Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Brengsek!" teriak Ilham dengan murka. "Aku harus cari anak-anak sampai ketemu. Kalau nggak, hancur sudah, hancuuur!"
Ilham hendak melangkah menuju pintu, tapi langkahnya seketika terhenti, terdiam sejenak seraya menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. "Tunggu, aku harus melakukan sesuatu. Kalau karirku benar-benar hancur, setidaknya aku harus mendapatkan sesuatu dari perusahaan ini."
Ilham kembali duduk. Membuka laptop lalu menatap layarnya dengan serius. Telapak tangannya nampak menari-nari di atas keyboard. Sebagai manager perusahaan PT Wijaya Sentosa, perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor, ia memiliki akses ke segala bidang di perusahaan tersebut, termasuk bidang keuangan.
"Oke," gumamnya, kedua sisi bibirnya seketika mengembang sempurna, tersenyum dengan begitu lebarnya.
***
Di tempat yang berbeda, Aqilla dan Radit baru saja meninggalkan kantor polisi, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran. Mereka melaporkan kehilangan anak-anaknya, namun sayangnya, laporan tersebut belum dapat diproses karena hilangnya mereka belum genap 2x24 jam. Keduanya pun memutuskan untuk mencari mereka sendiri. Meski merasa kesal, tapi keduanya harus tetap mengikuti prosedur dari pihak kepolisian.
"Kita harus mencari anak-anak ke mana, Mas?" tanya Aqilla, menghentikan langkah di area parkir.
Radit menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan seraya meraih lalu menggenggam telapak Aqilla. "Kita jalan aja dulu, Qilla. Siapa tau kita ketemu mereka di jalan."
"Ini semua salahku, Mas. Kenapa aku mengizinkan mereka ikut sama Mas Ilham?" lemah Aqilla seraya terisak. "Aku benar-benar Ibu yang jahat, Ibu egois. Seharusnya mereka tetap bersamaku."
"Tenang, Qilla. Apa yang terjadi sama anak-anak tidak sepenuhnya salah kamu. Kita nggak tau apa yang terjadi sama mereka dan mengapa mereka tiba-tiba meninggalkan rumah Ilham," jawab Radit mencoba untuk menenangkan. "Kamu lupa, mereka sendiri yang ingin tinggal sama Ayahnya, dan yang menjadi pertanyaannya adalah, belum genap satu hari mereka di sana, mengapa mereka udah kabur dari rumah itu?"
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama anak-anak, aku nggak akan pernah memaafkan diriku sendiri, Mas."
"Astaga, Aqilla. Percaya sama saya, mereka pasti baik-baik saja. Mas yakin, mereka ingin pulang ke rumah Mas, tapi mereka tersesat," timpal Radit dengan lembut. "Mas pastikan akan membuat Ilham menderita. Dia harus membayar perbuatannya, menjadikan anak-anak sebagai senjata agar kamu membatalkan pernikahan kita, Qilla. Mas nggak akan pernah memaafkan bajingan itu."
Aqilla terdiam seraya menatap lurus ke depan melayangkan tatapan kosong. Membayangkan kedua anaknya di jalanan, tanpa pengawasan orang dewasa, tanpa makanan dan minuman membuat hatinya sakit dan terluka. Bagaimana jika mereka ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa? Batin Aqilla, dihantui ketakutan yang mendalam.
"Kita pergi sekarang, ya. Mudah-mudahan kita bertemu anak-anak di jalan, oke?"
Aqilla menganggukkan kepala seraya menyeka buliran bening membasahi kedua sisi wajahnya.
"Ya Tuhan, lindungilah anak-anakku di mana pun mereka berada. Kalau mereka ditemukan sudah tak bernyawa, lebih baik aku ikut mereka ke surga," batin Aqilla, seraya menghela napas dalam-dalam, mencoba menekan rasa sesak yang memenuhi dada.
***
Bukan hanya Radit dan Aqilla saja yang berusaha untuk mencari Kaila dan Keano, Ilham pun melakukan hal yang sama. Walau bagaimanapun, kedua anak itu adalah darah dagingnya. Kepergian mereka dari rumahnya membuatnya terguncang. Bukan hanya takut kehilangan pekerjaan yang sudah ia rintis dari nol, tapi juga karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia begitu menyayangi kedua buah hatinya itu.
"Kaila, Keano, kalian di mana?" gumam Ilham, seraya mengendarai mobil miliknya. Berjalan tidak tentu arah berharap segera menemukan Kaila dan Keano.
Suara dering ponsel seketika mengejutkan Ilham, pria itu segera melipir lalu menghentikan laju mobil di pinggir jalan, meraih ponsel canggihnya dari dalam saku jas hitam yang ia kenakan, menatap layarnya dengan perasaan kesal.
"Astaga, mau ngapain lagi si Dona nelpon?" gumamnya, menekan tombol hijau lalu meletakan ponsel di telinga.
"Iya halo, Dona," sapanya dengan wajah datar.
"Mas, argh ... pu-pulang sekarang juga, Mas," rengek Dona, suaranya terdengar lemah diiringi dengan isakan.
"Kamu kenapa, Dona? Kamu baik-baik aja, 'kan?"
"Perutku sakit banget, Mas, dan aku--" Dona menahan ucapannya, hanya isakan yang terdengar.
"Kamu kenapa, Dona? Kenapa kamu nangis?"
"Cepat pulang sekarang, Mas. A-aku mengalami pendarahan. Argh ... perutku sakit banget."
"Ya Tuhan, kamu tunggu Mas di rumah. Mas pulang sekarang juga. Oke?" ucapan terakhir Ilham, sebelum pria itu menutup sambungan telepon.
***
Satu jam kemudian, Ilham berjalan mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan. Wajahnya nampak pucat, pelipisnya pun berkeringat. Sudah lebih dari satu jam istrinya berada di dalam sana. Ia tidak tahu apa yang terjadi dan mengapa sang istri bisa mengalami pendarahan hebat di usia kandungan yang sudah menginjak lima bulan.
"Ya Tuhan, semoga istri dan bayiku baik-baik saja," gumamnya seraya mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam.
Suara pintu yang dibuka seketika mengejutkan Ilham, pria itu sontak menahan langkahnya, menoleh dan menatap Dokter kandungan yang melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan istri dan bayi saya, Dok?" tanya Ilham, berjalan menghampiri sang Dokter.
Dokter berjenis kelamin perempuan itu membuka masker medis yang menutup separuh wajahnya. Menatap wajah Ilham dengan penuh penyesalan.
"Istri Anda mengalami pendarahan hebat, Pak," jawabnya.
"Bayi saya ... a-apa itu artinya bayi saya tidak selamat, Dok?" tanya Ilham dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca.
"Betul, Pak. Kami turut berduka cita, apa yang terjadi sama istri Anda di luar kuasa kami, tapi ada hal lain yang ingin saya sampaikan kepada Anda."
"A-apa, Dok? Eu ... istri saya baik-baik aja, 'kan? Dia nggak kenapa-kenapa, 'kan?"
"Eu ... istri Anda mengalami pendarahan hebat dan kehilangan darah yang sangat signifikan. Kami harus melakukan tindakan darurat untuk menghentikan pendarahan, jika tidak, nyawa istri Anda tidak akan selamat."
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan istri saya, Dok. Saya mohon selamatkan istri saya."
"Tapi masalahnya, hanya dengan operasi pengangkatan rahim pendarahan itu bisa berhenti dan istri Anda akan selamat."
Tubuh Ilham seketika melemas, kedua kakinya gemetar. "O-operasi pengangkatan rahim? I-itu artinya, istri saya nggak akan bisa hamil lagi, Dok?"
Bersambung ....