NovelToon NovelToon
Tubuhku, Takhta Sang Dewa

Tubuhku, Takhta Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Cencenz

Satu tubuh, dua jiwa. Satu manusia biasa… dan satu roh dewa yang terkurung selama ribuan tahun.

Saat Yanzhi hanya menjalankan tugas dari tetua klannya untuk mencari tanaman langka, ia tak sengaja memicu takdir yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah segel kuno yang seharusnya tak pernah disentuh, terbuka di hadapannya. Dalam sekejap, roh seorang dewa yang telah tertidur selama berabad-abad memasuki tubuhnya. Hidupnya pun tak lagi sama.

Suara asing mulai bergema di pikirannya. Kekuatan yang bukan miliknya perlahan bangkit. Dan batas antara dirinya dan sang dewa mulai mengabur.

Di tengah konflik antar sekte, rahasia masa lalu, dan perasaan yang tumbuh antara manusia dan dewa… mampukah Yanzhi mempertahankan jiwanya sendiri?
Atau justru… ia akan menjadi bagian dari sang dewa selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cencenz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Menara Penyegelan

Makhluk itu melompat ke arah Yanzhi dengan kecepatan mengerikan.

Han Ye berteriak, "YANZHI!"

Yi menjerit.

Tetua bergerak… tapi terlambat.

Pelahap Inti itu hampir menyentuh dada Yanzhi.

Saat itulah bara di tubuh Yanzhi pecah.

Namun tidak keluar.

Tidak berubah menjadi api.

Tidak meledak.

Tetapi menyentak seluruh tubuh Yanzhi dari dalam, seperti badai panas yang menolak disentuh Pelahap Inti.

Makhluk itu terpental satu langkah ke belakang, mendesis marah.

Wajah Yanzhi menegang kuat, napasnya memburu.

Roh itu menggeram marah, seperti naga yang menahan dirinya di dalam sangkar.

"Beraninya menyentuh wadahku…"

"Bocah, aku harus menahannya. Tapi kau harus tetap diam."

Dan Yanzhi…

mendengar sesuatu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya:

Suara gesekan sisik, halus, pelan.

Seolah sesuatu yang besar melilit dirinya dari dalam.

Roh itu melanjutkan, namun suaranya lebih berat, lebih panas, lebih sulit dikendalikan.

"Aku akan menekan auraku agar tidak keluar… tapi tubuhmu tidak seharusnya menahan ini."

"Kalau kau memaksa… kau sendiri yang akan hancur."

Yanzhi menggenggam bajunya erat-erat.

Pelipisnya berkeringat.

Han Ye melihat keadaan itu.

"Kau terluka? Yanzhi, apa yang—"

Yanzhi menggeleng cepat.

"Tidak apa… aku hanya… tertekan."

Han Ye mencibir. "Tertekan? Ini lebih dari tertekan, kau tampak seperti mau pingsan—"

Roh itu memotong kasar.

"Bocah cerewet ini. Diam dan tutup mulutmu, manusia pedang."

Yanzhi tersentak kecil.

Roh itu… sepertinya ikut kesal pada Han Ye?

Sementara itu… Wei Ren diam-diam bergerak.

Ia mundur dua langkah, mendekati tetua yang paling mudah dipengaruhi, Tetua Lin.

Dengan suara rendah, ia berbisik:

"Lihat sendiri, Tetua. Makhluk itu tertarik pada Yanzhi… seolah ada sesuatu di tubuhnya."

Tetua Lin menatap Yanzhi dengan curiga.

Wei Ren melanjutkan, nadanya lembut tapi beracun:

"Aku tidak ingin menuduh siapa pun…

tapi ada terlalu banyak kebetulan yang mengarah ke satu titik."

Tetua Lin menelan ludah. Tuduhan itu mulai masuk.

Wei Ren tersenyum tipis.

Roh dalam tubuh Yanzhi memperhatikan Wei Ren.

"Anak itu… bukan sekadar licik. Dia sudah diberi sesuatu."

Yanzhi memicingkan mata sedikit, tanpa bergerak.

"Aura samar di tangannya… itu bekas dari seseorang. Bukan Pelahap Inti. Sesuatu… atau seseorang… memberi dia kekuatan untuk memanipulasi aura makhluk-makhluk ini."

Yanzhi mengencangkan rahangnya.

Wei Ren… menerima kekuatan dari seseorang?

Siapa?

Tetua Fan?

Atau sosok lain?

Roh itu melanjutkan, nadanya mendalam seperti api yang mengalir di dasar bumi.

"Dia bukan otak utama dari ini."

"Dia hanya pion… tapi pion yang cukup pintar untuk membunuhmu tanpa mengangkat pedang."

Yanzhi memejamkan mata sejenak. Napasnya bergetar. Bara di tubuhnya masih liar.

Roh itu memberi peringatan terakhir.

"Kalau kau marah sekarang… auraku akan pecah."

"Kau harus tetap… tenang."

Yanzhi membuka mata perlahan.

Tenang.

Datang dari dalam badai panas.

Ia menatap Wei Ren dari kejauhan, tanpa marah, tanpa emosi, tanpa api.

Hanya ketenangan yang mematikan.

......................

Aula utama penuh tekanan. Dua Pelahap Inti melayang di antara kabut aura ungu, dan ketegangan antara para tetua memuncak.

Tiba-tiba—

Pintu besar aula terbuka keras.

Beberapa murid masuk tergesa dengan pakaian berdebu, seperti baru saja melakukan perjalanan jauh.

Yang paling depan: Mo Ran, murid yang dulu sering mengobrol dengan Yanzhi saat latihan dan cukup akrab dengannya.

Ia berhenti di ambang pintu, napasnya masih berat seperti habis berlari jauh.

"Apa yang… terjadi di sini?"

Ia menatap Pelahap Inti di langit-langit dan wajah para tetua yang tegang.

Yi langsung berseru, "Mo Ran?! Kalian baru balik?!"

Mo Ran mengangguk cepat. "Kami ikut Guru Qian keluar kota. Baru saja kembali dan lihat apa ini? Kenapa ada makhluk itu di sekte?"

Mei Jiu berbisik takut, "Dan kenapa… aura semua orang begitu tegang?"

Qi Yun menunjuk Yanzhi. "Eh? Kenapa Yanzhi ada di tengah begitu?"

Mo Ran memperhatikan Yanzhi, dan wajahnya langsung berubah kaget.

"Oi, Yanzhi… kenapa kau pucat begitu?"

Yanzhi hanya menoleh sedikit, mengangguk kecil.

"Tidak apa-apa."

Tapi itu jelas bukan jawaban yang meyakinkan.

Dan itulah momen yang dimanfaatkan Wei Ren.

Wei Ren segera melangkah cepat ke arah Mo Ran dan teman-temannya, wajahnya dibuat panik dan prihatin.

"Mo Ran! Akhirnya kalian datang! Kalian pernah bersama Yanzhi, kan?"

Mo Ran menaikkan alis.

"Iya. Memangnya kenapa?"

Wei Ren menghela napas seolah sedang bertanggung jawab sebagai murid teladan.

"Ini darurat. Dua Pelahap Inti muncul di sekte… dan semua bukti mengarah pada Yanzhi."

Mo Ran tersentak. "APA?!"

Yi langsung memprotes, "Wei Ren! Jangan sembarangan bicara!"

Tapi Wei Ren memotong cepat, nada suaranya dibuat lebih pelan dan serius untuk menambah tekanan psikologis.

"Mo Ran… kau ingat ruang penyimpanan Tetua Fan? Kami menemukan sisa aura menghitam di sana. Aura yang… mirip jejak seseorang."

Ia mengeluarkan sepotong batu kecil dari lengan jubahnya, batu yang terlihat seperti terkena percikan aura hitam.

Wei Ren mengangkat batu itu tinggi-tinggi.

"Ini kami temukan di dekat pintu ruang itu. Dan bekas energinya… cocok dengan aura Yanzhi."

Murid sekitar langsung berbisik panik.

"Benarkah?"

"Yanzhi terlihat aneh hari ini…"

"Mungkin dia benar-benar terlibat…"

Yi maju, hampir menerjang Wei Ren. "Itu bohong! Itu bukan—"

Tetapi Wei Ren dengan cepat menyela:

"Kami juga… menemukan ini."

Ia mengibaskan lengan jubahnya dan sepotong kain robek muncul.

Kain itu berwarna sama persis seperti pakaian latihan Yanzhi.

Qi Yun menelan ludah.

"Itu… bagian dari baju Yanzhi…"

Roh dalam tubuh Yanzhi langsung bergerak, suaranya rendah dan dingin.

"Dia memotong kain bajumu diam-diam beberapa hari lalu." "Buktinya… dipersiapkan sejak awal."

Yanzhi mengepalkan tangan diam-diam… sangat kuat.

Tapi wajahnya tetap datar.

Han Ye, yang melihat kain itu, langsung maju.

"Itu tidak membuktikan apa pun! Bajunya robek beberapa hari lalu saat latihan, aku—"

Wei Ren menatapnya dingin.

"Han Ye, kau terlalu membela Yanzhi. Itu mencurigakan."

Han Ye hampir memaki.

Mo Ran menatap kain itu, lalu menatap Yanzhi.

"Yanzhi… kau benar-benar tidak—"

Yanzhi mengangkat tangan pelan.

"Bukan milikku."

Mo Ran mengerutkan kening. Ia terlihat ragu.

Wei Ren tersenyum tipis.

Wei Ren bergerak ke tengah aula dan membungkuk hormat ke para tetua.

"Para Tetua… bukti sudah cukup."

Ia menunjuk Yanzhi.

"Dua Pelahap Inti mendekatinya. Sisa aura hitam ditemukan di ruang Tetua Fan. Potongan baju miliknya ada di tempat kejadian."

Umbi beracun itu sudah tumbuh.

Tetua Lin mengangguk ragu.

"Sebenarnya… yang kau katakan tidak sepenuhnya salah…"

Han Ye langsung memotong.

"Tetua Lin! Yanzhi tidak—!"

Wei Ren menaikkan suaranya, memotong semua keraguan:

"Saya mengajukan…

penahanan Menara Penyegelan untuk Yanzhi selama penyelidikan berlangsung!"

Aula langsung riuh.

Yi menjerit, "Tidak boleh! Kalian semua salah menuduh!"

Mo Ran menatap Yanzhi, masih ragu tapi tertekan suasana.

"Yanzhi… bilang sesuatu!"

Namun Yanzhi tetap diam.

Di dalam dirinya, roh itu berbicara dengan nada pelan namun tajam.

"Jangan menolak. Mereka sudah dipengaruhi." "Kalau kau melawan sekarang… auraku pecah. Dan itu akhir semuanya."

Yanzhi menarik napas satu kali, berat.

Ia tahu… ia harus menerima dulu.

Tetua Nian menghela napas berat, lalu mengangkat tongkatnya.

Cahaya biru lembut menyebar dari ujungnya, membuat seluruh aula bergetar pelan.

"Demi keselamatan sekte… Yanzhi akan dibawa ke Menara Penyegelan untuk penahanan."

...****************...

1
Talia
semangat ya!💖
Zhenzhen: Makasih banyak ya 💕 dukungannya berarti banget buat aku/Determined/
total 1 replies
Talia
Happy New Year Author,semoga sehat-sehat selalu.
Zhenzhen: Terima kasih yaa ✨ Happy New Year juga, semoga kita semua selalu sehat dan diberi kelancaran 🌸
total 1 replies
Talia
dari pagi sampai malam aku baca sampai gak kerasa sudah Bab 41
Zhenzhen: Makasih banyak ❤️ seneng banget bacanya bisa nemenin seharian. Semoga lanjutannya tetap berasa ya ✨
total 1 replies
Talia
awalnya aku lumayan suka tapi lama-lama makin menarik
Zhenzhen: Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini 🤍 pelan-pelan ceritanya memang baru kebuka. Senang kamu ngerasainnya.
total 1 replies
Talia
mau kasian tapi Yanzhi keras kepala😅
Zhenzhen: 😄 iya, dia tipe yang susah mundur walau udah capek. Justru itu yang bikin dia sering nyakitin diri sendiri.
total 1 replies
Zhenzhen
Cerita ini ditulis dengan alur yang mengalir dan penuh tekad baru di setiap bab. Terima kasih untuk setiap pembaca yang sudah meluangkan waktu mengikuti perjalanan kisah ini./Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Talia
aku baca terus sampai gak kerasa sudah sampai sini😅
Zhenzhen: Makasih banyak ya 🥹❤️ Seneng banget bacanya sampai nggak kerasa sudah sejauh ini. Semoga bab selanjutnya tetap seru ✨
total 1 replies
Talia
aku suka alur ceritanya❤,semangat Author!
Zhenzhen: Terima kasih banyak ❤️ Komentarnya bikin semangat nulis! Senang banget kalau kamu suka alur ceritanya ✨
total 1 replies
Kustri
maaf hnya mengingatkan kata 'nggak' sebaik'a diganti 'tudak' gmn? ✌😁
Zhenzhen: Siap, makasih ya sudah diingatkan 😄🙏
total 1 replies
Kustri
yakin bisa sendiri, dgn tenaga & kekuatan yg terbatasmu?
ya sdh, smoga berhasil, jgn bikin kecewa roh api yg mendiami tubuhmu
dewi roisah
rasanya ikut tegang dan masih penasaran sama alur cerita..
Ramun🍓😈: permisi kak, siapa tahu kakak minat mampir dikaryaku yang berjudul 'Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku'

terimakasih sebelumnya 🤗💐
total 2 replies
dewi roisah
masih penasaran
Zhenzhen: Makasih yaa 🙏 lanjutannya bakal dijelasin pelan-pelan di bab berikutnya ✨
total 1 replies
dewi roisah
lanjut lagi seru serunya..
Zhenzhen: Siap! Makasih banyak, senang banget kamu menikmati ceritanya /Heart//Heart/
total 1 replies
Nanik S
Lembah Angin
Nanik S
Kepala baru memang sangat bodoh
Nanik S
Pasti Yanzhi adalah sasaran Lu Ming
Nanik S
mereka seperti teman tapi yang sat keras kepala yg satu Usil 🤣🤣🤣
Nanik S
💪💪💪👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor
Zhenzhen: Lanjut terus dong! Makasih sudah ngikutin ceritanya/Joyful//Determined/
total 1 replies
Nanik S
Benar sekali untuk apa ramah pada merdeka yang merendahkan kita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!