Anggrek Maharani mendapatkan kejutan yang menyakitkan pada hari ulang tahunnya ke -24.
Sebuah undangan pernikahan dari Kekasihnya dan sahabat Anggrek. Dua orang yang bermain api dibelakang Anggrek selama ini. Dua orang yang tega mengkhianati ketulusan Anggrek.
Anggrek tercampakkan oleh kekasihnya, dikhianati sahabatnya.
Mampukah Anggrek bangkit kembali dari kehancuran hatinya akibat pengkhianatan ini?
Ketika kesedihan dan rasa sakit 'diselamatkan' oleh sebuah video viral. Sebuah keberuntungan yang membuka jalan dalam penyembuhan sakit hati Anggrek.
Keberuntungan tidak terduga untuk Anggrek yang tidak pernah 'dianggap' karena tidak menarik dalam standar masyarakat.
Bisakah Anggrek membuka hati kembali..?
Ikuti kisah Anggrek dalam menjalani kehidupan setelah terpuruk akibat pengkhianatan.
IG : aksara_azuraone
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia datang lagi
Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah
********
Aku memasuki rumah dengan hati tidak menentu. Ada perasaan tidak enak kepada Bian dan Doni, mereka tidak saling mengenal hanya karena ulah Mama keduanya terpaksa berada dalam satu mobil.
"Bian maaf ya merepotkan ☺"
"Doni, terimakasih ya sudah mengantar aku dan mama ☺"
Aku mengirimkan pesan hijau kepada Doni dan Bian lalu menghampiri Dewo.
"Dewo, kok ada Bian di rumah?"
"Sengaja nungguin kakak." Dewo berkata santai sambil menuangkan kental manis coklat diatas potongan alpukat. Dia menambahkan parutan keju sebagai topingnya.
"Nungguin kakak?"
"Iya dari kemaren nanya ke Dewo kakak kemana, kapan pulang, pergi sama siapa, berapa lama?"
"Terus dia ke rumah?"
"Yoi, Kak Bian menemani dan mengajari trik mengambil foto yang bagus. Ntar katanya mau kesini lagi"
"Kamu kok bisa akrab sama Bian kan dia seusia kakak, memangnya Rio kemana?." Sebenarnya aku belum tahu pasti usia Bian karena memang aku baru mengenalnya. Berbeda dengan Doni yang satu angkatan di SMP. Aku mengenal Doni dan kedua orangtuanya.
"Dia asyik kak, ketemu di rumah Rian saat mabar game. Ada Rio juga karena waktu itu Rio tidak bisa lama jadi Bian yang gantiin."
"Tuh Rio main game masih ingat waktu. Beda sama kamu yang mesti dipanggil dulu."
"Dia kan harus membeli makanan buat orangtuanya yang lagi isolasi mandiri."
"Oh belum sembuh"
"Belum." Aku teringat belum membantu keluarga Rio mengenai ini.
"Dewo beliin brownies di Flower Bakery ntar kirim ke kediaman orangtua Rio".
"Tidak sekalian mie ayam kak?"
"Memangnya orangtua Rio suka?"
"Suka apalagi Ibunya, whuiiih beliau doyan banget"
"Kalau gitu kamu mampir ke Miepa lalu Flower Bakery dan bawakan vitamin bagi orangtua Rio ya"
"Baik kak nanti Dewo kasih tahu Rio juga, dia masih di rumah saudaranya"
"Ini jajan untuk mu"
"Makasih Kak Anggrek emang kakak terbaik, paling baik.
"Ah kamu kalau lihat duit aja bilang Kakak terbaik, paling baik"
"kakak kan cuma satu-satunya kakak Dewo kalau ada dua atau tiga belum tentu dapat gelar terbaik"
"Dewoooooo"
Tangan ku mengantung di udara membatalkan mencubit hidung Dewo ketika melihat ada balasan dari Doni.
"Sama-sama Anggrek, Aku baru tiba di rumah. Ada salam dari Mama terimakasih untuk alpukatnya"
"Salam kembali ya Doni, Apa kabar Mama mu?"
"Baik Anggrek, Dia menanyakan kabar mu"
"Tante masih ingat dengan ku?"
"Iya Anggrek ntar kalau kamu ada waktu kami mampir di Miepa"
"Baik Doni, Aku tunggu kehadiran Tante"
"Aku juga dong, Nggrek ditunggu kehadirannya".
"Hehee.. Iya Don".
" Bye Anggrek, Aku mandi dulu"
"Bye Don"
******
Sudah tiga hari aku tidak tidur dikamar, Aku mengambil boneka pisang lalu menjadikan sandaran di ranjang. Ku buka gawai, mengedit foto bersama Mama lalu mengirimkan di sosial media.
Caption ku tentang kebersamaan dengan seorang Ibu dimana seiring usia kebersamaan semakin berkurang. Kesibukan sebagai individu dewasa tanpa disadari memangkas waktu bersama orang tua.
Ada notifikasi dari pesan hijau ketika ku buka balasan dari Bian.
"Santai saja, tidak merepotkan kok"
"Maaf sampai harus mengantar teman ku"
"Teman mu, Nggrek?. Enak ya bisa ikut sama Mama dan kamu ke rumah kakek nenek kalian"
"Kebetulan dia sedang menginap di rumah paman yang satu kampung dengan kakek nenek jadi kita pulang bareng"
"Kita?? kebetulan banget ya bisa sama 😏"
Aku berhenti membalas pesan Bian. Apakah dia cemburu? tapi pikiran itu ku singkirkan. Dia pasti hanya tidak suka disuruh mengantar Doni.
"Iya kebetulan ya, Bian heheee tapi jadi kamu yang mengantar Doni".
"Oh namanya Doni, Aku tidak mengantarnya pulang gak usah kayak gak enakan gitu"
"Haaah, jadi tadi Doni..?"
"Kamu kok perhatian banget sih Nggrek, dia kan cowok dewasa bisa mikir lah pulang sendiri. Tadi aku turunkan di simpang perumahan mu. Aku tidak biasa mengantar orang yang tidak ku kenal"
Aku mengurut kening, Doni berarti ditinggalkan sepaket sama kardus alpukat di simpang perumahan. Seketika perkataan Danar kembali melintas "Bian tidak biasa mengantar wanita yang baru dikenalnya"
Ternyata selain wanita, Bian juga tidak mengantar pria yang tidak dikenalnya. Ada benar juga sih mengingat tingkat kejahatan yang sering terjadi dengan orang yang tidak dikenal tapi Doni kan termasuk kenalan. Anggaplah kenalan dari ku bukan orang yang tidak dikenal sama sekali.
"Iya kamu benar Bian harusnya tanggung jawab aku sih karena dia mengantar kami tadi"
"Kamu gak boleh mengantar dia pulang? kamu cewek, Nggrek gak pantas mengantar cowok pulang ke rumah"
Aku greget dengan Bian. Lho kemarin juga aku dan Dewo yang mengantar dia pulang kerumah.
"Iya aku juga gak mungkin mengantar dia sendirian, Pasti sama Dewo kayak kamu juga waktu kami antar pulang dari Bukit Asri kan sama Dewo walau aku tidak tahu kalian janjian"
"Aku beda jangan sama kan. Malam aku ke rumah ya, Nggrek"
"Aku bentar lagi mau ke miepa, booth dan butik jadi pulangnya malam".
"Bukan ketemu kamu kok tapi Dewo ".
"O***k******e*** lah"
Aku membalas dengan dongkol, Menyesali menolak kedatangan Bian tahunya di skak mat. Sejak Rio jarang keluar, intensitas pertemuan Dewo dan Bian lebih sering dilakukannya.
Mereka akur berdua mungkin karena Dewo tidak memiliki kakak laki-laki dan Bian tidak memiliki adik jadi mereka cocok satu sama lain.
*******
Hari ini aku mendapatkan laporan untuk permintaan pentol dalam kemasan frozen food meningkat dari situ terlintas pikiran ku untuk menambahkan varian frozen food.
Kami masih memasak sebagian kebutuhan dagangan di dapur Mama untuk sekarang aku harus mempunyai dapur khusus kalau ingin mengembangkan usaha lain.
Rumah yang sedang ku bangun memang memiliki halaman cukup luas aku bisa membangun dapur nanti untuk kebutuhan varian lain Miepa tapi sekarang aku mempertimbangkan membuka cabang lain Miepa dulu karena rumah tersebut belum selesai pembangunannya.
Aku juga mulai rutin untuk berbagi sejak mengenal Ari dan Riko berapa waktu lalu membuat ku tersadar tidak rutin berbagi rejeki.
Setiap jum'at Miepa menyediakan bungkusan yang berisi nasi kotak lengkap dengan buah, mie ayam, jus lemon yang merupakan variasi menu baru dari Miepa dan kue. Aku meletakkan rak kecil di pelataran parkir Miepa untuk 20 bungkusan tersebut.
Sekarang aku memiliki tiga cabang Miepa. Kesibukan ku bertambah dengan beberapa karyawan yang harus ku handle.
Natasha juga menyarankan mulai serius menggarap penjualan online. Kami harus membayar admin khusus untuk itu. Natasha dan Aku juga mulai mencari penjahit untuk membuat desain khusus dengan brand kami sendiri.
Hanya booth unyu yang dipegang Nando dan Ina yang tidak mengalami perubahan. Itu usaha pertama ku.
Hari-hari ku semakin sibuk. Aku juga masih harus membuat konten untuk kebutuhan youtube dan sosial media. Untung saja youtube kolaborasi dengan Dewo. Dalam usia remaja dia memiliki banyak ide kreatif yang tidak pernah habis.
Aku mulai memikirkan untuk menyiapkan pegawai khusus yang menghandle secara keseluruhan karena tidak mungkin jika semua aku yang kontrol.
Hari ini aku sedang di Miepa ketika Adiwarna datang lagi. Aku butuh sekian menit untuk mengingat Adi, dia tampak lebih berisi dan dewasa dari terakhir kami bertemu.
"Apa kabar Anggrek?" Dia menyapa ku setelah sebelumnya memesan makanan.
"Baik." Aku menjawab singkat.
"Anggrek kamu membuka cabang tidak jauh dari rumah kami"
"Oh ya, kenapa tidak mampir yang deket rumah mu?"
Adiwarna menghembuskan napas sesaat lalu dia menatap ku sebelum bibir itu mengeluarkan kata-kata. Sebuah ekspresi yang ku kenal nampak jelas di wajah Adi, Dia sedang kesal dan marah.
"Aku sedang bertengkar dengan Cahya." Aku berdehem mendengar perkataan ini. Apakah dia sadar hal itu tidak perlu ku dengar.
"Adi apa yang terjadi dalam rumah tangga mu bukan urusan ku lagi dan mulai hari ini untuk urusan yang menyangkut hubungan pribadi mu. Aku tidak ingin perduli." Aku beranjak dari hadapan Adi.
"Tapi Anggrek, tunggu"
"Semua sudah usai Adi sejak kau putuskan memperistri Cahya. Aku tidak tertarik dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga mu." Aku menegaskan ke arah pria ini. Ku lihat dia mengatup mulutnya rapat. Aku bergegas meninggalkan Adi. Baru mau masuk keruang dapur Miepa yang dibatasi meja kasir.
"Anggrek"
"Apa lagi!!!." Aku membentak dengan suara kesal dan ketika menoleh wajah Bian tampak pias dan mata beningnya tampak kecewa menatap ku. Dari mejanya Adi melihat interaksi aku dan Bian dengan ekspresi berminat.
Aku mengusap wajah dengan perasaan bersalah kepada pria jangkung satu ini.
"Maafkan aku Bian. Kamu mau aku buatkan kopi dan mie?, Aku buatin sendiri lho bukan Bang Ipul dan Rika"
Senyuman manis ku pasang semaksimal mungkin, kepala di teleng dikit biar nampak kalem. Gaya ini ku tiru dari Cahya. Dia sering menggunakannya sebagai jurus minta dikasihani kelar berbuat salah. Moga berhasil jika ku gunakan, doaku dalam hati.
***********
plus lah enjoy , fokuss sama usaha .kalo udah ada mAh jodoh g kemanaaa
good job👍👍