Aini adalah seorang istri setia yang harus menerima kenyataan pahit: suaminya, Varo, berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri, Cilla. Puncaknya, Aini memergoki Varo dan Cilla sedang menjalin hubungan terlarang di dalam rumahnya.
Rasa sakit Aini semakin dalam ketika ia menyadari bahwa perselingkuhan ini ternyata diketahui dan direstui oleh ibunya, Ibu Dewi.
Dikhianati oleh tiga orang terdekatnya sekaligus, Aini menolak hancur. Ia bertekad bangkit dan menyusun rencana balas dendam untuk menghancurkan mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Saksikan bagaimana Aini membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bollyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Siasat di Ambang Sidang
Di sudut kamar yang remang, aroma minyak urut yang menyengat memenuhi udara yang pengap. Ibu Laras duduk berselonjor di atas ranjang sambil terus meringis, memijat lututnya yang masih terasa nyut-nyutan akibat terjatuh kemarin. Matanya yang tajam dan penuh kebencian tidak lepas menatap Varo yang hanya duduk termenung di tepi ranjang. Wajah pria itu tampak sangat kusut, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menunjukkan bahwa ia tidak tidur semalaman.
"Varo! Kamu dengar Ibu bicara tidak? Jangan cuma diam seperti patung begitu!" bentak Ibu Laras, suaranya pelan namun mengandung tekanan yang kuat.
"Besok itu sidang pertama. Kamu tidak boleh terlihat lembek atau merasa bersalah di depan hakim. Ingat, harga diri kita sedang dipertaruhkan. Kamu harus tuntut harta gono-gini dari si Aini itu. Dia punya rumah makan yang makin ramai, punya mobil mewah, punya tabungan yang pasti jumlahnya tidak sedikit. Itu semua hak kamu sebagai suaminya selama lima tahun ini!"
Varo mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya terdengar berat.
"Tapi Bu... Aini punya semua bukti kalau itu hasil tabungannya sebelum kami menikah. Dia bahkan bilang punya catatan rekening dari jaman dia masih kerja di Artha Kencana Group. Memangnya hakim bakal percaya kalau Varo tiba-tiba minta bagian dari harta yang sudah dia punya dari dulu?"
PLAK!
Tanpa ampun, Ibu Sarah menggeplak bagian belakang kepala Varo hingga pria itu tersentak maju.
"Kamu ini pernah sekolah atau tidak sih? Kenapa jadi bodoh sekali kalau sudah berhadapan dengan perempuan itu? Mana ada sejarahnya di negeri ini istri punya harta melimpah tapi suami tidak kecipratan sama sekali? Begitu saja tidak tahu! Kamu itu kepala rumah tangga, Varo. Secara hukum, segala sesuatu yang dinikmati bersama selama kalian satu atap, satu ranjang, itu adalah milik bersama. Pakai otakmu, jangan cuma dipakai buat memikirkan kemanjaan Cilla saja!"
"Aduh, Bu! Sakit!" Varo meringis sambil mengusap kepalanya yang berdenyut.
"Iya, Varo paham. Besok Varo bakal bicara di depan hakim kalau rumah ini dan rumah makannya adalah hasil jerih payah kita berdua. Varo bakal bilang kalau uang belanja yang Varo kasih selama ini dia tabung buat beli itu semua."
"Nah, begitu! Itu baru anak Ibu!" Ibu Laras tersenyum licik, wajahnya yang keriput tampak semakin menyeramkan.
"Buat perempuan mandul itu melarat seumur hidup. Biar dia sadar kalau tanpa kamu, dia itu cuma tukang nasi biasa yang tidak punya harga diri. Biar dia tahu rasanya merangkak di jalanan setelah berani mengusir kita. Oh iya, si Cilla sudah selesai masak belum? Perut Ibu sudah keroncongan, asam lambung Ibu naik gara-gara kelakuan istrimu itu."
"Sepertinya Cilla masih di dapur, Bu. Oh iya, tadi Cilla mengeluh ke Varo kalau uang belanja bulan ini sudah habis total. Padahal baru empat hari yang lalu Varo kasih Ibu tujuh ratus ribu. Kenapa bisa cepat sekali habisnya, Bu? Kita bahkan jarang makan daging akhir-akhir ini," tanya Varo dengan nada menyelidiki, mencoba mencari tahu kemana perginya uang yang ia cari dengan susah payah.
Ibu Sarah berdeham pelan, pandangannya dialihkan ke arah jendela, wajahnya tampak sedikit kikuk namun ia dengan cepat menyusun alasan.
"Hmmm... itu... anu, Varo... uangnya Ibu pakai buat bayar iuran arisan lingkungan bulan ini, setengahnya lagi buat cicilan perhiasan emas yang baru Ibu ambil kemarin dari langganan Ibu. Namanya juga buat investasi."
"Apa?! Ibu beli emas lagi? Bukannya tabungan emas Ibu di dalam laci itu sudah lebih dari cukup?" Varo membelalakkan matanya, merasa sesak di dada.
"Kita butuh uang buat makan, Bu, apalagi sekarang Varo harus bersiap buat urusan pengadilan."
"Ibu beli itu juga buat investasi kita, Varo! Buat masa depan kamu, buat anakmu yang sedang dikandung Cilla nanti. Siapa tahu kamu nanti dipecat atau mau buka bisnis sendiri, kan ada modal yang bisa dijual. Kamu mau selamanya jadi kacung yang gajinya pas-pasan di kantor orang? Jangan protes terus ke Ibu, sana cek makanan di dapur. Ibu tidak mau makan kalau cuma pakai kerupuk!"
Varo hanya bisa menghela napas panjang, bahunya merosot lesu. Logika ibunya selalu terasa seperti jeratan tali yang semakin lama semakin mencekik lehernya. Meskipun perutnya lapar dan hatinya sangat dongkol karena malam ini mereka terpaksa hanya makan mie instan yang dicampur nasi sisa tadi siang, ia tidak memiliki keberanian untuk membantah lebih jauh.
Keesokan Harinya: Persidangan Babak Pertama
Aini sudah terbangun sejak sepertiga malam terakhir. Setelah menunaikan sholat tahajud yang panjang dan bersujud memohon kekuatan, ia menutup ibadahnya dengan sholat subuh. Di depan cermin besar kamarnya, Aini menatap bayangannya sendiri. Tidak ada lagi gurat kesedihan atau keraguan. Ia merapikan jilbabnya dengan sangat teliti, mengenakan setelan kerja yang elegan namun tetap bersahaja. Hari ini adalah hari pembuktian bahwa ia bukanlah wanita lemah yang bisa diinjak-hidupnya.
Sebelum melangkah keluar menuju pengadilan, Aini harus melewati ruang tamu. Di sana, rombongan Varo, Cilla, dan Ibu Sarah sudah berkumpul. Sungguh keluarga tak tahu diri padahal sudah diusir dari rumah ini tapi masih juga bertahan dan aku mah itu milik mereka. Mereka tampak sengaja berdandan dengan pakaian terbaik Ibu Sarah bahkan memakai kalung emas barunya seolah-olah mereka akan menghadiri sebuah pesta kemenangan dan bukan sidang perceraian yang memilukan.
"Wah, wah... lihat ini, sudah wangi dan rapi rupanya calon janda kita," sindir Ibu Sarah dengan nada mengejek yang kental saat melihat Aini menenteng tas dokumen yang tebal.
"Sudah siap mental belum untuk hidup di rumah kontrakan sempit yang pengap setelah rumah mewah ini kami ambil alih secara hukum? Ibu sarankan kamu mulai cari-cari kardus buat pindahan dari sekarang."
Aini menghentikan langkahnya tepat di depan Ibu Sarah. Ia menatap mantan mertuanya itu dengan pandangan yang sangat tenang, namun begitu tajam hingga membuat Ibu Sarah sedikit salah tingkah.
"Justru saya yang ingin bertanya pada Ibu... sudah siap mental belum kalau besok-besok Ibu harus tidur di emperan toko atau kembali ke kampung tanpa membawa apa-apa? Jangan lupa ya Bu, setelah urusan di pengadilan ini ada kemajuan, saya ingin rumah ini sudah benar-benar kosong dari parasit seperti kalian. Cari tempat bernaung sebelum barang-barang kalian saya tumpuk di depan pagar sebagai barang rongsokan."
"Kurang ajar kamu ya! Mulutmu itu benar-benar harus disekolah lagi!" teriak Ibu Sarah dengan wajah memerah, tangannya gemetar karena marah. Namun, Aini sudah lebih dulu melangkah keluar rumah tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan mereka yang masih terbakar amarah.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Aini berhenti di depan Pengadilan Agama. Siska sudah menunggunya di depan gerbang. Sahabatnya itu langsung berlari menghampiri dengan wajah penuh dukungan.
"Aini! Akhirnya sampai juga. lo tenang saja, gue sudah koordinasi dengan Pak Kodim, pengacara yang gue siapkan. Beliau sudah ada di dalam, sedang memeriksa ulang berkas-berkas kepemilikan aset lo. Dia sangat yakin posisi kita kuat," ucap Siska sambil menggenggam tangan Aini.
"Terima kasih banyak, Sis. Gue tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada lo di samping gue saat ini," jawab Aini tulus, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Sudahlah, jangan cengeng sekarang. Yang penting kamu tetap fokus. Jangan biarkan ucapan mereka di dalam sidang nanti membuat lo terpancing emosi. Mereka akan mencoba segala cara untuk membuat loterlihat sebagai istri yang tidak berbakti," pesan Siska mengingatkan.
Tak lama kemudian, petugas pengadilan memanggil nama Aini dan Varo. Ruang persidangan terasa begitu dingin dan sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas. Aini duduk di kursinya, didampingi Pak Kodim yang tampak sangat berwibawa dengan toga hitamnya. Di seberangnya, Varo duduk sendirian tanpa pengacara karena ia tidak mau mengeluarkan uang untuk menyewa jasa profesional, sementara Ibu Sarah dan Cilla duduk di kursi penonton dengan wajah tegang.
Hakim Ketua memulai persidangan dengan suara bariton yang mantap.
"Saudari Aini, setelah melihat berkas gugatan yang Saudari ajukan, apakah Saudari tetap pada pendirian semula untuk menggugat cerai Saudara Varo?"
"Tetap, Pak Hakim. Keputusan saya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi," jawab Aini dengan suara yang sangat stabil dan tegas, tanpa ada getaran sedikit pun.
"Saudara Varo, bagaimana dengan Saudara? Apakah Saudara bersedia melakukan mediasi satu kali lagi untuk memperbaiki hubungan rumah tangga ini demi masa depan kalian?" tanya Hakim, menjalankan prosedur standar.
Varo melirik ke arah ibunya yang memberikan kode melalui anggukan tajam, lalu ia menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian palsu.
"Saya menerima perceraian ini, Pak Hakim. Tapi, saya tidak bisa menerima jika saya harus keluar dari pernikahan ini tanpa apa-apa. Saya menuntut hak saya sebagai suami sah selama lima tahun. Saya menuntut harta bersama atau gono-gini, yang meliputi rumah mewah yang sekarang kami tempati, kendaraan mobil lama kami dan mobil baru Aini, dan seluruh aset dari usaha rumah makan yang dikelola Aini. Selama ini saya yang banting tulang menafkahi dia, jadi wajar jika semua hasil yang didapat selama pernikahan dibagi dua secara adil."
Suasana di ruang sidang mendadak riuh dengan bisikan-bisikan dari kursi penonton. Ibu Sarah tampak tersenyum puas mendengarkan tuntutan anaknya. Aini hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung arti kemenangan yang tertunda. Sementara itu, Pak Kodim langsung berdiri dengan sigap.
"Izin menyela, Mulia," ucap Pak Kodim dengan suara menggelegar yang langsung mendiamkan ruangan.
"Klien kami memiliki bukti otentik berupa riwayat perbankan, sertifikat tanah yang diterbitkan sebelum tanggal pernikahan, serta akta notaris usaha yang modalnya murni berasal dari tabungan pribadi klien kami jauh sebelum mengenal tergugat. Tidak ada satu rupiah pun kontribusi finansial dari tergugat dalam perolehan aset-aset tersebut."
Varo langsung menyahut tanpa izin hakim, wajahnya memerah karena malu yang ditutup dengan kemarahan.
"Bohong! Dia itu cuma lulusan SMK, mana mungkin punya tabungan puluhan juta di usia semuda itu? Uang itu pasti hasil dari tabungan uang belanja yang saya berikan setiap bulan selama lima tahun ini! Dia mencuri uang nafkah saya untuk membeli itu semua!"
Hakim Ketua mengetuk palu dengan keras sebanyak tiga kali.
TOK! TOK! TOK!
"Harap tenang! Saudara Tergugat, Anda dilarang berbicara tanpa seizin majelis hakim. Sekarang saya bertanya, apakah Saudara memiliki bukti tertulis? Slip gaji asli, bukti transfer, atau kuitansi yang menunjukkan keterlibatan Saudara dalam pembelian rumah atau modal awal usaha tersebut?"
Varo terdiam seketika. Lidahnya seolah terkunci. Ia menoleh ke arah ibunya, namun Ibu Sarah hanya bisa memberikan isyarat tangan untuk terus membela diri.
"Saya... saya tidak membawa kuitansinya sekarang, Pak Hakim. Tapi seluruh tetangga tahu kalau saya adalah pekerja keras selalu memberi nafkah istri, mereka tahu saya yang bekerja!"
Hakim Ketua menggelengkan kepala perlahan sambil menatap berkas di depannya.
"Melihat adanya sengketa mengenai kepemilikan harta yang cukup kompleks dan belum adanya bukti kuat yang bisa diajukan oleh pihak tergugat saat ini, maka persidangan hari ini tidak bisa langsung diambil putusan. Kami memberikan waktu satu minggu bagi kedua belah pihak untuk membawa bukti-bukti pendukung yang lebih lengkap beserta saksi-saksi ahli jika diperlukan."
"Dengan ini, sidang saya tunda satu minggu ke depan dengan agenda pembuktian kepemilikan aset dan pemeriksaan saksi!"
TOK!
Palu diketuk sekali sebagai tanda sidang ditutup. Varo tampak lemas dan hampir ambruk di kursinya, sementara Ibu Laras terlihat sangat murka karena rencananya untuk langsung menguasai harta Aini hari ini tidak berjalan mulus. Aini menarik napas lega; setidaknya ia punya waktu tujuh hari lagi untuk menyiapkan kejutan yang jauh lebih besar dan menghancurkan bagi mereka di sidang berikutnya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
BERSAMBUNG...