NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan ke Sarang Giordino

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan rendah, membelah pelataran luas di depan sebuah bangunan megah yang berdiri angkuh di bawah langit sore. Cahaya jingga yang memanjakan mata seolah tidak cukup untuk mengusir kegelisahan yang menyelimuti Bima. Ia turun dari mobil, berdiri sejenak untuk merapikan pakaiannya sembari menatap arsitektur mewah di hadapannya.

Ayahnya tidak pernah bermain-main saat bercerita tentang keluarga Giordino. Mereka bukan sekadar orang kaya. Mereka adalah penguasa bisnis yang telah mencengkeram puncak selama puluhan tahun. Rahasia umum di kalangan elite mengatakan bahwa apa yang terlihat oleh mata hanyalah permukaan dari kekuasaan mereka yang sebenarnya. Bagi pebisnis baru seperti keluarganya, menyinggung Giordino adalah sebuah langkah bunuh diri.

Bima menarik napas panjang, merenungkan peringatan ayahnya. Jika urusan menyinggung yang dimaksud adalah bersikap kasar dan menolak anggota keluarga itu, maka ia sudah melakukannya pada Lana. Ayahnya begitu khawatir hingga memaksa Bima menjalin hubungan baik dengan wanita itu. Sebab, di balik sosok Lana, ada nama yang jauh lebih gelap dan berbahaya.

Jake Giordino.

Bima mengambil parsel buah dari kursi penumpang sebelum melangkah menuju pintu utama. Namun, sebelum tangannya sempat mengetuk, daun pintu besar itu sudah terbuka, menampilkan Lana dengan senyuman lebar yang seolah sudah menantinya.

“Bagaimana kau tahu aku datang?” tanya Bima, sedikit terkejut.

“Aku melihatmu dari jendela kamarku di lantai atas,” jawab Lana riang. Tanpa menunggu aba-aba, ia segera memeluk lengan Bima, menuntunnya masuk ke dalam kemegahan kediamannya.

“Bagaimana keadaan nenekmu?” tanya Bima.

“Nenek sudah pulih, meskipun gipsnya belum dilepas.”

Bima mengangguk, “Ini, aku membawa buah untuk nenekmu.”

“Wah... terima kasih. Kau tidak perlu repot-repot.” Lana menerima parsel itu lalu menyerahkannya pada seorang pelayan yang sigap mendekat, “Maaf, Bima. Karena harus merawat Nenek, aku jadi tidak bisa menemanimu mencari Shasha.”

Mendengar nama Shasha disebut, refleks Bima langsung melepaskan lengannya dari kaitan tangan Lana. Ia mundur satu langkah, sebuah gestur penolakan yang membuat wajah wanita itu seketika masam.

“Tidak apa-apa. Aku bisa mencarinya sendiri,” ucap Bima tegas.

“Tidak, Bima. Nanti setelah Nenek benar-benar pulih, aku akan menemanimu lagi.” Lana bersikeras, sorot matanya menunjukkan keinginan untuk terus terlibat.

Bima terdiam. Menolak wanita ini ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan, terutama dengan bayang-bayang nasihat ayahnya yang terus terngiang di kepalanya. Keamanan bisnis kecil keluarganya kini dipertaruhkan hanya karena satu penolakan.

“Baiklah,” jawab Bima akhirnya, meski hatinya terasa berat.

Lana kembali tersenyum lebar, seolah kemenangan kecil baru saja ia raih. Ia kembali memeluk lengan Bima dengan erat, “Ayo, kita ke kamar Nenek.”

Bima hanya bisa menurut, mengikuti langkah Lana masuk lebih dalam ke rumah yang penuh rahasia itu, sambil berharap pencariannya terhadap Shasha tidak terhambat oleh beban politik keluarga yang kini menjeratnya.

Langkah mereka perlahan menyusuri lorong mansion yang sunyi namun megah, hingga mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berukir. Di dalamnya, suasana terasa lebih hangat. Belinda tampak sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan majalah di tangannya. Meski wajahnya dihiasi garis-garis usia, binar otoritas khas keluarga Giordino masih tersisa di matanya.

“Nenek, lihat siapa yang datang!” seru Lana riang, wajahnya berseri-seri seolah baru saja membawa pulang sebuah piala berharga.

Belinda menoleh, menatap Bima dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan saksama, lalu menutup majalahnya. Sedangkan Lana segera menarik Bima mendekat ke sisi ranjang, dan dengan nada manja yang dibuat-buat, ia memperkenalkan pria itu seolah-olah Bima adalah kekasih yang selama ini ia banggakan.

Belinda hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah cucunya. Ia tersenyum tipis, memaklumi Lana yang tampak sedang dimabuk asmara, meskipun ia bisa menangkap sedikit ketegangan dari raut wajah Bima yang kaku.

“Lana, jangan terus menempel padanya seperti itu,” tegur Belinda lembut, “Lebih baik kau siapkan minuman dan beberapa camilan untuk tamu istimewamu ini.”

“Oh, tentu! Aku akan membawakan yang terbaik!” Lana menyahut dengan semangat, “Tunggu, ya.” Ia memberikan satu tepukan ringan di lengan Bima sebelum akhirnya melangkah keluar kamar dengan hati riang.

Kini, keheningan menyelimuti ruangan. Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi sedikit lebih formal dan serius. Belinda menunjuk sebuah kursi kayu berlapis beludru yang terletak tepat di samping ranjangnya.

“Duduklah, Bima,” ujar Belinda, suaranya kini terdengar lebih dalam, “Mari kita bicara tanpa gangguan cucuku yang cerewet itu.”

Bima mengangguk sopan, lalu mendudukkan dirinya di kursi dekat ranjang dengan sikap yang sangat terjaga, “Bagaimana keadaan Nyonya?” tanyanya dengan nada penuh perhatian.

“Sudah membaik,” jawab Belinda sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, “Kau tidak perlu memanggilku seformal itu. Panggil saja aku Nenek Belinda, seperti yang dilakukan Lana.”

Bima mengangguk meski dengan sedikit keragu-raguan. Dalam hatinya, ia merasa terkejut. Wanita paruh baya di hadapannya ini ternyata jauh lebih ramah daripada sosok menyeramkan yang dideskripsikan ayahnya tentang anggota keluarga Giordino.

“Kau dan Lana satu sekolah menengah atas?” tanya Belinda membuka percakapan.

“Benar, dan kami satu kelas.”

Belinda tersenyum tipis, “Wah... dunia memang sempit. Dan kalian bertemu lagi di universitas yang sama, walaupun tidak satu jurusan.”

“Saya rasa juga begitu.”

“Anak itu selalu menyebut namamu. Dia bilang kau itu adalah pria tertampan di dunia,” goda Belinda yang membuat Bima hanya bisa tertawa canggung, tidak tahu harus merespons apa, “Maaf ya, kalau tingkah cucuku itu terkadang membuatmu terganggu.”

“Eh, tidak, Nyonya... M-maksud saya Nenek Belinda,” ralat Bima dengan sedikit panik. Refleksnya bekerja untuk menutupi kenyataan bahwa selama ini ia memang menganggap Lana sebagai pengganggu dalam hidupnya yang damai. Wanita itu selalu mengejarnya ke mana pun ia pergi, namun di depan Belinda, mustahil ia mengeluh, “Saya tidak merasa terganggu.”

Belinda mengangguk, namun tatapan matanya yang tajam tetap menyiratkan rasa selidik, “Tidak perlu gugup seperti itu padaku.”

“Ah, maafkan saya,” ucap Bima sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba mengusir kecanggungan.

“Lana sempat bercerita kalau dia menemanimu mencari teman kalian yang hilang. Bagaimana? Sudah mendapat titik temu?”

Seketika, raut wajah Bima berubah. Mendung kesedihan langsung menyelimuti wajahnya. Sebuah ekspresi yang ditangkap Belinda sebagai penyesalan yang mendalam.

Bima menggeleng pasrah, “Shasha belum ditemukan.”

“Jadi namanya Shasha?”

Bima mengangguk pelan, “Dia sahabat saya semenjak hari pertama di universitas. Dia adalah gadis yang sangat baik,” ucapnya dengan suara rendah, matanya menatap ke bawah saat ia teringat kembali wajah Shasha yang selalu tampak ceria saat bersamanya.

Belinda menyadari sesuatu dari perubahan drastis pada nada bicara Bima, “Kau menyukainya?”

Bima mengangkat kepalanya dengan sangat cepat, terkejut bukan main, “Bagaimana... Anda mengetahuinya?” cicitnya.

Belinda terkekeh pelan, “Hei, tentu saja aku tahu. Umurku jauh lebih banyak darimu dan aku sudah mengalami segala macam perubahan di dunia ini. Apalagi soal ekspresi tubuh orang yang sedang jatuh cinta. Dari kerutan wajahmu, kau terlihat sangat menyesal saat kehilangannya. Dan hanya ada satu alasan kenapa kau berekspresi seperti itu... yaitu kau jatuh cinta padanya.”

Bima hanya bisa tersenyum tipis. Ternyata Nenek Lana sangat berbeda dengan kepribadian Lana yang sering menghardik Shasha. Belinda terlihat begitu lembut dan bijaksana. Bima sempat mengira wanita itu akan marah karena pria yang dikejar cucunya ternyata mencintai wanita lain.

“Kau hampir mengelaknya, kan?” tanya Belinda seolah bisa membaca pikiran Bima, “Dengar Nak, hanya karena cucuku mencintaimu, bukan berarti kau harus menuruti semua kemauannya. Cucuku memang selalu dimanjakan olehku dan kakaknya setelah orang tua mereka tiada. Jadi, tolong pahami sikapnya yang terkadang kekanak-kanakan. Tapi jika kalian bisa berhubungan selayaknya sahabat, tentu itu tidak masalah. Intinya, tetaplah berjuang untuk perasaanmu sendiri dan jangan berkorban atas apa yang nantinya akan menghancurkanmu.”

Bima tertegun, lalu mengangguk hormat, “Anda memang sangat berbudi. Terima kasih atas nasihatnya.”

“Astaga, aku bukan malaikat. Berbudi apanya? Kau terlalu berlebihan,” ucap Belinda diselingi kekehan renyah.

Sementara itu di luar kamar, Lana baru saja sampai di depan pintu dengan nampan berisi camilan dan minuman dingin. Namun, saat mendengar percakapan yang mengalir deras dari dalam, langkahnya terhenti. Ia segera bersembunyi di balik dinding dan menguping dengan napas tertahan.

“Sekarang katakan soal gadis yang bernama Shasha itu. Kenapa kau menyukainya?” tanya Belinda.

Tanpa sadar, Bima mengulum senyum tulus, “Karena dia Shasha.”

“Oouu... sangat romantis. Aku sudah lama tidak melihat pemandangan seindah ini,” goda Belinda.

Bima tertawa kecil, “Dia rendah hati, ekspresif, sederhana, dan walaupun kehidupannya tidak mudah, dia selalu bisa membuat saya tertawa. Dan yang paling penting... dia sangat cantik.”

“Sekarang aku mulai bisa membayangkan gadis itu. Sepertinya dia memang baik,” puji Belinda.

“Bukan memang, tapi sangat baik,” ralat Bima penuh penekanan.

Belinda mengangguk setuju, lalu mendesah panjang, “Semoga kalian bisa segera bertemu dan kau bisa mengutarakan cintamu padanya.”

“Anda juga tahu bahwa saya belum mengungkapkan perasaan saya?” Bima benar-benar terkejut dengan ketajaman insting wanita tua itu.

“Lihatlah, anak muda. Sudah kubilang aku tahu segalanya.”

“Anda memang luar biasa. Awalnya setelah mengetahui latar belakang keluarga Giordino, saya pikir Anda adalah seseorang yang keras.”

Belinda tertawa lagi, “Kalau kau menyebut orang keras, maka jawabannya adalah cucu laki-lakiku.”

“Ah, kakak Lana... yang waktu itu di rumah sakit,” ingat Bima pada pria bermasker dengan aura yang sangat mengintimidasi.

“Oh ya, kalian pernah bertemu saat aku di rumah sakit. Benar, memang dia. Dua cucuku itu memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Lana selalu cerewet dan mengungkapkan apa pun yang dia pikirkan, sedangkan Jake... dia selalu menutup diri. Bicara denganku saja hanya seperlunya, apalagi temperamennya itu, terkadang membuatku bergidik ngeri.”

Bima mengangguk mengerti sambil menahan napasnya. Hanya dari deskripsi Belinda saja, ia sudah merasa ingin mundur jauh jika harus berhadapan dengan kakak Lana.

“Tapi ada satu persamaan dari mereka yang sangat kusyukuri,” lanjut Belinda lembut, “Yaitu mereka saling menyayangi dan saling melindungi. Itu sudah cukup bagiku yang sudah tidak akan lama lagi di dunia ini.”

“Tidak, Nyonya. Anda akan berumur panjang.”

“Hei, panggil aku Nenek Belinda. Apa kau lupa lagi?”

“Maaf, Nenek.”

Di luar kamar, Lana meremas pinggiran nampan di tangannya hingga buku jarinya memutih. Hatinya panas bukan main. Sebenarnya apa yang dipikirkan Neneknya sampai-sampai seolah sedang menjodohkan Bima dengan wanita lain? Padahal cucunya sendiri sudah terang-terangan berjuang ingin mendapatkan pria itu.

Gadis kampungan! Kenapa namamu selalu muncul bahkan saat kau tidak ada? Batinnya penuh dendam.

Ia mengatur napasnya yang memburu dan memaksakan sebuah senyuman lebar di wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak peduli jika Belinda bersikap layaknya orang tua yang bijak. Tapi kakaknya tidak akan begitu. Jake selalu menuruti setiap keinginannya, termasuk jika harus menyingkirkan Shasha dari dunia ini.

Lana kemudian melangkah masuk ke dalam kamar dengan ceria, “Aku datang!” serunya sambil mengangkat nampan tinggi-tinggi.

“Lihatlah dirimu, Lana. Tentu saja segera ajak Bima ke ruang tamu. Bukannya menikmati makanan di depan wanita sakit sepertiku,” tegur Belinda.

“Maaf, Nek. Aku lupa,” cicit Lana manja, “Ayo, Bima.”

“Pergilah, Nak,” ucap Belinda pada Bima.

“Baik, Nenek.” Bima pun berdiri dan keluar kamar bersama Lana.

“Apa Nenekku membuatmu nyaman?” tanya Lana di sela langkah mereka menuju ruang tamu.

“Sangat,” jawab Bima jujur, “Beliau sangat ramah.”

“Kau benar. Nenekku memang sangat ramah... sampai terkadang membuat orang lain salah paham,” ujar Lana dengan nada yang aneh.

Bima mengernyit bingung, “Maksudmu?”

Lana tertawa kecil, berusaha menutupi kecemburuannya, “Aku hanya bercanda. Apa yang kalian bicarakan saat aku pergi tadi?”

“Hanya hal-hal kecil,” singkat Bima.

Lana berdecak dalam hati. Ternyata Bima memilih untuk tidak jujur di hadapannya, “Syukurlah kalian bisa akur.”

Bima mengangguk sambil mengulum senyum. Ternyata bertemu Belinda tidaklah segugup yang ia bayangkan di sepanjang perjalanan tadi.

Sementara itu, Lana menatap lantai di depannya dengan tatapan yang mendadak tajam dan mematikan. Ia bersumpah dalam hati, tidak akan pernah membiarkan Bima menemukan Shasha.

Tidak akan pernah.

Awas saja kau, gadis kampungan! Batinnya penuh kebencian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!