Embun Nadhira Putri, 28 tahun, terjebak antara tuntutan pekerjaan dan desakan keluarganya untuk segera menikah. Ketika akhirnya mencoba aplikasi kencan, sebuah kesalahan kecil mengubah arah hidupnya—ia salah menyimpan nomor pria yang ia kenal.
Pesan yang seharusnya untuk orang lain justru terkirim kepada Langit Mahendra Atmaja, pria matang dan dewasa yang tidak pernah ia pikirkan akan ia temui. Yang awalnya salah nomor berubah menjadi percakapan hangat, lalu perlahan menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.
Di tengah tekanan keluarga terutama sang Mama, rutinitas yang melelahkan, dan rasa takut membuka hati, Embun menemukan seseorang yang hadir tanpa diminta.
Dan Langit menemukan seseorang yang membuatnya ingin tinggal lebih lama.
Terkadang takdir tidak datang mengetuk.
Kadang ia tersesat.
Kadang ia salah alamat.
Dan kali ini…
takdir menemukan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lacataya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 – Denial
Acara akhirnya resmi dimulai. Lampu utama aula diredupkan perlahan, musik pembuka mengalun rapi dari sound system yang—syukurnya—kali ini tidak lagi berdecit, dan MC membuka rangkaian anniversary ke-20 PT Global Farmasi dengan suara mantap yang menggema hangat di seluruh ruangan. Para tamu undangan duduk tenang di kursi masing-masing, sorot mata mereka mengarah ke panggung besar yang kini menjadi pusat perhatian.
Namun tidak dengan Langit.
Ia duduk tegak di meja VIP, jasnya rapi, kedua tangan bertaut santai di atas paha, ekspresi wajahnya tenang seperti seorang CEO yang sedang menilai sebuah presentasi penting. Tapi jika diperhatikan lebih lama—dan Papi Arga tentu memperhatikannya—arah pandang Langit sama sekali tidak tertuju ke layar LED besar di panggung, bukan pula ke MC yang sedang berbicara penuh semangat, melainkan ke sisi kanan aula, tepat di dekat panggung, tempat seorang perempuan berdiri sambil menggenggam HT.
Embun.
Ia berdiri sedikit menyamping, tubuhnya condong ke arah kru panggung, jari-jarinya cekatan menekan tombol HT sambil memberi instruksi dengan suara rendah namun jelas, sesekali mengangguk kecil ketika mendapat konfirmasi, lalu melangkah dua tiga langkah untuk memastikan sesuatu berjalan sesuai rencana sebelum kembali ke posisi awal. Gerakannya cepat, efisien, dan penuh fokus—jelas terlihat bahwa pikirannya sepenuhnya berada pada kelancaran acara, bukan pada siapa yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Langit, tanpa sadar, mengikuti setiap pergerakan itu dengan tatapan yang terlalu konsisten untuk disebut kebetulan.
Papi Arga, yang duduk di sebelahnya, menangkap arah pandang itu tidak sampai satu menit sejak acara dimulai. Ia menggeser tubuhnya sedikit, mengikuti garis mata putranya, lalu melihat sosok Embun yang sibuk hilir mudik di dekat panggung dengan headset kecil di telinga dan HT di tangan.
Alis Papi Arga terangkat perlahan, bukan karena terkejut, melainkan karena menemukan sesuatu yang… menarik.
“Jadi,” ucapnya santai, tanpa mengalihkan pandangan dari depan, “kantornya Embun di sini?”
“Iya,” jawab Langit singkat.
Jawaban itu keluar begitu alami, begitu refleks, sampai Langit sendiri baru menyadari bahwa ia menjawab tanpa berpikir dan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Embun.
Papi Arga menahan senyum. Ia memiringkan kepala sedikit, lalu melontarkan kalimat berikutnya dengan nada yang sengaja dibuat ringan, nyaris seperti komentar biasa.
“Embun… cantik ya, Lang?”
“Iya.”
Jawaban itu keluar lebih cepat dari sebelumnya. Dan baru setelah kata itu meluncur bebas dari bibirnya, Langit tersadar.
Ia menoleh cepat ke arah Papi Arga, alisnya berkerut tipis, nada suaranya langsung berubah defensif meski berusaha tetap datar.
“Eh—maksud Papi apa barusan?”
Papi Arga menoleh santai, menatap panggung dengan ekspresi seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu menjawab dengan wajah polos yang terlalu dibuat-buat.
“Enggak apa-apa,” katanya ringan, sambil menahan senyum yang hampir lolos. “Acaranya bagus.”
Langit mendengus pelan, kembali menatap ke depan—atau lebih tepatnya, kembali menatap Embun—sementara Papi Arga bersandar nyaman di kursinya, menikmati momen langka di mana putra dinginnya bereaksi lebih cepat dengan hati daripada dengan logika.
Sepanjang acara berlangsung, Embun hampir tidak pernah benar-benar diam. Ia berpindah dari satu titik ke titik lain, memastikan alur berjalan sesuai rundown, memberi isyarat halus ke MC saat waktunya transisi, mengingatkan kru panggung tentang lighting, dan sesekali menghampiri meja VIP hanya untuk memastikan kebutuhan tamu kehormatan terpenuhi sebelum kembali menghilang ke balik layar panggung.
Setiap kali ia lewat, Langit kembali mengangkat pandangan.
Setiap kali suara Embun terdengar melalui HT atau langsung di dekatnya, Langit kembali merasa ada getaran aneh yang sulit ia jelaskan.
Dan setiap kali mata mereka tanpa sengaja bertemu dari kejauhan, Embun selalu cepat-cepat mengalihkan pandangan—bukan karena tidak sopan, melainkan karena jantungnya tidak cukup kuat untuk menahan tatapan itu terlalu lama.
Hingga akhirnya, setelah sambutan terakhir selesai, musik penutup diputar, dan para tamu mulai berdiri serta saling berbincang, acara anniversary ke-20 PT Global Farmasi resmi berakhir dengan sukses.
Embun, yang sejak pagi berdiri lebih lama daripada duduk, akhirnya menghampiri meja VIP bersama Papi Arga dan Langit, wajahnya lelah tapi bahagia, senyum lebarnya terbit tanpa perlu dipaksakan.
“Terima kasih banyak, Pak, sudah berkenan datang,” ucapnya sopan, suaranya lembut namun jelas, dengan senyum pepsodennya yang terang.
Papi Arga langsung membalas dengan hangat. “Acaranya sangat sukses,” katanya tulus, lalu menatap Embun dengan ekspresi bangga. “Embun, selamat, ya. Tidak semua orang bisa mengatur acara sebesar ini dengan sebaik itu.”
“Terima kasih, Pak,” jawab Embun, sedikit menunduk.
“Sampai ketemu Selasa di gedung Atmaja,” lanjut Papi Arga, nadanya ringan tapi mengandung makna besar.
“Tentu, Pak,” jawab Embun cepat, matanya berbinar penuh semangat. “Jam setengah delapan saya sudah pasti sampai di gedung Atmaja.”
Papi Arga mengangguk puas, lalu melangkah sedikit ke belakang, memberi ruang.
Dan di momen itu, Langit akhirnya berbicara—atau lebih tepatnya, tidak banyak bicara sama sekali.
Ia hanya mengangguk pelan, bertemu mata dengan Embun sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya, sorot matanya dalam dan tenang, seolah ingin mengatakan banyak hal tanpa satu pun terucap.
Embun membalas anggukan itu dengan senyum kecil, lalu berbalik untuk kembali ke panitia lain.
Namun detik singkat tatapan itu cukup untuk membuat Langit berdiri lebih lama di tempatnya, dadanya terasa sedikit lebih hangat dari sebelumnya, sementara satu nama terus berputar pelan di kepalanya—bukan hanya sebagai calon karyawan, bukan hanya sebagai perempuan jenius…
melainkan sebagai suara yang semakin sulit ia sangkal kemiripannya dengan Miss.
**
Mobil hitam itu melaju tenang meninggalkan area parkir PT Global Farmasi, menyatu dengan lalu lintas malam Jakarta yang mulai melambat, sementara di dalam kabin hanya terdengar dengungan mesin halus dan sesekali suara lampu sein yang berpendar lembut di dashboard. Langit duduk bersandar di jok belakang, satu tangan menopang pelipis, jasnya sudah dilepas dan terlipat rapi di samping, namun pikirannya sama sekali tidak ikut pulang.
Sepanjang acara tadi, ia tidak benar-benar menonton. Tidak benar-benar mendengar sambutan. Tidak benar-benar mencatat apa pun yang seharusnya ia evaluasi sebagai tamu kehormatan.
Yang ia ingat justru potongan-potongan kecil yang terus berulang di kepalanya.
Suara perempuan itu. Suara Embun.
Beberapa kali ia mendengarnya dari HT para panitia yang kebetulan berdiri tidak jauh darinya—suara yang keluar lewat speaker kecil itu terdengar lebih keras, lebih datar, lebih terkompresi, jelas berbeda dengan suara yang biasa ia dengar dari ponsel ketika berbicara dengan Miss. Langit tahu betul perbedaannya; ia paham teknologi, ia paham bagaimana perangkat bisa mengubah frekuensi dan tekstur suara.
Namun ada momen-momen tertentu—hanya sekilas, hanya sepersekian detik—ketika Embun menurunkan nada di akhir kalimat, ketika ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan instruksi, ketika suaranya melembut tanpa ia sadari… dan di sanalah Langit merasa ada kemiripan yang terlalu presisi untuk sepenuhnya diabaikan.
Bukan suara keseluruhannya. Bukan volumenya. Bukan juga kejelasannya. Melainkan intonasi kecil yang hanya muncul saat seseorang sedang tidak menjaga jarak dengan dirinya sendiri.
Langit menghela napas panjang, menatap pantulan lampu kota di kaca jendela.
‘Ini cuma kebetulan’, katanya dalam hati, mencoba rasional. ‘Banyak orang punya intonasi mirip. Banyak suara terdengar sama kalau kita sudah terlalu sering memikirkannya.’
Namun pikirannya yang lain—yang lebih jujur—membalas pelan.
‘Atau kamu cuma belum berani mengaku kalau ada kemungkinan lain.’
Ia menggeleng kecil, seperti menolak pikiran itu. Belum. Belum sekarang. Belum tanpa bukti yang nyata.
Tangannya meraih ponsel di saku jas, membuka layar, menatap nama yang masih tersimpan sederhana: Miss
Ia tidak menelpon. Tidak mengirim pesan. Ia hanya menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu mematikan layar kembali.
‘Mungkin ini memang cuma kebetulan,’ batinnya lagi. ‘Atau mungkin… takdir itu sedang main-main dengan cara yang terlalu rapi.’
Mobil terus melaju, meninggalkan gedung Global Farmasi di belakang, namun satu nama tertinggal di kepala Langit, berputar pelan tanpa izin.
**
Embun tiba di rumah dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya, bahunya terasa berat, telapak kakinya pegal, dan kepalanya dipenuhi sisa-sisa suara, cahaya, dan tatapan dari seharian penuh yang terlalu intens untuk diurai satu per satu. Ia meletakkan tas di kursi, menanggalkan sepatu tanpa rapi, lalu menjatuhkan diri ke sofa dengan napas panjang yang baru terasa setelah pintu tertutup rapat.
Belum sempat ia benar-benar memejamkan mata, ponselnya bergetar di genggaman.
Nama itu muncul lagi. Mr. Don’t Know
Embun tersenyum kecil tanpa sadar, rasa lelahnya seperti sedikit tersisih oleh sesuatu yang lebih hangat. Ia menggeser tombol panggilan, menyandarkan kepala ke sofa, membiarkan suara itu mengalir ke telinganya.
“Dari suara lo, kayaknya capek banget?” suara Mister terdengar lembut, seperti sudah tahu jawabannya.
“Huum, lumayan capek, dikantor ada acara,” jawab Embun jujur, nadanya turun tanpa filter. “Hari ini rasanya panjang banget.”
“Acaranya sukses?” tanya Mister, santai tapi perhatian.
Embun mengangguk, lalu tertawa kecil. “Sukses… tapi chaos. Kayak hidup gue akhir-akhir ini.”
Mereka tertawa ringan, lalu mengobrol tentang hal-hal acak yang tidak berat—tentang gosip artis yang baru viral, tentang iklan aneh yang muncul di timeline, tentang betapa absurdnya dunia kerja ketika semua orang panik dan satu orang lupa bawa charger. Obrolan itu mengalir alami, nyaman, sampai beberapa kali Embun hampir—hampir saja—menyebut nama seseorang dari acara tadi, tapi selalu berhasil menahan diri di detik terakhir.
Ada satu momen ketika Mister berkata, “Lo tuh kedengerannya… hangat kalau capek.”
Dan Embun terdiam sepersekian detik terlalu lama sebelum menjawab, “Ah, masa sih.”
Mister tertawa pelan, lalu mengalihkan topik, seolah tidak ingin membuat suasana berubah terlalu dekat.
Setelah panggilan itu berakhir, Embun masih memegang ponselnya, menatap layar kosong beberapa detik sebelum akhirnya membuka aplikasi chat dan masuk ke grup yang sudah lama menjadi tempat paling aman baginya.
Tiga Peri Tanpa Sayap
Embun mengetik pelan, masih dengan sisa senyum tipis.
Embun : Besok minggu ketemuan di cafe biasa ya. Gue butuh kalian.
Tidak sampai satu menit, dua balasan masuk hampir bersamaan.
Bia: Oke.
Lona: Oke.
Singkat. Padat. Dan cukup.
Embun tersenyum lebih lebar kali ini, meletakkan ponsel di dada, lalu memejamkan mata.
Di dua tempat yang berbeda, di dua dunia yang seharusnya terpisah, dua orang itu mengakhiri malam dengan pikiran yang hampir serupa—tentang kebetulan yang terasa terlalu rapi, tentang suara yang terasa terlalu familiar, dan tentang perasaan yang belum berani diberi nama.
**
Café itu tidak pernah berubah, seolah waktu sengaja melambat setiap kali mereka bertiga duduk di meja yang sama. Meja kayu dekat jendela dengan pemandangan trotoar kecil, kursi rotan yang sedikit berderit kalau digeser, aroma kopi yang terlalu akrab untuk dianggap istimewa, dan playlist akustik yang selalu terdengar seperti latar dari percakapan panjang yang jujur.
Embun datang terakhir, langkahnya sedikit lebih pelan dari biasanya, raut wajahnya terlihat lelah tapi juga menyimpan sesuatu yang belum ia ceritakan. Bia sudah duduk rapi dengan secangkir americano di depannya, postur tubuhnya tenang, tatapan matanya tajam namun hangat seperti biasa. Lona duduk menyamping di kursinya, kaki disilangkan, sedotan minumannya belum tersentuh karena fokusnya langsung jatuh ke wajah Embun sejak detik pertama.
“Lo keliatan capek,” ujar Lona sambil menyipitkan mata. “Tapi capek yang aneh. Bukan capek kerja doang.”
Embun terkekeh kecil, menjatuhkan tas ke kursi sebelah, lalu duduk sambil menghela napas panjang yang seolah baru boleh keluar setelah seminggu ditahan. “Capek hidup, Lon.”
Bia mengangkat alis sedikit, menyeruput kopinya dengan gerakan tenang, lalu meletakkan cangkir kembali ke tatakannya. “Oke,” katanya pelan. “Cerita.”
Embun tersenyum kecil, mengaduk minumannya meski gula sudah larut sejak tadi. Ia memandang permukaan gelas, seolah jawaban-jawaban ada di sana. “Jadi… gue diterima kerja di tempat baru.”
“Finally,” sahut Lona cepat. “Congrats.”
“Congrats,” Bia mengangguk, nada suaranya tulus. “Terus?”
Embun menghela napas lagi, kali ini lebih pendek. “Calon Bos gue… aneh.”
Lona langsung bersandar lebih ke meja. “ANEH GIMANA?”
“Bukan aneh aneh,” Embun buru-buru meluruskan, tangannya terangkat sedikit seperti ingin meredam ekspektasi. “Lebih ke… bikin gue bingung.”
Bia tidak langsung bicara. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, memperhatikan cara Embun memilih kata, memperhatikan jeda-jeda kecil yang tidak biasa. “Bingung karena apa?”
Embun diam sejenak, lalu akhirnya berkata, suaranya pelan tapi jujur, “Suaranya.”
Dua pasang mata langsung menatapnya. “Suaranya?” ulang Lona, skeptis. “Maksud lo… suaranya kenapa?”
Embun mengangkat bahu, mencoba terdengar santai meski jarinya menggenggam sendok terlalu erat. “Mirip seseorang.”
Bia tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya mengangguk kecil. “Seseorang yang lo kenal?”
Embun mengangguk. “Iya.”
Lona mendengus kecil. “Cowok?”
Embun tersenyum kecut. “Iya.”
Dan di situ, Bia mulai curiga. Bukan dari jawabannya. Tapi dari cara Embun tidak langsung menertawakannya seperti biasanya.
“Calon Bos lo ini,” Bia melanjutkan dengan nada tenang, “cara bicaranya gimana?”
Embun berpikir sebentar. “Tenang. Rendah. Kalau ngomong gak pernah teriak, tapi bikin orang dengerin. Terus… ada jeda kecil sebelum dia jawab, kayak mikir dulu, tapi bukan ragu. Mirip kaya si Mister” embun maulai menghela nafas “Tapi gue ragu”
Bia meletakkan cangkirnya perlahan. Tidak menyela. Tidak berkomentar. Hanya mencatat di kepalanya.
Lona, yang tidak punya filter setipis tisu, langsung menyambar, “Oke, stop. Lo yakin ini bukan cowok Mister lo itu?”
Embun refleks menggeleng, terlalu cepat. “Kayanga enggak. Enggak mungkin.”
“Kenapa enggak mungkin?” kejar Lona, alisnya terangkat tinggi.
“Karena…” Embun berhenti. Menarik napas. “Karena gue sadar, orang kaya Calon Bos gue ini gak mungkin mau ngekakuin hal hal remeh kaya salah voice note gini, dan gue gak mau bikin diri gue sendiri malu.”
Kalimat itu jatuh di meja seperti batu kecil ke air tenang. Bia membeku. Bukan karena terkejut. Tapi karena mengenali.
Ia menatap Embun lebih lama kali ini, tatapan yang bukan menghakimi, melainkan memahami sesuatu yang bahkan Embun sendiri belum sepenuhnya sadari.
“Jadi,” Bia berkata pelan, “sebenarnya lo curiga.”
Embun tidak menjawab langsung. Ia mengaduk minumannya lagi, meski es sudah hampir habis. “Sedikit,” akunya akhirnya. “Di beberapa Teksturnya ada perbedaan. Volumenya juga beda, Bi.”
Bia mengangguk. “Tapi?”
“Tapi ada intonasi tertentu,” lanjut Embun lirih, “yang sama.”
Lona bersiul kecil. “Nah, itu dia.”
Embun menatap Lona tajam. “Gue bilang jangan lebay.”
“Gue gak lebay,” Lona nyengir. “Gue realistis. Dan jujur aja, hidup lo tuh lagi masuk fase drama romantis yang klasik banget.”
Bia akhirnya bersuara lagi, suaranya rendah dan tenang, seperti menyimpulkan sesuatu tanpa memaksakan. “Embun,” katanya, “gue gak bilang itu dia. Gue juga gak bilang bukan.”
Embun mengangkat wajahnya.
“Tapi satu hal,” lanjut Bia, “kalau lo sampai takut salah orang cuma karena lo gak mau malu… itu artinya perasaan lo udah ikut main, entah ke siapa.”
Embun terdiam. Lona ikut terdiam, meski jarang. Kata-kata itu tidak keras. Tidak menghakimi. Tapi tepat.
Setelah beberapa detik, Embun tersenyum kecil, getir tapi jujur. “Makanya gue mau santai aja dulu. Gue gak mau narik kesimpulan. Gue gak mau berharap. Gue gak mau bikin skenario di kepala gue sendiri.”
Bia mengangguk pelan. “Itu pilihan yang bijak.”
Lona mengangkat gelasnya. “Tapi kalau ternyata beneran dia…”
Embun cepat memotong, “Belum tentu.”
Bia tersenyum samar, lalu berkata lembut, “Kalau belum tentu, berarti ada kemungkinan.”
Embun menutup wajahnya sebentar dengan kedua telapak tangan, lalu tertawa kecil, pasrah. “Kalian tuh ya, bahaya banget.”
“Walau kita besti dan tempat kerja kita beda beda,” Lona menyeringai. “Tapi insting kita tajam.”
**
tbc
apalgi pas critanya dgantung setinggi harapan readernya.. byuhh sensasinya... wkwkwkkkkk,..
tp jgn lambat2 bgt jg yg Thor biar smkin byk yg baca krn kebanyakn reader baru suka alur cerita yg sat set.. cemungutttt author... 💪❤