Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Jam Saku
Dirno menambahkan, “Sudah tidak apa, Jo. Yang penting kita mati sama-sama, nanti jadi hantu pun, sama-sama.”
"Jangan bicara begitu." Arjo melirik kesal. "Kita tidak boleh pasrah saja jadi rakyat jelata. Setia ya setia, menjalankan tugas ya menjalankan tugas, tapi kita juga harus sayang dengan nyawa kita sendiri. Jangan hanya karena kita dibayar, terus kita mau mati begitu saja.”
Tikno dan Dirno terdiam.
"Benar juga." Tikno akhirnya bersuara, dahi berkerut berpikir. "Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin kan kalau penyerang datang, kita langsung lari. Yo dipecat. Lebih parah lagi, bisa dituduh pengkhianat."
Arjo terkekeh.
Ia menelan suapan terakhir nasi dan ayam bakarnya, mengunyah perlahan sambil mencari akal.
"Ya tidak begitu caranya." Ia menyeka mulut dengan daun pisang. "Harus diakali. Di depan, kita terlihat seperti bawahan yang patuh dan setia. Siap mati demi tuannya. Tapi di belakang … kita tetap selamat."
Tikno dan Dirno yang masih mengunyah saling pandang, alis terangkat bingung.
"Maksudmu?" Dirno menelan makanannya. "Pura-pura mati?"
"Bukan pura-pura mati, piye to." Arjo mendengkus geli. "Maksudku, kita harus pintar membaca situasi. Kapan harus maju, kapan harus mundur. Kapan harus melawan, kapan harus sembunyi. Yang penting hasilnya sama—tugas selesai, kita selamat, tidak ada yang curiga."
"Contohnya?"
Arjo mengedikkan bahu. "Belum tahu. Nanti kalau sudah ketemu situasinya, baru tahu caranya. Yang jelas, aku tidak mau mati konyol hanya karena terlalu patuh."
Dirno memandangnya lama, lalu geleng-geleng kepala.
"Jalan pikiranmu memang selalu aneh, Jo." Ia terkekeh. "Orang ke kiri kamu ke kanan. Dulu kamu tukang ngakali guru, sekarang mau ngakali Gusti Bupati."
"Bukan ngakali." Arjo tersenyum seperti anak nakal. "Cuma ... menyesuaikan diri dengan keadaan."
"Sama saja."
"Beda."
"Sama."
"Terserah kau, lah." Arjo bangkit dari duduknya, melipat daun jati pembungkus makanan yang sudah kosong. "Yang penting kalian ingat, jangan mati sia-sia. Nyawa kita memang tidak berharga di mata para ningrat, tapi berharga untuk kita sendiri."
Ia berjalan menuju sumber mata air untuk mencuci tangan dan minum. Air jernih dan dingin mengalir di antara bebatuan, membawa kesegaran yang menyenangkan di tengah udara pagi yang mulai menghangat.
Arjo menciduk air dengan daun yang dibentuk seperti mangkuk, membasuh bagian dalam tiga jari yang digunakan untuk makan, berhati-hati agar tak mengenai bagian punggung yang dipoles oleh Nyi Seger. Lalu meremas dedaunan dari semak untuk menghilangkan bau rempah yang tertinggal.
Di belakangnya, Tikno dan Dirno juga selesai makan dan menyusul ke sumber air.
"Jo." Tikno berbicara sambil mencuci tangan. "Kalau memang kau berpikir begitu, kenapa tidak kabur saja dari padepokan? Cari hidup sendiri di tempat lain?"
Arjo terdiam sejenak.
‘Kenapa tidak kabur?’
Pertanyaan yang pernah ia tanyakan pada dirinya sendiri berkali-kali.
"Karena …," Ia memandang pantulan wajahnya di permukaan air—wajah yang bukan miliknya, wajah yang dipinjam dari orang lain, "di luar sana, aku bukan siapa-siapa. Tidak punya keluarga, bahkan tidak tahu orangtuaku siapa. Tidak punya tanah. Tidak punya keahlian selain yang kupelajari di padepokan. Mau jadi apa? Pengemis? Jadi pengemis kurang pas, orang akan marah karena badan masih muda, kenapa tidak kerja? Kalau Begal? Aku tidak tega merampok orang. Paling cuma kerja serabutan, yang meski bekerja keras seumur hidup, tidak akan pernah merasakan enaknya jadi bupati."
"Bisa jadi pedagang." Dirno menyahut.
"Modal dari mana?" Arjo mendengkus. "Lagipula, di padepokan... setidaknya aku punya tempat tinggal. Makanan. Teman-teman dan guru yang seperti keluarga. Aku punya tempat untuk pulang." Ia melirik kedua sahabatnya. "Dan sedikit harapan bahwa suatu hari, hidupku bisa lebih baik."
Tikno dan Dirno tidak menjawab. Tapi ada sesuatu di mata mereka—pemahaman, atau pengakuan bahwa mereka juga merasakan hal yang sama.
‘Kita semua terjebak dalam sistem yang sama. Yang bisa kita lakukan hanya bertahan.’
Suara derap kuda dari kejauhan menyamarkan suara kicau burung di atas mereka.
Ketiganya langsung waspada, tangan meraih gagang senjata, tubuh menegang, mata menyisir arah datangnya suara.
Tapi begitu melihat rombongan yang muncul dari tikungan jalan utama, mereka menurunkan kewaspadaan.
Kereta bupati.
Empat kuda gagah berbulu cokelat menarik kereta hitam mengkilap dengan lambang kadipaten bercat emas di pintunya. Delapan pengawal berkuda mengawal di depan dan belakang—tombak tegak, seragam rapi, wajah tegas.
"Itu Ndoro Gusti Bupati." Tikno berbisik.
"Siap-siap." Arjo merapikan pakaiannya, memastikan beskap dan blangkon masih rapi. "Waktunya bertukar."
Kereta berhenti, hanya terlihat seperti kereta yang menjeda perjalanan karena sang pemilik ingin buang hajat.
Pintu kereta terbuka. Dan sosok yang turun bukanlah bupati dalam pakaian mewah.
Raden Mas Soedarsono sudah berganti pakaian di dalam kereta. Kemeja hitam sederhana, celana kain hitam, kain batik kawung melilit pinggang, pakaian biasa seperti yang dikenakan para priyayi rendahan. Tidak ada beskap bersulam benang emas. Tidak ada blangkon, hanya ikat kepala hitam biasa.
Wajah itu... muram. Garis-garis di dahi lebih dalam dari biasanya. Mata yang biasanya tenang kini tampak gelisah, cenderung galak. Rahang terkatup rapat. Kulit terlihat semakin gelap karena terlalu banyak menghabiskan waktu di bawah sinar matahari, mencari sang istri.
Tiga pemuda langsung membungkuk serempak, dua tangan membentuk sembah.
"Sugeng rawuh, Gusti."
Soedarsono melangkah mendekat.
Tapi begitu matanya tertuju pada wajah yang telah dirias sempurna oleh Nyi Seger, langkahnya melambat. Pandangannya berubah.
Ia memperhatikan Arjo dari atas ke bawah, lama, seperti sedang menilai. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit dimengerti Arjo, sesuatu yang lebih dalam, seperti tatapan penuh kebanggaan.
Lalu senyum tipis muncul di bibirnya.
"Kau terlihat semakin …," Soedarsono berhenti sejenak, senyum semakin lebar, "pantas menjadi bupati."
Arjo semakin menunduk, tidak tahu harus merespons bagaimana.
Soedarsono mengangkat kedua tangannya, meletakkannya di bahu Arjo. Sentuhan yang hangat. Sentuhan yang tidak biasa pada seorang bawahan.
“Angkat wajahmu Arjo, kau bupati, tidak perlu menunduk padaku. Kau dan aku setara.”
Lalu tangan kanannya merogoh saku, mengeluarkan sesuatu yang berkilau.
Jam saku emas.
Kilaunya yang terkena sorot matahari yang menerobos di antara celah daun, mendorong Arjo untuk mengangkat wajah, memandang benda itu dengan mata melebar.
Jam itu indah. Lebih indah dari jam saku yang telah dibawanya—pinjaman dari kadipaten. Emas murni dengan ukiran mirip pada pamor pusaka yang bisa dikenakan sang bupati, jelas itu jam dengan pesanan khusus. Rantai emas tipis menjuntai dari ujungnya.
"Ini jam milik Romo." Suara Soedarsono lebih pelan. "Mulai saat ini, kau yang memakainya. tidak perlu dikembalikan ke kadipaten setelah tugas hari ini selesai."
Arjo mengangkat wajah, terkejut, pertanyaan polos terlontar begitu saja.
"Ndoro ... ini jam … dipinjami?"
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo