NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Padepokan Jaran Kore

Dia tidak buta. Tidak juga tuli. Kabar tentang nyonya-nyonya Eropa kesepian sudah menjadi rahasia umum di kalangan para kuli dan pelayan.

Para nyonya yang suaminya lebih memilih menghabiskan malam dengan para nyai muda. Para nyonya yang kesepian di rumah besar mereka. Para nyonya yang ... mencari kehangatan dari sumber lain.

Kusir. Tukang kebun. Jongos. Pekerjaan apapun itu hanyalah kamuflase.

Benar saja, kusir kurus nyonya itu kini berjalan mendekat ke arah Arjo. Tubuhnya membungkuk, wajahnya menunjukkan senyum yang terlalu ramah.

"Kang," sapanya dalam bahasa Jawa kasar. "Sudah punya pekerjaan? Nyonya saya sedang mencari pekerja baru. Gaji bagus. Kerja ringan. Rumah besar, makan enak."

Arjo merinding.

‘Kerja ringan. Ya, tentu saja,’ batinnya. ‘Sampai tertangkap basah dan malah difitnah memperkosa majikan.’

Ia tidak lupa kisah-kisah tragis yang beredar. Pemuda-pemuda yang tergoda janji gaji besar dan kerja mudah.

Pemuda-pemuda yang kemudian mati ditembak di tempat oleh suami sang majikan, atau yang lebih beruntung, hanya dihukum kerja paksa bertahun-tahun, membangun rel kereta api sampai tulang-tulangnya remuk.

Semua karena para nyonya butuh kambing hitam ketika suami mereka mulai curiga.

"Tidak." Arjo menggeleng cepat. "Sudah ada majikan."

"Sayang sekali." Kusir itu masih tersenyum. "Kalau berubah pikiran—"

Jalanan di depan mulai lenggang. Arjo tidak menunggu kalimat itu selesai. Ia memacu kudanya, menjauh secepat mungkin tanpa terlihat seperti melarikan diri.

Di belakang, ia masih merasakan tatapan nyonya Belanda itu masih mengikutinya.

‘Amit-amit.’ Punggungnya bergidik.

\~\~\~

Jalan setapak semakin menyempit. Arjo memacu kudanya meninggalkan jalan utama, memasuki jalur tanah yang berkelok di antara hamparan sawah. Pematang-pematang basah memantulkan semburat jingga langit senja. Katak-katak mulai bernyanyi dari balik rumpun padi.

Semakin jauh dari keramaian kota, semakin sedikit orang yang terlihat.

Jalur tanah berubah menjadi jalan berbatu yang menanjak perlahan ke arah perbukitan. Pohon-pohon jati tua mulai bermunculan di kanan kiri, daunnya yang lebar menghalangi sinar matahari yang tersisa. Udara berubah; lebih sejuk, lebih lembap, membawa aroma tanah basah dan dedaunan busuk.

Di persimpangan yang nyaris tak terlihat, hanya ditandai batu besar berlumut, Arjo membelok ke kanan. Jalur di sini semakin sempit, hampir tertutup semak belukar. Orang biasa akan mengira ini jalan buntu menuju hutan belantara.

Tapi Arjo tahu lebih baik. Setelah beberapa ratus meter, semak-semak mendadak terbuka.

Padepokan Jaran Kore

Kompleks bangunan yang tersembunyi di ceruk perbukitan, dikelilingi tebing curam di tiga sisi dan hutan lebat di sisi lainnya. Dari puncak tebing, padepokan ini hanya terlihat seperti bagian dari hutan. Atap-atap bangunan dari ijuk dan alang-alang menyatu dengan warna dedaunan.

Gerbang kayu berdiri sederhana di mulut jalan. Tidak ada papan nama. Tidak ada penjaga yang terlihat. Tapi Arjo tahu setidaknya ada empat pasang mata yang mengawasinya sejak ia memasuki jalur berbatu tadi.

Ia menghentikan kudanya di depan gerbang, lalu bersiul pelan, tiga nada pendek, satu nada panjang. Gerbang terbuka dari dalam. Arjo menuntun kudanya masuk.

Halaman utama padepokan berupa lapangan tanah yang dipadatkan, dikelilingi bangunan-bangunan kayu beratap ijuk. Di sisi barat, barak panjang tempat para murid tidur, empat bangunan berjajar rapi.

Di sisi timur, dapur umum dan gudang penyimpanan. Di sisi utara, pendopo terbuka tempat latihan saat hujan. Dan di sisi selatan, berdiri bangunan paling besar—rumah Ki Guru Slamet, pemimpin padepokan.

Meski senja sudah turun, aktivitas di padepokan masih ramai.

Di tengah halaman, sekelompok anak berusia sepuluh sampai dua belas tahun berlatih jurus dasar. Tubuh-tubuh kecil yang kurus tapi liat bergerak serentak; tangan meninju udara, kaki menendang, suara "HAH!" mengudara bersamaan.

Seorang pelatih bertelanjang dada berjalan di antara barisan mereka, sesekali membetulkan posisi kuda-kuda yang kurang tepat.

Di sudut halaman, kelompok yang lebih tua, remaja belasan tahun, berlatih dengan senjata. Bunyi bambu beradu memenuhi udara. Dua orang bertarung dengan tongkat panjang, gerakan mereka cepat dan mematikan. Seorang lagi berlatih melempar pisau ke sasaran orang-orangan yang dibentuk dari jerami—syut, jleb, syut, jleb—dengan ketepatan yang mengerikan.

Semua anak di padepokan ini punya cerita yang hampir sama. Anak terlantar. Anak yatim piatu. Anak yang dibuang keluarganya. Anak hasil hubungan terlarang yang tidak diakui.

Seperti dirinya dulu.

Kadipaten, di bawah perintah mendiang bupati sebelumnya—ayah Soedarsono—membangun padepokan ini puluhan tahun lalu. Mengumpulkan anak-anak terlantar dari jalanan, dari pasar, dari desa-desa miskin. Memberi mereka makan, tempat tinggal, dan yang terpenting—ilmu.

Ilmu kanuragan. Ilmu bela diri. Ilmu bertahan hidup.

Sebagai gantinya, setelah dewasa, mereka mengabdi pada kadipaten. Menjadi pengawal. Menjadi mata-mata. Menjadi bayangan yang bergerak dalam gelap melindungi kepentingan bupati.

Tidak semua yang masuk ke sini bertahan. Ada yang mati dalam latihan yang terlalu keras. Ada yang gugur dalam tugas. Tapi yang bertahan menjadi seseorang yang berbeda, mendapatkan jabatan tinggi di militer kadipaten.

Arjo melepaskan pelana dari kudanya, kuda itu tanpa diperintah langsung masuk sendiri ke bagian kandang kuda betina dengan langkah tegap, angkuh, seakan-akan dia masih muda dan gagah.

“Ehh … ehh .. ehh … kuda peot, lagaknya.”

Arjo bergegas meletakkan pelana ke tempat pelana, lalu menyusul Tejo yang sudah mendekati seekor kuda betina yang sedang makan.

“Jo-Tejo … kandangmu di sebelah sana!”

Kuda itu melengos, dan Arjo sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan kuda keras kepala ini.

Dia menoleh ke kandang-kandang kuda jantan yang diberi sekat masing-masing agar tak berkelahi, lalu menoleh ke kandang kuda betina yang kebanyakan sedang bunting.

“Karepmulah …!” (Terserahlah …!)

Arjo berjalan melintasi halaman. Bau khas padepokan memenuhi hidungnya, campuran yang sudah sangat familiar. Keringat. Minyak gosok untuk mengurut yang cedera otot. Beras yang dikukus di dapur.

Kayu bakar yang membara. Dan samar-samar, aroma jamu; rebusan temulawak, kunyit, jahe, dan entah ramuan apa lagi yang selalu dibuat oleh Nyi Seger.

Arjo berjalan ke barak timur, barak khusus untuk mereka yang sudah dianggap lulus dan menjalankan tugas aktif. Ruangannya sederhana, petak-petak kecil yang hanya berisi tikar, bantal, dan peti kayu untuk menyimpan barang pribadi.

Ia merebahkan tubuhnya di tikar.

Langit-langit ijuk membaur dengan kegelapan yang mulai turun.

Dari kejauhan, masih terdengar suara anak-anak berlatih. Bunyi bambu beradu. Seruan pelatih.

Dan dalam keheningan itu, pikirannya kembali melayang. Mata cokelat dengan bintik keemasan. Gerakan yang lincah seperti bajing. Dada yang … pas ditangan.

Arjo menutup wajahnya dengan lengan.

Siapa perempuan itu?

Dan kenapa rasanya aku pernah melihatnya?

Baru saja Arjo memejamkan mata, melepas lelah setelah hampir terbunuh, melanjutkan pertarungan dengan perempuan bermata cantik tadi tapi dengan alur berbeda, dengan khayalan setinggi-tigginya, membelai indahnya…

Plak.

Seseorang menepuk kakinya.

Arjo menghela napas panjang. Tidak perlu membuka mata untuk tahu siapa pelakunya. Tangan itu keriput, tapi tenaganya masih bisa mematahkan tulang kering kalau mau.

1
Kustri
kiro" kelingan ro rupamu ra Jo🤔
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
Rahayu Wilujeng
sugeng dahar siang ndoro bupati🙏
Ricis
akhirnya ketemu lagi ya Jo, jangan konyol lagi ya Jo 😀
Teh Qurrotha
apakah Agnes kenal sama wajah Arjo yang sekarang, waktu penyerangan dkereta Arjo blm di make over
SENJA
nah itu makanya jangan terbawa emosi terus jo 😶
SENJA
kamu bakal di cap antek pki ada bukti atau ngga 🤭 makanya jangan kritis terang2an lah tahun 1920-30 an mah 🤭
SENJA
dan tan malaka dan pimpinan lain sebenernya ga setuju 🤭 ini aksi massa bukan massa aksi 😶
SENJA
tidak sesederhana yang terlihat 😶
SENJA
yah memang itu tugasmu kan 🤔 mau gimana? kejam tapi yah itu🤭
SENJA
sekarang udah telat jo 🤭
Muchamad Ikbal
muaaanteeep tenaan....🥳
ᵖᵓ➳⃟✿- 𝘀𝘆𝘂 ˢʸ֟ᵘ
Semua berawal dari tatapan lalu remashhhh an Arjo😭😭😭
Kenzo_Isnan.
waaahhh lha iki jo jo . .
Kenzo_Isnan.: tak melu ngamini wis pokok'e 😆
total 2 replies
Kenzo_Isnan.
malah adu nasib kalian bertiga to ya 😅
Kenzo_Isnan.
tedjo+arjo sama" gendeng 🤣🤣🤣
Kenzo_Isnan.
semangat jd bayangan kakak mu sendiri arjo . .
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo
Muhammad Arifin
Iki Paleng jodohmu Jo 🤪🤪
Kenzo_Isnan.
kasian kamu arjo tp yakinlah sesudah hujan pasti ada pelangi yg menanti mu di dpn sana
Muhammad Arifin
arjo welas asih....pantes Soedarsono suka...
Wiya Tun: betul,selalu ingat teman²nya
total 1 replies
Rahayu Wilujeng
wah..... harusnya pelajarannya lebih lengkap lagi, termasuk memberi respon pada semua istrinya, kan pasti beda2 responnya😄
Wiya Tun: mboten nopo² ndoro,Kula seneng, maturnuwun 🙏👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!