berarti ini semua salah kamu!"Timpal Widia.
Kedua paruh baya itu nampak sudah pucat, kehidupan mereka benar benar bergantung pada pernikahan ini dan jika semuanya gagal kemuingkinan besar mereka juga akan berakhir.
"Biar Bintang yang bertanggung jawab, nyonya."Ujar gadis itu dengan nada pelan.
"Bertanggung jawab? Apa yang bisa di pertanggung jawabkan oleh gadis rendahan seperti kamu?"Tanya Widia dengan nada yang merendahkan.
"Saya akan melakukan apapun, nyonya. Asalkan keluarga ini selamat."Ujar Bintang, anggap saja ini adalah balasan karna keluarga Bramono sudah membesarkannya.
"Baiklah lakukan saja, jika tidak bisa maka akan ku pastikan ini adalah hari terakhir kamu menghirup udara di dunia ini."Ucap Bramono,setelah mengatakan itu dia pun langsung meninggalkan kamar Lidya dengan di ikuti oleh Widia di belakangnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memohon dan meminta mereka menjual seluruh organ tubuhku untuk menutupi kerugian atau muungkin mereka mau menjadikan aku budak saja? Aku benar benar bingung."Ujar Bintang.
Dia bingung, tapi meskipun begitu dia tetap harus bertanggung jawab.
"Pertama aku harus menemui keluarga Wicaksono."Ujarnya, gadis itu mengepalkan tangannya. Mengumpulkan keberanian yang entah dari mana itu kemudian memutuskan untuk meninggalkan urat malunya sebelum akhirnya dia benar benar meninggalkan kamar Lidya.