Semua berawal dari rasa percayaku yang begitu besar terhadap temanku sendiri. Ia dengan teganya menjadikanku tumbal untuk naik jabatan, mendorongku keseorang pria yang merupakan bosnya. Yang jelas, saat bertemu pria itu, hidupku berubah drastis. Dia mengklaim diriku, hanya miliknya seorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusi Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Seperti yang diucapkan oleh Evelyn beberapa hari yang lalu, dia benar-benar selalu datang. Bahkan hampir tiap hari, hanya untuk bertanya apakah aku baik-baik saja.
Tapi aku tidak merasa risih, justru aku senang karena akhirnya aku memiliki seorang adik sekaligus teman. Kepribadiannya hampir mirip dengan Addie. Ah, mengingat nama itu, membuatku jadi sedih dan sedikit merindukannya.
Evelyn akan datang kesini ketika tidak ada Elbarra dirumah. Tepatnya saat suamiku itu pergi bekerja. Jadi kami bisa leluasa dan bebas untuk bicara dan melakukan sesuatu. Jika ada Elbarra, dia pasti akan melarang ini dan itu.
"Apa kau mendengar kabar dari Colt?"
Aku menoleh, lalu menggeleng. "Memangnya apa yang terjadi dengannya?"
"Dia di tangkap polisi!"
"Benarkah? Tapi kenapa?" Aku benar-benar terkejut mendengarnya.
Adik iparku itu mengunyah sisa sosisnya lebih dulu, sebelum menjawab pertanyaanku. "Dia mengonsumsi narkoba. Bahkan, sudah sampai kecanduan. Dia sering membuat onar dan merugikan banyak pihak. Oleh sebab itu, ada yang melaporkannya."
Sudah lama tidak terdengar tentangnya, sekalinya ada kabar justru menyedihkan. Takdir memang sudah ditentukan, tapi hidup kita yang menentukan sendiri.
"Sudahlah, Eve. Jangan membahasnya! Jika Elbarra mendengar, dia akan menjadi marah."
Evelyn mengangguk setuju. Gadis itu melanjutkan kembali kegiatan makanannya. Disaat termenung, tiba-tiba ponselku berdering di atas meja. Tertera nama Mama di layar pipih itu.
"Hallo, Maa.." ucapku setelah menekan tombol hijau.
^^^"Hallo, Si.. Ini Bik Nurul."^^^
Aku sedikit terkesiap. Kenapa bibik tetanggaku yang menelponku menggunakan ponsel Mama?
"Ada apa, Bik? Mama kemana?"
^^^"Mama-mu di rawat di Rumah Sakit, Si!"^^^
Nafasku tercekat. Dadaku terasa sesak setelah mendengarnya. Berbagai pertanyaan terlintas di otakku, apa yang terjadi pada Mama?
^^^"Si, kamu masih disana?"^^^
"Ah iya, Bik. Tolong jaga Mama dulu yaa, aku pulang ke Indonesia sekarang."
Tutt!
Wajahku terlihat linglung, Evelyn yang menyadarinya langsung menyentuh bahuku pelan. "Ada apa, Si? Apa yang terjadi pada Mama-mu?"
Aku menggeleng, "Aku harus pulang ke Indonesia, Eve. Sekarang!"
Tanpa menunggu jawaban dari Evelyn, aku segera berlari menuju lift. Aku ingin mempersiapkan barang yang harus kubawa pulang. Berulang kali aku mengusap dadaku yang terasa berdebar.
Tunggu aku, Ma. Aku segera menemuimu!
Hampir 30 menit lamanya aku berada di dalam kamar membereskan koper miniku, tak kudengar lagi suara Evelyn. Mungkin dia sudah pulang, pikirku.
Jika Evelyn masih disini, tak mungkin ia tidak menyusulku ke atas.
"Sayang?" Elbarra membuka pintu seraya melangkah masuk. Wajahnya nampak khawatir.
"Kenapa kau pulang?" tanyaku dengan wajah bingung.
"Menurutmu?" Suamiku mendekat lalu memeluk tubuhku erat. "Evelyn tadi menelponku, katanya kau ingin pulang ke Indonesia. Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?"
"Mama masuk rumah sakit, El.." lirihku.
"Apa yang terjadi pada Mama? Mama sakit apa?"
Suamiku ini memberondong begitu banyak pertanyaan kepadaku, padahal aku juga tidak tahu Mama sakit apa. Karena ingin memastikan, mangkanya aku mau pulang saja.
"Entahlah, El." Aku melepaskan pelukan kami, kutarik tangan Elbarra agar duduk di sofa yang berada di Wall-in closet.
"Bolehkan aku pulang? Sebentar saja!" pintaku memelas.
"Dasar bodoh!" Elbarra mencubit pipiku gemas, "Kenapa aku harus melarangmu? Tentu saja kau harus pulang untuk menjaga Mama."
Seulas senyum simpul terpancar di wajahku. Aku langsung memeluk tubuhnya, hangat dan nyaman. "Terima kasih, Suamiiii..."
"Sama-sama, Cantik."
...****************...
Kupikir aku akan pulang sendiri, ternyata Elbarra bersama adiknya membuntutiku. Evelyn bahkan rela mengambil cuti selama seminggu agar bisa menemaniku untuk balik ke Indonesia.
Gadis itu sedang duduk di sampingku, mataku tak sengaja melirik apa yang sedang ia lakukan. Rupanya Evelyn sedang mencari tahu tentang wisata dan kuliner yang ada di negara asalku.
Aku tersenyum kecil, adik iparku ini menggemaskan sekali. Apalagi saat memasang wajah bingung. Jika aku merupakan seorang pria, mungkin aku sudah jatuh cinta terhadapnya.
Tak ingin mengganggu aktivitas Evelyn, aku melangkah pergi untuk menghampiri suamiku yang sedang mengecek beberapa urusan pekerjaannya.
"Lagi sibuk kah?"
Elbarra mendongak, ia tersenyum lalu menggeleng. "Kemarilah!"
"Maaf, El. Kau harus ikut denganku, padahal pekerjaanmu sedang banyak-banyaknya." Aku sedikit merasa bersalah, pekerjaan Elbarra jadi double karenaku.
"Its okey, Dear. Pekerjaanku bisa di kerjakan nanti-nanti, namun menemani kemanapun kau pergi tidak boleh di tunda."
Aih, dia ini. Selalu saja berhasil membuatku tersipu malu. Andai saja aku menikah denganmu dari dulu, El. Mungkin hidupku jauh lebih sempurna.
Aku memeluk lengannya sambil meletakkan daguku di bahu kekarnya itu. "Kau memang yang terbaik, El."
Dia terkekeh, Elbarra mendekatkan wajahnya denganku. Aku sudah siap-siap menutup mata, dan menunggunya untuk menciumku. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mendaratkan bokongnya di kursi tepat di depanku dan Elbarra.
Seketika aku membuka mata, terdapat Evelyn yang sedang menatap jengah kearah kami.
"Haruskah kalian melakukannya disini?"
"Ini pesawat pribadiku, jadi aku bebas melakukannya dengan istriku!" tukas Elbarra tajam.
"Yayaya, terserah kau saja!" Evelyn kembali memainkan ponselnya. Ia nampaknya sudah mulai bosan.
"Aku juga heran, kenapa kau selalu mengikuti kemana pun istriku pergi? Tidakkah kau memberi kami sedikit privasi?"
Gadis tersebut tak mengindahkan ucapan suamiku. Ia sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Sudahlah, El. Biarkan Evelyn melakukan apa yang dia suka!" Aku menenangkan Elbarra sembari mengusap-usap dadanya.
"Tapi dia menjengkelkan, Sayang..." rengek Elbarra dengan wajah kesalnya.
Aku tidak bisa untuk tidak tertawa, "Tidak apa-apa, Sayang. Anggap saja kita sudah memiliki anak, dan itu dirinya."
Elbarra berdecak sebal, tapi tak urung menurut. Ia kembali fokus pada pekerjaanya, dan aku bersandar di lengannya seraya memperhatikan apa yang ia lakukan.
Tak terasa tibalah kami di Bandara Internasional, kami menaiki taksi untuk menuju kota Depok. Hanya membutuhkan satu jam bagiku untuk tiba dirumah Mama.
Rumah sederhana berlantai satu itu tidak terkunci, mungkin karena terburu-buru menuju kerumah sakit. Aku mempersilahkan Evelyn dan suamiku untuk masuk.
"Rumahnya sempit, maaf yaa..."
"Ini cukup besar, Si. Apalagi Mama-mu tinggal sendiri!" celetuk Evelyn, Elbarra mengangguk setuju.
"Kita kerumah sakit sekarang?" tanya Elbarra, aku langsung mengangguk.
"Aku ikutt!!"
Suamiku mendelik kesal, "Kau tinggal saja! Untuk apa ikut?"
Evelyn menggeleng cepat, "Aku takut tinggal sendiri. Apalagi baru pertama kali kesini."
"Tidak apa-apa, El. Biarkan Evelyn ikut!"
Buru-buru aku mengajak mereka untuk keluar. Sebelum pergi, kupastikan untuk mengunci pintu lebih dulu karena banyak barang berharga milikku dan Elbarra tentunya.
Lucas datang hanya untuk memberikan mobil milik Elbarra. Rupanya suamiku ini saat baru tiba meminta Lucas untuk membeli mobil baru agar mudah kesana-kemari.
Setelah mengantarkan mobil itu, Lucas diperintahkan Elbarra untuk kembali ke California dan mengerjakan beberapa pekerjaannya yang tertunda. Jadi, tersisalah kami bertiga di mobil tersebut.
Evelyn tak henti-hentinya mengumpat kesal. Macet dimana-mana membuat emosinya jadi naik. Kau harus memakluminya selama berada disini Eve, xixixi.