NovelToon NovelToon
Yogyakarta Di Tahun Yang Menyenangkan

Yogyakarta Di Tahun Yang Menyenangkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Santika Rahayu

Ketika cinta datang dari arah yang salah, tiga hati harus memilih siapa yang harus bahagia dan siapa yang harus terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santika Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Sagara dan Tristan melangkah pelan di lorong kelas. Tristan masih terlihat ragu, entah kenapa dia begitu yakin Alleta pasti di dalam gudang.

“Kayaknya ada yang gak beres deh.” guman Sagara tiba-tiba.

Tristan menoleh, “Coba gue tanya Aru.” ia meraih ponselnya, menekan tombol telepon.

Nada sambung terdengar.

Beberapa detik kemudian, suara Aru muncul di seberang.

“Halo. Kenapa, Tris?”

“Ru, Alleta sama lo?”

Aru terdiam sebentar.

“Lah kan biasanya dia pulang sama Lo. Gimana sih?”

“Yaudah oke.” Tristan memutuskan panggilan tanpa banyak kata. Tangannya mengepal, napasnya mulai terasa berat.

“Alleta gak sama Aru.” ujarnya.

“Lo bilang, Nayla yang nyuruh Alleta ke depan gudang?” tanya Sagara, nadanya terdengar sangat serius.

Tristan mengangguk. “Iya.”

“Emang gak beres.” kata Sagara rendah. “Tris, kita ke gudang.”

Keduanya berbalik, kembali ke arah gudang. Disana, pak satpam baru saja hendak meninggalkan tempat itu. Ia kembali menghadang saat Sagara mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu gudang.

“Eett..., udah bapak bilang, gudang ini kosong..!”

Sagara menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, rahangnya mengeras. Matanya menatap Pak Satpam dengan tajam.

“Pak, tolong. Temen saya ke kunci di dalam.” suara Sagara rendah, tapi penuh tekanan.

Pak Satpam menggeleng cepat.

“Gak ada siapa-siapa di dalam, Nak. Apa jangan-jangan kalian mau ngapa-ngapain?”

Tiba-tiba terdengar gedoran pelan dari dalam gudang.

Duk… duk…

Pak Satpam membeku. Tristan menatap pintu itu tanpa berkedip, lalu mendekat, menempelkan telinganya ke pintu kayu.

“Al?” panggilnya pelan.

Beberapa detik hening…

lalu terdengar suara yang membuat dadanya runtuh.

“Tris… tolong…”Suara Alleta.

Lirih, serak, bergetar.

Tanpa ba-bi-bu, Tristan langsung menghantamkan tubuhnya ke pintu. Namun karena kurang aba-aba, tenaga yang dikeluarkan menjadi tidak terlalu besar.

Pemuda itu melangkah mundur beberapa langkah, “All jauhin pintunya.” serunya dari luar.

Sagara juga mengambil ancang-ancang, keduanya menegakkan bahu mereka, dengan gerakan cepat dan bersamaan lalu menghantam pintu dengan seluruh tenaga.

BRAKK!!

Pintu kayu itu terbuka, engselnya terpental entah kemana. Udara pengap dari dalam gudang langsung menyembur keluar.

Tristan berlari masuk lebih dulu.

“All!”

Di sudut ruangan yang gelap, Alleta terduduk di lantai, memeluk lutut, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, matanya sembab. Begitu melihat Tristan, air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan.

Tristan berlutut di hadapannya, tangannya langsung memegang bahu Alleta.

“Lo gak apa-apa?” suaranya serak.

Alleta menggeleng lemah, napasnya masih tersengal.

Alleta mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. Dadanya naik turun cepat, napasnya pendek-pendek seolah masih terjebak di ruang sempit itu.

“Bawa gue pulang… Gue gak mau disini.” ucapnya akhirnya, lirih.

Tristan menelan ludah, matanya memerah. Ia menggeser sedikit lebih dekat, “Udah, udah… sekarang lo aman,” bisiknya, berusaha menenangkan meski suaranya sendiri bergetar.

Sagara berdiri tak jauh dari mereka, rahangnya mengeras. Tatapannya menyapu seluruh ruangan gudang—matras berdebu, rantai karat, jendela kecil yang nyaris tak memberi cahaya, lalu kembali ke wajah Alleta.

Tristan mendekat, dia menyelipkan tangannya di bawah lutut Alleta, lalu dengan lembut mengangkat tubuh gadis itu.

Saat hendak melangkah keluar, ia menatap Sagara sesaat, wajah pemuda itu nampak datar meskipun kekhawatiran terlihat jelas di rautnya.

“Alleta phobia ruang sempit.” ujarnya pelan kemudian melangkah ke luar gudang.

...****************...

Pagi berikutnya, di kelas XI IPA 1. Nayla berjalan pelan memasuki ruang kelas. Hari ini gadis itu terlihat tidak seperti biasanya, senyumnya masam, matanya sedikit sembab–seperti habis menangis semalaman.

Ketika memasuki ruang kelas, beberapa orang menyapa seperti biasa, tapi tak satupun dia balas. Nayla sempat melirik sekilas ke arah Sagara yang sudah duduk terlebih dahulu. Hanya beberapa detik, sebelum akhirnya ia duduk di bangkunya.

Hingga beberapa menit kemudian, Tristan juga datang. Aru yang sedari tadi menunggu Alleta, melirik ke belakang Tristan.

“Alleta mana?” tanyanya, karena biasanya gadis itu selalu berangkat bersama Tristan.

“Dia gak masuk.” balas Tristan.

“Hah? Kenapa?” Aru bertanya khawatir.

Tristan menarik kursinya, duduk tanpa banyak ekspresi. Tangannya masih sedikit gemetar sejak kemarin, namun ia menahannya sekuat mungkin.

“Dia masuk rumah sakit,” jawabnya singkat.

Aru langsung berdiri setengah dari duduknya.“Alleta kenapa?”

Tristan terdiam beberapa detik. Ia melirik ke arah Nayla yang baru saja duduk di bangku depan. Gadis itu menunduk, jarinya terus memainkan ujung lengan seragamnya.

“Phobianya kambuh, ada yang kunciin dia di gudang kemarin,” ucap Tristan akhirnya, suaranya langsung mengalihkan perhatian seisi ruang kelas.

Wajah Aru langsung berubah.“Gimana? Kok bisa?!”

Dari bangku depan, Nayla berhenti bergerak. Bahunya menegang.

Bugg...

Sagara bangkit dari kursinya sembari mendepak meja, semua orang sontak terdiam. Mata semuanya tertuju pada dirinya, pemuda bermata elang itu melangkah ke arah Nayla.

Beberapa langkah, ia akhirnya berdiri di sebelah gadis itu.

“Ikut gue bentar.” katanya datar.

Nayla berusaha tersenyum, meski terlihat getir. “Ngapain?” tanyanya.

“Gue perlu bicara berdua sama lo.” balas Sagara singkat.

Nayla berdiri, ia mengikuti Sagara–melangkah ke luar kelas.

Beberapa siswa menoleh dengan penasaran, bisik-bisik mulai terdengar pelan di antara bangku-bangku kelas.

“Eh… ada apa tuh?”

“Kayaknya serius banget…”

Tristan menatap punggung mereka yang menjauh. Aru masih berdiri kaku di samping meja, jelas belum bisa mencerna apa yang baru saja ia dengar.

Di lorong kelas.

Sagara berjalan cepat tanpa menoleh. Nayla mengikutinya di belakang, langkahnya ragu-ragu. Begitu mereka sampai di ujung lorong yang sepi, Sagara berhenti.

“Lo mau ngomong apa?” tanya Nayla yang juga berhenti di belakang pemuda itu.

Sagara berbalik. “Lo mau ngaku sendiri, atau gue yang lapor BK?” ujar Sagara to the point.

Jantung Nayla berdetak lebih cepat, “Maksud Lo apa ya?”

“Lo yang kunci Alleta di gudang kan?” Nada bicara pemuda itu terdengar rendah.

“Enggak.., kan kemarin gue nyari Lo ke parkiran. Lo gak inget?”

Sagara menatap Nayla tanpa berkedip. Tatapan itu dingin, tajam, dan sama sekali tidak memberi ruang untuk mengelak.

“Gue inget,” jawabnya pelan. “Dan itu gak menutup kemungkinan Lo yang ngelakuin.”

Nayla mengeratkan genggaman pada roknya. “Sa… gue cuma nyuruh dia ke depan gudang. Itu aja. Gue gak pernah ngunci. Serius.”

“Gudang itu dikunci dari luar,” potong Sagara. “Dan kuncinya udah ilang dari kemarin. Jadi gak mungkin itu kejadian gak sengaja.”

Nayla terdiam. Napasnya sedikit memburu. Matanya bergerak ke lantai, lalu kembali ke wajah Sagara.

“Terus? Atas dasar apa Lo nuduh gue?” Mata gadis itu kembali berkaca-kaca.

“Gue emang gak suka sama Alleta, karena dia berhasil curi hati Lo. Tapi gue gak sekejam itu Sa.” lanjut Nayla lagi.

Sagara menatap Nayla lama, “Oke. Tapi awas aja, kalau sampe lo ketahuan terlibat, gue bakal bikin lo hilang dari sekolah ini.” kata Sagara rendah.

Pemuda itu langsung melangkah meninggalkan Nayla.

Sementara gadis itu, napasnya memburu menahan amarah.

“Hisss....” Ia mengacak rambutnya dengan frustasi.

“Awas aja Lo Alleta, gue gak akan biarin lo rebut semuanya dari gue.” lirihnya.

...****************...

Setelah satu malam di rumah sakit karena demam tinggi akibat panik, Alleta akhirnya dipulangkan.

Gadis itu baru saja sampai di kediamannya, saat mendapati Bu Indi bersama Tristan, Sagara, dan Aru sudah duduk di ruang tamu.

Terlihat juga, bi Maya yang tengah menghidangkan teh untuk mereka.

Bu Indi langsung berdiri begitu melihat Alleta masuk dengan langkah pelan.Wajahnya yang sejak tadi tegang seketika melunak.

Sekar dan Bagas yang berdiri mendampingi Alleta, menuntun gadis itu untuk duduk di kursi ruang tamu.

Bu Indi tersenyum, “Selamat sore. Perkenalkan, saya wali kelasnya Alleta.” kata Bu Indi, berjabat tangan dengan Bagas kemudian dengan Sekar.

“Oh, iya. Silahkan.” balas Bagas, mempersilahkan agar Bu Indi dan yang lain kembali duduk.

“Gimana keadaan kamu Alleta?” Bu Indi menatap lembut ke arah Alleta.

“Udah baikan bu.” jawab Alleta dengan suaranya yang masih sedikit lelah.

Bu Indi mengangguk, dia kemudian menoleh ke arah kedua orang tua Alleta, “Kedatangan saya kesini, ingin meminta maaf karena sebagai wali, saya tidak ada di tempat saat kejadian.”

Bagas mengangguk pelan.

“Kami paham, Bu. Kejadian seperti ini di luar dugaan siapa pun.”

Sekar meraih tangan Alleta di atas pangkuannya, menggenggamnya erat. “Yang penting sekarang Alleta sudah di rumah, dia juga udah baik-baik aja.”

Bu Indi menarik napas, lalu kembali menatap Alleta.“Ibu juga datang bukan cuma untuk minta maaf. Ibu mau pastikan, apa yang terjadi kemarin tidak akan dianggap sepele.”

Suasana kembali hening. Tristan Sagara dan Aru hanya diam, membiarkan Bu Indi menyelesaikan perkataannya.

“Ibu sudah cek cctv, pelakunya sudah ditemukan, besok dia akan dipanggil ke ruang BK, dan akan diberi peringatan keras.” lanjut Bu Indi.

Tiga orang yang duduk di sebelah Bu Indi mendadak serius, “Siapa pelakunya Bu?” tanya Aru.

Bu Indi mengeluarkan ponselnya, membuka rekaman cctv, ia kemudian menunjukkan itu pada Aru, Tristan dan Sagara sedikit memiringkan kepala, melihat isi video itu.

Rahang mereka mendadak mengeras, di video itu tampak seorang pemuda yang mendorong Alleta masuk ke gudang lalu menguncinya.

Pemuda itu sempat menunggu beberapa saat di depan pintu, namun dia langsung berlari kencang saat Sagara dan Tristan mendekat.

“Bukan Nayla?” guman Sagara dalam hati.

Bu Indi kemudian menyerahkan ponselnya pada Alleta, menunjukkan video tersebut. Alleta menontonnya dengan seksama, hingga ketika melihat wajah pemuda itu, nafasnya tercekat.

“Dikta?”

“Iya.” Bu Indi menghela napas.“Ibu emang sempat suruh Nayla panggil kamu ke gudang, ibu mau tanya perlengkapan Pramuka kelas kita yang mana, karena mau dipake buat yang ikut lomba, waktu itu kan kamu yang taruh.”

Semuanya terlihat fokus menyimak.

“Tapi gak jadi, karena kata pak Satpam kunci gudangnya hilang, ibu udah kirim chat ke Nayla tapi mungkin gak dibaca.” tutur Bu Indi lagi.

“Kok bisa-bisanya Dikta kayak gitu, padahal kan dia suka sama Alleta?” Aru bergumam, dia benar-benar tidak habis pikir.

Sagara terlihat tertegun, ada sedikit rasa bersalah karena dia sudah menuduh Nayla yang melakukan itu. Tapi entah kenapa dia begitu yakin Nayla terlibat.

...Bersambung......

...–Kamu adalah ketidakmungkinan, yang sedang aku paksakan–...

^^^~Nayla Kartika~^^^

1
butterfly
lanjut thor 💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪
Lilis N Andini
siapa pelakunya?nayla apa dikta...lanjut thor🙏
butterfly
lanjut thor 💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
Lilis N Andini
semangat thor/Coffee/
butterfly
lanjut thor 💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Siti Nina
Kasian de lo Nayla niat hati ingin mempermalukan Alleta eehh,,,malah dirinya yg sakit hati 😄
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
butterfly
cerita nya seru
Lilis N Andini
happy new year jg buat author cantik...makasih udah update/Heart/🙏
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪 seru cerita nya
Sant.ikaa
haii reader kesayangan author, kalau ada typo mohon maaf ya, maklum author manusia bukan nabi boyy
Siti Nina
klw bisa dua" nya Thor gak bisa milih 😄
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
Siti Nina
Oke ceritanya 👍👍👍
Siti Nina
Tristan kaya nya mengidap penyakit serius deh kasian Tristan udh pilih dua" nya aja 😄
Siti Nina
Klw bisa dua" nya kenapa harus pilih satu 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!