Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayuan Adam pada Hawa.
“Mas, kamu makan itu lihat makanan, bukan lihat aku terus!” tegur Hawa dengan nada polos namun ketus. Alisnya sedikit berkerut, sendok di tangannya berhenti di udara.
Adam justru terkekeh kecil. Tawanya ringan, tulus, sampai deretan giginya yang rapi terlihat jelas. Tatapannya sama sekali tak berpaling dari wajah Hawa.
“Habis… rasa madunya ada di depan mata,” jawabnya santai, sengaja.
Hawa mendengus. “Gak lucu gombal.
"Dasar playboy!” gumam Hawa, mendorong piring sedikit lebih keras dari seharusnya. Mood-nya benar-benar buruk pagi itu.
Bukannya marah, sorot matanya malah semakin tajam, penuh minat. Ia meletakkan sendoknya, bersandar ringan, lalu suasana mendadak berubah.
“Siapa yang kamu temui tadi malam?”
Nada Adam tenang, terlalu tenang. Tapi justru itu yang membuat udara di antara mereka menegang.
Hawa terdiam. Tatapannya jatuh ke meja makan, jari-jarinya menggenggam kain serbet hingga berkerut. Dadanya naik turun, jelas menahan sesuatu.
Adam menghela napas pelan, lalu berkata dengan suara datar namun menusuk, “Kalau ada masalah, itu dibicarakan. Bukan dipendam. Dipendam itu bahaya nanti meledak kayak bom.” katanya kembali menyantap sarapan.
“Kamu suka atau enggak suka, sekarang aku suami kamu. Aku yang bertanggung jawab.”
Hening beberapa detik hingga keduanya selesai sarapan dan waktu terasa begitu panjang bagi Hawa.
“Raisa,” Akhirnya Hawa menjawab dengan nada Suara lirih,
Alis Adam sedikit terangkat. “Dia bilang apa?”
Hawa mengangkat wajahnya. Matanya kosong, tapi di sana tersimpan amarah, kecewa, dan rasa takut yang bercampur aduk.
“Dia bilang Adam itu seorang playboy yang sudah tidur dengan berbagai wanita.” Hawa menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada semakin tinggi. “Dia juga bilang, Adam itu terjerat mafia eksportir kayu. Sebentar lagi bakal ditangkap polisi."
Adam tidak memotong. Tidak membela diri. Ia hanya memperhatikan Hawa dengan tenang, seperti seorang jurnalis yang sedang menyimak laporan TKP, fokus, penuh perhatian.
"Dan aku...aku ini cuma wanita malang. Dinikahi karena wasiat dan cuma sebatas mainan!” Kalimat terakhir keluar seperti letupan. Hawa berbicara sewot, emosinya tumpah tanpa sisa.
“Boleh aku jelaskan?” tanya Adam.
“Terserah,” jawab Hawa dingin, memalingkan wajah.
Adam mengangguk kecil.
“Alasan kenapa aku tidak ingin menikah… karena aku tidak ingin ada seseorang yang ikut memikul bebanku.”
Ia menatap meja, bukan Hawa.
“Aku takut. Takut tidak ada istri yang bisa menerima keadaanku, intinya aku masih ingin bebas dan tidak siap."
Hawa perlahan kembali menoleh.
“Ya, memang aku pria brengsek. Katakan saja begitu. Aku tidak baik. Tidak cocok untuk kamu yang terlalu baik.”
Adam tersenyum pahit.
“Aku sudah berusaha menghindari pernikahan ini. Aku bahkan lebih memilih menyerahkan kamu pada Harun.”
Hawa tertegun.
“Harun itu terlihat baik kan! Santun, tidak playboy,” lanjut Adam. “Tapi nyatanya? Pria yang terlihat baik justru tidak berpikir panjang saat menyakiti wanitanya. Bahkan tidak berpikir dua kali untuk menusuk kakaknya sendiri.”
Hawa kini benar-benar fokus. Ia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Adam.
“Adam menarik napas dalam, “Benar, aku memang sudah tidak perjaka lagi. Dua kali tidur dengan perempuan bayaran dan itupun dalam kondisi mabuk.”
Ia berkata apa adanya, tanpa pembelaan.
“Tidak ada yang serius dan fokus, bagiku semua wanita hanya hiburan semata. Karena aku tidak punya tempat pulang.”
Adam meneguk air. Tenggorokannya terasa kering.
“Aku lelah, menanggung beban perusahaan keluarga. Harus mencukupi semuanya. Dunia bisnis itu juga terasa sangat kejam bagiku. Keras. Kalau tidak sanggup, bisa mati.”
Hawa menggigit bibirnya.
“Mungkin itu alasan kakek memaksaku menikah. Agar aku tidak depresi dan memiliki arah tujuan hidup. Sebelum beliau meninggal, aku sudah bilang, aku ingin menyerah. Tapi kakek tetap percaya padaku.”
Adam terdiam sejenak.
“Masuk ke dunia mafia itu terjadi dua tahun lalu. Selama tiga tahun aku memang ada di sana, bahkan sangat aktif.”
Nada suaranya datar.
“Di dunia bisnis, kalau hanya patuh pada aturan, perusahaan akan jalan di tempat. Ini bukan negeri idealis, ini negara rimba. Tanpa kelicikan dan manuver berani, tak ada nama, tak ada pertumbuhan. Setelah tujuanku tercapai, aku akan pergi. Dan aku sudah siap jika pemerintah kembali menggugatku.”
Ia menghela napas panjang.
“Sejak kecil, orang yang paling aku takuti itu adalah kakek. Dia keras mendidikku soal bisnis. Hanya aku saja. Harun tidak.”
Adam tersenyum tipis. “Tapi aku tidak marah. Karena bagiku itu ilmu.”
Adam tersenyum hangat.
“Kamu memang wanita yang sangat baik, Hawa” puji Adam pelan. Ia menunduk sebentar, lalu berkata lirih namun menghantam jantung Hawa,
“Maka dari itu jangan cintai aku… karena aku ini pria nakal, tidak cocok untukmu!"
“Aku tidak menjanjikan kebahagiaan sempurna dalam pernikahan kita. Tapi aku menjanjikan tanggung jawab, karen masih ada banyak wanita yang mengelilingi ku, sorry kebiasaan itu mungkin agak sulit aku hindari! ucap Adam terus terang.
Kata-kata itu membuat Hawa tertegun. Dadanya sesak, matanya memanas.
Dan di sanalah, perasaan yang selama ini Hawa tekan… mulai bergolak tanpa bisa dihentikan.
Adam menggeser kursinya sedikit mendekat kepada Hawa. Suaranya lebih rendah, tidak lagi setajam sebelumnya.
“Kita jalani saja pernikahan ini. Tidak perlu mendengar komentar siapa pun. Dunia terlalu bising untuk kita layani satu per satu.”
Hawa menunduk. Bulu matanya bergetar.
“Sampai sejauh mana kita bertahan, atau kapan kita berhenti… biarkan waktu yang menghakiminya.”
Adam menatap Hawa dengan sorot mata jujur, tanpa topeng.
Kalimat itu membuat jantung Hawa berdegup lebih cepat.
Hawa mengangkat wajahnya perlahan. Matanya terlihat kosong, namun pikirannya justru penuh oleh suara yang saling bertabrakan di kepalanya, sebuah peringatan samar yang datang entah dari mana, tapi terasa begitu nyata hingga membuat dadanya berdebar.
Ia menarik napas pendek. Lalu, seolah tak mau kalah, Hawa berkata cepat,
“Di rumah sakit juga ada dua pria yang suka sama aku!”
Adam berkedip sekali.
“Oh ya?” katanya ringan, senyum manis langsung muncul di sudut bibirnya.
“Iya!” Hawa mengangguk mantap. “Satu perawat, sama seperti ku. Satu lagi dokter.”
“Kamu yakin?” Adam menaikkan alis, nada suaranya santai tapi jelas menguji.
“Hem!”
Hawa mengangguk lagi. Senyum tipis terbit di bibirnya, kecil, tapi cukup membuat Adam tanpa sadar menatapnya lebih lama.
Adam terkekeh.
“Gimana kalau mereka tahu masa kecil kamu itu jorok?” katanya tengil.
“Ingusan terus sampai belepotan ke mana-mana. Menjijikkan.”
“Hahaha!”
Tawanya lepas dan sukses membuat ekspresi Hawa langsung berubah masam.
Namun detik berikutnya, Hawa justru tersenyum. Senyum percaya diri.
“Biasanya,” katanya sambil melipat tangan di dada,
“kalau masa kecilnya jelek dan jorok, itu hukum alam.”
Ia mengibaskan rambut lembutnya pelan.
“Pas dewasa… malah tumbuh cantik. Dan sangat memikat.”
Adam terdiam.
“Aku tidak akan melarangmu dekat dengan wanita mana pun. Silakan, itu hakmu,” ucap Hawa tenang.
“Tapi kamu juga jangan pernah melarang apa pun yang aku mau.” Hawa menatap Adam lurus, bibirnya melengkung tipis.
“Bagaimana, Tuan Adam? Perlu kita buat perjanjian hitam di atas putih?”
"Pikir-pikir lah dulu?" kata Hawa mengangkat piring-piring di atas meja.
Langkahnya cepat menuju wastafel. Ia memunggungi Adam, membiarkan air mengalir deras, berharap suara itu bisa menenggelamkan kegugupannya.
"Hem..la...la!" nyanyi kecil Hawa mulai siap menghempaskan beban yang selama ini menyiksanya.
“Atau kamu mau aku yang membuat pernikahan ini jadi lebih gila dari yang kamu bayangkan?” gumam Hawa.
Di belakangnya, Adam memperhatikan dalam diam dan tenang. Ia tidak berkata apa-apa bersama gaya tengil dan perasaannya yang belum ia kenal.
Hatinya memang harus di kasih pencerahan kalo Raisa hanya memanfaatkan diri'y saja
yg jadi korban mahluk kita yo gus, haseeem
ternyata si Raisa lebih dari pemain 👊👊👊
kasihan Harun laki² bodoh🥺🥺
bukan seseorang yg dekat dengan Hawa atau Adam kann...🤔
bodoh kamu Runn
dia tuh ingin mnguasai perusahaan di sumatera kamu harus hati2
knpa sih Runn kmu ga jauh2 dari Raisa, gmpang bngt kamu terpengaruh bujuk rayunya
jangan2 emamg udah dibeli nih dan Bunda Rani jg tau