NovelToon NovelToon
Pernikahan Tanpa Mempelai

Pernikahan Tanpa Mempelai

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Percintaan Konglomerat / Persahabatan / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:27.9k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Spion Off "Tuan Muda Amnesia"

Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.

Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.

Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan

Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perintis vs pewaris

Arumi, wanita itu mengulum senyun menyadari ekspresi Liam yang terlihat kesal, mungkin perihal omelan ayah Rocky yang masih membekas di pikiran. Ia beralih mengenggam tangan kanan pria itu sehingga membuat Liam menoleh dengan kening mengerut. Keduanya sedang berjalan di lobi rumah sakit dan akan memasuki lift menuju lantai di mana anak gadis sedang dirawat.

"Kayak baru kenal ayah saja mas. Lagian ayah cuma nggak mau kalau kita kebablasan padahal belum menikah, namanya juga orang tua."

"Mas mengerti, tapi kata-kata om Rocky entah kenapa bikin kesal. Masa mas nggak boleh dekat-dekat, harus punya jarak 1 meter."

Tawa Arumi terdengar di dalam lift. "Kan bisa dekat-dekat lagi kalau ayah nggak ada, jangan cemberut lagi dong."

"Iya ya? Kok mas nggak kepikiran?" Senyuman Liam langsung melebar pikirannya terlalu jujur sehingga ia kesal karena harus menjaga jarak, padahal bisa menempel saat ayah Rocky tidak melihat.

"Jadi boleh cium ...."

"Nggak boleh!" Arumi dengan sigap mendorong dada Liam yang hendak maju. "Mas ini hobi banget cium-cium, nanti kalau sudah nikah," lanjutnya berjalan keluar dari lift tidak jauh dari sana dia mendorong pintu sampai akhirnya menampilkan ruangan VIP di mana ada seorang gadis sedang berbaring.

Arumi tersenyum dan menghampiri gadis berusia 8 tahun tersebut. Anak itu sudah tahu bahwa ibunya meninggal karena kecelakaan demi melindunginya.

"Sudah minum obat sayang?" tanya Arumi ramah.

"Sudah mbak, tadi juga makan banyak di suapin sama ibu itu." Menunjuk ibu-ibu yang Arumi tugaskan menemani.

"Syukurlah, kamu harus sehat dan kembali sekolah, bertemu teman-teman yang baik," lanjut Arumi mengelus rambut panjang anak 8 tahun itu.

Sedangkan Liam, hanya memperhatikan interaksi dasar antara Arumi dan malaikat penolongnya.

"Namanya siapa?"

"Askia," jawab Arumi. "Cantikkan? Seperti pemiliknya."

"Hm, tapi lebih cantik kamu."

"Mbak, ini calon suami yang mbak selalu ceritakan?"

"Iya, dan mbak membawanya untuk kenalan sama kamu."

"Calon suaminya tampan banget mbak, tapi galak ya?" bisik Askia membuat Arumi mengulum senyum.

"Mas senyum dong, masa Askia ngira kamu galak."

"Heh saya nggak galak ya, memang pembawaannya saja seperti ini," jawab Liam. "Askia nggak boleh takut sama saya, apalagi ibu Askia sudah menolong calon istri saya."

"Jadi nggak galak."

"Nggak dong, calon suami mbak baik pol!" Arumi menaikkan jempolnya.

Arumi dan Liam menghabiskan waktunya cukup lama di ruangan itu, terlebih besok jadwal cuci darah Askia sembari menunggu pendonor yang cocok untuk ginjalnya. Mungkin perawatan tersebut memakan biaya yang besar, tetapi bagi Arumi dan Liam itu tidak masalah.

"Mulai hari ini semua biaya mas yang tanggung, simpan uang mungilmu itu sayang."

"Iya-iya uang mungil aku cuma geli-geli saja di dompet pewaris Alexander."

"Beruntungkan dicintai sama pewaris Alexander?"

"Beruntung bangeetttttt. Udah kaya, tampan, perhatian dan mengusahakan segalanya. Pokoknya Arumi adalah yang paling beruntungggg!"

Tawa Liam pun menggelegar di dalam mobil, gemas melihat reaksi dan cara bicara kekasihnya.

"Gemes banget calon istrinya Liam." Menguyel-uyel pipi Arumi dengan sebelah tangan.

"Mas jangan pegang pipi ih, nanti make up aku ke geser." Memegang tangan Liam. "Habis ini mau ketemu klien, nggak boleh jelek."

"Cowok atau cewek?"

"Cewek mas, lagian kalau cowok ada Sevia dan kru lainnya."

Saat mobil berhenti di depan studio, Arumi berpamitan seperti biasa pada Liam yang katanya akan ke kantor melihat keadaan. Dia memasuki studio dengan senyuman lebarnya.

Bangunan dua lantai itu adalah hasil jerih payahnya sendiri dan baru lunas beberapa bulan lalu. Bukan dari rentenir atau pun pinjaman bank, melainkan uang ayah Rocky yang ia angsur setiap bulannya.

"Akhirnya bu Arumi datang juga."

"Kenapa Sevia?" Kening Arumi mengerut melihat Sevia tampak panik.

"Itu Bu, kliennya sudah ada di dalam tapi belum di makeup mana semua MUA kita dinas di luar."

"Loh bukannya klien kita yang ini ada MUA nya sendiri ya?"

"Kontrak awal begitu, tapi sekarang kliennya datang minta tolong make upnya sekalian saja."

Arumi menarik napas sangat dalam, sudah tidak heran hal seperti ini terjadi karena kelalaian klien, padahal sejak awal mereka sudah menawarkan paket lengkap malah memilih hal rumit.

"Sekarang kamu tenang, dan hubungi Devina. Biar saya yang bicara dengan klien."

"Iya Bu."

Arumi pun memasuki ruang tunggu yang dibuat senyaman mungkin. Tersenyum sebelum duduk di hadapan tiga orang di mana mempelai dan satu orang lagi.

"Kata asisten saya terjadi sesuatu di luar kontrak kami. Untuk itu kami meminta waktu sebentar demi mencari MUA."

"Iya tidak apa-apa Bu Arumi. Saya sebagai klien juga meminta maaf karena tidak bicara sebelumnya. Kami akan menambah biaya diluar perjanjian. Atau jika perlu, saya ingin mengubah ke paket lengkap seperti tawaran awal."

"Untuk itu saya tidak bisa memastikan secara langsung pak. Soalnya saya harus memeriksa jadwal para staf."

"Saya lupa bahwa studio bu Arumi terlalu sibuk untuk mengubah jadwal." Pria yang merupakan kakak mempelai mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Sedangkan Arumi hanya tersenyum santai dan mengacak bicara atau pun diskusi jalan keluar jika ada hal seperti ini terjadi, sembari menunggu MUA panggilan tiba.

"Jika pun MUA yang bapak sewa sebelumnya berhalangan atau ada perubahan jadwal, sebisa mungkin konfirmasi pada tim kami selambatnya satu minggu," ujar Arumi mengakhiri sesi bicara ketika Sevia datang dan melaporkan bahwa Devina sudah tiba.

"Syukurlah kamu nggak punya kelas."

"Tapi Mbak, Vina belum profesional untuk mengambil tanggung jawab ini," lirih Devina yang ragu akan kemampuannya sendiri.

"Tapi mbak percaya padamu." Menepuk pundak Devina. "Konsep pemotretannya sudah diberitahu oleh Sevia kan?"

"Sudah Mbak." Devina mengangguk.

"Oke, mbak tunggu di ruang pemotretan."

Arumi pun menuju ruang pemotretan memastikan semua kru sudah menyiapkan sesuai konsep yang telah disepakati. Dan yap, kali ini Arumi turun tangan sendiri untuk memotret dan memberikan arahan gaya pada klien.

Sesi pemotretan tersebut berakhir sore hari dan Arumi baru bisa istirahat sejenak. Itu pun istirahatnya duduk sambil memandangi berkar-berkas di atas meja.

"Loh besok ada jadwal keluar daerah?" Ia terkejut menemukan jadwal yang terlupakan.

"Benar Bu."

"Tinggal berangkat?"

"Iya Bu, semuanya sudah saya urus."

"Syukurlah, kamu boleh pulang."

"Makasih Bu."

"Oh iya, tapi tolong sebelum pulang buatkan saya secangkir kopi ya."

"Iya Bu."

Arumi kembali fokus pada jadwal dan kontraknya. Sesekali beralih pada layar laptop untuk menyesuaikan sesuatu.

Secup kopi di letakkan secara hati-hati di atas meja dan tentu saja Arumi menyadarinya.

"Terimakasih Sevia," ucapnya tanpa menoleh.

Anehnya tidak ada sahutan dari Sevia, dan Arumi merasakan seseorang mengelilingi meja sampai akhirnya tiba tepat di samping kursinya.

....

1
Teh Yen
yah smoga saja seaven Tidka akan ingat memory terkahirnya yah
Teh Yen
jadi bingung yah kalau gt keadaannya knp engg saling jujur aj sih hadeuuh
Teh Yen
seaven kembali d benarkah dia lupa ingatan
Teh Yen
loh kok Liam ngomong gt yah ada apa ini apakah perasaannya ke Arumi sudah berubah pdhl waktu tau Arumi kembali Liam bukannya seneng banget yah
Dew666
💜💜💜💜💜
nuraeinieni
nah dengar tuh saran adikmu liam,belajar mengendalikan diri dgn ketakutan dan trauma,semoga dgn pernikahanmu dgn arumi,menyembuhkan trauma mu liam
ken darsihk
💪💪 Liam
Nena Anwar
tenangkan dirimu Liam, ikuti saran yg dikatakan Leon
Alea bijak banget sih jadi Ibu
nuraeinieni
ceritanya bagus,semoga liam dan arumi hidup bahagia dgn pernikahannya dan mempunyai anak yg lucu2.
nuraeinieni
harus dong thor,biarkan arumi dan liam bahagia,,,,dan traumanya liam sembuh dgn kebersamaan mereka
ken darsihk
Berharap nya demikian thor semua nya harus baik 2 sajah
Nena Anwar
semoga semuanya baik baik saja
nuraeinieni
pacaran lah sama anaknya om leo
ken darsihk
Liam pasti sembuh dari trauma nya pelan tapi pasti, kebahagiaan pasti datang
Nena Anwar
hey Leon kamu lagi ngapelin anaknya Om Eril ya 😂 jika benar ternyata cinta keturunan Alexander gk jauh dari ruang lingkup mereka sendiri
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: Nggak kebayang keluarga seadem keluarga Eril diacak-acak Leon😭
total 1 replies
ken darsihk
Liam pencemburu akuttt 😂😂😂
Nena Anwar
siap2 Arumin Liam mode cdmburuh 😁
Nena Anwar
apa Liam 🤔
Maria Kibtiyah
siapa yg jd mata2
Ikaaa1605
Semangat up mba
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!