Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi di Balik Kacamata
Lokasi: Ruang Perang (War Room) Akademi Sihir Royal Aethelgard.
Waktu: Satu Minggu Setelah Eksekusi Leon.
Ruang Perang Akademi adalah tempat yang sakral, dirancang untuk menghadapi krisis terbesar umat manusia. Dindingnya terbuat dari batu hitam anti-sihir yang menyerap suara dan mana, mencegah penyadapan dari luar. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar mendominasi, dengan peta hologram taktis tiga dimensi Kerajaan Aethelgard yang bersinar kebiruan di atasnya, menampilkan topografi gunung, sungai, dan kota secara real-time.
Suasana di dalam ruangan itu tegang, padat, dan menyesakkan. Aroma kopi pahit yang sudah dingin dan keringat kecemasan bercampur di udara.
Grand Mage Eldric berdiri di ujung meja. Jubah penyihirnya yang biasanya rapi kini tampak kusut. Wajah tuanya terlihat lelah dan tertekan, kerutan di dahinya semakin dalam seolah memikul beban seluruh dunia. Di sekeliling meja, berdiri lima murid terbaik Akademi yang telah dipilih secara khusus melalui seleksi ketat (dan sedikit manipulasi Varian).
Gareth (Tank/Defender): Murid tahun ketiga berbadan raksasa, mengenakan zirah pelat penuh yang berkilau. Dia menyilangkan tangan di dada yang tebal, otot-ototnya menegang. Wajahnya sombong, tidak sabaran, dan meremehkan orang lain. Dia adalah tipe yang memecahkan masalah dengan palu.
Lyra (Ranger/Scout): Pemanah jenius dari klan Elven. Telinganya runcing, matanya tajam seperti elang. Dia diam, observatif, dan jarinya terus mengetuk-ngetuk gagang busurnya, tanda kegelisahan.
Elian (Mage/DPS): Pengguna elemen api yang berbakat tapi temperamental. Rambut merahnya berantakan, dan jari-jarinya memainkan api kecil karena gugup. Dia kuat tapi pengecut.
Putri Aeliana (Healer/Support): Dia adalah satu-satunya yang terlihat hancur secara emosional. Wajahnya masih pucat, matanya sembab bekas menangis berhari-hari. Dia berdiri menempel di dekat Varian, seolah Varian adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai yang ganas.
Varian Valdris (Strategist/Leader): Berdiri tenang dengan seragam akademi yang rapi tanpa cela. Tangannya di belakang punggung. Kacamata sihir bertengger di hidungnya, memantulkan cahaya peta hologram. Dia tidak memakai topeng. Di sini, dia adalah Varian si murid teladan, bukan Shadow Lord. Wajahnya tenang, cerdas, dan sedikit bosan.
"Dengar, semuanya," suara Eldric berat memecah keheningan, menggetarkan meja. "Raja menuntut hasil. Situasi di luar sana semakin tidak terkendali. Leon Gremory—atau 'Shien' seperti yang tertulis di pesan darah yang ditinggalkannya di desa yang dibakar—dan organisasi barunya, Void Sect, telah menjadi ancaman tingkat nasional."
Eldric mengetuk peta hologram. Tiga titik merah menyala di perbatasan utara.
"Mereka telah menghancurkan tiga pos penjagaan perbatasan dalam 48 jam terakhir. Mereka bergerak cepat, brutal, dan efisien. Tidak ada mayat yang ditinggalkan, tidak ada saksi hidup. Shadow Lord, pemimpin mereka, masih menjadi misteri. Kita butuh tim khusus yang bisa bergerak cepat di bawah radar militer, melacak jejak mereka, dan melaporkan lokasi markas mereka. Tim Alpha, itu kalian."
Eldric menoleh ke arah Varian. Tatapan mata butanya serius, namun penuh kepercayaan.
"Varian Valdris. Karena ketenanganmu yang luar biasa saat insiden eksekusi, di mana kau berhasil melindungi Putri Aeliana dan menyelamatkan pedang suci Excalibur dari tangan iblis, serta nilai sempurnamu di semua kelas taktik dan strategi... aku menunjukmu sebagai Komandan Lapangan."
Keheningan sesaat. Lalu...
BRAK!
Gareth memukul meja dengan kepalan tangannya yang berbaju besi. Meja itu bergetar hebat, membuat hologram peta bergoyang. "APA?!"
Semua orang menoleh kaget. Gareth menunjuk Varian dengan jarinya yang besar dan kasar.
"Kau bercanda, Kepala Sekolah? Kenapa dia? Dia cuma murid tahun pertama! Aku senior di sini! Aku murid tahun ketiga! Aku yang paling kuat secara fisik! Kenapa aku harus menerima perintah dari anak baru yang bersembunyi di balik kacamata dan buku?!"
Gareth meludah ke lantai. "Ini penghinaan bagi harga diriku! Aku tidak akan dipimpin oleh pengecut!"
Ruangan itu hening. Ketegangan meningkat drastis. Elian dan Lyra bertukar pandang cemas. Aeliana gemetar, memegang lengan Varian, takut akan konflik.
Varian tidak marah. Dia tidak tersinggung. Dia bahkan tidak mengerutkan kening atau mundur.
Perlahan, Varian membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk. Dia menoleh, menatap Gareth dengan tatapan yang tenang, cerdas, sarkastik, dan sedikit merendahkan—tatapan seseorang yang melihat gorila mencoba mengerjakan matematika.
"Kekuatan tanpa otak hanyalah cara cepat menuju kuburan, Senior Gareth," ucap Varian santai. Suaranya sopan, halus, tapi setiap kata yang dia pilih setajam belati yang diolesi racun.
Gareth melotot, wajahnya memerah. "Apa kau bilang?!"
"Analisis fakta," lanjut Varian, berjalan pelan mengelilingi meja mendekati Gareth. Dia tidak terintimidasi oleh tubuh raksasa itu. "Leon—sekarang Shien—memiliki kekuatan fisik monster yang bisa menghancurkan gerbang baja setebal 10 inci dengan tangan kosong. Aku melihatnya sendiri. Dia mencabik ksatria berbaju zirah seperti merobek kertas tisu."
Varian berhenti di depan Gareth, mendongak sedikit untuk menatap mata seniornya itu.
"Jika kau ingin melawannya dengan mengandalkan otot dan ego-mu yang besar itu, silakan. Aku yakin kau akan bertahan... mungkin tiga detik. Dan setelah itu, aku akan dengan senang hati menulis surat belasungkawa yang indah dan puitis untuk ibumu, menjelaskan bahwa putranya mati konyol karena dia pikir otot lebih penting daripada strategi."
Varian tersenyum tipis, senyum yang merendahkan namun sopan. "Tapi jika kau ingin menang, atau setidaknya pulang hidup-hidup, kau butuh otakku."
Wajah Gareth memerah padam, berubah menjadi ungu karena marah. Urat di lehernya menonjol. Dia mengangkat tangannya, siap mencengkeram Varian. "Kau bocah ingusan, berani-beraninya—"
"CUKUP!" bentak Eldric. Mana di ruangan itu meledak, menekan Gareth hingga lututnya goyah. "Ini Ruang Perang, bukan kedai minum! Keputusanku mutlak!"
Eldric menatap Gareth dengan dingin. "Varian memiliki kepala yang dingin dan analitis, sesuatu yang tidak kau miliki, Gareth. Kau terlalu emosional. Ikuti perintahnya atau keluar dari tim ini dan kembali ke asrama sekarang juga."
Gareth menggeram tertahan seperti anjing yang dikekang. Dia tahu dia tidak bisa melawan Grand Mage. Dia melirik sinis ke arah Varian, penuh kebencian. "Baik. Tapi jika rencanamu gagal, aku akan mematahkan lehermu sendiri."
Varian hanya tersenyum sopan. "Dicatat. Tapi pastikan kau tidak mati duluan, Senior."
"Misi kalian adalah melacak pergerakan Void Sect di Ngarai Tulang (Bone Canyon)," lanjut Eldric, mengembalikan fokus rapat. "Intel kami mendeteksi residu energi gelap di sana. Pergi, konfirmasi, dan lapor. Jangan bertindak gegabah. Bubarkan barisan."
Setelah rapat selesai dan yang lain keluar dengan wajah tegang, Varian berjalan santai di koridor sepi yang menuju asrama.
Aeliana mengikutinya rapat-rapat, langkahnya kecil dan cepat untuk menyamai Varian.
"Varian..." cicit Aeliana, menarik ujung lengan baju seragam Varian.
Varian berhenti dan berbalik. Wajah datarnya—wajah "Strategist"—lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi penuh kehangatan dan keprihatinan seorang sahabat yang protektif. Perubahan topeng yang sempurna.
"Ada apa, Putri? Kau terlihat pucat."
"Apa kita benar-benar harus pergi?" tanya Aeliana, suaranya bergetar. "Aku takut... Leon ada di sana. Dia... dia monster sekarang. Dia membenci kita. Dia pasti ingin membunuhku karena aku menolaknya."
Varian menghela napas pelan. Dia memegang kedua bahu Aeliana dengan lembut, menatap mata emas sang Putri dalam-dalam, menciptakan koneksi emosional.
"Kita harus pergi, Aeliana. Bukan untuk membunuhnya, tapi untuk memastikan tidak ada lagi orang tak bersalah yang terluka sepertimu," ucap Varian dengan nada lembut namun tegas, layaknya pahlawan dalam novel romansa.
"Jangan khawatir. Gareth, Lyra, dan Elian... mereka kuat, meski sedikit bodoh dan keras kepala. Mereka akan jadi tameng yang bagus untuk menahan serangan depan."
Varian mengangkat dagu Aeliana agar menatapnya.
"Dan aku? Aku akan berada tepat di sampingmu. Aku tidak akan membiarkan bayangan apa pun menyentuhmu. Aku akan melindungimu, Aeliana, bahkan jika nyawaku taruhannya."
Mata Aeliana berkaca-kaca. Hatinya luluh seketika. Ketakutannya digantikan oleh rasa ketergantungan yang mendalam pada pemuda di hadapannya.
"Jangan bicara soal mati!" Aeliana memeluk Varian erat. "Kau satu-satunya yang kupunya sekarang, Varian! Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku seperti Leon!"
Varian membalas pelukan itu, menepuk punggung Aeliana. "Aku berjanji, Tuan Putri."
Namun, di atas bahu Aeliana, mata Varian menatap kosong ke dinding koridor. Di dalam hatinya, dia sedang menyusun rencana yang jauh berbeda. Dia tidak naif. Dia tahu Gareth dan yang lain hanyalah beban yang harus dibuang untuk memperkuat posisinya.
Gareth, Lyra, Elian. Tiga tumbal yang sempurna untuk melatih insting pembunuh Shien. Dan satu panggung sandiwara lagi untuk mengikat jiwa Aeliana selamanya padaku. Ngarai Tulang akan menjadi panggung yang indah untuk sebuah tragedi.