Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.
Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.
Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.
Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.
Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.
Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?
Ikuti Kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Cemburu?
Alina menatap tajam Revan yang tampak begitu akrab merangkul pinggang Devi.
Tadi, begitu ia menyadari pria yang berdansa dengannya adalah Revan, Alina langsung pergi meninggalkan lantai dansa.
Ia sama sekali tak ingin terjebak dalam obrolan lebih lama dengan pria itu.
“Ck, kalau saja aku tahu dia ada di sini, pasti aku nggak akan datang,” gumam Alina dalam hati.
Saat ini Leon sedang berada di luar, sibuk menerima panggilan telepon.
Alina kembali duduk di kursinya. Baru sekejap ia mengalihkan pandangan, dua orang yang tadi dilihatnya itu sudah tak terlihat lagi.
Momen seperti ini tanpa sadar membuat pikirannya melayang pada Aeris.
Anak itu memang sangat menyukai pesta.
Alina tersenyum pahit.
“Kita pulang sekarang aja?” tanya Leon setelah selesai menelepon.
“Hum, jangan pulang terlalu malam. Kasihan Aeris nunggu,” jawab Alina.
Leon tidak mengetahui bahwa Revan dan Devi juga hadir di sana.
Dan Alina merasa tak ada alasan untuk memberitahunya, karena hal itu sama sekali tidak penting baginya.
Bruk!
Seorang pelayan yang membawa beberapa gelas wine tak sengaja menabrak Alina hingga cairan merah itu tumpah dan mengenai gaunnya.
“Apa kau tidak bisa berjalan dengan benar?” ujar Leon dengan nada kesal kepada pelayan itu.
“Maafkan saya,” ucap pelayan tersebut dengan gugup.
“Sekarang pakaiannya jadi kotor!”
“Sudah, nggak apa-apa,” Alina cepat menyela.
“Kamu bisa pergi,” lanjut Alina pada pelayan itu.
“Maaf… sekali lagi. Saya benar-benar tidak sengaja,” katanya sambil menunduk.
“Mm… kamu tunggu di sini saja, aku ke toilet buat membersihkannya,” ujar Alina.
“Aku temani,” kata Leon.
“Nggak perlu. Kamu duluan ke mobil aja, aku sebentar kok,” jawab Alina. Usai berkata demikian, wanita itu langsung bergegas ke arah belakang.
Alina masuk ke toilet dan berusaha membersihkan noda di gaunnya.
Setelah selesai, ia keluar—namun langkahnya tertahan saat telinganya menangkap suara kecupan disertai helaan napas seseorang.
Alina melangkah pelan mengikuti arah suara itu, dan matanya refleks membesar ketika melihat Revan dan Devi tengah berciuman, dengan tangan pria itu menahan pergelangan tangan Devi.
Pandangan Alina mengabur. Entah mengapa, potongan kenangan lama kembali berputar di benaknya.
Kakinya terasa kaku tak bisa digerakkan, sementara jemarinya mengepal kuat.
Begitu tersadar, Alina segera berbalik dan berlari menjauh. Ia tidak langsung menuju mobil, memilih berhenti sejenak untuk menenangkan dadanya yang terasa sesak.
“Ck, berhenti berharap sama dia lagi, Lin. Dia bukan yang terbaik buat kamu,” gumamnya lirih dalam hati.
---
Alina menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju mobil.
“Udah?” tanya Leon begitu Alina duduk di kursi penumpang.
Alina hanya mengangguk pelan.
Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti mereka. Leon sesekali melirik Alina yang tampak murung, alisnya berkerut tipis.
“Ada apa, Lin?” tanya Leon akhirnya.
Alina menggeleng.
“Cuma ngantuk sama capek aja… dikit,” ucapnya sambil memaksakan senyum.
Leon tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia hanya menyalakan tape mobil, membiarkan lagu mengalun mengisi kabin.
Malam yang sunyi, suasana hati yang sendu, ditambah alunan lagu mellow membuat Alina nyaris menitikkan air mata.
---
Di sisi lain, Devi mendorong dada Revan. Bibirnya terasa kebas karena terlalu lama disedot.
“Udah, ih!” protes Devi.
Revan hanya terkekeh lalu menarik Devi ke dalam pelukan erat.
“Kamu tadi lihat Alina?” tanya Revan santai.
“Hum,” jawab Devi singkat.
“Ternyata yang tadi dansa sama gue itu dia,” lanjut Revan.
Devi langsung melepaskan pelukannya dan menatap Revan.
“Tapi cuma sebentar kok. Gue langsung sadar dari suaranya,” tambah Revan.
“Jijik banget dansa sama dia,” sambungnya dengan nada muak.
“Kok kamu jahat banget sih sama dia?” tanya Devi.
“Kenapa emang? Orang yang paling gue benci ya dia. Nggak ngerti kenapa, tiap lihat mukanya rasanya pengin gue jambak,” ujar Revan dingin.
“Jangan kebanyakan benci, nanti malah jatuh cinta,” sahut Devi.
“Ck, nggak ada ceritanya Revan jatuh cinta sama batu akik,” balasnya meremehkan.
Devi tak lagi menanggapi. Revan kemudian menggandengnya kembali ke area pesta.
---
“Terima kasih ya, udah nganter,” ucap Alina saat mereka tiba di depan rumah.
“Sama-sama.”
“Biar aku aja yang gendong Aeris,” tawar Leon.
“Nggak usah. Kamu pulang aja, udah malam banget,” jawab Alina.
“Yaudah, tapi aku pergi setelah kamu sama Aeris masuk,” kata Leon.
Alina mengangguk, lalu berpindah ke kursi tengah dan mengangkat Aeris yang tertidur lelap.
“Berat banget kamu, sayang,” gumam Alina pelan.
Aeris menggeliat sedikit. Alina menepuk-nepuk lembut bokong anak itu sampai kembali terlelap.
“Langsung tidur ya, Lin,” pesan Leon.
Alina melambaikan tangan sebelum pintu rumah tertutup.
Leon pun melanjutkan perjalanannya menuju apartemen.
Alina membaringkan Aeris di kasur, menyelimutinya, lalu duduk sejenak menatap wajah damai putranya.
Wajah itu adalah perpaduan dirinya dan Revan—tak ada yang benar-benar dominan.
Bayangan kejadian di pesta kembali menyeruak, membuat dadanya terasa sesak.
Alina keluar kamar dan duduk di ruang tengah. Di sanalah tangisnya tumpah. Ia berbohong jika berkata dirinya baik-baik saja melihat Revan bersama Devi. Ia tidak sekuat itu. Namun ia juga tak ingin terlihat rapuh di hadapan mereka.
Alina sadar, apa pun yang ia lakukan takkan pernah mengubah perasaan Revan.
Flashback on.
“Revan, tungguin gue dong,” rengek Alina.
“Gue berangkat sama pacar gue!”
“Terus gue bareng siapa?”
“Bukan urusan gue.”
Alina mendecak kesal. Hari itu hari Senin, dan jam sudah menunjukkan pukul 07.15. Sedikit lagi ia pasti terlambat.
Ia terpaksa berjalan cepat, lalu berlari keluar dari kompleks perumahan.
Sesampainya di jalan raya, Alina berusaha menyetop taksi yang lewat. Namun tak satu pun berhenti.
“Argh, sial! Cewek itu lagi yang diprioritaskan!” gerutunya.
“Pak! Berhenti!” teriak Alina nekat menghentikan mobil di tengah jalan.
Ckitt!
Suara rem mendecit tajam.
“Neng! Mau mati apa gimana!?”
“Pak, anter saya ke sekolah! Tujuh menit lagi, Pak. Kalau telat, gerbang ditutup!”
Pria itu menggerutu, namun akhirnya mengizinkan Alina naik.
“Makasih ya, Pak. Semoga Bapak makin kaya dan makin ganteng,” ucap Alina saat turun dari mobil mewah itu.
Ia tiba tepat waktu—dua menit sebelum gerbang ditutup.
“Dasi gue ketinggalan,” keluh Revan kesal.
“Alamat dihukum.”
“Pakai dasi gue aja,” tawar Alina.
“Nggak usah. Nanti lo yang kena,” tolak Revan cepat.
“Tapi kamu gimana?” tanya Devi cemas.
“Sekali-kali ngerasain panas matahari,” jawab Revan santai.
Saat apel berlangsung, Alina melirik Revan di barisan belakang.
“Lah, ternyata nggak pakai dasi,” gumamnya.
Ia terpikir memberikan dasinya.
Setelah apel, OSIS mulai memeriksa atribut siswa.
“Pakai dasi gue, daripada lo dihukum,” kata Alina sambil menyodorkannya.
Revan menatap datar.
“Maaf, gue nggak minat. Mending dihukum daripada nerima bantuan dari lo.”
“Ck, keras kepala. Lo belum sarapan juga kan? Mau pingsan terus diketawain?” bisik Alina kesal.
Revan tetap diam.
Dengan jengkel, Alina langsung memakaikan dasi itu ke leher Revan.
“Alina! Mana dasi kamu!?” teriak Qisa, ketua OSIS.
“A… anu… ketinggalan,” jawab Alina pelan.
“Sini, ikut saya,” perintah Qisa tegas.
Alina melirik Revan. Tak ada rasa terima kasih di sana. Bahkan sekilas pun tidak.
Setelah Alina pergi, Revan menatap dasi di lehernya.
“Dia kira cara kayak gitu bisa bikin gue tertarik? Heh, mimpi,” gumamnya dingin.
Hari itu, Alina dihukum berjemur hingga jam istirahat. Seragamnya basah oleh keringat.
“Demi Revan… lo kuat, Lin,” bisiknya saat pandangannya mulai berkunang.
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Alina kembali ke kelas dan merebahkan diri di bangku.
Flashback off.
“Kenapa susah banget sih ngelupain lo, Van?” gumam Alina lemah.
“Harusnya gue nggak balik ke kota ini.” Ia mengacak rambutnya frustrasi.
Semua foto dan hal tentang Revan sudah ia singkirkan. Tapi tetap saja, pria itu masih menetap di hatinya.
Ia tak tahu bagaimana perasaan Leon jika mengetahui hal ini. Dalam benak Leon, mungkin Alina sudah benar-benar melupakan Revan dan mencintainya.
Padahal tidak.
Alina menerima Leon semata karena rasa balas budi.
buat alina n leon bahagia thor
sdah tua jg msh ky abg
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏