Seandainya waktu bisa diulang kembali.
Penyesalan Mark Theodor dalam hidupnya, adalah mengabaikan istrinya demi keluarga kandungnya, hingga istrinya meninggal saat hamil muda.
Di saat ia sudah menua dan sakit-sakitan, keluarga kandung yang sangat ia sanjung, tidak satupun menaruh rasa kasihan pada keadaannya.
Mark hanya bisa menangisi dirinya yang malang, sampai akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.
Tapi, tiba-tiba ia membuka matanya, dan terbangun dari tidurnya.
Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 1973, di saat usianya masih dua puluh delapan tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29.
"Oh, jadi seperti begitu?"
Orla baru mengerti setelah Alice menjelaskan kenapa mereka di laporkan Mark ke kantor Polisi.
"Iya, kami hanya ingin membantu Mark saja, agar dia bisa terlepas dari istrinya yang ia pikir selama ini terlihat baik, dan lemah ternyata wanita yang suka berselingkuh!" kata Alice dengan nada yang ia buat terdengar begitu sedih.
"Ivana itu sangat jahat! dia sudah memecah belah kami, Ibu dan anak! karena itulah kenapa Mark jadi salah paham pada kami! kamu tahu sendiri Mario tidak begitu mengerti cara berdagang di pasar, selama Mark pisah rumah dengan kami penghasilan jualan di pasar jadi berkurang!!" tambah Melina dengan nada yang ia buat sesedih mungkin.
Melina yang masih terbaring mengeluhkan akan kesusahan hatinya, dan menyalahkan Ivana sebagai dalang keretakan hubungannya dengan Mark.
"Kalian seharusnya tidak perlu membantu Mark! biarkan saja dia diluaran sana menderita! dia itu tidak pantas untuk di bela, karena dia kan hanya bisanya mengharapkan belas kasihan dari kalian!!"
Dengan nada provokasi Orla menyalahkan Mark dalam permasalahan keluarga Theodor, dan perkataannya itu membuat Melina terdiam.
"Bibi! kamu itu bukannya membantu, bagaimana caranya agar Mark kembali lagi ke keluarga Theodor, ini malah menyuruh Mark tidak usah kembali lagi!!"
Alice seketika tidak senang mendengar apa yang dikatakan Orla.
Mendengar nada marah Alice padanya, Orla seketika juga tidak senang di tegur Alice.
"Memangnya salah yang kubilang? kalian ini terlalu memanjakannya selama ini, sampai dia melakukan apa saja, kalian biarkan begitu saja! apa kalian tidak tahu, si Mark itu selama dua hari ini bertemu dengan putraku di pelabuhan membeli banyak ikan?!"
"Hah?!" mata Melina dan Alice membulat mendengar apa yang dikatakan Orla.
"Nah! kalian terkejut, kan? dia selama dua hari ini membeli dua tong ikan! dan Robert melihat Mark memiliki banyak uang!!"
"Apa?!!" Melina sontak terduduk dari berbaringnya, dan melemparkan selimutnya ke samping.
Ia pun dengan cepat turun dari tempat tidur, dan bergegas memakai sandalnya dengan gerakan yang terlihat emosi.
Ia yang tadinya berharap Mark menyesali tindakannya pisah rumah dengan mereka, ternyata membuat Mark menjadi lebih menghasilkan banyak uang setelah pisah dengan mereka.
Sudut bibir Orla menyunggingkan senyuman senang melihat raut wajah marah Melina, dan ia pun bisa menebak hendak pergi kemana Melina.
Sementara itu Mark bersama Ivana, dan Berwyn sedang melihat-lihat beberapa toko untuk mereka sewa.
Mark merasa harus menyewa sebuah toko, karena restorannya sepertinya akan semakin ramai.
"Lihat! sepertinya toko ini sangat cocok kita sewa untuk jadi sebuah restoran!" tunjuk Berwyn pada salah satu toko yang sedang mereka lihat.
Mark memandang penampilan toko tersebut, dan menilai dari sudut pandangnya melihat letak lokasi toko tersebut, apakah dapat menarik perhatian pelanggan.
Ia pun mengangguk setelah melihat dengan seksama, "Sepertinya iya! Ayo kita tanya pemilik tokonya, berapa dia menyewakan toko ini dalam satu bulan!"
Mark menyapa pemilik toko, saat mereka menghampiri kediaman pemilik toko, yang tidak jauh tinggal dari lokasi toko.
"Permisi Paman, kami ingin menyewa toko anda yang di sebelah sana, berapa akan anda sewa perbulannya toko itu?" tanya Mark setelah menyapa pemilik toko.
"Memangnya kalian mau usaha apa di sana?" tanya pemilik toko sembari mengamati penampilan Mark.
"Kami ingin membuka sebuah restoran pada toko anda itu!" jawab Mark menunjuk toko yang ia maksud.
Pemilik toko kembali mengamati penampilan Mark, "Dua puluh ribu rupiah satu bulan!" jawabnya kemudian.
"Hah?! ma.. mahal sekali Paman! apa tidak bisa kurang sedikit lagi? misalnya sepuluh ribu rupiah?!" Berwyn terkejut mendengar harga sewa toko tersebut.
Mark yang sudah pernah merasakan era jaman modern di masa depan, sebenarnya uang dua puluh ribu rupiah sangat lah kecil.
Tapi, saat ini tahun tujuh puluhan, uang dua puluh ribu rupiah sangat lah mahal, mengingat jaman ini masih masa Paceklik.
Walau ia masih beruntung mendapatkan hasil tangkapan laut di pelelangan ikan, karena cuaca buruk di laut tidak begitu separah seperti sebelumnya.
Dan petani sayur serta buah sudah dapat memanen hasil ladang dan kebun, walau tidak menghasilkan panenan yang melimpah.
Era jaman yang sulit secara ekonomi, perlu lebih jeli lagi untuk menghasilkan penghasilan.
Dalam dua malam usaha restoran yang ia rintis, sangat beruntung sekali menarik penikmat kuliner malam.
Dengan mengandalkan ingatan saat ia hidup di masa depan, ia dapat mengolah hidangan menu restorannya.
Dan ia sangat beruntung, dengan resep dari jaman masa depan membuat pencinta kuliner menyukai masakannya.
Kalau ia dapat mengembangkan lagi resep masakan kelas atas yang ia ingat, bukan hanya menyewa toko, ia pasti akan dapat dengan cepat membeli sebidang tanah.
"Baik! kami akan sewa! mulai besok malam kami akan mulai menyewa toko Paman!" jawab Mark setelah merenung, dan berpikir beberapa detik.
"Mark! apa kamu yakin? uang sewanya terlalu mahal!" kata Berwyn merasa keberatan.
"Tidak apa-apa, kita pasti bisa membayar uang sewanya!" jawab Mark meyakinkan Berwyn.
Walau Berwyn merasa ragu, tapi mendengar nada pasti Mark, ia pun percaya dengan perkataan Mark.
"Kami akan membayar uang sewanya sebagian dulu, Paman!" kata Mark merogoh saku celananya, "Dalam satu minggu ke depan, baru kami lunasi penuh uang sewanya!"
Mark memberikan lima ribu rupiah sebagai uang muka kepada pemilik toko.
"Baik, aku setuju!" jawab pemilik toko, "Sebentar, akan ku buat surat sewa toko!"
Pemilik toko menulis surat sewa, lalu kemudian menandatanganinya.
Mark tersenyum senang melihat surat yang diberikan pemilik toko kepadanya, dan ia pun menyalami pemilik toko dengan perasaan yang begitu puas.
Akhirnya ia tidak lama lagi, akan memiliki sebuah restoran di era jaman yang sulit ini.
"Ini kunci tokonya!" pemilik toko menyerahkan kunci toko kepada Mark.
"Ayo kita bersihkan, dan kita lihat apakah ada yang perlu di perbaiki!" kata Mark penuh semangat meraih tangan Ivana.
Mark sangat puas melihat dekorasi bagian dalam toko, terlihat masih dalam keadaan baik, dan tidak perlu di perbaiki.
Mereka hanya perlu merubah dekorasi letak tatanan toko, agar terlihat lebih mewah lagi untuk sebuah restoran.
Brak!!
Tiba-tiba terdengar suara pintu toko di dobrak dari luar oleh seseorang, dan di susul dengan suara teriakan seorang lelaki, dengan suara yang terdengar begitu kasar.
"Siapa yang mengijinkan toko ini di buka?! apa kalian tidak tahu peraturan di sekitar sini, bagi siapa saja yang berani buka toko di wilayah ku?!"
Ivana sontak menghambur ke belakang Mark untuk berlindung.
Mark memperlihatkan raut wajah tidak senangnya, melihat beberapa pria tidak punya sopan santun itu mendobrak pintu tokonya.
Melihat penampilan para pria itu, Mark dapat melihat mereka adalah sekumpulan preman di daerah sekitar pertokoan tersebut.
Bersambung.......
akhirnya up juga ya Thor,, sehat selalu ya
rasain Daniela