NovelToon NovelToon
Anak Untuk CEO Mandul

Anak Untuk CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nyonya_Doremi

"Tubuhmu milikku. Waktumu milikku. Tapi ingat satu aturan mutlak, jangan pernah berharap aku menanam benih di rahimmu."

Bagi dunia, Ryu Dirgantara adalah definisi kesempurnaan. CEO muda yang dingin, tangan besi di dunia bisnis, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Namun, di balik setelan Armani dan tatapan arogannya, ia menyimpan rahasia yang menghancurkan egonya sebagai laki-laki, Ia divonis tidak bisa memberikan keturunan.

Lelah dengan tuntutan keluarga soal ahli waris, ia menutup hati dan memilih jalan pintas. Ia tidak butuh istri. Ia butuh pelarian.

Sedangkan Naomi Darmawan tidak pernah bermimpi menjual kebebasannya. Namun, jeratan hutang peninggalan sang ayah memaksanya menandatangani kontrak itu. Menjadi Sugar Baby bagi bos besar yang tak tersentuh. Tugasnya sederhana, yaitu menjadi boneka cantik yang siap sedia kapan pun sang Tuan membutuhkan kehangatan. Tanpa ikatan, tanpa perasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyonya_Doremi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Matahari baru saja memanjat pucuk-pucuk gedung pencakar langit di kawasan SCBD ketika Ryu Dirgantara sudah berdiri di depan cermin besar kamarnya. Namun, kali ini ia tidak sedang menyesuaikan simpul dasinya sendirian. Di sampingnya, Naomi sedang berjuang memasangkan kaus kaki mungil ke kaki Athala Rafka yang tidak bisa diam.

"Ryu, apakah ini benar-benar perlu? Membawa bayi berusia beberapa bulan ke kantor pusat bukan hanya melelahkan bagi Athala, tapi juga akan mengalihkan perhatian seluruh staf Anda," Naomi mencoba bernegosiasi untuk kesekian kalinya pagi itu.

Ryu berbalik, menatap pantulan mereka di cermin. Ia mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang yang memancarkan otoritas mutlak. Namun, di lengannya, ia menyampirkan sebuah tas perlengkapan bayi bermerek yang isinya penuh dengan botol susu dan tisu basah.

"Ini bukan sekadar kunjungan, Naomi," jawab Ryu, suaranya berat dan penuh kepastian. "Setelah insiden dengan Bimo dan desas-desus di dewan direksi, aku butuh pernyataan visual yang kuat. Dunia harus melihat bahwa Athala Rafka adalah masa depan Dirgantara, dan kau adalah wanita yang berdiri di sampingku. Aku ingin menghentikan spekulasi sebelum mereka sempat berbisik lebih jauh."

Ryu melangkah mendekat, mengambil Athala dari tangan Naomi. Ia mengangkat bayinya tinggi-tinggi, menatap wajah kecil yang sangat mirip dengannya itu. "Lagi pula, aku ingin dia mulai terbiasa dengan aroma kekuasaan. Ini adalah wilayahnya kelak."

Naomi menghela napas panjang, namun ia tidak bisa menahan senyum tipis melihat betapa posesifnya Ryu terhadap pengenalan putranya ini. Ryu tidak hanya ingin memperkenalkan seorang anak, ia sedang memamerkan kemenangannya kepada dunia.

...hm rv

Gedung Dirgantara adalah monumen bagi efisiensi dan ketegangan. Biasanya, ketika mobil Rolls-Royce milik Ryu berhenti di depan lobi, para staf akan berdiri tegak, menahan napas, dan memastikan tidak ada satu pun debu yang terlihat. Namun hari ini, protokol itu hancur berantakan.

Pintu mobil terbuka. Ryu keluar pertama kali, namun alih-alih membawa tas kerja kulitnya, ia menggendong seorang bayi yang mengenakan kemeja putih kecil dan celana bahan berwarna navy. Di belakangnya, Naomi keluar dengan gaun midi berwarna krem yang elegan, memancarkan aura keibuan sekaligus martabat seorang Nyonya besar.

Suasana lobi yang biasanya sunyi seperti perpustakaan mendadak riuh oleh bisikan tertahan.

"Itu... bayi Tuan Ryu?"

"Lihat, wajahnya benar-benar mirip!"

"Nyonya Naomi cantik sekali, auranya sangat tenang."

Ryu berjalan melintasi lobi dengan langkah tegap, tidak menghiraukan tatapan ratusan pasang mata. Namun, tangannya yang sebelah lagi secara posesif merangkul pinggang Naomi, seolah memberi tanda kepada setiap pria di ruangan itu untuk tidak menatap istrinya terlalu lama.

"Jalan lebih dekat denganku, Naomi," bisik Ryu pelan namun tegas. "Aku tidak ingin ada jarak di antara kita hari ini."

....

Ketika mereka sampai di lantai paling atas, Naomi terkejut melihat perubahan di ruang kerja Ryu. Ruangan yang dulunya hanya berisi furnitur minimalis, kaca-kaca besar, dan tumpukan dokumen legal, kini memiliki sudut baru.

Di sudut dekat jendela yang menghadap ke arah Monas, terdapat sebuah boks bayi dari kayu yang sangat mewah, lengkap dengan pagar pengaman transparan. Ada juga karpet bulu yang sangat lembut dan sebuah lemari kecil berisi mainan edukasi.

"Ryu... Kamu membangun pembibitan di kantor Anda?" Naomi bertanya dengan mata terbelalak.

"Aku mempekerjakan tim interior untuk menyelesaikannya dalam semalam," jawab Ryu dengan santai sambil meletakkan Athala di dalam boks tersebut. "Aku tidak ingin dia merasa tidak nyaman saat aku harus memimpin rapat berkepanjangan. Di sini, dia aman. Di bawah pengawasanku langsung."

Naomi mendekati boks itu, menyentuh mainan gantung yang terbuat dari bahan organik. "Kami benar-benar keterlaluan. Kamu tidak bisa memisahkan peranmu sebagai CEO dan Ayah, ya?"

"Kenapa harus dipisah?" Ryu berbalik, menatap Naomi dengan intensitas yang membuat jantung Naomi berdesir. "Semua yang kulakukan di gedung ini adalah untuk menjamin masa depannya. Dan semua yang kulakukan di rumah adalah untuk menjamin kebahagiaanmu. Keduanya saling berkaitan."

Puncak dari kunjungan ini adalah rapat bulanan dengan dewan direksi. Naomi sebenarnya enggan ikut, namun Ryu bersikeras. "Kau adalah bagian dari narasi ini, Naomi. Duduklah di sampingku."

Ruang rapat besar itu sudah penuh dengan pria-pria tua berwajah kaku. Pengacara Bimo juga ada di sana, duduk di sudut dengan tatapan penuh selidik. Ketika Ryu masuk sambil menggendong Athala, keheningan yang canggung terjadi selama beberapa detik.

"Tuan Ryu, apakah... apakah ini bijaksana? Membawa anak kecil ke dalam rapat strategis?" tanya salah satu direktur senior, Tuan Wijaya, dengan nada sedikit merendahkan.

Ryu duduk di kursi kebesarannya, menaruh Athala di pangkuannya. Bayi itu tampak tenang, sibuk mencoba menggigit pulpen emas ayahnya.

"Tuan Wijaya, jika anak ini bisa mendengarkan proyeksi keuangan kita tanpa menangis, itu berarti dia memiliki ketahanan mental yang lebih baik daripada sebagian manajer menengah kita," jawab Ryu dingin. "Lagipula, apa yang kita bicarakan hari ini menyangkut masa depan perusahaan yang akan ia warisi. Saya ingin dia hadir."

Rapat dimulai. Suasana sangat tegang. Ryu memimpin diskusi dengan ketajaman yang biasa, namun sesekali ia harus berhenti untuk memperbaiki posisi duduk Athala atau memberikan mainan gigit agar bayinya tidak bosan.

Masalah muncul ketika Athala tiba-tiba merasa bosan dan mulai mengeluarkan suara celotehan yang cukup keras saat Tuan Wijaya sedang memaparkan kerugian di sektor ritel.

"Bah-bah! Da-da!" teriak Athala sambil memukul-mukul meja marmer dengan tangan kecilnya.

Tuan Wijaya berhenti bicara, wajahnya memerah karena merasa terganggu. "Tuan Ryu, ini sangat tidak profesional."

Ryu mengangkat kepalanya, matanya menyipit penuh ancaman. "Bagi Anda, ini mungkin gangguan. Bagi saya, ini adalah umpan balik. Mungkin anak saya merasa presentasi Anda membosankan atau datanya tidak akurat. Lanjutkan, Tuan Wijaya. Jangan biarkan suara seorang bayi membuat Anda kehilangan fokus. Kecuali jika Anda merasa tidak cukup kompeten untuk bicara di depan seorang Dirgantara."

Naomi, yang duduk tepat di sebelah Ryu, merasa perlu turun tangan sebelum Ryu benar-benar memecat orang karena masalah sepele. Ia mengulurkan tangan. "Ryu, berikan dia padaku. Dia mungkin lapar."

Ryu sempat ragu. Rasa posesifnya seolah enggan melepaskan Athala dari jangkauannya, bahkan ke tangan Naomi sekalipun di depan orang-orang ini. Namun, ia melihat Athala mulai merengek.

"Baiklah. Tapi jangan jauh-jauh," bisik Ryu.

Naomi mengambil Athala dan dengan tenang menyusuinya dengan kain penutup di sudut ruangan. Pemandangan itu, seorang wanita yang memberikan kehidupan di tengah-tengah ruang kekuasaan yang gersang memberikan dampak psikologis yang luar biasa bagi para hadirin. Bahkan Bimo tampak kehilangan kata-kata.

Setelah rapat yang melelahkan, Ryu, Naomi, dan Athala kembali ke ruang kerja CEO. Ketegangan mereda, dan Ryu tampak jauh lebih rileks. Ia melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang kini sedikit kusut karena kerutan tangan Athala.

"Aku lapar," gumam Ryu. "Mari kita pesan sesuatu yang tidak ada di menu katering kantor."

"Pizza?" usul Naomi.

"Pizza di kantor Dirgantara? Staf kebersihan akan pingsan jika melihat remah-remah di karpet ini," Ryu tertawa kecil, namun ia tetap mengangkat telepon untuk memesan.

Beberapa saat kemudian, seorang kurir pizza datang dengan wajah pucat karena harus melewati berlapis-lapis keamanan hanya untuk mengantar makanan ke lantai paling atas. Mereka makan di lantai, di atas karpet bulu dekat boks Athala.

"Lihat kita sekarang," kata Naomi sambil menggigit sepotong pizza. "Penulis drama rumah tangga dan CEO paling ditakuti di negeri ini, sedang makan pizza di lantai kantor sambil mengawasi bayi yang sedang mencoba memakan kaus kakinya sendiri."

Ryu menatap Naomi, matanya melembut. "Ini adalah momen paling nyata yang pernah kualami di gedung ini selama sepuluh tahun terakhir, Naomi. Biasanya, gedung ini terasa seperti penjara kaca. Tapi hari ini... terasa seperti rumah."

Tiba-tiba, Athala merangkak ke arah kotak pizza. Sebelum Ryu sempat mencegahnya, tangan kecil Athala sudah berhasil meraih pinggiran roti dan... plok! Saus tomat mengenai kemeja putih Ryu.

Ryu terdiam. Ia melihat noda merah di dadanya.

"Oh, tidak. Itu kemeja mahalmu lagi, Ryu," Naomi tertawa, mencoba membersihkannya dengan tisu.

Ryu justru mengambil Athala dan mencium pipinya yang penuh noda saus. "Tidak apa-apa. Ini adalah tanda tangan pertama Athala pada aset ayahnya. Aku tidak akan mencuci kemeja ini. Mungkin aku akan membingkainya."

Naomi menggelengkan kepala. "Kamu benar-benar sudah gila, Tuan Dirgantara."

Kebahagiaan kecil itu terganggu ketika sekretaris Ryu mengabarkan bahwa Pengacara Bimo ingin bicara empat mata sebelum ia pergi. Ryu meminta Naomi untuk tetap di ruang bermain sementara ia menemui Bimo di meja kerjanya yang besar.

"Kau melakukan pertunjukan yang bagus hari ini, Ryu," kata Bimo, berdiri di depan meja Ryu. "Tapi kau tahu, dewan direksi tidak akan selamanya terpesona oleh tawa bayi. Mereka butuh kepastian hukum."

Ryu bersandar di kursinya, tatapannya kembali menjadi sedingin es. "Kau melihatnya sendiri tadi, Bimo. Tidak ada keraguan tentang siapa orang tua anak itu. Dan soal Naomi... dia adalah istriku dengan atau tanpa dokumen yang kau pegang."

"Apakah kau mencintainya?" tanya Bimo tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang tidak lazim bagi seorang pengacara.

Ryu terdiam sejenak. Ia melirik ke arah sudut ruangan di mana Naomi sedang membacakan buku cerita untuk Athala. Suara lembut Naomi terdengar lamat-lamat.

"Cinta adalah istilah yang terlalu lemah untuk menggambarkan apa yang kurasakan," jawab Ryu dengan nada posesif yang sangat kental. "Dia adalah bagian dari eksistensiku sekarang. Jika kau mencoba menyentuhnya, atau mencoba memisahkan Athala darinya, kau tidak hanya akan berurusan dengan pengacara Dirgantara. Kau akan berurusan denganku secara pribadi. Dan kau tahu seberapa jauh aku bisa bertindak untuk melindungi apa yang menjadi milikku."

Bimo menatap Ryu lama, mencoba mencari celah kebohongan. Namun, ia hanya menemukan ketulusan yang menakutkan. Bimo menutup tas kerjanya.

"Baiklah. Aku akan menunda laporanku kepada komite independen untuk bulan ini. Tapi ingat, Ryu... satu kesalahan kecil saja dalam citra keluarga ini, dan aku tidak akan segan-segan bertindak. Helena membayar saya untuk ketertiban, bukan untuk sentimentalitas."

Bimo pergi, meninggalkan Ryu dengan beban yang masih terasa berat namun hati yang lebih yakin.

Saat hari mulai gelap, mereka meninggalkan gedung. Kali ini, para staf melihat mereka dengan cara yang berbeda. Bukan lagi dengan ketakutan, melainkan dengan rasa hormat yang baru. Mereka melihat manusia di balik sosok CEO yang kaku.

Di dalam mobil, Athala sudah tertidur pulas karena kelelahan setelah bekerja seharian. Naomi juga tampak mengantuk, kepalanya sesekali terkantuk ke jendela.

Ryu menarik kepala Naomi dengan lembut agar bersandar di bahunya. "Tidurlah. Kita sudah melewati hari yang panjang."

"Ryu," gumam Naomi dengan mata terpejam. "Apakah kamu benar-benar akan membingkai kemeja kena saus itu?"

"Mungkin," jawab Ryu pelan. "Tapi mungkin lebih baik aku menyimpannya sebagai pengingat... bahwa tidak peduli seberapa tinggi gedung yang kubangun, pondasi yang paling penting adalah kalian berdua."

Naomi tersenyum dalam tidurnya. Ryu menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang mulai menyala. Ia menyadari bahwa rasa posesifnya telah bertransformasi. Ia tidak lagi hanya ingin memiliki Naomi dan Athala sebagai simbol kekuasaan atau pemenuhan kontrak. Ia ingin memiliki mereka karena tanpa mereka, seluruh kerajaan Dirgantara yang ia banggakan hanyalah tumpukan beton yang dingin dan tidak berarti.

Pernikahan kontrak ini memang belum sepenuhnya berubah menjadi cinta yang puitis di atas kertas, namun di dalam mobil yang melaju membelah malam itu, sudah ada komitmen yang jauh lebih kuat daripada hukum manapun, komitmen untuk saling melindungi sampai akhir.

Sesampainya di Penthouse, Ryu menggendong Athala menuju kamarnya sendiri, kamar yang sekarang sudah resmi menjadi kamar mereka bertiga. Ia meletakkan Athala di boksnya, memakaikan selimut, dan berdiri di sana selama beberapa menit hanya untuk mendengarkan napas teratur putranya.

Naomi berdiri di ambang pintu, memperhatikan Ryu. "Kamu akan menjadi ayah yang sangat menyebalkan saat dia remaja nanti, Ryu. Kamu akan mengawasi setiap gerak-geriknya dengan satelit."

Ryu berbalik, berjalan menuju Naomi dan melingkarkan lengannya di pinggang istrinya. "Aku hanya akan mengawasinya jika dia tidak menghormati ibunya. Selebihnya, biarkan dia belajar menaklukkan dunianya sendiri."

Ryu menunduk, mencium kening Naomi dengan lembut dan lama. "Terima kasih untuk hari ini, Naomi. Terima kasih sudah bersedia masuk ke dalam duniaku yang kotor dan menjadikannya sedikit lebih bersih."

Naomi menatap mata gelap Ryu, menemukan rumah yang tidak pernah ia sangka akan ia temukan di sini. "Sama-sama, Tuan Dirgantara. Tapi besok, jangan bawa dia ke rapat lagi. Aku tidak ingin dia belajar cara memecat orang sebelum dia bisa bicara dengan lancar."

Ryu tertawa, suara yang kini mulai sering terdengar di penthouse itu. Malam itu, mereka tertidur bukan sebagai mitra kontrak, melainkan sebagai sebuah tim yang siap menghadapi badai apapun yang akan dikirimkan oleh dunia luar.

1
Ara putri
Hay kak, jika berkenan saling dukung yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!