NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Mobil hitam milik Zainal Buana berhenti tepat di halaman rumah sunyi. Bangunan bergaya kolonial berlantai dua yang berdiri agak menyendiri di kawasan Cisaat tampak semakin muram pagi itu, dikelilingi pepohonan tinggi dan kabut tipis pegunungan.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat singgah Zainal, kini ditempati sementara oleh Freya selama pembangunan resort dan kawasan agrowisata berjalan.

Freya sudah menunggu di ruang tamu. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, namun sorot matanya tajam ... seolah menghitung setiap kemungkinan yang akan terjadi setelah pertemuan ini.

Zainal masuk dengan langkah mantap, diikuti seorang asisten yang membawa map-map tebal berwarna cokelat dan hitam. "Terima kasih sudah bersedia membantu saya, Freya," ucap Zainal sambil duduk.

Freya mengangguk singkat. "Kita langsung ke inti saja, Pak Dewan."

Zainal memberi isyarat. Asistennya meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja: sertifikat perkebunan teh, salinan aset properti, surat kepemilikan lahan, hingga dokumen legal lain yang nilainya tak main-main. "Ini semua jaminan pinjaman saya," kata Zainal, suaranya terdengar serius. "Sesuai yang kita bicarakan tadi malam."

Freya membuka satu per satu map itu, membaca cepat namun teliti. Jemarinya sesekali berhenti, memastikan nama, stempel, dan legalitas tak ada yang terlewat. Wajahnya tetap datar, seolah angka-angka fantastis di hadapannya hanyalah deretan huruf biasa.

Beberapa menit kemudian, ia menggeser sebuah map lain ke arah Zainal. "Surat perjanjian. Silakan dibaca dulu."

Zainal mengambilnya. Ia membaca dengan saksama, alisnya sempat berkerut saat sampai pada beberapa klausul yang terasa tajam dan mengikat. Namun ia tak mengajukan keberatan. Ia tahu, ia tak berada di posisi untuk menawar.

Tanpa banyak bicara, Zainal menandatangani lembar demi lembar. Freya menyusul, lalu menarik semua dokumen jaminan itu ke sisinya. "Baik," ucap Freya akhirnya. "Untuk sekarang, saya hanya bisa memberikan sepuluh miliar dulu, Pak Dewan."

Zainal menatapnya, sedikit terkejut, namun tak berkata apa-apa.

"Sisanya," lanjut Freya sambil berdiri, "Saya harus ke kota untuk mengambilnya. Dana itu tidak saya simpan di sini."

Zainal mengangguk pelan. "Saya mengerti." Tak ada protes. Tak ada desakan. Wajahnya tenang, meski jelas ada kegelisahan yang disembunyikan.

Setelah uang itu berpindah tangan, Zainal pamit dan kembali ke rumahnya, meninggalkan rumah sunyi itu dengan perasaan yang sulit ia definisikan ... antara lega dan cemas.

Beberapa puluh menit setelah kepergian Zainal, suasana kembali hening.

Hingga ponsel Freya berdering. Nama Shankara tertera di layar.

Freya langsung menegakkan punggungnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengangkat panggilan itu tanpa menunggu dering kedua. "Halo, Tuan?"

"Kamu ke kota sekarang, Freya. Saya tunggu kamu di rumah," suara Shankara terdengar dingin dan tegas, tanpa basa-basi.

Freya menelan ludah. "Baik, Tuan," jawabnya cepat. Ia tak berani bertanya alasan, terbayang jelas amarah Shankara semalam yang masih membekas di benaknya.

Panggilan terputus.

Freya segera meraih tasnya. Semua dokumen milik Zainal Buana ia masukkan dengan rapi, tak satu pun tertinggal. Ia tak mau mengambil risiko sekecil apa pun.

Sebelum pergi, ia berpamitan pada Nova, asistennya.

Di luar, Gopal sudah menunggu di dalam mobil. "Sudah siap?" tanya pria itu sambil melirik Freya lewat spion.

"Iya," jawab Freya singkat. "Tuan Bira sudah menunggu."

Gopal mengangguk dan segera menjalankan mobil.

Sepanjang perjalanan, Freya memandangi tas di pangkuannya. Dokumen-dokumen itu terasa berat, bukan hanya karena nilainya, tetapi karena konsekuensi yang menyertainya. Ia tahu, satu langkah saja yang keliru, semuanya bisa berbalik menghancurkannya.

Mobil melaju meninggalkan Cisaat, membawa Freya menuju pertemuan yang entah akan berakhir seperti apa. Dan tanpa ia sadari, permainan besar itu baru saja dimulai.

Lampu-lampu kota menyambut kedatangan Freya dengan cahaya yang terasa asing. Setelah perjalanan panjang dari Cisaat, mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki kawasan elit yang jauh dari hiruk-pikuk pemukiman. Gerbang besi tinggi terbuka perlahan, memperlihatkan rumah mewah milik Shankara yang berdiri angkuh di tengah lahan luas ... sunyi, dingin, dan terisolasi.

Begitu mobil berhenti, Shankara sudah berdiri di teras. Tatapannya tajam, penuh kendali. "Gopal," katanya singkat. "Kamu kembali ke Cisaat sekarang juga. Biar Freya di sini dulu bersamaku."

Gopal terdiam sejenak, menoleh ke Freya seperti hendak memastikan sesuatu. Namun sorot mata Shankara tak memberi ruang untuk bertanya. Ia mengangguk patuh, memutar mobil, dan meninggalkan Freya seorang diri di halaman rumah megah itu.

Pintu tertutup di belakang mereka.

Di dalam, suasana rumah terasa lebih hening dari yang Freya bayangkan. Setiap langkahnya bergema di lantai marmer, seakan mengingatkannya bahwa ia berada di wilayah kekuasaan seseorang yang tak boleh ia lawan.

Mereka duduk berhadapan di ruang kerja Shankara. Ruangan itu luas, didominasi warna gelap dan aroma kayu mahal. Rak buku tinggi menjulang di satu sisi, sementara meja kerja besar berdiri seperti batas antara mereka.

Freya menarik napas dalam-dalam sebelum meletakkan tasnya di atas meja. "Tuan, ini semua dokumen dari Zainal Buana," katanya sambil mengeluarkan map-map tebal satu per satu. "Sertifikat, surat kepemilikan, dan perjanjian pinjaman yang sudah kami tanda tangani."

Shankara tak segera menyentuhnya. Ia hanya memandangi Freya, menyilangkan jari-jarinya di atas meja. "Ceritakan semuanya," perintahnya tenang.

Freya menunduk sesaat, lalu mulai bicara. Ia menceritakan kedatangan Zainal ke rumah sunyi di Cisaat, wajah pria itu yang berusaha tetap tenang, bagaimana ia menyerahkan dokumen-dokumen penting tanpa banyak tawar-menawar. Ia juga menjelaskan soal uang sepuluh miliar yang baru ia berikan dan alasan penundaan sisanya.

Shankara mendengarkan tanpa menyela. Matanya menyipit tipis, seolah setiap kata Freya adalah kepingan puzzle yang sedang ia susun di kepalanya.

Ketika Freya selesai, ruangan itu kembali senyap.

Lalu, perlahan, bibir Shankara terangkat membentuk senyum simpul. "Bagus," katanya akhirnya. "Sebentar lagi ... keluarga Buana akan hancur. Aku pastikan ... Zainal Buana akan kalah dalam pemilihan."

Kalimat itu diucapkannya dengan nada datar, namun ada kepuasan yang sulit disembunyikan. Ia berdiri, mengitari meja, lalu berhenti tepat di belakang kursi Freya.

Freya menegang saat jemari Shankara menyentuh rambutnya. Sentuhan itu ringan, hampir lembut, namun membuat tengkuk Freya meremang.

Ingatannya melayang pada kejadian semalam ... suara Shankara yang meninggi, amarahnya yang dingin saat Freya berani menelepon ketika ia sedang bersama istri dan anaknya.

Tubuh Freya kaku. Ia ingin menjauh, tapi kakinya terasa berat, seolah lantai menahannya.

Shankara memainkan helai rambutnya, menyingkapnya perlahan. Napas pria itu terasa dekat, terlalu dekat. "Kamu selalu melakukan apa yang aku minta,” ucap Shankara rendah. "Dan itu membuatmu ... berharga."

Freya menelan ludah. Ia tahu, kata berharga dari mulut Shankara bukan pujian, melainkan penegasan kepemilikan.

Bibir Shankara menyentuh lehernya sekilas. Freya memejamkan mata, bukan karena menikmati, tapi karena tak tahu harus berbuat apa.

Kepalanya dipenuhi konflik ... antara rasa takut, keterikatan, dan kesadaran bahwa hidupnya telah terjerat terlalu jauh.

"Malam ini," bisik Shankara, "Kamu jangan kembali ke Cisaat. Temani aku di sini."

Freya membuka mata, hendak bicara, namun kalimat itu terhenti ketika Shankara menunduk dan menyentuh bibirnya. Sentuhan itu singkat, penuh klaim, bukan kelembutan.

Ia tak melawan. Bukan karena setuju, melainkan karena ia tahu perlawanan hanya akan memperumit segalanya.

Shankara mengangkat tubuh Freya dan meletakkannya di atas meja kerja.

Map-map dokumen bergeser, beberapa hampir jatuh ke lantai ... simbol betapa rapuhnya batas antara urusan bisnis dan urusan pribadi di hadapan pria itu.

Tatapan Shankara menelusuri wajah Freya. "Aku ingin kamu, Freya," katanya lirih, namun sarat tuntutan.

Freya memalingkan wajahnya sedikit. Di balik ketenangannya yang tampak, dadanya bergetar. Ia sadar, setiap pilihan yang ia ambil kini bukan lagi tentang benar atau salah, melainkan tentang bertahan.

Di luar, malam kian pekat. Dan di dalam rumah itu, Freya tahu satu hal pasti ... ia telah melangkah ke dalam permainan yang tak lagi bisa ia kendalikan.

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!