NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Yang Salah

#28

Baku hantam terus berlangsung, karena Susi berteriak minta tolong, maka kawan-kawannya pun ikut memberanikan diri membantu wanita itu. 

Saling jambak, saling tampar, dan saling tendang. Bukan hal yang sulit, hanya perlu terbiasa melakukannya, maka semakin lama akan semakin mahir melakukannya. Begitulah Ayu. 

Hingga akhirnya. 

Prit! 

Prit! 

Peluit para opsir, membuat orang-orang yang ada di sana lari tunggang langgang ke tempat persembunyian. Tapi malang bagi Susi dan seorang temannya yang tadi di hajar Ayu dan Ratna habis-habisan, mereka terkapar di tanah, dan tertangkap para opsir. 

Walau Ayu, Mbak Nik, dan Ratna juga memar serta luka di beberapa bagian tubuhnya, mereka saling adu tos, sambil tertawa puas ketika berjalan kembali ke sel. 

“Bagaimana dengan sketsamu?” tanya Mbak Nik. 

Ayu hanya mengangkat kedua pundaknya santai, “Tenang saja, Mbak. Semua sudah tersimpan di kepalaku,” kata Ayu sambil mengetuk pelipisnya sendiri. 

“Lalu, tadi itu— jangan-jangan kau sengaja?” tebak Ratna curiga. 

“Memang, biar mereka tahu siapa yang sedang mereka hadapi. Jika tidak di lawan, mereka akan semakin semena-mena.”

“Wah, sudah dewasa kamu sekarang, ya?” Ratna merangkul leher Ayu hingga wanita itu meringis sambil tertawa lebar. 

“Aku kira kamu sungguh-sungguh marah,” cetus Mbak Nik lega. “Ternyata hanya sandiwara semata.” 

Malam itu Ayu sedikit lembur untuk mengerjakan sketsa, yang esok hari akan ia wujudkan dalam bentuk pakaian. 

Untungnya ia mengingat semua model pakaian yang pernah ia gambar, jadi Ayu tak terlalu sedih kehilangan buku sketsanya, ia hanya perlu menyalin kembali di buku sketsa baru sebelum dikumpulkan pada Bu Giana.

Keesokan harinya usai sarapan, Ayu tampak sibuk di ruang menjahit, menggambar pola pakaian yang hendak ia buat pada selembar kain. Raut wajahnya berseri-seri, kedua matanya memancarkan binar semangat, seolah sedang mengerjakan proyek maha penting. Padahal hanya membuat pakaian untuk dirinya sendiri. 

•••

Sementara itu, di rumah Ismail dan Karmila. Pagi ini, Biru sudah siap kembali ke sekolah, setelah beberapa hari menenangkan diri. 

Sebelum berangkat, Biru dan Firza mencium punggung tangan kedua orang tua mereka, sebagai wujud penghormatan, serta kebiasaan baik yang sudah tertanam sejak masa kanak-kanak. 

“Hati-hati di jalan, ya, Nak. Naik motornya jangan ngebut, semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi kalian berdua,” kata Karmila dengan perasaan tulus, dan penuh pengharapan pada sang pemilik alam semesta. 

“Iya, Mak,” sahut Biru setelah memakai helm dan duduk di atas motor yang biasa ia dan Firza kendarai ketika pergi dan pulang dari sekolah. 

Ismail menepuk pundak Firza dan Biru bergantian, menyematkan sebaris doa tanpa suara. “Ingat-ingat selalu, pesan mamak kalian, tuh,” pesan Ismail.

“Iya, Ayah,” sahut Firza dan Biru bersamaan. “Assalamualaikum.”

Motor yang dikendarai Biru dan Firza pun berlalu. 

“Waalaikumsalam.”

“Abang juga berangkat ke sawah dulu, ya? Kau ke toko saja duluan, ada si Ahmad dan istrinya di sana.” 

“Iya, Bang.” 

•••

Kembali ke Firza dan Biru. 

“Biru, kau di panggil Bu Husna,” kata sang ketua kelas, ketika melihat Biru datang bersama Firza. 

“Iya,” sahut Biru. 

“Ada apa, ya?” Biru bertanya-tanya dalam hati, namun, Firza yang tahu kegelisahan Biru segera menepis rasa penasaran Biru. 

“Paling soal tes minat bakat. Kan kemarin kau tidak masuk.” 

“Kenapa kai tak cerita kalau ada tes minat bakat?” sungut Biru. 

Firza sedikit memiringkan bibirnya, “Macam mana aku nak cerita, tengok muka kau saja macam tak sedap dipandang. Kau sadar tidak, wajah kau masih pucat dan seram, seperti ketempelan setan dari kuburan,” gurau Firza. 

“Kurang asam, kau! Tak tahu saja kau, apa yang kurasakan hari itu.” 

“Iya, aku tahu, tapi seandainya kau mau bicara dan bertanya padaku, aku pasti bercerita.” 

“Cerita? Soal apa?” 

“Soal kedua orang tua kau lah.” 

“Kau tahu soal itu? Sejak bila? Ken—”

“Biru!” 

Belum sempat Firza dan Biru melanjutkan obrolan, Bu Husna membuyarkan obrolan mereka. 

“Iya, Bu.” Biru pun berjalan cepat menghampiri wali kelasnya tersebut. 

•••

Pulang sekolah. 

“Kau tahu, kan, soal rumah kosong yang katanya seram itu?” 

Firza mulai bercerita, karena Biru terus bertanya dan mendesaknya untuk bicara. 

“Iya,” sahut Biru. Mereka tengah mengendarai motor dengan kecepatan sedang menuju rumah. 

“Menurut informasi terpercaya, rumah itu dulu adalah rumah kedua orang tua kau.” 

Biru tercekat sejenak, teringat akan rumah dengan cat berwarna kuning suram itu, mungkin karena termakan usia jadi auranya ikut suram. "Yang berarti, tempat bapak kau meninggal secara mengenaskan juga."

“Siapa sumber informasi yang kau tanya?” 

“Bibi Mutia, tetangga yang tinggal di depan rumah orang tua kau. Beliau juga bilang, kenal ibu kau dengan sangat baik.” 

Biru kembali termenung, sejenak memikirkan kembali ucapan Karmila tempo hari. 

“Lalu, Bibi Mutia bilang apa tentang ibuku?” 

“Ya, sama persis dengan apa yang Mamak dan Ayah katakan padamu malam itu,” celetuk Firza jujur. 

“Jadi, malam itu kamu menguping?!”

“Ya, iya, lah!” ungkap Firza menyeringai. 

“Tapi, ya. Aku rasa daripada kau kepikiran sama kalimat pedas yang sering Nenek Halimah lontarkan, mending kau percaya saja dengan ucapan Mamak dan Ayah,” sambung Firza. 

“Kenapa?” 

“Ya masa kau tak tahu jawabannya? Tentu saja karena Mamak dan Ayah, adalah orang-orang yang paling menyayangi dan mengenal kita di dunia ini.” 

Biru terdiam merenungi ucapan Firza, “Kamu harus percaya bahwa ibu kau tak bersalah, bagaimana nanti cara membuktikannya? Allah pasti kasih tahu kita, atau minimal kasih kamu petunjuk.” 

•••

Di lain tempat, tepatnya di kantor milik Anjani. Wanita itu baru saja datang, pakaian kerja formal ia kenakan, tak lupa make up dan lipstik merah menyala yang selama ini menjadi andalannya. 

“Selamat pagi, Bu,” sapa sang sekretaris ketika membukakan pintu ruangan untuk Anjani. 

Anjani tak menjawab, ia malah menyerahkan tas mahalnya ke tangan Vina, nama sekretarisnya. Kemudian duduk di kursi kebesarannya. 

“Panggil mereka! Aku ingin melihat, apakah ada yang membuatku terkesan hari ini,” perintah Anjani sambil menyalakan sebatang rokoknya. 

Asap putih mengepul di udara, wanita itu sungguh menikmatinya seolah itu adalah hal yang paling menyenangkan. 

Tak lama kemudian, pintu ruangan Anjani di ketuk, Vina masuk terlebih dahulu, diikuti 10 orang yang datang dengan buku sketsa di tangan mereka. 

Anjani menghampiri orang pertama, kemudian memeriksa desain yang berhasil ia gambar setelah lembur 2 hari lamanya. “Kucel sekali wajahmu, rambutmu juga lepek berminyak. Kapan terakhir kali kamu mandi?” 

Wanita itu membetulkan letak kacamatanya dengan gugup, “Tadi pagi, Bu. Sebelum berangkat.” 

“Tapi tidak keramas?!”

“Iya, Bu. Buru-buru, takut telat, karena jarak—” 

“Ah, tak perlu lah kamu menjelaskan itu, aku tak butuh informasi di mana rumahmu!” potong Anjani congkak. 

Anjani mulai mengamati hasil gambar anak buahnya, bila suka akan ia pakai untuk peluncuran model pakaian berikutnya. Bila tidak suka, maka orang itu tak akan mendapatkan uang bonus. Begitulah cara kerja Anjani, sewenang-wenang sesuai kehendak hatinya sendiri. 

Ia manfaatkan orang-orang yang sedang butuh pekerjaan, untuk di peras ide dan kreativitas nya, kemudian ia mengakui benda tersebut sebagai hasil karyanya. Segala cara ia lakukan agar MiJa Fashion, bisa tetap berdiri kokoh menyaingi merek Madame Gi milik Giana. 

Karena, bila ia kalah saing, maka ia tak akan bisa mengangkat wajah di hadapan teman-teman sosialitanya. Sekali Anjani tetap saja Anjani, dibungkus pakaian semahal apapun, tak akan mampu mengubah wanita itu menjadi wanita berkelas. Karena semuanya bermula dari hal yang salah. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!