Tiara pergi ke kantor catatan sipil menemani bibinya yang akan bercerai dengan suaminya. Siapa sangka seorang pria menarik tangannya dan memperkenalkan dirinya sebagai calon istri pada seorang wanita tua yang berada di sebuah kursi roda.
"Ibu, dia calon istriku. Aku pasti akan menikah lagi, dan memberikan Andrew seorang ibu. Sekarang ibu sudah mau di operasi kan?" tanya pria yang menggenggam erat tangan Tiara.
"Eh, pak ini apa..."
Mata Tiara melebar, pria itu menciumnya. Begitu saja. Lalu berbisik pada Tiara.
"Bekerja samalah dengan ku. Aku akan berikan apapun yang kamu mau!"
"Wah, kalian benar-benar mesra. Baiklah, kalau begitu langsung masuk saja. Ibu baru mau dioperasi kalau kalian sudah dapat sertifikat pernikahan!"
Rahang Tiara nyaris jatuh.
"Me.. menikah? nyonya, aku masih SMA" kata Tiara tergagap.
Pria matang dan dewasa yang menciumnya tadi cukup terkejut.
'Dia masih SMA?' batinnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tiara membuka pintu kamarnya, mau bagaimana lagi? dia tidak mungkin membiarkan kakaknya di pecat. Kakaknya berusaha keras untuk bisa bekerja di perusahaan impiannya itu.
Tiara melihat ruangan tengah sudah gelap, hanya lampu dapur yang menyala. Ruang tamu juga gelap, tapi dia lihat kamar bibinya lampunya masih menyala. Bibinya itu memang sulit tidur semenjak dia bercerai.
Tiara menutup pintu kamarnya dengan sangat hati-hati.
"Gara-gara gapura kabupaten ini! aku jadi kayak maling di rumah sendiri!" gerutu Tiara pelan sambil berjalan mengendap-endap ke arah pintu utama rumah ayahnya.
Tiara merasa jarak dari pintu kamar ke pintu rumahnya menjadi sangat jauh. Tadinya paling cuma sepuluh meteran, mendadak jadi seratus meter sepertinya.
Setelah mengerahkan segenap kemampuan mengendap-endap dan sesekali menahan nafas supaya ayah dan ibunya tidak terbangun. Sebenarnya tidak perlu begitu, tapi kalau tidak absurd ya bukan Tiara.
Tiara akhirnya sampai di belakang pintu. Tiara menghela nafas panjang. Masalahnya kunci pintu ruang ini segambreng, ibunya benar-benar menggunakan kunci utama yang segambreng banyaknya untuk mengunci pintu. Supaya kalau jatuh suaranya terdengar keras.
Tiara berusaha untuk tidak membuat kunci rumah yang dipasangi gantungan kunci lonceng itu bersuara terlalu keras. Sedikit membutuhkan perjuangan memang.
Klik
Dan akhirnya, kunci itu bisa dia taklukan. Sayangnya tak berhenti sampai di situ. Pintu ruang Tiara, engselnya juga sudah mulai menimbulkan suara. Beberapa hari lalu, ibunya Tiara sudah minta ayahnya mengoleskan oli sedikit, tapi ayahnya lupa.
Krett
Tiara membuka pintu perlahan, jangan sampai ada yang terbangun. Alhasil, dia harus membuka pintu seluas lebar tubuhnya saja. Supaya suara deritan pintu tidak terlalu lama.
Dan berhasil lah akhirnya Tiara keluar dari rumah.
"Ya ampun, gini rasanya deg degan kayak maling ya!" katanya yang kini bisa merasakan betapa mendebarkannya menjadi maling yang masuk dan keluar diam-diam dari rumah orang.
Tiara bergegas menuju ke pintu gerbang semampainya itu. Setelah itu dia berjalan dengan cepat ke arah gang.
Untungnya ini jam 11 lewat 20 menit. Jadi, paling tidak tukang ronda sudah lewat 20 menit yang lalu, dan akan keliling lagi 40 menit lagi. Tiara tahu itu, sebab setiap jam tukang ronda akan memukul tiang listrik memberitahu jam berapa saat itu.
Tiara melihat sebuah mobil mewah di depan gang. Tidak persis di depan, agak maju sedikit. Dia menghampiri mobil itu dan mengetuk kaca mobil.
Tok tok tok
"Om"
Kaca pintu mobil terbuka, dan menunjukkan wajah serius Nicholas.
Tiara memundurkan tubuhnya. Wajah pria itu tampak sangat serius. Agak merinding juga di lihatnya oleh Tiara.
"Masuk!" katanya pada Tiara.
Supir mobil yang ada di depan, langsung turun dan membuka pintu mobil untuk Tiara.
"Silahkan nona!" kata supir itu dengan sopan.
Tiara pun masuk ke dalam mobil, dan supir itu tampak berjaga di luar.
"Om...!"
Baru Tiara mau bertanya kenapa Nicholas memanggilnya malam-malam begini. Pria itu sudah menarik Tiara ke dekatnya. Membuat Tiara nyaris menahan nafasnya sangking terkejutnya dan sangking dekatnya jarak mereka.
"Om, kenapa... empttt!"
Mata Tiara terbelalak, pria itu menciumnya dan kali ini sangat kuat. Dia merasa begitu tercekikk. Tangannya memukul-mukul bahu dan dada Nicholas. Tapi itu percuma saja, pria itu sedang menunjukkan rasa cemburu dan marahnya sebagai seorang suami pada Tiara.
Hingga Tiara merasa sudah menyerah, dan memejamkan matanya. Nicholas malah melepaskannya. Tiara membuka matanya perlahan.
"Hahh, hahh" Tiara tersengal-sengal, "jadi om menyuruhku datang kesini, hanya untuk ini... agkhh!"
Tiara salah, dia pikir Nicholas sudah melepaskannya. Tapi pria itu malah menghisapp lehernya.
"Om, sakit!" kata Tiara sambil berusaha mendorong bahu Nicholas, "Om vampir ya? sakit!"
Mobil itu tentu saja bergerak-gerak karena Tiara yang terus melawan di dalam. Membuat supir yang berjaga-jaga di luar, maju selangkah demi selangkah supaya bisa lebih menjauh dari mobil itu. Dia khawatir mendengar suara yang tidak seharusnya dia dengar. Karena mobil yang di bawanya kali ini, meski mewah tidak ada peredam suaranya.
Nicholas melepaskan Tiara setelah memastikan tanda di leher Tiara itu bisa terlihat nyata.
"Aughk!" Tiara masih memekik saat dia menyentuh lehernya dan terasa sakit, "apa yang om lakukan?" tanya Tiara kesal.
"Aku akan kirim 10 juta untuk uang jajanmu besok. Ingat! kamu tidak boleh kembali pada mantan pacarmu, apapun yang dia lakukan! turunlah!"
Mata Tiara melebar. Pria itu menyuruhnya turun. Setelah melakukan semua ini padanya.
"Om suruh aku turun? suruh aku turun? setelah ini..." Tiara menunjuk ke arah lehernya.
"Mau yang lain? aku tidak keberatan!" kata Nicholas menggertak Tiara dengan melepaskan tali pinggangnya.
Mata Tiara membola.
"Agkhh! tidak tidak! aku turun, aku turun!" kata Tiara yang segera membuka pintu dan berlari ke arah gang rumahnya.
Nicholas melihat gadis itu sampai bayangannya menghilang dari pandangan Nicholas. Dia sebenarnya hanya menggertak Tiara. Dia juga tidak akan menyentuh istri kecilnya itu sebelum istrinya lulus sekolah. Tinggal beberapa bulan lagi saja. Dia pasti bisa menahannya.
Supir mobil Nicholas kembali masuk ke dalam.
"Pulang ke rumah!" perintah Nicholas.
"Baik tuan!"
Tiara masih berjalan ke arah rumahnya sambil harus menggerutu.
"Apa-apaan gapura kabupaten itu. Kenapa dia seenaknya begitu? memangnya aku ini apa? di panggil, di cium, di... agkhh! dia menyebalkan!" omel Tiara sepanjang jalan sampai ke rumah.
Bahkan sampai di rumahnya, saat masuk ke dalam kamarnya. Tiara masih terus menggerutu. Dia menyalakan lampu kamarnya dan melihat dirinya di cermin.
Matanya terbelalak lebar, ketika dia melihat tanda merah kebiruan yang di buat Nicholas tadi.
"Dasar gapura kabupaten! Awas saja kamu! aku Tiara Camelia tidak pernah di gertak orang seperti ini! aku akan balas kamu dua kali lipat!" gumamnya geram.
Tiara mengepalkan tangannya. Entah bagaimana dia mengatasi tanda merah di lehernya ini besok. Dia benar-benar kesal pada Nicholas. Dia sungguh akan buat Nicholas membayar ini dua kali lipat.
"Bagaimana caranya, ah aku tahu... koyo!" kata Tiara yang pernah melihat kakaknya memakai koyo di belakang lehernya karena pegal.
Tiara pun segera keluar dari kamar lagi. Dia pergi ke dapur untuk mencari kotak obat.
"Tiara, kamu belum tidur!"
Brakk
Tiara menjatuhkan kotak obat di tangannya. Untungnya saat dia menoleh, yang bicara di depannya adalah Fathan.
"Mas, lihat koyo gak?" tanya Tiara.
"Di warung bude Noni banyak!" sahut Fathan sambil mengambil air di kulkas.
Tiara memicingkan matanya.
"Mas, mas tahu gak, mas itu sekarang lagi bicara sama siapa?" tanya Tiara dengan ekspresi horor.
"Sama siapa?" tanya Fathan santai sambil menenggak air dingin dari kulkas dengan santai.
"Istri pemilik perusahaan tempat mas bekerja!"
Brushh
Air minum di mulut Fathan muncratt semua. Fathan langsung meletakkan botol di tangannya dan meraih kotak obat yang jatuh di lantai.
"Tadi kamu butuh apa adikku sayang? koyo? tenang, aku akan carikan untukmu!" kata Fathan yang langsung sibuk mencari benda yang dibutuhkan adiknya yang merupakan istri dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu.
'Ha ha ha' Tiara ketawa jahat dalam hatinya.
***
Bersambung...
kita belum liat si Abang bulan loo🥹🥹..
walaupun tahun ini Kita dilewati
ga masalah,ada bts😜🤣🤣
terkadang hidup penuh kebohongan lebih baik dari pada tau yg mana ttg kebenaran.
karena, pasti lebih jauh sakitnya
kayak...
tau dengan jujur kalau Hannie suka boong Mulu kalau maen mafia😜🤣🤣
sedih banget,kadang seseorang untuk menutupi kekalahan nya maka akan menyerang kelemahan yang lain. kuk keluarga mamahnya. dia tau Andrew itu kelemahan Nick.
apa lagi emak tirinya yang nyeritain🤔🤭
apa jangan-jangan koma🤭