Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tak akan berlari lagi!
Sore itu langit di atas kebun sawit berwarna jingga keemasan. Jingga berdiri agak jauh dari gudang,mengatur sudut kameranya. Angin pelan menggerakkan pelepah sawit, cahaya matahari jatuh pas di sela-selanya.
“Sekali lagi,” gumam Jingga sambil jongkok sedikit.
Satu jepretan kembali ia dapat.Ia menatap layar kamera. Senyum kecil muncul di wajahnya.
Bagus.
Bukan cuma bagus namun juga indah. Foto itu memperlihatkan kebun apa adanya luas, tenang, dan hidup. Jingga suka foto yang tidak terlalu dipoles. Ia ingin orang-orang melihat cerita di balik gambar, bukan sekadar objek.
Malamnya, setelah mandi dan makan malam dengan Kakek Arga, Jingga duduk di kamar, membuka ponselnya. Ia ragu sebentar sebelum mengunggah foto itu ke media sosial.
Captionnya sederhana:
Belajar mencintai tanah yang menumbuhkan banyak kehidupan. Pelan-pelan, tapi serius.
Ia tidak menuliskan lokasi lengkap. Hanya menandai kabupaten. Jingga menatap layar beberapa detik, lalu menekan tombol unggah.
Selesai.
Ia tidak menyangka apa pun. Bagi Jingga, itu cuma bagian dari proses belajar dan berbagi. Tidak lebih.
Di kota, Davin baru saja selesai makan malam bersama ayahnya. Jamuan tadi cukup melelahkan obrolan bisnis, senyum formal, dan rencana masa depan yang selalu berputar di sekitar namanya.
“Sebentar lagi kamu harus lebih sering muncul di publik,” kata ayahnya sambil minum teh. “Biar orang-orang kenal penerusku.”
“Iya, Yah,” jawab Davin singkat.
Setelah ayahnya masuk ke ruang kerja, Davin naik ke kamar. Ia menjatuhkan tubuh ke ranjang, lalu membuka ponsel tanpa tujuan jelas. Kebiasaan lama. Scroll, scroll, lalu berhenti di satu unggahan yang membuat alisnya berkerut.
Foto kebun sawit.
Sederhana. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa… familiar.
Davin memperbesar foto itu. Ia menatap detailnya. Susunan pohon. Gudang di kejauhan. Jalan tanah merah.
“Ini…” gumamnya pelan.
Ia menggeser ke profil akun itu. Nama akunnya tidak asing tapi juga tidak langsung dikenali.
@Arunika_Mutiara
Davin mengernyit. Nama belakang itu membuat dadanya agak mengencang.
MUTIARA
Ia membuka unggahan lain. Foto-foto alam. Desa. Cahaya pagi. Beberapa potret kebun dari sudut berbeda. Semuanya konsisten. Dan semuanya… terasa terlalu dekat dengan sesuatu di ingatannya.
Davin bangkit duduk.
“Ini nggak mungkin,” katanya pada diri sendiri.
Tapi tangannya sudah mengetuk layar, membuka kolom komentar.
Tidak ada banyak komentar. Beberapa pujian. Beberapa pertanyaan soal lokasi. Jingga tidak menjawab semuanya.
Davin menekan foto profil itu lagi. Tidak terlalu jelas. Wajah gadis itu tidak terlihat karena posisinya membelakangi kamera,namun dari postur dan rambutnya membuat napasnya sedikit tertahan.
“Jingga?” bisiknya tanpa sadar.
Nama itu seperti memukul kepalanya.
Nama yang dulu sering ia dengar namun kini menghilang. Nama yang tidak pernah disebut lagi di rumahnya.Nama yang ia benci namun hati kecilnya ia bingung dengan alasan apa yang membuat membencinya.
Davin menelan ludah.
Malam itu Davin tidak bisa tidur. Ia bolak-balik membuka unggahan Jingga, memperbesar, memperkecil, membandingkan dengan potongan-potongan ingatan saat masih bersama Jingga.
Ia ingat bagaimana Jingga dulu,bagaimana Jingga di perlakukan dan bagaimana Jingga di usir dari rumah ini.
“Kalau ini dia…” gumam Davin, “kenapa baru sekarang?”
Ia membuka pencarian, mengetik nama Jingga Arunika. Tidak banyak hasil.Akun itu tampak baru. Tidak banyak jejak digital. Seolah pemiliknya sengaja hidup di pinggir dunia.
Davin menarik napas panjang.
Ada rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh.
Keesokan paginya,Di kampung Jingga bangun dengan ponsel yang penuh notifikasi. Bukan viral, tapi lebih ramai dari biasanya. Banyak orang mulai menyukai fotonya. Beberapa akun bahkan mengirim pesan pribadi, bertanya soal kebun, soal izin kunjungan, soal kerja sama kecil.
Jingga mengernyit. “Kok jadi rame gini?”
Kakek Arga melirik dari meja makan. “Kamu terkenal?”
“Enggak juga,” jawab Jingga sambil tersenyum kecil. “Cuma… mungkin fotonya nyampe.”
Ia membuka satu pesan yang membuatnya berhenti bernapas sejenak.
Akun tanpa foto profil. Tanpa unggahan.
Kebun itu di daerah mana? Sepertinya saya mengenal anda.
Jingga menatap pesan itu lama. Ada sesuatu dari kalimat itu yang membuat hatinya tidak nyaman.
Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi.
Kabupaten kecil. Mungkin hanya kebetulan saja.
Jingga tidak menyebutkan detail.Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Kebun itu milik siapa?
Jingga menatap layar. Jarinya berhenti. Dadanya terasa agak sesak.Ia tidak membalas.
Sedangkan di kota, Davin menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.Balasan Jingga tidak menjawab apa yang ingin ia tahu.
“Kenapa kamu sembunyikan?” gumamnya.
Ia menutup ponsel, berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di kamar. Ada dorongan kuat untuk langsung bertanya pada ayahnya. Tapi ada juga rasa takut.
Kalau benar itu Jingga kenapa ia masih baik-baik saja… berarti selama ini ada sesuatu yang sengaja ditutup.Dan Davin tidak yakin ia siap mendengar jawabannya.
Davin duduk di meja belajarnya. Ia membuka laptop, mencoba mengakses data lama perusahaan ayahnya. Ia tahu itu berisiko. Tapi rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya.
Ia menemukan satu nama yang jarang muncul.
Mutiara
Davin menatap layar lama. Nama itu seperti kunci yang membuka pintu lama.
“Arunika_Mutiara…” gumamnya. "Jingga Arunika Mahardika" gumamnya kembali.
Kepalanya penuh pertanyaan.
°°°°
Merasa hatinya tak tenang,Jingga melakukan panggilan video dengan Arjuna.
“Kak,” kata Jingga sambil mengerutkan kening, “akun aku jadi agak rame.”
Arjuna tersenyum. “Itu wajar. Fotomu bagus.”
“Ada satu akun yang nanya-nanya aneh,” lanjut Jingga. “Kayak… dia kenal aku dan ingin mengetahui tentang kebun ini.”
Senyum Arjuna memudar sedikit. “Akun siapa?”
“Namanya Dave_M,” jawab Jingga pelan. “Nggak ada foto. Nggak ada postingan.”
Arjuna terdiam beberapa detik.
“Dave?” ulangnya.
“Iya. Kenapa?”
Arjuna menarik napas pelan. “Itu kemungkinan besar adik tirimu.”
Jingga membeku. “Apa?”
“Nama lengkapnya Davin Hendra Mahardika bisa jadi Dave nama samarannya,” lanjut Arjuna. “Dia memang jarang aktif di media sosial.Tapi aku pernah lihat akunnya sekilas.”
Jingga menutup mulut. “Jadi… dia tahu?”
“Belum tentu,” jawab Arjuna cepat. “Tapi dia curiga.”
Jingga menelan ludah. “Aku harus gimana?”
“Tenang,” kata Arjuna lembut. “Jangan buru-buru. Kamu nggak salah posting.Itu kebun kamu.”
Jingga mengangguk pelan. “Tapi rasanya kayak… aku ketarik lagi ke dunia yang aku hindari.”
Arjuna menatapnya dari layar. “Dunia itu memang bakal datang sendiri, Sayang. Yang penting, sekarang kamu datang bukan sebagai korban.”
Jingga menghela napas. “Iya.”
Telpon berhenti,Jingga berdiri di halaman rumah, menatap kebun sawit yang sunyi. Ia memeluk dirinya sendiri.
Ia tahu, sejak foto itu diunggah, hidupnya tidak akan sama lagi.
Kebenaran mulai bergerak.
Masa lalu mulai bangun.
Dan orang-orang yang dulu menghapusnya… perlahan mulai melihatnya kembali.
Jingga menatap langit.
“Kali ini,” bisiknya, “aku nggak akan lari.”
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga