NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Karma yang Pindah Rumah

Kadang karma nggak datang buat menghukum. Kadang dia datang... buat jadi tetangga baru.

...Happy Reading! ...

...*****...

Aku melangkah pulang dengan tubuh yang sudah tidak bisa diajak kompromi.

Kaki lemas. Kepala pening. Mata tinggal sisa tiga watt.

Rasanya seperti habis ikut maraton tiga hari. Tanpa tidur, tanpa makan, hanya berbekal air mata dan pengharapan kosong. Tapi ini bukan soal fisik. Ini karena mental yang baru saja dirontokkan oleh kenyataan hidup.

Langit sudah gelap saat aku turun dari elf. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam.

Jalanan komplek sepi seperti suasana hati yang tidak lagi ingin diajak bercanda.

Tidak ada tetangga yang duduk-duduk sambil mengunyah tahu isi atau gorengan garing favorit mereka. Dunia sedang diam.

Atau mungkin hanya aku yang sudah terlalu lelah untuk mendengarnya.

Aku tidak punya tenaga lagi untuk menyapa siapa pun. Bahkan senyum sosial pun rasanya mahal.

Satu-satunya hal yang masih bisa kupikirkan hanya: kasur. Bantal. Selimut. Tidur.

Langkahku berat, seperti diseret. Kantuk dan lelah bersatu seperti pasangan duet yang kompak membawakan lagu perpisahan.

Aku bahkan tidak yakin apakah sedang berjalan atau sedang melayang seperti astral projection mendekati kasur impian.

Kalau ada yang bertanya kenapa aku tidak pesan ojek online saja, jawabannya sederhana: uangku nyaris habis.

Hari ini aku mengeluarkan hampir satu juta rupiah. Untuk apa? Untuk urusan cinta yang ternyata tidak cuma menguras hati, tapi juga isi dompet.

Sebagai budak korporat dengan gaji yang lebih kecil dari harga serum viral, jumlah itu bukan main-main.

Biasanya aku harus nguli berhari-hari untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.

Tapi hari ini, jumlah segitu hilang hanya demi jawaban dari seorang peramal.

Ngomong-ngomong soal peramal, aku jadi teringat Mbah Sarmini.

Saat sesi konsultasi selesai, aku sudah siap menyodorkan amplop sebagai bentuk terima kasih.

Tapi beliau malah menyuruhku memasukkan uang ke dalam kotak kecil di pojok ruangan.

Katanya uang itu untuk disumbangkan. Katanya lagi, beliau tidak pernah mengambil sepeser pun dari situ.

Kalau begitu, dari mana datangnya rumah beliau yang terlihat seperti vila healing tersembunyi di kaki gunung?

Apakah beliau memang sudah kaya sejak lahir?

Atau sebenarnya beliau adalah titisan Crazy Rich dari dimensi spiritual?

Entahlah. Otakku tidak punya daya lagi untuk menyelidiki misteri finansial seorang peramal.

Yang penting sekarang aku tahu alasan mengapa semua hubungan percintaanku gagal.

Kata Mbah Sarmini, aku kena karma.

Karma karena meninggalkan seseorang di masa lalu.

Seseorang yang katanya tidak pernah benar-benar melupakanku.

Aku masih memikirkan semua itu saat kakiku nyaris menyentuh paving rumah.

Tubuhku terus melaju. Tapi kemudian, sesuatu yang keras menghentikan langkahku.

Aku menabrak sesuatu.

Atau mungkin seseorang.

Refleks tubuhku langsung limbung. Aku siap jatuh. Biarlah. Aku tidak keberatan mencium tanah.

Tapi anehnya, punggungku tidak sakit.

Aku tidak mencium tanah.

Sebaliknya, ada sesuatu yang menahan tubuhku.

Sesuatu yang terasa kokoh. Hangat. Dan... manusiawi.

Aku membuka mata perlahan.

Cahaya lampu teras menyinari wajah seorang pria.

Rahang tegas. Sorot mata tenang. Dingin. Tapi dalam.

Waktu seakan melambat. Dunia berhenti berputar.

Aku seperti masuk ke dalam adegan slow motion drama Korea.

Kami saling menatap.

Ia menatapku seolah mengenal.

Aku menatapnya dengan rasa yang belum bisa kusebutkan.

Sejenak aku berpikir, mungkin aku sudah mati.

Mungkin ini malaikat pencabut nyawa.

Tapi apakah malaikat seganteng ini?

Tiba-tiba, suara Mama memecah keheningan.

"Caca, kamu sudah pulang?"

Aku tersentak. Langsung berdiri tegak dengan sisa energi yang nyaris habis total.

Jadi aku belum mati.

Kalau Mama bisa melihatku, berarti aku masih hidup.

Atau jangan-jangan aku berada di dunia paralel?

Mama melangkah santai, ekspresinya seperti baru saja menyaksikan adegan utama dalam drama romantis yang sukses membuatnya senyum-senyum sendiri.

"Kebetulan banget Caca pulang, dan Saka masih di sini," kata Mama dengan nada kasual.

Seolah baru saja memberi tahu kalau besok cuaca cerah.

Saka?

Aku mengulang nama itu dalam hati.

Tapi jantungku sudah lebih dulu bereaksi.

Detaknya langsung tidak sopan.

"Saka?" gumamku nyaris tidak terdengar.

Tapi tentu saja Mama mendengarnya. Dan mungkin juga pria itu.

"Iya, dia Saka yang dulu sekolah di SMA Gravia Asteria. Bukannya teman kamu juga?"

Mama tersenyum ramah. "Saka sekarang jadi tetangga baru kita. Rumah di seberang itu sudah dibeli sama dia."

Dunia seperti berhenti berputar.

Aku tidak bisa bergerak. Tidak bisa bicara.

Otakku hanya bisa memutar ulang satu informasi:

Saka. Tetangga baru. Rumah di depan.

Ini nyata?

Aku mendengar suara Mbah Sarmini di dalam kepalaku.

"Kamu mau tahu alasan kamu bisa mendapatkan karma ini?"

Aku mengangguk perlahan.

"Karena kamu sangat spesial bagi lelaki itu. Kamu adalah cinta pertamanya.

Cinta pertama itu selalu berkesan. Dan sangat sulit untuk dilupakan... bahkan sampai sekarang."

Aku menatap lagi pria di hadapanku.

Wajah itu. Tatapan itu. Semua terasa familiar.

Seolah masa lalu yang sudah kukubur, sekarang berdiri tepat di depanku dengan tubuh tinggi.

Jadi ini dia?

Lelaki yang katanya tidak pernah bisa melupakanku?

Lelaki yang sekarang tinggal hanya beberapa langkah dari pintu rumah?

Apa ini kebetulan?

Atau semesta sedang ingin bermain drama romcom dengan naskah penuh jebakan nostalgia?

Aku tidak tahu jawabannya.

Yang pasti, hidupku malam ini berubah.

Dari drama berat menjadi thriller romantis dengan plot twist yang sangat tidak terduga.

Dan yang paling penting dari semua kejadian adalah-

Kini karma itu berwujud nyata.

Berdiri di depan mata.

Bernapas.

Dan sepertinya, siap membuat hidupku jungkir balik lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!