Guang Lian, jenius fraksi ortodoks, dikhianati keluarganya sendiri dan dibunuh sebelum mencapai puncaknya. Di tempat lain, Mo Long hidup sebagai “sampah klan”—dirundung, dipukul, dan diperlakukan seperti tak bernilai. Saat keduanya kehilangan hidup… nasib menyatukan mereka. Arwah Guang Lian bangkit dalam tubuh Mo Long, memadukan kecerdasan iblis dan luka batin yang tak terhitung. Dari dua tragedi, lahirlah satu sosok: Iblis Surgawi—makhluk yang tak lagi mengenal belas kasihan. Dengan tiga inti kekuatan langka dan tekad membalas semua yang telah merampas hidupnya, ia akan menulis kembali Jianghu dengan darah pengkhianat. Mereka menghancurkan dua kehidupan. Kini satu iblis akan membalas semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: PENGANTIN KLAN NAGA BAYANGAN
BALAI BESAR KLAN NAGA BAYANGAN - TIGA HARI SETELAH KEMATIAN MO FU
Udara terasa berat—tegang, mencekik, seperti badai yang siap meledak.
Dua kelompok duduk berhadapan di dalam balai. Di satu sisi, para Tetua Klan Naga Bayangan dengan jubah hitam bermotif naga. Di sisi lain, delegasi Klan Gu dengan jubah ungu tua bermotif kalajengking.
Di tengah, mayat Mo Fu terbaring dalam peti terbuka—wajah pucat dengan bercak hitam di sekitar mulut dan hidung.
Mo Junjie—Patriark Klan Naga Bayangan, ayah Mo Han—duduk di kursi utama. Wajahnya tua dan lelah, rambut putih memenuhi kepalanya. Tangan gemetar memegang tongkat kayu.
"Putraku..." bisiknya pelan. "Pewarisku... mati diracun."
Tetua Klan Mo yang paling senior—Mo Zhen—menghantam meja dengan kepalan tangan.
BAM!
"KLAN GU!" teriaknya dengan suara menggelegar. "Kalian yang melakukan ini!"
Delegasi Klan Gu terdiri dari tiga Tetua. Yang di tengah—Gu Feng—tersenyum tipis penuh meremehkan.
"Tuduhan tanpa bukti," katanya dingin. "Khas klan kecil yang putus asa."
"KECIL?!" Mo Zhen bangkit. Qi Bayangan mulai mengalir dari tubuhnya. "PUTRA MAHKOTA KAMI MATI DENGAN RACUN BAYANGAN GU DI TUBUHNYA! SIAPA LAGI YANG PUNYA AKSES SELAIN KLAN KALIAN?!"
Gu Feng tertawa—tawa yang menghina, meremehkan.
"Racun Bayangan Gu memang milik klan kami," katanya sambil berdiri. "Tapi apakah Klan Naga Bayangan tidak punya musuh lain? Klan kalian mundur dari klan besar menjadi klan menengah. Berapa banyak yang kalian buat marah?"
Dia melangkah maju—tatapan merendahkan. "Lagipula... Klan Naga Bayangan memang klan kecil jika dibandingkan dengan Klan Gu—klan racun gelap yang dihormati tidak hanya di Kultus Iblis, tapi di seluruh Jianghu."
CRACK!
Tongkat Mo Junjie patah di tangannya. Wajahnya memerah—antara marah dan malu.
Karena itu benar.
Klan Naga Bayangan dulu adalah klan besar—salah satu pilar Kultus Iblis. Tapi seratus tahun terakhir, mereka mundur. Kehilangan pengaruh. Kehilangan kekuatan.
"Kalian..." Mo Junjie berdiri dengan susah payah. "Kalian tidak tahu malu! Kami mengulurkan tangan persahabatan dengan perjodohan! Dan kalian membalas dengan pembunuhan?!"
"Perjodohan?" Gu Feng mendengus. "Itu ide kalian, bukan kami. Beberapa Tetua kami bahkan menentang—merasa Klan Mo tidak sebanding dengan putri-putri kami."
Ketegangan memuncak.
Mo Zhen melompat maju—pedang terhunus!
Gu Feng balik menyerang—Qi racun meledak!
CLANG!
Tapi sebelum pertarungan meletus—
"CUKUP!"
Mo Junjie berteriak dengan kekuatan terakhirnya.
Qi Spiritual Ranah Puncak meledak dari tubuhnya—menekan semua orang di ruangan.
"Perjodohan..." Suaranya gemetar. "...dibatalkan. Klan Gu, pergilah. Kami tidak ingin melihat wajah kalian lagi."
Gu Feng tersenyum puas. Dia membungkuk—sangat sopan, sangat menghina.
"Keputusan bijak, Patriark Mo."
Delegasi Klan Gu beranjak pergi.
Tapi perdamaian tidak datang.
Seminggu kemudian, negosiasi ulang diadakan—dimediasi oleh pihak netral, Sekte Matahari dan Bulan.
Mo Junjie hadir. Gu Feng hadir. Tetua-tetua dari kedua pihak hadir.
Tapi di tengah negosiasi—
SPLASH!
Seseorang melempar racun ke arah Mo Junjie!
Kekacauan meledak!
Pertarungan brutal terjadi!
Dan saat debu mereda—
Mo Junjie tergeletak. Tidak bergerak. Darah hitam mengalir dari tujuh lubang di wajahnya.
Patriark Klan Naga Bayangan... tewas.
Satu bulan berlalu, bulan penuh amarah dan kesedihan.
Mo Han berdiri di depan prasasti leluhur Klan Naga Bayangan.
Mengenakan jubah hitam Patriark. Mahkota naga di kepalanya. Pedang pusaka klan di pinggang.
Usia dua puluh dua tahun.
Patriark termuda dalam sejarah Klan Naga Bayangan.
Dia menatap nama ayahnya yang baru diukir di prasasti—Mo Junjie, Patriark ke-47.
‘Ayah,’ pikir Mo Han. ‘Jika sejak awal aku tidak menyembunyikan kekuatanku, jika aku bertekad menjadi peneresmu.. Apakah semua akan berbeda?’
Mo Han menunduk, memberi salam penghormatan.
‘Aku akan membalas dendam ini, Ayah.’
Di belakangnya, para Tetua berlutut.
"Patriark," kata Mo Zhen. "Klan Gu sudah menyatakan perang tidak resmi. Mereka menyerang kafilah dagang kita, membunuh anggota klan kita di luar wilayah."
Mo Han tidak berbalik. Mata masih menatap prasasti.
"Berapa kekuatan kita?" tanyanya dingin.
"Empat Tetua Ranah Guru Agung. Dua belas Pendekar Ranah Guru. Seratus lima puluh anggota Ranah Ahli dan Pemula."
"Klan Gu?"
"Delapan Tetua Ranah Guru Agung. Dua puluh pendekar Ranah Guru. Lebih dari tiga ratus anggota. Belum dari klan lain dari Sekte Lima Racun."
Hening.
Mo Zhen melanjutkan dengan nada khawatir. "Patriark... kita kalah jumlah. Sebaiknya kita minta bantuan Lord Kultus—"
"Tidak," potong Mo Han. Dia berbalik—mata dingin seperti es. "Kita akan bertahan sendiri. Dan kita akan menang."
Tiga tahun berlalu, tiga tahun penuh darah, tiga tahun Mo Han menunjukkan kehebatannya.
Konflik dengan Klan Gu brutal.
Serangan demi serangan. Pembunuhan demi pembunuhan. Racun menyebar di kedua sisi.
Tapi yang mengejutkan—
Klan Naga Bayangan tidak hanya bertahan. Mereka menekan balik.
Bagaimana?
Karena Mo Han punya informasi.
Setiap rencana Klan Gu—dia tahu sebelumnya.
Setiap kelemahan pertahanan mereka—dia eksploitasi.
Setiap lokasi gudang racun rahasia—dia hancurkan.
Sumbernya?
Gu Hao.
Putra tertua Ketua Klan Gu. Sahabat Mo Han di Pasukan Iblis.
Dia yang membocorkan semua informasi—sebagai balas budi karena Mo Han pernah membantu konfliknya dengan keluarga.
Dan sebagai harga yang harus dibayar atas Racun Bayangan Gu yang dia berikan untuk membunuh Mo Fu.
Tapi konflik tidak bisa berlangsung selamanya.
Pada tahun ketiga—
Lord Kultus Iblis sendiri turun tangan.
Sosok legendaris dengan jubah merah darah dan mahkota tengkorak. Keturunan langsung Chun Ma—pendiri Kultus Iblis.
Klan Gui. Pewaris darah Qilin.
Dia duduk di singgasana tinggi, menatap Mo Han dan Gu Xian (Ketua Klan Gu) dengan tatapan dingin.
"Cukup," katanya dengan suara yang bergema. "Kalian berdua berdamai. Sekarang."
Tidak ada yang berani menolak Lord Kultus.
Perjanjian damai dibuat.
Sebagai simbol perdamaian—pertukaran pusaka.
Klan Gu memberikan Ramuan Penakluk Seribu Racun kepada Klan Mo.
Klan Mo memberikan Sisik Hei Long kepada Klan Gu.
Keduanya bersalaman—dengan kebencian tersembunyi di mata masing-masing.
Tapi perang... berakhir.
Masa damai berlangsung. Namun, kedamaian menolak bersemayam di hati Mo Han, gejolak itu masih ada, bukan soal perang tapi soal wanita itu.
Setelah konflik berakhir, kehidupan Mo Han berubah.
Sebagai Patriark muda yang berhasil melawan Klan Gu—namanya terkenal di Kultus Iblis.
Berbagai wanita mulai mendekatinya.
Putri-putri dari klan kecil. Janda cantik dari keluarga kaya. Bahkan beberapa pendekar wanita dari klan besar.
Tapi yang paling agresif adalah Mo Hua—sepupunya.
Wanita cantik dengan rambut hitam panjang, mata tajam, dan tubuh sempurna. Berdarah murni Klan Mo. Berbakat dalam Qi Bayangan.
Dia mendekati Mo Han setiap hari.
Di balai. Di taman. Di ruang latihan.
"Patriark," katanya dengan senyum menggoda. "Klan membutuhkan pewaris. Aku adalah pilihan terbaik—darah murni, berbakat, cantik."
Bibir merahnya selalu menggoda, namun Mo Han selalu menolak dengan sopan.
Tapi Mo Hua tidak menyerah.
Hingga suatu malam—
Mo Han berkeliling Kota Kageyu, ia tak bisa tidur, berharap berjalan menatap bulan akan mengundang kantuk.
Namun, seseorang lebih indah dari bulan terlihat, seseorang dari masa lalu.
Ryuka.
Berdiri di depan kedai Sato—lebih tua, lebih dewasa, tapi tetap cantik.
Jantung Mo Han berhenti sejenak.
‘Dia masih di sini.’
Ryuka juga melihatnya. Mata membelalak—terkejut, takut, bingung.
Mereka berdiri di sana—menatap satu sama lain dalam diam.
Lalu Mo Han melangkah mendekat.
Mereka duduk di taman kecil di belakang kedai—tempat yang sama di mana dulu mereka pernah berbicara.
"Kenapa kau menerima Mo Fu?" tanya Mo Han langsung. Tidak ada basa-basi.
Ryuka terdiam. Tangan meremas-remas ujung hanfunya.
"Dia... terus memaksaku," jawabnya pelan. "Setiap hari dia datang. Merayu. Membujuk. Dan dia bilang..." Suaranya bergetar. "Dia bilang kau sudah memiliki wanita lain dari Klan Gu. Wanita yang dijodohkan denganmu."
Mo Han mengepalkan tangan.
‘Mo Fu... kau pembohong sampai akhir.’
"Lalu..." Ryuka menatap mata Mo Han—mata hitam yang penuh dengan sesuatu. "Apa benar kau yang... membunuh Mo Fu?"
Hening.
Mo Han tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.
Ryuka menghela napas panjang.
Lalu—dia tersenyum.
Senyum yang aneh. Bukan sedih. Bukan marah.
"Aku tidak sedih," katanya lembut. "Juga tidak marah."
Dia menatap langit. "Justru... aku merasa lega."
"Lega?" Mo Han tersentak.
"Lega mengetahui perasaan sebenarnya lelaki yang aku sukai," jawabnya sambil menoleh. Mata bertemu mata. "Kau membunuh kakakmu... karena aku. Itu artinya... kau benar-benar mencintaiku, kan?"
Sesuatu di dalam dada Mo Han mencair.
Kebencian. Kemarahan. Kekecewaan yang selama ini dia pendam terhadap Ryuka—
Semuanya hilang.
Digantikan oleh kehangatan yang lama tidak dia rasakan.
‘Cinta.’
Tapi... ada sesuatu yang aneh.
Di sudut pikirannya—jauh di lubuk hatinya—Mo Han merasakan sesuatu yang ganjil tentang Ryuka.
Bukan hanya kecantikan. Bukan hanya tingkah lakunya yang lembut.
Ada sesuatu lain.
Sesuatu yang misterius. Sesuatu yang... menariknya seperti magnet.
Sesuatu yang dia tidak bisa jelaskan dengan kata-kata.
Tapi dia mengabaikannya.
Karena dia lelah berpikir.
Lelah mencurigai.
Dia hanya ingin... merasakan cinta lagi.
Satu tahun kemudian, satu tahun berlalu, satu tahun bagai musim semi penuh Bunga Sakura.
Mo Han menikahi Ryuka dalam upacara sederhana.
Tidak ada kemegahan. Tidak ada undangan dari klan besar.
Hanya keluarga inti. Beberapa Tetua yang mendukung. Dan Gu Hao yang datang diam-diam.
Ryuka mengenakan hanfu merah—cantik, anggun, sempurna.
Mo Han menatap wajahnya saat mereka bersujud pada leluhur.
‘Akhirnya,’ pikirnya. ‘Akhirnya kau jadi milikku.’
Mereka hidup bahagia—sejenak.
Ryuka menjadi istri yang sempurna. Lembut. Pengertian. Mendukung.
Mo Han merasa... utuh lagi.
Seolah ada bagian dirinya yang hilang sejak kematian Mo Fu—kini kembali.
Lima tahun kemudian. Orang-orang berkata setiap rumah tangga selalu ada ujiannya. Maka, ujian itu mulai datang.
Kebahagiaan tidak bertahan lama.
Tekanan datang dari berbagai pihak.
Para Tetua. Anggota klan. Bahkan rakyat biasa.
"Patriark menikahi wanita yang tidak jelas asal-usulnya."
"Wanita lemah tanpa Qi. Tanpa keluarga. Tanpa apa-apa."
"Bagaimana dia bisa melahirkan pewaris kuat?"
Dan yang paling keras menekan adalah Mo Zhi—sepupu Mo Han, Tetua termuda yang ambisius.
Dia datang ke ruang Patriark hampir setiap minggu.
"Patriark," katanya dengan nada mendesak. "Sudah lima tahun. Lady Ryuka belum juga hamil. Klan membutuhkan pewaris!"
"Beri kami waktu," jawab Mo Han dingin.
"Waktu tidak bisa terus menunggu!" Mo Zhi menghantam meja. "Menikah lagi, Patriark! Ambil istri kedua yang bisa memberi pewaris!"
Dan nama yang selalu disebutkan—
Mo Hua.
Sepupu cantik yang masih mengejar Mo Han.
Dia semakin agresif. Datang ke kediaman dengan alasan urusan klan. Mengenakan hanfu yang semakin menggoda. Senyum yang semakin berani.
"Patriark," bisiknya suatu malam saat mereka berdua di paviliun. "Aku bisa memberimu yang Ryuka tidak bisa. Pewaris. Kekuatan. Legitimasi."
Mo Han menolak—terus menolak.
Tapi tekanan semakin kuat.
Dari para Tetua. Dari keluarga. Dari seluruh klan.
Hingga suatu malam—
Ryuka datang ke kamar Mo Han.
Dia duduk di tepi ranjang—tangan di pangkuan, kepala menunduk.
"Mo Han," katanya pelan. "Menikahlah lagi."
Mo Han membeku.
"Apa?"
"Aku tahu apa yang dikatakan klan," lanjut Ryuka. Suaranya tenang—terlalu tenang. "Aku tahu tekanan yang kau hadapi. Terutama dari Mo Zhi dan yang lainnya."
Dia mengangkat kepala—menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca tapi tersenyum.
"Ambil Mo Hua sebagai istri kedua. Dia berdarah murni. Dia bisa memberi pewaris. Dia..."
"Tidak," potong Mo Han tegas. "Aku tidak akan—"
"Lakukan untuk klan," bisik Ryuka. Tangannya memegang tangan Mo Han—lembut, hangat. "Lakukan untuk masa depan Klan Naga Bayangan."
Dia tersenyum—senyum yang begitu tulus, begitu menyakitkan.
"Aku tidak akan pergi. Aku tetap di sini. Tapi... biarkan Mo Hua memberimu yang tidak bisa kuberikan."
Mo Han menatap istrinya—wanita yang dia cintai, yang dia bunuhi kakaknya demi mendapatkannya.
Dan dia melihat ketulusan di mata itu.
Pengorbanan.
Cinta yang rela menderita demi kebahagiaan orang yang dicintai.
Atau...
Ada sesuatu yang lain?
Sesuatu yang tersembunyi di balik senyum tulus itu?
Tapi Mo Han terlalu lelah untuk berpikir.
Terlalu lelah untuk mencurigai.
Dia hanya mengangguk—pelan, berat.
"Jika itu maumu," bisiknya.
Ryuka tersenyum lebih lebar.
Dan di sudut matanya—begitu samar sampai tidak terlihat—
Ada kilatan sesuatu.
Lega?
Puas?
Atau... perhitungan?