Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Infiltrasi Rumah Kaca
Rumah kaca Hartfield adalah bangunan megah dari kaca dan kerangka besi hitam yang terinspirasi gaya Victorian. Dari kejauhan, ia tampak seperti istana kristal yang indah. Tapi saat hujan badai begini, ia terlihat seperti peti mati kaca raksasa.
Aku berlari terseok-seok menerobos hujan, sepatu bot karet pinjaman yang kebesaran dua nomor berbunyi cipak-cipuk di setiap langkah. Jas hujan kuningku berkibar ditiup angin kencang, mungkin membuatku terlihat seperti hantu pisang raksasa yang sedang gentayangan.
Begitu sampai di dinding kaca bagian belakang, aku berhenti. Napasku memburu, uap putih keluar dari mulutku di tengah udara dingin. Aku menempelkan telinga ke dinding kaca, tapi suara hujan terlalu keras.
Aku harus masuk.
Untungnya, aku sudah melakukan survei lokasi kemarin ketika lagi-lagi aku terjebak ditanah Hartfield ini. Ada pintu samping kecil yang biasanya digunakan pelayan untuk membuang sampah tanaman. Engselnya agak berkarat dan kuncinya longgar.
Dengan hati-hati, aku memutar gagang pintu itu. Krek. Terbuka.
Begitu aku melangkah masuk, dunia berubah drastis.
Suhu udara melonjak naik. Rumah kaca itu lembab, hangat, dan menyesakkan. Uap air menempel di dinding kaca bagian dalam, mengaburkan pemandangan dunia luar. Suara hujan yang tadinya menderu keras kini terdengar tumpul, seperti dentuman drum di kejauhan.
Aroma di sini memabukkan. Campuran bau tanah basah, pupuk, dan ribuan bunga eksotis yang wanginya terlalu kuat. Ada anggrek hutan, lily raksasa, dan mawar-mawar hibrida yang warnanya merah darah. Semuanya terasa berlebihan. Terasa... sakit.
Aku mengendap-endap di balik deretan pot palem raksasa, berusaha agar ember seng di tanganku tidak membentur apa pun.
Lantai rumah kaca terbuat dari bata merah yang licin karena lumut. Aku bergerak maju, mengikuti naluri dan suara percakapan samar.
"...jangan pergi."
Suara itu. Suara bariton yang rendah, tenang, tapi penuh ancaman. Damian.
Aku mengintip dari celah daun Monstera yang lebar.
Di tengah-tengah rumah kaca, di area terbuka yang dikelilingi bunga mawar putih, adegan itu sedang berlangsung.
Damian berdiri membelakangi posisiku. Punggungnya tegap, basah kuyup. Sepertinya dia habis berjalan dari mansion tanpa payung demi efek dramatis. Kemeja putihnya menempel di punggung, memperlihatkan otot-ototnya. Oke, harus kuakui dia seksi, tapi tetap saja dia sosiopat.
Di hadapannya, terpojok di meja potting kayu, adalah Freya.
Freya terlihat kacau. Rambutnya berantakan, matanya lebar ketakutan. Dia memeluk pot bunga kecil di dadanya seolah itu satu-satunya perisai yang dia punya.
"Hujan masih deras, Freya," kata Damian pelan, melangkah maju satu langkah. "Kau tidak bisa pulang."
"Saya... saya bisa lari, Duke," jawab Freya gemetar. Suaranya kecil, hampir tenggelam oleh suara hujan.
"Lari kemana?" Damian terkekeh rendah. "Seluruh Hartfield adalah milikku. Kemana pun kau lari, kau tetap berada di sangkarku."
Kalimat itu. Kalimat red flag legendaris yang bikin pembaca novel menjerit "Kyaaa!" tapi kalau di dunia nyata bikin kita nelpon polisi.
Aku melihat tangan Damian terulur, hendak menyentuh pipi Freya.
Freya memejamkan matanya rapat-rapat. Dia gemetar hebat.
Jangan nyerah, Freya! teriakku dalam hati. Inget Bank Berjalan! Inget utang!
Dan seolah mendengar telepati agresifku, aku melihat perubahan kecil itu.
Tangan Freya yang memegang pot bunga menegang. Buku-buku jarinya memutih. Dia tidak mundur lagi. Sebaliknya, dia menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-parunya.
Dia mengepalkan tangan kirinya yang bebas di samping tubuhnya. Kepalan tangan kecil yang penuh tekad.
"Saya..." Freya membuka matanya. Masih ada ketakutan di sana, tapi ada juga kilatan perlawanan. "Saya bukan burung, Duke. Dan Hartfield bukan sangkar. Hartfield adalah tempat kerja paman saya. Dan jam kerja saya sudah habis."
Damian berhenti. Tangannya menggantung di udara, beberapa sentimeter dari wajah Freya.
"Jam kerja?" ulangnya, nada suaranya berubah dari dominan menjadi bingung.
"Ya. Jam kerja," kata Freya, suaranya sedikit lebih lantang walau masih gemetar. "Menurut peraturan ketenagakerjaan... ehm... non-formal... menahan seseorang di luar jam kerja tanpa upah lembur adalah pelanggaran."
Damian mengerutkan kening. Romantisme gelap yang dia bangun susah payah mulai retak karena birokrasi imajiner.
"Siapa yang mengajarimu bicara omong kosong seperti itu?" tanyanya dingin, matanya menyipit berbahaya.
Freya tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan kepalan tangannya dan menatap kancing baju Damian. Mungkin karena belum berani menatap matanya.
Aku tersenyum bangga di balik daun *Monstera.*Anak pinter. Mama bangga.
Tapi aku tahu, Damian tidak akan menyerah semudah itu. Dia tipe yang kalau logikanya kalah, dia bakal pakai fisik atau intimidasi aura. Dan benar saja, dia maju lagi, kali ini lebih agresif, mengurung Freya di antara kedua lengannya yang bertumpu pada meja.
"Aku tidak peduli dengan jam kerja," bisik Damian tepat di telinga Freya. "Aku menginginkanmu. Sekarang."
Oke. Batas toleransi habis.
Ini bukan lagi romansa. Ini predator behavior. Dan predator butuh disiram air dingin biar otaknya restart.
Aku meletakkan emberku perlahan. Mengambil selang air yang sudah kusam. Memastikan keran air ada di jangkauan tanganku.
"Maaf, Duke," bisikku sambil memutar keran air pelan-pelan. "Tapi kayaknya Anda lagi overheat. Butuh pendingin ruangan."
Aku menarik napas, membetulkan posisi masker kain di wajahku, dan bersiap untuk melakukan aksi paling bodoh sekaligus paling heroik dalam hidupku.
Operasi Anti-Hama: Tahap Eksekusi.