Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Genting.
Beberapa menit kemudian, tangis Kinan mulai mereda, tubuhnya masih gemetar di pelukan Bang Rico. Ia mencoba menatap mata Bang Rico dengan pandangan yang masih penuh keraguan. "Sungguhkah Abang benar-benar tidak sengaja?" tanyanya lirih.
"Berapa lama kita bersama, apa kamu tidak paham juga sifat Abang?" Bang Rico balik bertanya dan membalas tatap mata Kinan. Jemarinya menyisir rambut Kinan yang berantakan. "Saat itu Abang sedang bertugas di daerah terpencil, terpisah dari dunia selama berbulan-bulan. Disanalah Abang bertemu Hanna yang saat itu menyamarkan diri sebagai laki-laki, kami berhadapan tapi Abang terkecoh identitasnya dan kejadian itu terjadi dalam keadaan yang tidak bisa Abang kendalikan. Tapi demi Allah, dari kejadian ini, Abang tidak pernah tau dia hamil, apalagi sampai punya anak kembar."
Di luar kamar, Bang Arben dan Bang Rama masih mengawasi. "Sepertinya keadaan mulai membaik." Bisik Bang Arben.
Bang Rama mengangguk setuju. "Semoga saja Hanna tidak datang lagi dengan masalah baru."
Tiba-tiba, suara dering telepon memecah ketenangan. Bang Rico sedikit merenggangkan pelukan untuk mengambil telepon.
Ternyata panggilan telepon dari nomor Hanna. Tak paham bagaimana wanita itu bisa mendapatkan nomor ponselnya. Bang Rico pun menjawab dengan nada tegas. "Ada apa lagi??"
"Bang, Baby D sakit. Setelah bertemu denganmu tadi, dia mendadak demam tinggi. Aku tidak tau harus ke mana." Suara Hanna terdengar tercekat dan putus asa.
Bang Rico memandang Kinan, yang menyadari siapa yang menelepon. Tanpa berkata apa-apa, Kinan mengangguk perlahan.
"Bawa dia ke rumah sakit segera," ujar Bang Rico. "Saya akan segera datang kesana."
Setelah mematikan telepon, Rico tidak ingin Kinan ikut bersamanya. Ia menyadari apa yang di hadapinya tapi tidak bisa menjelaskan bahwa situasinya begitu rumit.
"Jangan ikut ya."
"Kenapa??? Abang ingin berduaan dengan Hanna??" Tanya Kinan khas seorang wanita dengan lirikan mata.
Jantung Bang Rico serasa di permainkan, nyatanya berhadapan dengan Kinan lebih menakutkan dari situasi perang.
"Disana sangat berbahaya. Abang tidak mau terjadi sesuatu denganmu dan anak kita. Abang janji hanya pergi sebentar." Jawab Bang Rico.
Kinan melepaskan pelukan Bang Rico lalu merebahkan diri memunggungi suaminya itu.
Bang Rico menghela nafas, tidak mungkin dirinya meladeni bumilnya yang sedang sensitif parah. Semuanya adalah keputusan yang sulit.
Beberapa detik setelah Kinan merebahkan diri, Bang Rico menekan pelukan singkat pada pundaknya. "Tidak ada yang berduaan, ndhuk. Hanya urusan anak yang sakit," ucapnya lembut sebelum beranjak dari tempat tidur. Dengan cepat ia mengambil jaket, matanya sering mengawasi ke arah Kinan yang masih memunggunginya.
Di luar kamar, Bang Arben dan Bang Rama melihatnya bergegas. "Hanna menelepon, Baby D demam tinggi." jelas Bang Rico singkat. "Saya ke rumah sakit. Tolong jaga Kinan ya..!!!"
Bang Rama mengangguk dengan wajah serius. "Hati-hati. Siapa tau ini tipuan lagi."
Bang Rico mengangguk, lalu menyambar pistol di atas lemari, menyelipkan pada pinggangnya dan segera melesat keluar rumah.
Di dalam mobil, jantungnya berdebar kencang antara kekhawatiran pada Baby D dan kekhawatiran pada Kinan yang sedang sensitif. Ia hanya berharap bisa cepat menyelesaikan ini sebelum situasi makin memburuk namun sekaligus waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
:
Ternyata semua itu benar hanya tipuan. Saat Bang Rico tiba di rumah sakit, tidak ada jejak Hanna atau Baby D. Di ruang darurat bahkan tidak mencatat pasien dengan nama tersebut. Bang Rico segera menghubungi Bang Arben dan Bang Rama.
"Ini tipuan..!! Segera siapkan langkah darurat..!!" suara Rico terdengar tegang dalam sambungan telepon.
//
Di rumah, Bang Arben dan Bang Rama berkumpul di ruang tamu, berunding dengan suara rendah. "Kita harus menitipkan Kinan pada Garin disini, dengan penjagaan ekstra ketat." ujar Bang Arben. "Tempat ini juga tidak aman dari Hanna dan orang-orangnya."
Bang Rama mengangguk. "Benar. Rico terjebak masalah, kita harus melindungi Kinan dan anaknya juga."
Tak disangka, Kinan yang sedang cemas dan menyelinap keluar kamar telah mendengar semua pembicaraan mereka. Tanpa membuat suara, ia memutuskan untuk membuntuti para sahabat suaminya saat mereka berangkat untuk menyiapkan kendaraan. Kinan mengatas namakan suaminya dan meminta sebuah ojeg menunggunya di depan pintu tiga yang lebih dekat dengan rumah dinasnya.
:
Ojeg berjalan stabil. Kinan berhasil membuntuti mobil yang di kemudikan Bang Arben.
Namun perjalanannya terhadang oleh dua orang tidak di kenal. Mereka segera menyergap Kinan dan tukang ojeg tersebut.
Dalam perebutan singkat dan penuh ketakutan, Kinan terhimpit ke tepi jurang sempit di samping jalan. Ojeg yang mengejarnya tergelincir karena tanah licin, lalu jatuh ke dalam jurang dengan suara teriakan yang pendek.
Kinan yang sempat terbanting, terbaring tak berdaya di tepi jurang, nafanya terengah-engah, matanya penuh ketakutan.
"Jangan pernah bermimpi melahirkan anak Letnan Enrico, dia milik ketua kami."
"Kalian tidak berhak memutuskan hidup dan mati seseorang." Kata Kinan.
Pria tersebut tertawa terbahak mendengarnya. Ia pun mengambil ponselnya lalu menunjukan sebuah video pada Kinan.
"Lihat..!! Ini suami yang kau banggakan. Dia begitu menikmati setiap moment bersama ketua kami."
Kinan gemetar melihat video tersebut, memang terlihat jelas Bang Rico begitu bergairah menikmati waktu berdua dengan Hanna. Tangisnya pecah, tidak terima, sakit hati pun terasa.
"Enyahlah dari dunia ini..!! Letnan Rico mengharapkan kematianmu. Dia ingin bersama ketua, sekarang..!!" Imbuh pria tersebut.
Saat Kinan masih terpaku, pria tersebut langsung menendangnya. Kinan pun terpental ke dalam jurang.
"Hahahhahah.." tawa dua orang itu begitu membahana.
"Dia benar-benar polos, hanya dengan video editan itu, kita bisa menyingkirkan nya dengan mudah." ujar salah seorang di antaranya.
.
.
.
pada gelut ga niii kalau ketemu...
makin penasaran mba Nara👍
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara