Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Bersalah
*****
" Tadi nyonya besar bertanya, kenapa bos tidak pulang tadi malam." Kata Jhoni.
" Kamu bilang apa?" Tanya Rocky menatap Jhoni.
" Saya bilang tidak tahu, bos. Nyonya tahu nya jika saya meninggalkan bos di kantor karena mau lembur." Jawab Jhoni.
" Bagus. Jangan sampai ada yang tahu dengan apartment baru saya. Saya tidak mau mama sampai tahu apa lagi sampai di dengan wanita penggoda itu. Bisa - bisa aku merasa seperti buronan karena dia akan mencari ku sampai ke sana." Perintah Rocky.
" Baik, bos. Saya akan menjaga rahasia ini dengan baik." Jawab Jhoni.
" Tapi Ariana menolak tinggal di sana, Jhon. Tadi Amel sudah hubungi saya. Bahkan rumah yang saya beli dekat dengan rumah sakit juga di tolak Ariana. Ariana itu memang keras kepala. Sudah sekali mendengar kan ucapan saya."
" Sama dong. Apa beda nya sama bos? Bos juga keras kepala. Masih suka dengan nona Ariana, tapi malah ngajak nona Ariana bertengkar."
" Dia itu kepala, Jhon. Mau menang sendiri. Semua pendapat nya itu yang menurut dia benar. Bagaimana aku tidak kesal."
Jhoni menggelengkan kepala nya mendengar penjelasan dari Rocky.
" Harus nya bos bisa lebih tahu bagaimana sifat nya nona Ariana selama bersama bos. Tapi bos malah belum terbiasa juga kan?"
" Saya sudah sangat hafal bagaimana sifat nya itu, Jhoni. Tapi sekarang dia semakin keras kepala. Sedikit pun tidak mau mengalah."
" Harus nya bos bisa bersikap lebih lembut lagi dengan nona Ariana. Bukan nya malah memamerkan kemesraan bos dengan nona Nelly. Pasti itu membuat nona Ariana sakit hati." Ujar Jhoni.
Rocky menatap Jhoni dengan sorot mata yang penuh pertanyaan. Kata-kata Jhoni seperti petir menyambar ke dalam sanubarinya. Dalam hati, Rocky menyadari bahwa mungkin Ariana merasa terluka, cemburu melihat kemesraan yang ia tunjukkan bersama wanita lain.
" Apa mungkin Ariana cemburu dengan Nelly?" Bathin Rocky.
" Apa menurut kamu Ariana akan cemburu?" Tanya Rocky.
" Menurut bos?" Jhoni malah membalikkan pertanyaan itu pada Jhoni.
" Aku rasa tidak. Ariana itu sudah tidak menyimpan rasa untuk ku, Jhon. Bahkan sekarang dia sangat dekat dengan Marvin. Aku jelas tahu jika Marvin menyukai Ariana." Jawab Rocky dengan lesu.
Jhoni tersenyum seraya menggeleng.
" Kalau begitu ikhlas kan saja nona Ariana dengan pak Marvin. Mungkin pak Marvin bisa memperlakukan nona Ariana dengan lembut dan lebih baik." Ucap Jhoni mantap.
"Bagaimana mungkin aku tidak menyadari rasa cemburunya yang begitu dalam?" Bathin Rocky lagi.
Rasa bersalah itu menggantung berat di dada Rocky, semakin menyesakkan nafasnya. Seketika, semua kenangan indah bersama Ariana seolah tercoreng oleh tindakan bodoh nya sendiri.
*
*
*
Ariana melangkah masuk ke dalam lobby kantor. Suasana di kantor terasa mulai dingin karena dingin nya AC yang menusuk menembus kulit Ariana.
Dia mulai merasakan debaran jantung yang tidak biasa. Belum lagi pagi ini ada meeting buat acara Megantara Resort. Sudah pasti dia akan bertemu dengan Marvin nanti nya. Maka dari itu dia harus mempersiapkan diri untuk di marahi.
Semalam saat Marvin kembali mengutarakan perasaan nya pada Ariana lewat telepon, Ariana buru - buru mematikan nya dengan alasan sinyal jelek. Padahal memang Ariana tak berank jawab apa - apa.
" Hey... kenapa? Jalan nya pelan amat. Buruan kita mau meeting." Lily muncul dari arah belakang dan sempat mengagetkan Ariana.
" Mudah - mudahan, aku ikut sama kamu ya ke lapangan. Bosen kerja di kantor mulu. Pengen cuci mata, lihat pengusaha - pengusaha muda." Lanjut Lily lagi.
Mereka pun terus melangkah menuju ruang meeting. Dan hingga mendekati ruang meeting, Ariana masih juga belum bertemu dengan Marvin.
" Kamu sudah sehat? Sudah bisa ke kantor nih?" Tanya Ariana.
" Sudah mendingan lah. Dari pada di rumah juga aku bosan." Jawab Lily.
" Oh ya, kemaren itu yang aku hubungin kamu nggak kamu angkat, aku nelpon Amel. Amel bilang kamu lagi keluar sama pacar kamu. Kamu sudah punya pacar ya? Kok nggak bilang - bilang. Siapa, Ari?"
Ariana hanya diam. Bahkan dia tak mendengar pertanyaan Lily sama sekali.
" Ari." Kejut Lily.
" Ya, apa Ly?" Tanya Ariana kaget.
" Kamu ngelamun ya? Nggak dengar aku nanyak apa?"
" Nggak.. siapa yang melamun. Emang kamu nanya apa tadi? Aku kurang dengar."
" Sudah dekat gini, masih nggak dengar? Udah lah. Lupain. Yuk." Mereka pun memasuki ruangan meeting.
" Pagi, bos." Sapa Lily pada Marvin.
Ariana seketika mendongak kala dia menyadari Lily menyapa bos mereka. Ternyata Marvin sudah berada di dalam ruangan.
Mata elang dan mata hazel itu pun bertemu. Ariana segera menyadari adanya aura kekecewaan yang menyelimuti Marvin.
Terbayang wajah marah Marvin yang seolah menuntut penjelasan dari Ariana.
Ariana menunduk, enggan menatap wajah Marvin yang terkenal dengan ekspresi dinginnya. Hatinya berdebar, takut akan reaksi Marvin yang mungkin akan meledak kapan saja. Sejenak, Ariana merasa menyesal telah mengingkari mengabaikan begitu saja ungkapan perasaan Marvin tadi malam.
Marvin duduk di kursi nya dengan tatapan tajam yang menembus jantung Ariana. Dalam hati, Marvin merasa kesal dan kecewa, namun ia berusaha menahan emosinya agar tidak meledak di depan Ariana.
" Kenapa mengabaikan saya tadi malam? Sinyal jelek itu alasan kamu saja kan?" Bisik Marvin yang duduk di sebelah Ariana.
" Maaf pak. Saya memang bohong sama bapak. Habis saya nggak tahu harus jawab apa pak. Bapak sih bicara nya terlalu serius. Apa lagi bapak selalu membahas ke sana terus."
" Memang nya kamu nggak berencana ngasi kesempatan gitu buat saya?" Tanya Marvin.
Ariana tersenyum. Menggaruk kening nya yang tidak gatal.
" Kita bahas nanti saja ya pak setelah meeting. Nggak enak di lihatin orang." Elak Ariana.
*
*
*
*****
" Halo pak Marvin. Ada apa?" Tanya Ariana saat dia menggeser tombol hijau di layar ponsel nya.
Setelah mandi, Ariana mendengar ponsel nya terus berdering. Ternyata itu panggilan dari Marvin.
" Begini Ariana. Besok kamu dan Lily ikut saya ya ke pusat Mahendra Tower. Karena besok tim EO nya sudah mulai bekerja. Mereka sudah mulai mendekorasi ruangan yang akan di jadikan tempat untuk perayaan hut perusahaan." Ajak Marvin memberitahu.
" Jadi besok Lily ikut juga pak?"
" Ya ikut lah. Dia kan juga saya kasi tugas untuk besok. Apa kamu keberatan jika Lily ikut? Atau kamu ingin kita berdua saja? Saya bisa..."
" Nggak perlu pak. Lily ikut saja. Makin banyak orang pekerjaan nya akan cepat selesai kan?" Potong Ariaan dengan cepat.
Mungkin Ariana sebaiknya setuju saja dengan kata-kata Marvin, agar dia tidak menggiring pembicaraan ke arah yang tidak jelas dan membuat keadaan menjadi lebih runyam.
" Seandai nya kamu mengingin kan kita pergi berdua besok, saya tidak keberatan Ariana. Saya bahkan senang bisa menghabiskan waktu berdua dengan kamu." Ujar Marvin.
" Maaf pak. Tapi tadi saya salah bicara saja. Karena saya pikir bapak tidak mengikut serta kan Lily dalam persiapan acara hut perusahaan kita."
" Saya mengikut serta kan dia, karena dia bisa mengatur bagian katering dan lampu. Beberapa klien iklan bagian itu kan pernah dia pegang. Jadi Lily bisa menghubungi mereka dengan cepat."
Ariana mengangguk paham walau pun Marvin tidak bisa melihat nya.
" Tapi Ariana besok rencana nya saya mau mengajak kamu makan malam setelah dari Tower Mahendra. Mungkin kamu bisa meluangkan waktu kamu." Ajak Marvin.
" Ya ampun... aku harus jawab apa nih. Kalau aku terima pasti nanti ujung - ujung nya dia nembak aku lagi. Aku males kalau ngomongin ini terus. Pura - pura sinyal jelek aja kali ya." Bathin Ariana.
" Bagaimana Ariana?" Tanya Marvin.
" Halo pak... pak Marvin... bapak bilang apa tadi?"
" Ariana... kamu dengar saya?"
" Halo pak Marvin... pak pak... kayak nya sinyal nya jelek deh pak. Saya nggak bisa dengar bapak. Pak Marvin... pak Marvin..."
Akhir nya Ariana mematikan sambungan telepon Marvin. Setidak nya dia lolos untuk malam ini walau pun harus menghadapi masalah baru besok di kantor.
*****
" Yakin kamu semalam pergi dengan teman kamu, Ri?" Tanya Lily memastikan.
" Yakin Lily. Emang mau pergi dengan siapa lagi? Pacar, kayak kata pak Marvin tadi?" Jawab Ariana.
Dua sahabat itu sedang berada di kantin kantor menikmati makan siang mereka, sebelum mereka berangkat ke Mahendra Tower untuk menyiapkan dekorasi.
" Ya kali aja. Kamu sudah punya pacar sekarang, tapi malah main rahasia - rahasiaan sama aku." Dumel Lily.
Ariana terkekeh. Rasa nya lucu jika melihat wajah cemberut Lily seperti itu.
" Lily, Lily. Lucu kamu. Ya nggak mungkin kah aku nggak ngasi tahu kamu, kalau aku sudah punya pacar. Amel iseng aja tuh ngomong gitu sama Pak Marvin. Kayak nggak tahu Amel aja gimana. Suka iseng kan?" Balas Ariana yang kembali terkekeh.
" Tapi coba deh kami pikir - pikir lagi, Ari. Apa sih kurang nya pak Marvin buat kamu. Ganteng iya, baik iya, kaya iya. Apa lagi coba? Dia itu sudah mendekati kata perfect Ariana. Mau cari ke ujung Indonesia juga, nggak bakal ketemu orang kayak dia." Tanya Lily dengan kepo nya.
" Kurang nya cuma satu ... aku nggak punya perasaan apa pun sama pak Marvin. Memang dia baik, justru karena dia terlalu baik makanya nggak cocok buat aku." Jawab Ariana.
" Belakangan ini aku lihat pak Marvin terus mepet - mepet sama kamu. Kayak di lem gitu, sampai nggak mau lepas. Apa lagi dia mau ikut turun tangan nyiapin acara hut perusahaan."
" Aku juga risih sebenar nya, Ly. Aku jadi nggak nyaman kalau dia nempel terus." Keluh Ariana.
Di dalam hatinya, kegelisahan dan kecemasan bercampur aduk, tapi bibirnya terkunci oleh ketakutan untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya.
Setiap tatapan Marvin seakan menembus hingga ke tulang sumsumnya, membuat Ariana terpaku dalam dilema antara menjaga etika profesional dan melindungi ruang pribadinya.
" Menurut kamu aku harus bagaimana ya, Ly? Masak iya aku tolak langsung pak Marvin. Bilang kalau aku nggak suka sama dia? Takut nya dia malah semakin salah faham nanti nya."
" Justru kalau kamu diam kan terus akan menjadi salah paham, Ari. Entar yang ada pak Marvin mikir nya kamu suka lagi sama dia. Mending di tolak sekarang biar pak Marvin nggak berharap lebih sama kamu." Usul Lily yang membuat Ariana semakin terjerumus ke dalam jurang kebingungan.
" Udah ah nggak usah bahas itu lagi. Mending makan kami di habisin. Kita habis ini mau ke Mahendra Tower."
Saat sedang menikmati makan siang nya, Marvin yang melewati meja Ariana tidak sengaja menumpahkan minuman nya ke meja Ariana.
Sekian detik, suasana di kantin menjadi hening, semua mata tertuju pada Ariana yang duduk dengan pakaian nya yang basah.
" Maaf, maaf. Saya nggak sengaja, Ari. Saya nggak lihat tadi." Ucap Marvin dengan gugup.
" Bapak gimana sih, Pak? Saya sebesar ini masak nggak lihat sih, pak. " Ucap Ariana dengan ketus membersihkan baju nya yang terkena siraman air.
" Saya kan sudah minta maaf dan bilang nggak sengaja, kenapa kamu marah?" Ucap Marvin ketus.
" Tapi gara - gara bapak, baju saya basah nih. Mana mau ke lapangan lagi."
" Oke. Kalau itu masalah kamu. Saya akan ganti. Ikut saya."
Tanpa aba - aba Marvin langsung menarik tangan Ariana untuk mengikuti nya.
" Pak, mau kemana? Tangan saya pak." Ariana berusaha untuk memberontak, tapi tangan nya tak cukup kuat melawan tangan Marvin.
Semua karyawan tak percaya melihat nya. Marvin kalau marah memang menyeramkan. Tidak ada yang berani cari masalah dengan nya. Sampai lah hari ini dengan Ariana yang berani memarahi Marvin di depan karyawan lain.